
Hallo kakak kakak readers..
apa kabarnya? Maaf ya off lama... otornya kemarin semedi 😁
happy reading ya 🤍
***
Katanya, puncak cinta tertinggi adalah melepaskan....
Dan inilah yang dilakukan Refal saat ini pada Shenina. Refal yang sangat mencintai Shenina lebih dari apapun memilih untuk menuruti mau Shenina, yaitu melepaskan gadis itu meskipun hatinya sungguh tidak rela. Meskipun hatinya hancur.
Tapi kembali lagi, Refal menyadari akan semua kesalahannya pada Shenina yang sudah sangat fatal. Kesalahan di masa lalu yang belum termaafkan ditambah kesalahan karena menuruti ide Alula dan Gerald yang justru semakin memperkeruh segalanya.
Refal sangat menyesal.. disaat pikirannya sangat kalut, dia tidak berpikir panjang soal masukan orang lain hingga dampaknya makin buruk. Hubungannya dengan Shenina sudah tidak terselamatkan lagi. Kini, Shenina benar-benar membencinya.
Air mata Refal menetes kembali...
Lelaki 26 tahun itu berusaha untuk menekan segala egonya saat menatap punggung Shenina yang menjauh.... keluar dari apartemen Gerald.
"Berbahagialah Shen..." Ucap Refal lirih.
Refal putus asa, misalkan Shenina ingin pergi menghilang dari hidupnya, keluar dari pekerjaannya maka Refal tidak akan lagi mencegah. Bukan menyerah, lebih tepatnya memprioritaskan kebahagiaan Shenina untuk menebus segala kesalahannya.
***
Satu minggu berlalu...
Selama satu minggu ini, Refal kembali ke setelan awalnya sebelum bertemu dengan Shenina lagi, yaitu dingin. Bahkan bisa dikatakan selama seminggu ini Refal lebih dingin dari sebelumnya.
Lelaki itu menghabiskan waktunya untuk bekerja di kantor dan enggan bersosialisasi dengan orang lain jika di luar pekerjaan. Bahkan Refal selalu menolak panggilan Gerald dan enggan bertemu dengan saudara sekaligus sahabatnya itu. Begitu pula dengan Alula.
Refal tidak marah dengan Gerald ataupun Alula yang sudah membuat skenario gila dengan keyakinan bahwa semua itu akan berhasil. Karena Refal percaya jika mereka berdua sangat mengharapkan dirinya dan Shenina balikan. Hanya saja Refal sibuk menyesali dirinya sendiri yang salah ambil langkah hingga hubungannya dengan Shenina kembali hancur.
Tumpukan berkas yang seharusnya masih deadline Minggu depan, sudah berada dihadapan Refal. Lelaki muda itu seperti sedang mencari kesibukan yang bermanfaat.
"Fal, asisten pribadi kamu sakit apa? Kata Vira sudah seminggu tidak berangkat." Tanya Indra Aditama yang kini duduk di sofa ruangan Refal sejak lima menit lalu namun tidak Refal pedulikan sedikitpun sebab Refal fokus pada layar di depannya.
"Entahlah." Jawab Refal singkat.
__ADS_1
"Kalau dia sakit parah, minta bagian HRD untuk membantu pengobatannya." Ucap Indra.
"Nanti biar diurus Vira." Jawab Refal.
Ya benar, sudah seminggu semenjak kejadian di apartemen Gerald, Shenina seolah menghilang ditelan bumi. Gadis cantik berlesung pipi itu tidak muncul di kantor maupun di apartemen atau kost lamanya.
Hanya sebuah surat dengan logo rumah sakit Hadikusuma yang datang ke kantor sebagai pemberitahuan bahwa Shenina sedang sakit dan butuh recovery selama 2 pekan. Alasannya sih kecelakaan...
Refal awalnya sangat cemas mengetahui surat keterangan sakit dari Rumah sakit ternama tersebut, sehingga Refal menyuruh orang untuk mencari tahu keadaan Shenina di rumah sakit itu. Namun ternyata nihil. Shenina tidak ada disana.
Disisi lain, Refal lega karena Shenina tidak langsung mengundurkan diri setelah kejadian itu. Setidaknya masih ada sedikit harapan untuk Refal bisa melihat wajah cantik itu kembali.
Refal baru teringat dengan sosok Argha Hadikusuma yang dikabarkan sangat dekat dengan Shenina bahkan berita dari Vira, Argha sudah melamar Shenina. Lewat salah satu temannya yang menjadi dokter umum di rumah sakit tersebut, Refal juga mendapat info jika Argha tidak datang ke rumah sakit sejak seminggu lalu. Melihat story di aplikasi berbalas pesan, Argha pergi liburan ke Bali dengan seorang wanita.
Apakah mereka pergi bersama? berdua?
Segala pikiran negatif bersarang di benak Refal tanpa bisa dikendalikan. Namun Refal tetap terlihat tenang dalam diam meskipun otak dan batinnya saling serang.
"Fal, Papa kesini mau bicara penting sama kamu." Kata Indra yang akhirnya merasa jenuh dicuekin anak lelakinya.
"Katakan."
"Tidak bisakah kamu duduk disini agar kita bisa mengobrol dengan santai?" Tanya Indra yang melirik sofa kosong di hadapannya karena Refal masih terlalu asik duduk di singgasananya sebagai Direktur Produksi.
"Ini mengenai Naraya Fal. Flo....."
"Berhenti membahas wanita itu dan segala hal menyangkut wanita itu Pa!" Refal tidak segan segan memotong ucapan sang papa. Dia sudah sangat muak dengan segala hal itu.
"Fal Papa hanya ingin kamu...."
Brak!
Refal menggebrak mejanya dengan kasar. Emosinya sudah siap meluap luap sejak tadi memikirkan Shenina yang ke Bali bersama dengan Argha.
Eh Papa Indra datang malah menyalakan api di tengah siraman bahan bakar.
"Sudah cukup papa mengatur hidup aku dengan segala ancaman papa. Jika papa mau menarik semua Investasi papa di perusahaan mama, tarik saja! Aku tidak peduli!" Kata Refal dengan nafas naik turun.
"Yang sopan kamu Fal!"
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa sopan dengan orang tua yang tidak pernah ada untuk aku? kalian berdua hanya mencari kebahagiaan kalian sendiri tanpa mempedulikan aku yang masih kecil. Dan aku harus mengorbankan cinta aku untuk menyelamatkan perusahaan suami mama... sekarang aku harus mengorbankan hidup aku demi pernikahan bisnis?"
"Fal, kamu dan Raya menikah bukan karena pernikahan bisnis tapi karena kamu sudah melakukan kesalahan padanya..."
"Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada wanita itu, karena hati aku memang tidak pernah melihat ke arahnya."
"Kamu...."
"Stop atau aku akan keluar dari perusahaan ini." tantang Refal membuat Indra diam seketika.
Indra tidak ingin Refal menjauh dari hidupnya. Indra sangat menyayangi Refal dan hanya Refal yang dapat menggantikan posisinya suatu saat nanti di perusahaan raksasa ini.
...**...
Diatas ranjang berukuran besar, gadis cantik dengan rambut tergerai indah dan nampak berantakan mulai mengerjapkan matanya.
Gadis bernama lengkap Shenina Anastasya itu mulai membuka matanya dan memeriksa jam di layar ponselnya. Pukul 10 pagi....
"Selamat pagi Nina.. nyenyak banget tidur kamu." Sapa lelaki berkaos putih dan bercelana pendek yang menghampiri ranjang Shenina kemudian duduk disamping gadis itu.
"Pagi Abang... " Jawab Shenina yang langsung menguap.
"Bagaimana perasaan kamu hari ini?" Tanya Argha yang merapikan anak rambut Shenina yang berantakan.
"Sedikit lebih baik." Jawab Shenina yang langsung memeluk Argha dengan begitu erat.
"Makasih ya Abang, udah mau dengerin semua curhatan aku, udah ajak aku liburan ke Bali dan menemani aku 24 jam .. makasih juga setiap pelukan kamu setiap malamnya bang.. aku bersyukur kenal dan bertemu dengan Abang." Ucap Shenina.
"Abang sayang sama kamu Nin.... Abang gak suka lihat kamu sedih apalagi menangis seperti kemarin.. Abang juga gak mau lihat kamu hancur dan terpuruk." Argha mengusap punggung Shenina dengan lembut.
"Bang, aku mau resign dari WIC aja ya, aku rasa.. aku gak sanggup menghadapi Refal." Ucap Shenina.
"Mengapa gak sanggup? apa kamu masih mencintai dia?" Argha memicing menatap wajah Shenina dengan penuh selidik.
"Nggak! enak aja." Ucap Shenina.
"Buktikan kalau kamu memang sudah tidak ada perasaan untuk dia lagi. Kamu harus tetap jadi asistennya dengan profesional. Jangan mencampur adukkan masalah pekerjaan dan Privasi." Kata Argha dengan tegas.
"Tapi bang..."
__ADS_1
"Dia bilang dia masih sangat mencintai kamu kan? angkat kepala kamu Shenina... nanti kamu berikan undangan pertunangan kita pada atasan kamu itu, kita lihat.. apa yang akan terjadi nanti." Argha tersenyum tipis. sebuah senyum penuh makna~
bersambung