
Setelah Shenina memasuki kamar Gerald, Alula pun segera keluar dari kamar tamu yang berada tepat disamping kamar utama Gerald.
Alula tersenyum penuh kemenangan karena semua rencananya berjalan dengan sempurna. Ya, semua ini adalah skenario yang Alula buat dan disetujui oleh Gerald. Sedangkan Refal sendiri hanya pasrah mengikuti permainan adik dan calon adik iparnya itu. Karena otak Refal benar blank, gak bisa berpikir setelah mendengar kabar bahwa Shenina dilamar oleh dokter Argha.
"Gue cabut ah, biar dua manusia yang berstatus mantan itu bisa bersenang-senang sampai pagi. Lagian gue juga gak mau mendengar suara laknat. otak perawaan gue entar terkontaminasi. hehehe " Gumam Alula dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang dapat menganggu sepasang mantan kekasih yang ada di kamar itu.
Namun sebelum meninggalkan apartemen, Alula sempat mengambil jus strawberry dalam kemasan botol kaca yang ada di kulkas untuk menemaninya pulang ke rumah agar tidak mengantuk.
Tenang, Jus di kulkas itu aman dari obat-obatan laknat seperti yang di minum Shenina kok, karena yang diberikan Gerald sedikit obat, hanyalah jus yang ada di meja ruang TV dan di pantry.
"Selamat bersenang-senang mas Refal dan mba Shenina." Gumam Alula yang tersenyum sendiri membayangkan apa yang terjadi diantara dua manusia itu.
Mba Shenina? lucu juga kan kalau Alula panggil Shenina begitu.
Tidak lupa, Alula pun mengirim pesan pada Gerald untuk mengabarkan bahwa dia akan segera otw pulang ke rumah papanya.
Dan Gerald sendiri benar-benar pulang ke rumah orang tuanya karena sang mama sudah meneror dirinya yang tidak pulang-pulang.
Jangan percaya jika Gerald beralasan neneknya sakit, sebab nenek Gerald sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Emang dasar Gerald kan, si mantan Cassanova yang pandai bersilat lidah~
...*...
Hari sudah berganti, namun sinar matahari belum juga muncul karena waktu masih menunjukkan pukul empat pagi hari.
Shenina, gadis berlesung pipi yang semalam tidur dengan nyenyak itu nampak menggeliat karena merasa tidak nyaman. Perutnya seperti tertimpa beban yang teramat berat hingga membuat tidurnya terganggu.
Shenina mulai mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa sangat susah sekali itu untuk di buka. Shenina juga merasakan sedikit pusing pada pelipisnya.
"Ehmmm..." Shenina menggeliat lagi dan semakin memaksa matanya sendiri untuk terbuka.
Cahaya lampu temaram menyapa Shenina saat pertama kali membuka matanya. Shenina masih belum sadar, bahwa dirinya saat ini berada di tempat asing. Bukan di apartemen Alula yang sudah menjadi tempat tinggalnya.
__ADS_1
Merasa engap, gadis yang hidup sebatang kara itu mencoba menyingkirkan beban berat yang ada diatas perutnya.
Namun baru memegang beban berat yang menimpa perutnya itu, Shenina langsung menegang. Bahkan mata kantuk Shenina menjadi terbuka lebar.
Deg.
Shenina tersadar. Ini bukan kamarnya, namun otak Shenina masih sedikit kesusahan mengingat kenapa dia ada disini.
"Ta... tangan?" Gumam Shenina pelan.
Hembusan nafas seseorang menerpa kulit leher kanan Shenina. Sangat dekat, hembusan nafas itu terasa sekali. Shenina semakin mematung, dia sadar bahwa ini adalah bencana besar dalam hidupnya.
Shenina memejamkan matanya dengan nafas naik turun kala ingatannya tentang semalam mulai kembali dan terangkai satu persatu.
Air mata pun turun begitu saja tanpa berani melihat pada lelaki yang sedang memeluknya dengan erat dan begitu posesif seperti ini. Lelaki yang jelas jelas bernama Refaldy. Tidak ada yang lain lagi kan, karena semalam hanya Refal yang menyerang Shenina tanpa permisi. Bahkan aroma alkohol yang menempel di bibir Refal juga dapat Shenina rasakan semalam.
Semalam, Refal menyentuh dirinya dengan lembut dan tidak henti-hentinya melontarkan pujian pada Shenina meskipun dalam keadaan mabuk. Ya, setahu Shenina kan semalam refal mabuk.
Shenina juga masih ingat dengan jelas bagaimana Refal bermain di area dadanya dan melucuti seluruh pakaiannya. Shenina tidak menolak sama sekali, gadis itu justru mendesaah tak karuan hingga membuat Refal makin bringas.
Shenina masih mematung, tenaganya entah hilang kemana setelah mengetahui fakta bahwa dirinya tengah tidur bersama Refal disaat sudah mantap ingin menerima lamaran Argha.
Ingin sekali Shenina berteriak dan mengumpat pada Refal, kemudian mengeluarkan semua emosinya. Tapi Shenina tidak sanggup, toh dirinya juga tidak menolak sentuhan Refal. Shenina juga bingung harus bersikap bagaimana pada Refal jika harus berhadapan dengan mantan kekasihnya itu.
"Kenapa gue semalam gak menolak sama sekali? Ada apa dengan diri gue..." Batin Shenina lagi dengan tubuh yang bergetar karena tangis yang semakin kencang.
Shenina merasa hancur, sangat hancur. Dia anak yang hidup sebatang kara. Tidak memiliki harta apa-apa apalagi keluarga. Dan jika sekarang harga dirinya sudah hilang, lantas apalagi yang bisa Shenina banggakan.
"Shenina...." Panggil Refal dengan lembut. Refal terbangun karena tubuh yang ia peluk bergetar. Refal yang baru membuka mati langsung disuguhkan oleh air mata Shenina yang membasahi pipi. Shenina menangis tanpa suara, dan itu sangat menyakitkan untuk Refal.
"Shenina sorry.. semalam gue mabuk berat." Ucap Refal dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Maafin aku udah buat kamu seperti ini Shenina.. aku hanya terlalu takut kamu bersanding dengan orang lain dan tertawa bersama orang lain." Batin Refal.
"Singkirkan tangan kamu Fal!" Perintah Shenina dengan sangat dingin.
Refal memberikan jarak pada Shenina agar gadis itu nyaman. Shenina kemudian melihat di dalam selimut bahwa dirinya polos sempurna, tanpa baju apapun. Begitu juga dengan Refal yang terlihat sekilas dalam pandangan Shenina karena mereka dalam selimut yang sama.
Shenina memejamkan matanya, dadanya rasanya sangat sesak. Tangan Shenina mencekam selimut dengan begitu erat. Saking sesaknya dada Shenina, Shenina tidak mampu berucap apapun pada Refal. Hanya diam dan termenung.
"Shenina, ayo kita menikah. Aku akan tanggungjawab!" Refal akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan yang sesat itu.
Shenina yang sedang kalut justru tersenyum kecil kemudian menatap Refal penuh intimidasi.
"Mari kita lupakan yang telah terjadi semalam. Bersikaplah sewajarnya sebagai bos dan saya bawahan."
"Shenina..."
"STOP FAL!" Teriak Shenina dengan begitu keras yang jelas membuat Refal terkejut karena Shenina tidak pernah membentak seperti ini.
"KURANG PUAS KAMU HANCUR KAN HIDUP AKU FAL? KURANG PUAS KAMU? AYO HANCURKAN AKU LAGI FAL... HANCURKAN AKU LAGI." Teriak Shenina begitu histeris.
"Shenina tenang...." Refal berusaha menenangkan asisten pribadinya namun Shenina terus berteriak.
Refal tidak tega sungguh.
Hati kecil Refal menyesal sudah mengikuti skenario pasangan bucin itu jika reaksi Shenina akan seperti ini.
"Sorry Shenina..." Ucap Refal yang langsung memeluk Shenina dengan erat.
"Lepasin Fal! Lepasin!" Pinta Shenina sambil menangis dan memukul-mukul tubuh Refal sedapatnya.
"Shenina sorry... ayo kita menikah.".
__ADS_1
to be continue
Kira-kira diterima atau di tolak ya?