Mantan Menyebalkan!

Mantan Menyebalkan!
Panggilan


__ADS_3

Ingatan tentang masa lalu yang menyakitkan tidak dapat Shenina hindari setelah hampir seharian penuh dirinya berinteraksi dan menghirup udara di ruangan yang sama dengan Refal.


Begitu pula dengan air mata Shenina yang begitu lancang keluar dengan deras tanpa permisi karena seharian penuh menahan air mata itu tidak jatuh, bukanlah hal yang mudah. Shenina sadar...


Luka itu masih ada...


Luka itu masih sangat nyata....


Sesak di dada yang dia tahan seharian akhirnya runtuh sudah...


Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk Shenina berusaha mengobati luka dihatinya yang ternyata belum berhasil sempurna, kemudian Tuhan mempertemukan dirinya dengan Refal dengan cara yang tidak disangka sangka sama sekali.


Refal, lelaki yang semakin tampan karena pembawaannya yang lebih dewasa justru membuat hati Shenina semakin hancur.


Shenina pernah membayangkan Refaldy berbalut jas dengan gagahnya saat dirinya sudah menyandang status sebagai istri seorang Refaldy Bayutama.


Dan sekarang dia benar-benar melihat dengan nyata imajinasinya empat tahun lalu tapi kondisinya sudah berbeda.


Angan-angan indah dengan segala rencana masa depan yang sudah dirangkai dengan Refal akhirnya dihancurkan sendiri oleh lelaki tersebut.


Beruntung logika Shenina masih waras sehingga Shenina memilih untuk tetap tegar dan mencoba bersikap biasa saja di depan Refal meskipun hatinya porak-poranda.


Ya, Shenina tidak ingin terlihat lemah oleh lelaki yang pernah meninggalkan luka yang dalam untuk hatinya. Meninggalkannya dalam kesendirian dan sepi. Lelaki yang tega menghancurkan segala mimpinya.


"Elu bisa Shen, elu bisa... hanya satu tahun Shen.. iya hanya satu tahun." Shenina terus berusaha menguatkan hatinya sembari memukul-mukul dadanya yang terasa sesak hingga sebuah dering ponsel mengangetkan dirinya yang tengah dirundung kemalangan.


"Nomor baru?" Gumam Shenina menatap layar ponselnya setelah berhasil menghapus air mata Menyebalkannya itu.


"Siapa?" Gumamnya lagi kemudian memilih mengabaikan nomor baru yang mungkin orang iseng.


Shenina yang merupakan gadis introvert dan tidak memiliki teman dekat sehingga membuat ponselnya jarang sekali berdering kecuali pesan dari group kantor yang berisikan kerjaan.


Sebenarnya jika dari dulu Shenina mau menanggapi para lelaki yang melakukan pendekatan padanya mungkin saat ini Shenina dikelilingi para lelaki tampan. Maklum, Shenina memang memiliki paras yang cantik dan juga manis. Sikap Shenina yang selalu dingin akhirnya membuat para lelaki yang menyukainya itu menyerah dan Shenina tidak pernah menyesali semua itu karena bagi Shenina, hidup sendirian jauh lebih baik.

__ADS_1


Kembali pada ponsel Shenina...


Gadis introvert itu terus memandang layar ponselnya yang menampilkan nomor si pemanggil. Panggilan telepon itu pun terdengar berulang kali, sehingga membuat Shenina berpikir lagi jika mungkin ada sesuatu penting, bukan sekedar orang iseng.


Siapa?


Apa Alula? ah kemana perginya sang sahabat itu?


Karena penasaran sebab nomor itu merupakan nomor cantik dan kemungkinan besar menurut Shenina adalah Alula, Shenina akhirnya menerima panggilan telfon itu setelah 3 kali berdering.


"Hallo..." Sapa Shenina setelah menggeser icon berwarna hijau pada layar ponselnya.


"Shenina... tolong ke Lavenue Apartemen sekarang! Lantai 35 nomor 7!"


Perintah seseorang dari seberang sana dengan suara yang lirih membuat Shenina tertegun.


Tanpa menyebutkan namanya lebih dulu, Shenina sudah jelas tahu siapa pemilik suara yang mampu menggetarkan hatinya hingga detik ini.


"Maaf pak, saya tidak bisa.. ini bukan jam kerja dan ini waktu saya istirahat." Ucap Shenina dengan tegas, berbeda dengan hatinya yang bergemuruh hebat.


"Saya tidak...."


"Tolong, kamu kesini dan bawakan Paracetamol juga obat lambung.. aku sedang sakit Shen... Biasanya Edwin, mantan asistenku yang membawakan aku obat saat sakit Shen... please.."


Mendengar permintaan Refal yang dengan nada suara yang sepertinya tidak baik-baik saja membuat hati Shenina tidak tega.


Shenina memejamkan matanya sejenak.


Logika Shenina melarang keras Shenina untuk menuruti perintah Refal. Karena lebih baik meminimalisir interaksi dengan sang mantan kekasih supaya Shenina masih bisa menjaga kewarasannya sendiri. Toh ini sudah diluar jam kerja kan....


"Mohon maaf saya tidak bisa!" Putus Shenina kemudian menutup panggilan telpon dari Refal itu secara sepihak.


Gadis itu memejamkan matanya sembari menggenggam ponselnya yang taruh di dadanya. Dada yang berdebar sangat kencang hanya karena mendengar suara Refal yang begitu lirih dan terkesan lembut seperti saat masih pacaran bersama dengannya dulu. Tidak seperti seharian tadi yang terkesan galak dan ketus.

__ADS_1


"Gue benci sama dia, gue sangat membencinya..." Gumam Shenina dengan air mata yang mengalir deras.


Tidak sampai lima menit kemudian, ponsel Shenina berdering kembali membuat sang empu menghela nafasnya dengan kasar karena mengira itu adalah Refal, mantan sekaligus bos barunya.


Namun, saat Shenina hendak me-reject panggilan itu, nama Alula terpampang di layar ponselnya.


"Hallo Shen..." Suara gadis cantik bermata hazel itu langsung terdengar saat Shenina baru saja menggeser icon warna hijau di ponselnya.


"La..."


"Shen... elu kenapa menolak ke apartemen mas Refal?" Tanya Alula langsung sebelum Shenina berbicara banyak.


Mas Refal? benar-benar menggelikan~


Shenina tersenyum getir mendengar panggilan itu, banyak pertanyaan yang ada dibenak Shenina untuk Alula sang sahabat, tapi pertanyaan itu menguap begitu saja kala Alula kembali berucap.


"Shen, gue tahu nama mantan elu sama dengan nama bos elu sekarang, tapi please profesional dong! Mas Refal butuh bantuan elu, dia lagi sakit... kenapa elu malah menolak perintahnya?" Omel Alula.


Nama yang sama?


Bukan hanya namanya yang sama Alula, tapi orangnya juga orang yang sama... sungguh, Shenina ingin sekali berteriak seperti itu pada Alula.


"Ini hari pertama gue kerja La, dan ini udah jam luar kantor." Jawab Shenina dengan suara yang dibuat berusaha setenang mungkin.


"Asisten mas Refal yang dulu juga sama Shen, dia siap 24 jam buat mas Refal. Mas Refal juga gak akan merepotkan kalau tidak benar-benar urgent. Dia butuh obat Shenina...." Alula berbicara dengan nada kesal.


"Alula..."


"Gue itu bujuk mas Refal susah-susah agar elu bisa dapat kerjaan di Wishnutama... dan asal elu tahu ya Shen, asisten mas Refal yang sebelum-sebelumnya itu cowok semua karena gue gak mengizinkan dia punya asisten cewek. Tapi berhubung elu sahabat gue dan butuh pekerjaan, gue izinkan elu jadi asisten pribadi mas Refal. Eh, saat mas Refal sakit dan butuh bantuan elu, elu kok nolak sih... Kalau misal gue lagi di Jakarta, mas Refal juga gak bakal minta tolong asistennya kok Shen.. " Alula berbicara dengan nada kecewa pada Shenina membuat hati Shenina tertohok.


Shenina tersadar akan egonya. Iya, diperjanjian itu tertulis bahwa dia harus siap selama 24 jam karena gajinya sangat besar. Lantas kenapa dia berani menolak perintah atasannya? kenapa dia tidak bisa bersikap profesional.


Entahlah, hati Shenina saat ini campur aduk tidak karuan dan tidak bisa di deskripsikan.

__ADS_1


"Maafkan geu yang udah kecewain elu La, terima kasih atas segala bantuan elu... gue akan ke apartemen.... Pak Refal" Jawab Shenina pada akhirnya membuat Alula bernafas lega karena diseberang sana Alula sangat khawatir dengan kondisi mas Refal-nya itu.


to be continued


__ADS_2