
Mendengar kata 'hamil' dari mulut Refal, sejujurnya membuat sudut hati Shenina merasa ketakutan. Bagaimana pun juga, kemungkinan hamil pasti ada. Apalagi Shenina tidak tahu Refal mengeluarkannya di luar atau di dalam.
Tapi, logika Shenina kembali berfungsi. Prinsip Shenina juga masih sama, tidak ada kata balikan dengan mantan. Apalagi yang Shenina tahu saat ini Refal sudah menjalin hubungan dengan Alula dan dirinya sendiri sedang mempertimbangkan dokter Argha untuk sebuah permintaan.
"Shenina, please jangan diam saja... ayo kita menikah. Aku gak mau sampai kamu hamil di luar nikah atau kamu akan menggugurkan anakku." Refal harus bisa menekan Shenina agar mau menerima tawarannya untuk menikah, sebab jika ini gagal... maka kedepannya akan lebih sulit lagi mendapatkan Shenina.
Sedangkan Shenina langsung menatap tajam pada Refal, mengugurkan? sungguh, Shenina tidak suka jika kalimat itu keluar dari mulut Refal. Shenina pernah merasa kehadirannya di dunia ini tidak diharapkan oleh siapapun, jadi Shenina tidak akan tega melakukan hal sekejam itu.
"Kamu pikir aku gak punya hati? sampai kamu punya pikiran kalau aku bakal menggugurkan kandungan jika aku hamil?" Tanya Shenina dengan nada yang dingin.
Susah payah Refal berusaha menelan salivanya.
"Maksud aku bukan seperti itu Shen, aku hanya takut kamu...."
"Aku gak bisa menikah dengan kamu Fal."
"Apapun yang terjadi, aku gak akan pernah bisa." Putus Shenina dengan yakin.
"Ke... kenapa? Ba.. bagaimana kalau kamu hamil Shenina."
"Aku gak bisa menyakiti Alula Fal, aku gak mau jadi orang jahat yang merebut calon tunangan sahabatnya sendiri." Tegas Shenina.
Astaga...
Refal menyugar rambutnya dengan kasar. Lelaki 26 tahun itu sampai kelupaan soal status Alula di mata Shenina karena sudah pusing memikirkan pekerjaan ditambah Shenina yang sangat dekat dengan lelaki lain.
"Sebenarnya Alula itu adik aku Shenina." Jawab Refal dengan senyum tipis.
"A... adik?" Tawa Shenina terdengar sumbang. Gadis berusia 25 tahun itu mengira bahwa mantan kekasihnya dengan mudahnya berkata kakak adik padahal semua orang di kantor mengira mereka sepasang kekasih.
"Tega kamu Fal, jadi selama ini kamu cuma gantung Alula dan kamu hanya menganggap dia sebagai adik kamu." Cibir Shenina.
"Kenyataannya memang seperti itu Shenina.... aku dan Alula adalah saudara tiri. Kami hanya beda ibu." Tegas Refal.
"Kamu membual!" Shenina masih tidak percaya.
"Aku adalah anak dari hasil pernikahan pertama papa, papa dan mama aku bercerai karena mereka menikah atas dasar perjodohan, bukan karena cinta. Setelah bercerai papa kembali ke kekasihnya yang sebelumnya, ibu dari Alula." Jelas Refal.
"Berhenti omong kosong Fal. Aku gak percaya sama kamu."
__ADS_1
"Please, percaya sama aku Shenina... aku dan Alula memang memiliki misi di kantor sehingga status kami memang masih dirahasiakan."
Shenina melengos. Dia masih belum percaya karena selama ini selalu menganggap Alula dan Refal sepasang kekasih dan Shenina selalu merasa bersalah pada Alula.
"Pacar Alula yang sebenarnya adalah Gerald, tapi hubungan mereka belum direstui oleh Papa Shenina." Shenina masih saja diam karena jujur, otak Shenina saat ini bingung dengan semua yang terjadi.
"Kalau kamu masih gak percaya, aku akan hubungi Alula biar dia segera kesini." Ucap Refal membuat mata Shenina melebar.
"Kita selesaikan semuanya sekarang. Kalau perlu aku akan meminta papa ikut kesini agar dia segera menikahkan kita."
"Jangan gila kamu Fal!"
Refal tidak peduli dengan umpatan Shenina, lelaki itu langsung meraih ponselnya dan menghubungi sang adik,
"Alula, cepat kamu datang ke apartemen Gerald. Mas tunggu dalam lima belas menit. CEPAT!"
Shenina melongo, gadis itu masih saja ketakutan karena tidak percaya jika Alula adalah adik tiri Refal. Shenina takut dianggap perebut calon tunangan orang atau pelakor.
...***...
Dua puluh menit berlalu,
Jujur, semakin waktu berjalan, jantung Shenina semakin berdegup kencang. Susah payah Shenina memasukkan sesuap demi sesuap sarapannya ke dalam mulut, karena jika tidak habis, maka Refal akan memaksanya untuk menikah hari ini juga. Bukti ada di kamar Gerald kan.
"Pagi mas Refal...." Sapa Alula yang baru saja memasuki apartemen Gerald.
Gadis itu nampak riang tanpa beban. Berbeda dengan Shenina yang tegang bahkan memejamkan matanya.
"Lama banget!" Gerutu Refal mengacak rambut Alula dengan lembut.
"Eh, ada Shenina juga disini..." Saat Alula menyapanya, Shenina membuka matanya kemudian tersenyum tipis.
"Mas Refal menginap disini? Kan Gerald pulang ke rumah mamanya." Tanya Alula yang duduk disamping Shenina.
"Iya, mas menginap disini sama Shenina." Jawab Refal sambil memutar bola matanya malas. Adiknya ini yang buat skenario, bisa bisanya sok polos seperti ini.
Sedangkan Shenina langsung tegang menunggu reaksi yang diberikan oleh Alula.
"Jangan bilang kalian udah balikan? ciieee...." Tawa Alula. Shenina langsung menengok kesamping melihat ke wajah Alula yang tersenyum tulus penuh kebahagiaan.
__ADS_1
"La...."
"Kenapa Shenina? kamu juga menganggap aku sama mas Refal sepasang kekasih ya?" Ledek Alula yang tadi sewaktu di jalan sudah mendapatkan pesan dari Refal tentang Shenina yang tidak percaya sama status mereka.
"Aku sama mas Refal itu adik dan kakak Shenina, hanya beda ibu. Karena sesuatu hal, jadi kita harus menutup identitas kita di orang-orang kantor." Jelas Alula.
Shenina mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya. Jadi selama ini dia kena prank?
"Mas, kamu semalam beneran tidur bareng sama Shenina?" Tanya Alula yang beralih menatap Refal.
"Iya, tapi dia gak mau mas ajak nikah karena menganggap kita sepasang kekasih."
Tawa Alula langsung pecah,
"Kalau boleh jujur ya mas, Kalaupun kamu dan aku bukan saudara, aku ogah punya kekasih kayak kamu, kaku!" Ledek Alula.
"Dari pada punya kekasih Cassanova."
"Mantan ya mas! catat! Gerald itu udah taubat." Tegas Alula membela kekasihnya.
Shenina tersenyum tipis,
"Jadi selama ini kalian sengaja mengerjai aku dan membiarkan aku menganggap kalian sepasang kekasih." Shenina tersenyum begitu miris, sebuah senyum yang merutuki kebodohannya sendiri.
"Shenina, aku itu gak bermaksud seperti itu." Ucap Alula.
"Shen, jangan salah paham dulu."
"Stop! tolong buka pintunya Fal, aku mau balik!" Shenina langsung berdiri dari duduknya. Shenina sangat kecewa, jika dirinya dianggap Alula sahabat mengapa sejak awal Alula tidak pernah berkata jika Refal adalah kakaknya setiap kali Shenina menyinggung Refal. Begitu pula dengan Refal.
"Shenina, kita bicarakan dulu... permasalahan kita belum selesai." Refal ikut berdiri. Lelaki itu meraih pergelangan tangan Shenina dengan genggaman yang kuat tapi tidak menyakiti.
"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi Fal, meskipun kamu dan Alula adalah kakak beradik, keputusan aku masih sama, aku gak mau nikah sama kamu." Shenina menghempaskan tangan Refal yang memegang pergelangan tangannya.
"Shenina, kamu itu lucu... kenapa aku sama mas Refal harus menjelaskan tentang hubungan kami yang sebenarnya sama kamu? kenapa kamu kelihatan kecewa dengan fakta itu? Apa memang benar, selama ini cinta kamu masih untuk mas Refal? begitu juga dengan cinta mas Refal ke kamu, makanya kamu cemburu melihat aku manja sama kakak aku sendiri." Alula berkata lembut sambil tersenyum membuat langkah Shenina terhenti.
Cemburu?
to be continued.
__ADS_1
Like dan komentar ya....