Mantu Kiyai

Mantu Kiyai
Tragedi


__ADS_3

Al membukakan pintunya, ia kaget melihat beberapa orang yang berada di depannya itu, dengan berseragam polisi lengkap.


" Assalamualaikum pak, apakah benar ini dengan rumahnya Pak Rachman dan Ibu Lia" Ucap kepala polisi itu yang bernama tag bapak Haryono.


" Waaalaikumsalam, betul ya pak, ada apa ya?" ucap Al bingung


" Boleh saya berbicara dengan Bapak Rachman atau dengan ibu Lia?" tanyanya lagi.


" Silahkan masuk pak" ucap Al, Alpun mempersilahkan bapak Haryono, sebagai kepala polisi untuk masuk kedalam rumah, dan beberapa polisi lainnya menunggu di teras rumah.


" Siapa Al?" tanya Bu Laila, ketika Al mempersilahkan masuk kepada Pak Haryono.


" Selamat siang bu, kami dari pihak kepolisian ingin berbicara kepada Pak Rachman ataupun Bu Lia" ucap bapak Haryono.


" Oiya, silahkan duduk pak" ucap Bu Lia, tak lama datang pak Rachman dengan menggendong Salma dan Zahfa yang mengekorinya dari belakang.


Zahfa melihat ke arah Al, Alpun melihat kepadanya, Zahfa menatap dengan tajam, sedangkan Al hanya mengangkatkan bahunya tidak tahu. Zahfa berjalan mendekati Al, Dan Iapun mengalihkan gendongan Salma kepada-nya.


" Ada apa yah pak?" tanya Pak Rachman.


" Jadi begini pak, apakah benar kalian, orang tua dari saudara Dinda? saya membawa surat dari pihak kepolisian untuk memeriksakan Saudara Dinda" ucap pak Haryono.


" Iya, benar pak, Surat?" ucap pak Rachman dan Bu Lia bersamaan.


" Surat pemerikasaan atas kasus penculikan berencana" Ucap Pak Haryono.


" Bentar saya tidak mengerti maksud anda bapak?" ucap Bu Lia yang tidak mengerti.


Zahfa dan Alpun hanya bisa menghela nafasnya, ia tahu sedalam-dalamnya bangkai di kubur akan tercium juga. Zahfapun berbisik ke dekat telinga Al.


" Abang enggak laporin ka Dinda kan?" tanya Zahfa berbisik.


" Abang soal ini tidak tahu Za, apalagi sampai ketahuan sama pihak kepolisian" bisik Al.


" Zahfa Al " tegur Pak Rachman.


Zahfa dan Alpun diam, sedangkan Salma hanya memperlihatkan semua orang dewasa itu.


" Jadi begini pak Bu anak ibu saudara Dinda itu sudah merencanakan penculikan, ia menyewa seseorang untuk melibatkan penculikan ini, dan orang itu telah menyerahkan dirinya kepada pihak kepolisian, dan sekarang sedang dalam tahap pemeriksaan" jelasnya.


Bu Lia mendengarkan penjelasan pak polisi itu sangat syok, Dinda tak akan melakukan hal seperti itu, pikirnya. Iapun menangis di depan pak polisi, pak Rachman dan Zahfa Al.


" Anak saya tidak mungkin berbuat sekeji itu pak hiks" ucap Bu Lia.


" Tapi, maaf Bu saya melihat dari pemeriksaan betul dengan saudara Dinda, dan ini rumahnya" jelas Pak Polisi.


" Anak saya menculik siapa pak? sehingga berbuat sekeji itu?" tanya Bu Lia dengan Isak Tangisnya.


Deg, Jantung Zahfa berdegup kencang, iapun memegangi tangan Al, tangannya menjadi dingin, ia takut semuanya akan terbongkar. Al mencoba menenangkan Zahfa ia terus mengelus punggung Zahfa.

__ADS_1


"Siapa pak?" tanya Pak Rachman.


Pak Haryono pun membaca surat pemerikasaan itu.


" Atas Nama Zahfa" ucap Pak Haryono.


" Zahfa?" tanya Bu Lia.


" Iya, ia menculik Saudara Zahfa" jelasnya.


" Tapi, itukan anak saya, adik dari Dinda pak" ucap pak Rachman.


" Hah? " ucap Pak Haryono bingung.


" Zahfa jelaskan kepada mamah dan ayah, kamu juga Al" ucap mamah Lia tajam.


" Jadi, saya yang pusing pak bu, kalo begitu dimana dengan Saudara Dindanya saya akan membawa dia ke kantor, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut" ucap pak Haryono


" Dindanya Ada di atas pak" ucap Bu Lia.


" Baik, kalo gitu bisa tolong panggilkan?" tanya pak Haryono.


" Sebentar pak" ucap pak Rachman, pak Rachman pun meninggalkan mereka untuk ke kamar Dinda.


Sedangkan Dinda yang berada di dalam, sudah tahu, bahwa akan adanya polisi yang mengincarnya, sebab orang itu beberapa hari yang sempat mengirim SMS kepadanya.


Dinda setiap harinya ia menjadi senang, bagaimana tidak, setelah melakukan aksi penculikannya dengan orang suruhannya, ia lebih menjadi semangat, menjalankan setiap tugasnya baik tugas kampus ataupun tugas suruhan mamanya. Ia yakin bahwa Zahfa tidak akan di temukan, oleh siapapun termasuk Al sendiri, dan akhirnya Al akan menyerah untuk mencari Zahfa dan menikah Kembali, Dinda siap menjadi istri Al walaupun Al sudah menjadi status duda pikirnya.


Tapi semua itu hanyalah angan-angan semata, dua hari yang lalu penculik yang menjadi suruhan Dinda itu mengabari kepadanya, bahwa ia akan menyerahkan diri kepada pihak kepolisian, karena penculik itu tidak mau jika anaknya bernasib Naas seperti Zahfa, maka iapun akan menebus semua kesalahannya, dengan ia menyerahkan kepada pihak kepolisian. Harapan Dinda untuk bisa menjadi istri Al, pupus sudah tinggal ia menjadi buronan para polisi, dan mamah, ayahnya pun pasti akan kecewa, terlebih lagi ia menculik adiknya sendiri.


Flashback off.


tok tok tok.


Tak ada sahutan dari dalam kamar, pak Rachmanpun Kembali ke lantai dasar.


" Bagaimana pah?" tanya Bu Lia.


" Tidak ada sahutan dari dalam kamar" ucap Pak Rachman.


" Mamah takut kalo Dinda melakukan hal yang nekad lagi" jelasnya, langsung berdiri menuju lantai ke dua di ikuti dengan Zahfa dan Al, sedangkan Salma ia dudukan di sofa.


Mamah Liapun mengetuk pintu kembali, tak ada sahutan dari dalam kamar Dinda, kecewa dengan yang di lakukan Dinda? tentu saja, ia sudah gagal menjadi ibu yang baik pikirnya.


" Pah, dobrak saja" ucap Pak Rachman.


" Biar Al yang dobrak Bu" ucap Al.


semua orangpun mundur,karena Al akan mendobrak pintu kamar Dinda.

__ADS_1


Satu


Dua


Tiga.


Pintupun terbuka, disana tidak ada siapa-siapa hanya air yang sudah penuh dari dalam kamar mandi, semua orang masuk, Mamah Lia dan pak Rachmanpun mendekati pintu kamar mandi.


" Dinda sayang?" ucap Bu Lia.


" Masih lama kah Dinda" ucap Pak Rachman.


" Ka, ini aku Zahfa" ucap Zahfa.


" Sayang- sayang- sayang" ucap Bu Lia.


"buka saja lah" ucap Pak Rachman.


klek, pintu kamar mandi di buka, Dinda tidak mengunci pintu kamarnya.


Mamah Lia dan pak Rachmanpun masuk kedalam kamar mandi, ia syok melihat Dinda yang sudah berendam di bathtub, dengan darah yang sudah kemana-mana, dan baju yang masih lengkap ia kenakan. Dinda pingsan di Bathtub, Mamah Lia langsung berlari ke arahnya.


" Sayang bangun sayang" ucap Mamah Lia.


" Sayang" ucap pak Rachman.


Zahfa dan Alpun masuk ke dalam kamar mandi ia syok melihat ke adaan Dinda yang sudah tak saday diri, iapun langsung memeluk tubuh Al, dan Alpun mencoba menenangkannya.


" Yah, mah lebih baik kita bawa ke rumah sakit saja" ucap Al.


tanpa lama pak Rachmanpun mengendong Dinda yang basah, dan darah dari tangannya yang semakin banyak, ia berlari menuju ke lantai dasar.


" Ada apa pak?" tanya pak Haryono. yang melihat Pak Rachman menggendong Dinda.


" Ikuti saja kita ke rumah sakit" ucap Bu Lia.


" Mamah Zahfa dan Al akan ikut dari mobil kita" ucap Al, dan menggendong Salma.


" Papah, ateu kenapa?" tanya salma polos.


" Ah, ateu lapar dia pingsan" ucap Zahfa bohong.


" Tapi ada dayahnya" ucap Salma.


" itu, pewarna sayang" ucap Al.


dan merekapun berjalan ke garasi untuk menyusul mamah Lia dan Pak Rachman ke rumah sakit.


hallo, selamat hari Jumat berkah ❤️jangan lupa untuk bersedekah di hari Jumat ini dengan vote like rating fav nyaa yaah heheh

__ADS_1


__ADS_2