
Zahfa dan Al, mereka belum mengabarkan kebahagiaan mereka itu. Ia akan men suprise kan kepada semua keluarganya setelah persidangan Dinda, apalagi terhadap Salma, ia belum mengetahui bahwa ia akan menjadi Kaka.
Hari ini, Zahfa dan Al akan mengikuti proses pengadilan yang telah di umumkan beberapa hari yang lalu atas kasus penculikannya. Salma dan Bi Watipun mereka ikut serta dalam pengadilan itu. Bi Wati yang sudah tau bahwa Zahfa hamil, ia terus bersyukur, dan dugaannya selama berarti benar, Dan Al yang menceritakan diam-diam kepada Bi Wati.
" Neng Zahfa, ayok makan" ucap Bi Wati.
" Iya bi, bibi juga ya" ucap Zahfa mengambil piring dan menyajikan untuk Al. Al hanya tersenyum memandang Zahfa.
" Sayang kamu juga harus makan" ucap Al lembut.
" Apa mau di suapin?" tanya Al kepada Zahfa.
Zahfa hanya mengangguk kepalanya, ia ingin di suapi oleh suaminya, entah perasaan apa yang menyelimuti dirinya, sehingga ia ingin di suapi olehnya. Bi Wati tersenyum, kepada Zahfa.
" Mamah ko di cuapin sama papah" ucap Salma cemberut.
" Ama juga mau dong" ucap Salma iapun turun dari pangkuan Bi Wati, untuk menghampiri Zahfa. Salmapun duduk di atas pangkuan Zahfa.
" No sayang" ucap Al.
" Kenapa?" tanya Zahfa heran.
" Biar papah aja yang gendong Ama sini" ucap Al, Dan Salmapun turun dari pangkuan Zahfa.
" Papah mau aaaa" ucap Salma, iapun membuka mulutnya dan mengunyah makanan nya.
" Abang makan lagi" ucap Zahfa.
" Iya, saya sudah kenyang" ucap Al.
" Kamu harus makan yang banyak yah mah" ucap Al.
Bi Wati yang melihat adegan keluarga itu tersenyum, ia sangat terharu melihat majikannya yang romantis.
__ADS_1
"Bi Wati kenapa senyum-senyum sendiri" Terkekeh Al, melihat reaksinya.
" Lucu aja pak, lagian bibi baru kali ini melihat kalian begitu" ucap Bi Wati.
" Bibi, biasa aja deh jadi malu Zahfa" ucap Zahfa dengan lembut.
" Kalo udah siap kita berangkat sekarang" ucap Al. Dan merekapun mengangguk kepalanya.
" Oma, Ama kangen" teriak anak kecil itu saat melihat Omanya yang sudah berada di pengadilan terlebih dahulu.
"Oma juga kangen sayang, eh ini ya Bi Wati" ucap mamah Lia tersenyum. Bi Watipun hanya mengangguk.
" Yuk, kita masuk kedalam" ucap Mamah Lia.
Dinda yang sudah berada di tengah-tengah hakim, siap untuk menjalani persidangan siang ini, rasa gugup, panas dan dingin menyelimuti dirinya, ia tak sanggup bila ia mendekam di balik penjara. Tapi, ini salahnya juga.
"Tindak pidana penculikan diatur dalam Pasal 328 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Ancaman hukuman yang diberikan adalah pidana penjara paling lama dua belas tahun" ucap salah satu hakim yang berada duduk paling depan.
" Disini kami selaku hakim, menghadirkan korban atas kasus penculikan itu, bagaimana korban?" tanya hakim kepada korban yang tak lain Zahfa.
semuanya langsung melirik kearah Zahfa, iapun yang sedang diliriknya menghela nafasnya, meski kakaknya salah tapi ia akan mencoba untuk membebaskan kakaknya dari jeruji besi. zahfapun berdiri ia akan berpendapat kepada hakim.
" Saya sebagai korban disini sudah memaafkan kesalahan ka Dinda, apalagi dia kakak saya sendiri" ucap Zahfa terhenti. Semua yang berada disana pun mendengar ucapan Zahfa termasuk para hakim.
" Bagaimana pun kesalahan kakak saya di masa lalu, dia akan menjadi tetap kakak saya darah dan daging yang sama dari kedua orang tua kita yang sama, saya yakin kakak saya adalah orang baik, untuk itu saya, Zahfa Zahratunnisa sudah memaafkannya" ucap Zahfa tersenyum tulus. Semua orang yang mendengar perkataan Zahfa, mereka semua salut dengan sikap yang Zahfa, meski terbilang masih anak SMA, ia cukup dewasa untuk mengambil tindakan.
" Untuk itu Saya ingin meminta keadilannya" ucapnya. Lalu iapun duduk, dekat Al, ia langsung mendapat genggaman dari tangan Al.
" Kamu hebat sayang" bisik Al.
" Semua itu berkat suami idamanku" bidiknya lagi.
__ADS_1
" Jadi, setelah mempertimbangkan kasus ini, saya dan beberapa hakim disini akan memutuskan untuk menuntaskan kasusnya hari ini. Dengan Pelaku Dinda Aulia, akan di bebaskan dari hukuman, dan di selesaikan secara kekeluargaan" jelas Hakim iapun mengetuk palunya sebanyak tiga kali.
Dan acara persidangan pun selesai, semuanya mengucap rasa syukur, apalagi seorang Dinda ia bahkan sampai menangis terharu mendengarnya.
Mereka semua pun berkumpul di depan gedung persidangan itu.
" Mamah bangga sama kamu Za" ucap mamah Lia tersenyum haru.
" Ayah juga bangga sama kamu nak" ucap pak Rachman.
" Zahfa makasih ya de, kamu udah mempertaruhkan kakak, kakak janji akan lebih baik kedepannya" ucap Dinda, dan merekapun berpelukan.
" Iya ka" ucap Zahfa tersenyum tulus.
" Bagiamana Minggu ini kita rayakan bersama?" tanya Zahfa.
" Aku mau ajak Cica dan Dea, sekalian kita bakal ada suprise buat mamah ayah" ucapnya sambil mengedipkan matanya ke arah Al.
" Ide bagus sayang" ucap Mamah Lia.
" Ayah juga udah lama enggak maen catur sama nak Al" Terkekeh ayah Rachman.
" Abang juga bawa asisten Abang ya, biar makin rame" ucap Zahfa.
" Kita adainnya di rumah mamah sama ayah, boleh kan mah?" rayu Zahfa kepada mamah Lia.
" Boleh sayang, mamah juga udah kangen sama Cica dan Dea udah lama mereka tidak main ya, Oiya, ajakin juga yah Al mamah dan Abi kamu nak" ucap mamah Lia memberi ide.
" Siap mamah nanti Al Kabari" ucap Al sopan.
" Jadi, fiks ya Minggu ini kita berkumpul bersama" ucap pak Rachman.
" Tenang Bi Wati juga di ajak ko" Terkekeh pak Rachman kepada Bi Wati.
__ADS_1
Dan merekapun tertawa bersama.
hallo, jangan lupa untuk Vote rating fav likenya ❤️ jangan lupa kunjungi Instragram aku yah @istiaaaaltfh, :")