
Sebuah getaran dirasakan keduanya saat kulit keduanya bersentuhan. Lebih tepatnya, kulit telapak tangan Shenina dengan lengan Refal karena Shenina membantu Refal untuk duduk di sofa yang empuk dan berukuran besar itu.
Shenina mencoba menahan nafasnya, begitu pula dengan Refal saat jarak keduanya begitu dekat untuk pertama kali setelah lebih dari empat tahun berlalu.
Debaran jantung keduanya pun seakan berlomba dan menentukan siapa yang lebih kencang. Namun keduanya tetap berusaha untuk biasa saja.
"Sekarang minum obat kamu." Perintah Shenina dengan bernafas lega usai membantu Refal duduk.
Sungguh, beberapa detik saja berada pada jarak yang sangat dekat dengan Refal membuat pasokan udara pada rongga pernafasan Shenina habis terkuras.
"Tolong ambilkan obat lambung lebih dulu." Jawab Refal dengan masih menggunakan suara lirihnya.
Tanpa protes, Shenina pun melakukan apa yang Refal perintahkan. Obat lambung dengan harga sangat mahal dibanding obat di warung itu sudah berada ditangan Shenina. Shenina yakin, ini pasti resep yang diberikan dokter spesialis karena tadi Alula bilang tidak semua apotek menyediakan obat tersebut.
"Nih..." Shenina memberikannya pada Refal dan diterima baik oleh Refal. Kemudian Shenina menyodorkan segelas air putih agar Refal dapat menelan obat itu dengan baik.
"Thanks."
Setelah meminum obatnya, Refal kembali memejamkan matanya dengan posisi duduk. Kepala Refal saat ini benar-benar pusing dengan suhu badan yang cukup tinggi.
Beberapa menit dalam keheningan dengan Shenina yang memilih duduk di sofa single dekat sofa yang diduduki oleh Refal.
Tidak ada pergerakan dari Refal, akhirnya membuat Shenina gemas.
"Minum Paracetamol nya biar demam kamu segera reda sehingga aku bisa segera pulang." Kata Shenina yang sebenarnya sudah tidak sabar lagi keluar dari apartemen tersebut mengingat waktu semakin malam.
"Aku belum makan Shen... bagaimana bisa aku minum Paracetamol?" Gumam Refal tanpa membuka matanya.
Benar memang, minum obat kan harus usai makan kecuali obat-obatan tertentu seperti obat lambung dan maagh.
"Jangan bilang mau merepotkan lagi." Gumam Shenina dengan sengaja agar terdengar ditelinga Refal. Refal yang mendengar pun berdecak kesal. Shenina yang dulu dengan yang sekarang memang sudah berbeda.
Tanpa menjawab, Refal berusaha beranjak dari duduknya.
Eh.
Refal hampir saja terjatuh karena keseimbangan tubuhnya belum sempurna dan kepalanya terasa berputar-putar.
"Mau kemana?" Tanya Shenina ikut berdiri membantu Refal yang hendak jatuh itu untuk kembali duduk di sofa.
__ADS_1
Kulit Shenina bertemu dengan kulit Refal, sungguh ini adalah hal yang tidak baik untuk Shenina.
"Bukain pintu buat kamu.. kamu mau pulang kan? Maaf sudah merepotkan kamu malam-malam begini dan mengganggu waktu istirahat kamu Shen. Terima kasih banyak untuk bantuan kamu Shen." Jawab Refal lirih dengan mata yang berusaha tetap terjaga.
Shenina kemudian terdiam entah kenapa dia tidak suka dengan ucapan Refal barusan. Dan hati kecilnya juga merasa bersalah karena memancing lelaki itu untuk berkata demikian.
Shenina juga butuh beberapa detik untuk berpikir. Refal belum makan, belum minum obat, dia tinggal sendiri, untuk berdiri aja kesusahan hingga hendak jatuh, bagaimana kalau nanti kenapa-kenapa?
Tidak bisa dipungkiri, Refal memang terlihat sangat pucat. Entah sejak kapan lelaki ini memiliki penyakit lambung, karena dulu Refal sangat sehat bahkan menjalani pola hidup sehat. Sakit hingga terlihat selemah ini? Rasanya bukan sosok Refal banget deh...
Batin Shenina bergejolak. Dia masih punya hati nurani yang tidak tega meninggalkan Refal sendirian dalam kondisi seperti ini, tapi...
Logikanya meminta untuk dirinya segera keluar dari apartemen ini. Entah kenapa perasannya tidak enak.
"Kamu sebutkan saja password pintu kamu.. aku akan keluar sendiri."
"Nggak bisa!" Jawab Refal yang sudah kembali terduduk sambil memijat keningnya yang terasa sangat pusing.
"Aku janji gak akan nyelonong masuk sembarangan kesini atau berbuat macam-macam setelah kamu kasih tahu password pintu apartemen kamu Fal, kalau perlu setelah aku keluar nanti kamu ganti saja passwordnya." Shenina memilih untuk mengutamakan logikanya ketimbang rasa tidak teganya itu pada Refal.
Shenina yang terbiasa dengan bahasa kasar elu-gue saat bersama teman-temannya atau bahas formal saat bersama Refal, kenapa sekarang menjadi aku-kamu ? Entahlah, Shenina rasanya ingin merutuki lidahnya sendiri.
"Kamu sengaja mau menahan aku disini Fal?" Tanya Shenina dengan nada sengit membuat ego Refal tersentil.
"Aku gak perlu menahan orang yang memang ingin pergi. Bahkan menolong aku dengan terpaksa." Jawab Refal berusaha berdiri lagi dari duduknya untuk membuka pintu apartemennya. Memang apartemen ini harus memakai password atau pin saat membuka pintu baik dari dalam ataupun luar, pintu itu juga bisa otomatis jika menggunakan sidik jari yang sudah terdaftar.
Susah payah Refal mencoba berdiri membuat Shenina ikut berdiri dan hendak membantu Refal, namun tiba-tiba Refal merasakan perutnya kram secara tiba-tiba.
"Auuu..." Lirih Refal dibarengi dengan keseimbangan tubuhnya yang oleng dan....
bruuukkk...
Shenina yang tadi hendak membantu Refal berjalan ke arah pintu, tiba-tiba jatuh diatas sofa panjang dengan tubuh Refal tepat berada diatasnya. Beruntung, Refal dengan sigap menggunakan tangannya untuk menahan berat badannya yang tidak sedikit itu agar tidak menimpa tubuh Shenina dengan sempurna.
Otak Shenina tidak sempat berpikir, kejadian ini benar-benar sangat cepat. Hanya sepersekian detik dan tatapan dua anak manusia itu sudah saling bertemu dan mengunci satu sama lain dengan posisi yang bisa dibilang sangat intim.
Kram perut, sakit kepala, pusing, mata berkunang-kunang dan segala yang dirasakan Refal sebelumnya mendadak hilang semuanya saat di dengan situasi seperti ini...
Mungkin rasa rindu Refal dan penyesalan Refal pada Shenina lebih besar ketimbang rasa sakit lambung dan demam yang Refal rasakan saat ini.
__ADS_1
Tatapan mata Shenina benar-benar terkunci oleh sorot mata Refal yang begitu dalam dan menghanyutkan. Shenina tidak dapat berpaling sedikitpun.
Entah keberanian dari mana...
Refal justru mengikis jarak antara dirinya dan Shenina saat ini dengan mata yang masih saling mengunci. Tatapan mereka seolah saling meneriakkan kegelisahan hati masing-masing.
CUP!
Refal mengecup bibir Shenina dengan singkat. Bibir yang selalu membuatnya candu saat mereka masih berpacaran dulu. Bibir yang pertama kali Refal rasakan begitu pula Shenina rasakan dulu karena keduanya sama-sama memberikan first kiss.
Mendapatkan kecupan singkat dari Refal, hati Shenina bergemuruh hebat. Logika Shenina menentang dengan keras dan ingin menampar Refal yang tanpa izin berani mencium bibirnya. Tapi, tubuh dan hati Shenina seolah berkhidmat, sebab dia tidak bisa menolak apa yang Refal lakukan saat ini.
"Manis... rasanya masih sama seperti 4 tahunan yang lalu Shen..." Gumam Refal pelan.
Merasa tidak mendapatkan penolakan, Refal kembali mengulang untuk mempertemukan bibirnya dengan bibir Shenina lagi....
Shenina memejamkan matanya dengan salah satu tangan yang mencekam bantal sofa saat benda kenyal itu mulai bermain di bibir bawahnya sebelum Shenina membuka pintu untuk permainan yang lebih dalam lagi, seperti dulu.
Keduanya larut dalam kisah lama hingga beberapa detik kemudian saat ponsel Shenina berdering dengan nyaring membuat dua anak manusia yang larut akan masa lalu itu tersadar.
Refleks,
Shenina mendorong dada Refal yang tanpa penghalang apapun karena Refal tidak mengenakan kaos alias bertelanjang dada.
Refal menjauh dengan perasaan yang entah.... lelaki itu menatap Shenina dengan tatapan yang sulit dimengerti saat Shenina mengambil ponselnya di saku celanay.
"Alula..." Gumam Shenina membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
Tiba-tiba rasa bersalah memenuhi hati Shenina karena beberapa detik lalu Shenina mengkhianati sahabatnya yaitu berciuman dengan Refal, kekasih Alula.
Sedangkan Refal yang mendengar nama Alula disebut hanya mampu memejamkan matanya dan berdecak lirih. Mungkin Refal juga merutuki kesalahannya pada Alula, begitulah pikir Shenina secara singkat.
to be continued
ayo like kak...
komentarin ya...
makasih 🥰
__ADS_1