Mantan Menyebalkan!

Mantan Menyebalkan!
Tekad Refal


__ADS_3

Bayangan senyum Alula melintas dibenak Shenina membuat gadis berlesung pipi itu tersadar jika tidak sepatutnya dia mendapat pelukan dari Refaldy. Sudah cukup kesalahannya pada Alula waktu di Apartemen itu, Shenina tidak ingin menambah rasa bersalahnya pada Alula hanya karena Refal.


Sekuat tenaga Shenina mendorong Refal yang tengah memeluknya dengan perasaan bersalah yang mendalam karena sudah membuat gadis itu menangis.


Sudah cukup. Bagi Shenina kisah masa lalunya dengan Refal sudah berakhir dan tidak perlu dibahas lagi.


Ibarat kata sudah tutup buku. Dan Shenina sudah menjalani hidupnya dengan buku baru tanpa ada nama Refal di dalamnya lagi meskipun tidak bisa Shenina pungkiri jika sosok Refal belum bisa ia lupakan sepenuhnya selama hampir lima tahun terakhir.


"Shenina.. please... kasih aku kesempatan dan waktu buat membuktikan perasaan aku."


Shenina menghapus air matanya dengan kasar kemudian tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang sebenarnya menertawakan dirinya sendiri karena Shenina sudah menangis di depan Refal hanya karena masalah tidak penting begini.


"Pak Refal, sekali lagi saya tegaskan. Hubungan kita dimasa lalu sudah saya anggap tidak pernah terjadi. Maka bersikaplah profesional! Berhenti untuk membahas hal hal di luar pekerjaan dengan saya."


"Shenina..." Refal masih berusaha membujuk Shenina.


"Bersikap profesional atau saya akan mengundurkan diri dari kantor hari ini juga? Saya tidak takut jika saya harus mendekam di penjara karena tidak bisa membayar pinalti!" Tegas Shenina dengan nafas naik turun menahan gemuruh di hatinya.


"Sebegitu benci kah kamu sama aku Shen?" Tanya Refal dengan tatapan sendu yang sebenarnya mampu menyentil hati Shenina.


Shenina dapat melihat tatapan Refal kali ini seperti tatapan Refal lima tahun lalu saat mereka masih bersama dalam ikatan pacaran. Shenina susah payah menelan salivanya kemudian mengumpulkan keberaniannya untuk menatap Refal.


"Iya. Aku benci sama kamu sejak empat tahunan yang lalu. Jadi tolong berhenti berbicara omong kosong lagi atau aku akan semakin membenci kamu dan akan aku pastikan aku tidak akan muncul di hadapan kamu lagi untuk selamanya Refal!"


Tidak. Refal tidak ingin itu terjadi karena Refal sangat tahu bahwa Shenina itu termasuk gadis nekat yang tidak pernah main main dengan ucapannya. Hidup Refal terlalu berantakan semenjak berpisah dengan Shenina.


Dan Refal bisa tertawa lagi saat dekat dengan Alula beberapa bulan belakangan ini setelah bertahun-tahun lamanya hidup seperti robot.


Refal dengan jelas dapat melihat amarah bercampur kecewa yang dibalut emosi dalam sorot mata Shenina seperti waktu itu di apartemen Refal. Oke, Refal memilih mengalah dan tidak gegabah lagi dalam membicarakan sesuatu atau mengambil keputusan.

__ADS_1


"Baiklah. Mari kita bersikap profesional." Ucap Refal pada akhirnya setelah butuh beberapa detik untuk berpikir.


"Saya pegang ucapan anda Pak Refaldy. Silahkan lanjutkan perjalanan." Kata Shenina mengingat tujuannya keluar kantor bersama Refal adalah untuk menemui seseorang yang akan mereka ajak kerjasama.


Refal menuruti Shenina, mobil pun kembali dilajukan untuk memasuki daerah BSD Tangerang Selatan menuju salah satu restoran ternama disana.


"Aku gak akan menyerah Shen... aku gak akan menyerah untuk mendapatkan kesempatan kedua dari kamu Shenina... aku sudah gak peduli lagi sama semua orang karena aku gak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Bahkan aku juga gak peduli jika harus meninggalkan dia. Jika aku gak bisa mendapatkan kamu kembali, aku pun tidak segan melakukan cara picik Shenina." Batin Refal.


"Tatapan kamu sudah kembali Fal... Tapi maaf, aku tidak ingin mengkhianati Alula.. aku tidak ingin menyakiti wanita lain. Lagi pula, hati aku sudah mati sejak empat tahun yang lalu setelah kamu menghancurkan semua mimpi-mimpi aku Refal..." Batin Shenina.


...***...


Wishnutama Internasional Corporation adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang properti dan pangan yang sudah tembus ke pasar Internasional.


Untuk bidang properti sendiri, perusahaan besar itu dipimpin oleh Arshaka Hutama yang tidak lain adalah om dari Alula yang waktu itu mengantar Alula dan Shenina menjenguk Dhani di rumah sakit.


Sedangkan Perusahaan Wishnutama yang bergerak di bidang pangan dipegang oleh Indra Pratama yang merupakan ayah dari Alula. Dan Refal kebetulan bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang Pangan sebagai direktur produksi dibawah naungan Indra Pratama.


Mengemban sebagai direktur produksi bukanlah hal mudah bagi Refaldy. Selain harus memastikan proses produksi berjalan sesuai yang diharapkan, Refal juga harus berpikir keras untuk mengembangkan produk-produk baru berupa makanan dan minuman agar selalu lebih unggul dari kompetitor.


Disinilah Refal dan Shenina sekarang. Dua anak manusia yang pernah memiliki kisah masa lalu yang manis sedang dalam mode profesional untuk mencapai kesepakatan pada seseorang yang ada di hadapan mereka saat ini, di ruang VIP Restoran Eropa.


Hartono, pemilik perkebunan teh terbesar di Bandung sedang memperhatikan penjelasan dari Refal tentang keuntungan yang ia dapatkan jika mau bekerjasama dengan Perusahaan Wishnutama yang akan memproduksi teh kemasan dengan kualitas premium.


"Kalau saya tidak ingin menyewakan lahan saya, bagaimana?" Tanya Hartono dengan santai.


"Jika anda tidak ingin menyewakan lahan anda untuk perusahaan kami kelola, maka opsi kedua adalah kami akan membeli seluruh hasil panen teh anda dengan harga terbaik." Jawab Refal membuat Hartono tersenyum.


Meskipun pengeluaran perusahaan akan jauh lebih membengkak ketimbang menyewa lahan, tapi Refal tidak mau mundur mengingat teh dari kebun Hartono memiliki kualitas terbaik dibanding lainnya karena unsur tanahnya dan pola perkebunannya yang tanpa menggunakan bahan kimia.

__ADS_1


"Jika boleh tahu, apa alasan pak Hartono tidak ingin menyewakan perkebunan teh anda?" Shenina mencoba menimpali. Pembahasan ini sudah berjalan tiga jam dan ini adalah saat saat final keputusan akhir tapi terkesan alot.


"Kenapa saya harus memberikan alasan jika saya tidak ingin?" Bukan menjawab, lelaki berusia 60 tahunan itu justru balik nanya pada Shenina.


Hal itu tentu menguji emosi Refal yang memang tidak sabaran dalam berbagai hal. Namun berbeda dengan Shenina, gadis itu justru tersenyum ramah pada Hartono dan memberikan kode pada Refal untuk diam.


"Melihat usia anda yang sudah tidak muda lagi, menurut saya sudah saatnya anda menikmati hidup anda dengan anak-anak dan cucu-cucu anda Pak Hartono. Bukankah tadi anda bilang jika anak-anak dan cucu-cucu anda semuanya tinggal di luar Bandung. Jika anda masih mengelola perkebunan teh yang sangat luas ini, kapan anda memiliki waktu untuk keluarga?" Tanya Shenina membuat Refal melongo karena Shenina justru menyangkutkan dengan urusan pribadi Hartono.


Sebelum membahas bisnis bersama Refal dan Shenina, Hartono sempat menceritakan tentang keluarganya pada dua anak muda didepannya itu.


"Usia manusia tidak ada yang tahu Pak Hartono... mohon maaf sebelumnya jika saya lancang. Jika anda terus disibukkan dengan masalah perkebunan maka cucu cucu anda tidak memiliki kenangan indah bersama kakeknya." Kata Shenina kembali membuat senyum Hartono langsung hilang seketika.


"Shenina." Panggil Refal lirih untuk memperingatkan Shenina agar tidak melewati batas saat berbicara.


"Apa yang diucapkan asisten kamu benar Fal." Kata Hartono pada Refal. Hartono sudah beberapa kali bertemu dengan Refal jadi keduanya lumayan akrab.


"Sebenarnya saya juga ingin memiliki banyak waktu dengan keluarga saya, bermain dengan cucu-cucu saya... Tapi saya takut dengan warga disana yang akan kehilangan pekerjaan jika perkebunan saya sewakan pada perusahaan. Hampir seluruh warga kampung saya menggantungkan hidupnya dari bekerja di kebun teh saya." Ucap Hartono pada akhirnya.


Shenina tersenyum,


"Jika itu alasan anda, saya akan memberikan jaminan dan penawaran menarik untuk anda pak Hartono.." Sambung Refal dengan cepat tanpa mau menyia-nyiakan kesempatan.


"Penawaran apa?" Tanya Hartono kemudian dijelaskan panjang lebar oleh Refal.


"Kamu hebat Shenina... kamu terkenal pendiam, tapi sekali kamu berbicara.. kamu bagaikan berlian yang mengeluarkan Kilauan yang menakjubkan." Batin Refal tersenyum pada Shenina.


To be continued


makasih komentar dan like nya ya kak... ❤️

__ADS_1


__ADS_2