
Kabar mengenai Dhani yang di rawat di rumah sakit, dengan cepat tersebar di lingkungan kantor dan menjadi pembicaraan terhangat di antara karyawan. Apalagi Dhani merupakan salah satu karyawan yang memiliki banyak penggemar karena ketampanannya juga kekayaannya meskipun statusnya hanya karyawan biasa yang menjabat sebagai kepala team divisi.
Kecelakaan, itulah alasan yang digunakan pada surat izin Dhani karena ketidakhadirannya ke kantor. Meskipun Alula mengetahui kejadian yang sebenarnya, gadis itu memilih diam saja dan pura-pura tidak tahu. Begitu pula dengan Shenina.
Nando, salah satu staf marketing di Adijaya mengajak rekan-rekannya di divisi marketing untuk menjenguk Dhani di rumah sakit usai jam kerja selesai.
Hal itu tentu langsung di setujui oleh Shenina karena mau bagaimana pun, dalam hati gadis berlesung pipi itu dia merasa bersalah atas apa yang menimpa Dhani semalam.
Dan tepat pukul empat sore, para staf bagian marketing langsung mengemasi barang-barangnya agar bisa segera menuju rumah sakit menjenguk Dhani yang kabarnya kondisinya sangat memprihatinkan.
"Shen... elu ini bareng siapa ke rumah sakitnya?" Tanya Riki mengingat jarak kantor ke rumah sakit cukup jauh sedangkan kost Shenina dekat kantor.
"Shenina bareng gue." Jawab Alula. Shenina hanya mengangguk mengiyakan Jawaban Alula.
"Naik apa?" Tanya Riki lagi karena Alula memang tidak pernah membawa kendaraan ke kantor.
"Gue nanti di jemput om gue, jadi santailah."
"Pulangnya Shenina gimana?" Riki ingin memastikan cewek incaran bosnya itu aman.
"Gue yang anterin lah..."
"Cih, bilang aja mau jalan sama om-om." cibir Desti namun tidak ditanggapi oleh Alula dan Shenina.
"Riki, gue bareng elu ya..." Kata Desti.
"Iya boleh, elu sama Nando bareng sama gue."
"Ya udah yuk kita berangkat kuy!" Ajak Nando.
"Kalian duluan aja, om gue masih di jalan. katanya jalanan agak penuh. Nanti kita ketemu disana aja." Ujar Alula dan disetujui semuanya.
"Shen, elu kenapa dah seharian ini makin pendiem aja?" Tanya Alula ketika yang lainnya sudah keluar dari ruangan.
"Nggak.."
"Jangan bilang elu merasa bersalah atas apa yang menimpa Dhani."
"Sedikit."
"Jangan bilang setelah ini elu akan mempertimbangkan Dhani menjadi kekasih elu."
"Enggaklah. Udah yuk kita tunggu om elu di luar." Shenina menarik tangan Alula.
...***...
__ADS_1
Shenina benar-benar tidak menyangka, orang yang dibilang Alula adalah Om-nya, ternyata masih sangat muda dan berparas tampan.
Shenina dapat menebak jika lelaki tampan yang bernama Shaka itu usianya belum menyentuh kepala tiga.
Di dalam mobil, Shenina memilih untuk banyak diam terlebih pada orang baru yang berstatus sebagai om dari sahabatnya.
Sepanjang perjalanan, hanya suara Alula yang memenuhi mobil BMW series terbaru itu. Sedangkan Shaka, om dari Alula hanya menanggapi sesekali hingga mobil berhenti sempurna di Rumah Sakit Internasional.
"Om tunggu disini aja La... kamu jangan lama-lama karena pekerjaan om masih banyak." Kata Shaka dengan nada lembut.
Alula tersenyum manis.
"Oke.. tunggu ya, aku sama Shenina cuma bentar kok om... makasih om ganteng ku yang udah mau nganterin aku." Ujar Alula kemudian mengecup pipi Om-nya secara sekilas sebelum keluar dari mobil.
Shenina dibuat menganga dengan tingkah Alula. Namun kemudian, Shenina dapat mengontrol ekspresinya sebelum mengucapkan terimakasih pada Shaka yang sudah mengantarkannya ke rumah sakit dengan selamat.
Mungkin kecup pipi adalah hal yang biasa di keluarga Alula. Begitulah pikir Shenina.
"Itu beneran om elu atau om jadi-jadian elu?" Tanya Shenina yang sudah menyimpan rasa penasarannya sejak berkenalan dengan Shaka di depan kantor tadi. Terlebih aksi Alula yang mencium pipi Shaka seperti sepasang kekasih saja.
"Om jadi-jadian? elu pikir dia hantu?" Tawa renyah Alula tidak bisa dikendalikan lagi saat sudah memasuki koridor rumah sakit. Iya kali, Om-nya yang tampan itu dikira jadi-jadian.
"Gue serius Alula..."
"Dia beneran om gue... adik dari Papa gue. Ganteng kan?" Jawab Alula.
"Makanya gue harus melindungi dia dari cewek-cewek gak bener. Apalagi diusianya yang baru menyentuh angka 30 itu udah cukup matang untuk berumah tangga membuat om Shaka makin banyak yang ngincar."
"Tapi gue masih gak percaya itu om elu... karena..."
"Karena gue tadi cium pipi dia? itu udah hal biasa kali Shen di keluarga gue. Itulah bentuk dari rasa sayang." Shenina mencoba mengerti karena memang culture setiap keluarga berbeda-beda.
"Elu berarti dari keluarga tajir dong?" Tebak Shenina.
"Ha? apa?" mendadak Alula cengo.
"Elu dari keluarga tajir dong... secara mobil om elu aja mewah."
Setelah berkenalan dengan salah satu keluarga sahabatnya, Shenina jadi tersadar bahwa dirinya belum banyak mengenal Alula dan Shenina ingin lebih dekat pada gadis baik hati dan ramah itu.
Namun disisi lain, Shenina merasa insecure jika harus bergaul dengan orang-orang kaya. Pengalaman buruk membuatnya kehilangan rasa percaya diri.
"Kaya? Nggak juga sih... biasa aja. Elu gak usah mikir aneh-aneh Shen, gue bersahabat sama siapa aja asal dia baik dan tulus, keluarga gue juga biasa aja, mereka gak pernah membatasi pergaulan gue." Jawab Alula yang sudah bisa menebak apa yang ada di otak sahabatnya itu.
Shenina hanya tersenyum tipis secara tidak langsung Alula memang mengakui bahwa dia dari keluarga kaya namun tidak sedikitpun ada kesombongan dari pribadi Alula.
__ADS_1
"Kenapa elu mau berteman sama gue La?" Tanya Shenina.
"Karena elu orangnya tulus. Dan elu bisa buat gue nyaman. Inget ya Shen, kita itu bersahabat, bukan sekedar berteman!" Peringatan Alula tentu membuat Shenina tersenyum. Alula adalah sahabat pertamanya setelah semua orang pergi dari hidupnya.
"Thank ya La..."
"Kamu yang semalam membawa anak saya ke rumah sakit kan?" Tanya seorang wanita paruh baya yang duduk di depan ruangan Dhani di rawat. Wanita paruh baya dengan gaya sosialita-nya itu menatap Alula dengan lembut.
"Eh."
"I.. iya Tante... saya semalam kebetulan lihat Dhani sedang digebuki lalu beberapa teman saya menolong Dhani dan bawa Dhani ke rumah sakit." Jawab Alula karena memang dia tidak sendiri semalam.
"Terima kasih ya nak... kalau gak ada kamu, Tante gak tahu apa yang terjadi sama Dhani semalam. Padahal Dhani gak pernah datang ke tempat itu apalagi mabuk." Ucapan wanita paruh baya itu menyentil hati Shenina, semua karena dia.
"Sama-sama Tante, saya kesini sama sahabat saya mau menjenguk Dhani. Kebetulan Dhani kan atasan kami di kantor. Jadi bagaimana kondisi Dhani Tante?"
"Kalian juga karyawan di Adijaya?" Tanya wanita itu.
"Iya Tante.. dari divisi marketing."
"Oh kebetulan, teman-teman kalian sudah ada di dalam sekitar 10 menit lalu. Kondisi Dhani sudah stabil, dia baru sadar siang tadi setelah semalam menjalani operasi patah tulang."
"Ah, syukurlah kalau Dhani sudah stabil."
"Oh ya.. kita belum berkenalan loh." Mama dari Dhani itu nampak begitu ramah.
"Eh iya.. kenalin saya Alula Tante.." Alula mengulurkan tangannya pada wanita paruh baya di hadapannya itu.
"Rika." Mama dari Dhani itu pun menyambut dengan hangat gadis yang sudah menolong putranya semalam.
"Kenalin ini sahabat saya di kantor Tante, namanya Shenina." Shenina pun tersenyum sembari mengulurkan tangannya pada tante Rika.
"Shenina?" Wajah Tante Rika yang semula tersenyum ramah mendadak berubah.
"Kamu Shenina yang sudah menolak cinta anak saya?" Tanya Rika dengan nada emosi.
"Tante..." Melihat tatapan bersalah dari Shenina membuat Rika yakin memang gadis dihadapannya ini yang sudah mematahkan hati putra kesayangannya.
PLAK!
Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat sempurna di pipi kanan Shenina membuat gadis itu terkejut sekaligus merasakan perih yang luar biasa di pipinya.
"Tante... anda apa-apaan?" Bentak Alula tidak terima ada yang melukai sahabatnya. Memang begitulah Alula, gadis yang tidak takut dengan apapun.
"Kurang ajar ya kamu! kamu itu wanita rendahan tapi berani menolak cinta anak saya? ha? Gara-gara kamu, anak saya jadi seperti ini!" Tante Rika menunjuk wajah Shenina dengan penuh emosi. Shenina sendiri tidak bisa membendung air matanya untuk tidak mengalir.
__ADS_1
to be continued