
"Selalu bersyukur apa yang telah Allah berikan, karena setiap manusia memiliki wadah rezekinya yang sudah di atur olehnya"
Empat hari sudah melakukan kegiatan ujian Nasionalnya, tinggal menunggu hasil nilai yang keluar dan ijazah, tak lupa acara tasyakuran yang akan di adakan di SMAnya.
Hari ini Zahfa sedang tidak berangkat ke sekolah, karena dua temannya di sibukkan dengan kegiatan SBMPTN untuk meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Hari ini ia sedang bermalas-malasan di dalam kamar, padahal terik matahari sudah sudah nampak jelas di tengah-tengah keramaian kota. Ia terus mengutak-atik hpnya, entah apa yang ia lihat. Sedangkan suaminya sudah berangkat kerja terlebih dahulu, Salma? tentu ia sekolah dengan Bi Wati, karena ia berjanji sudah berjanji kepada ke dua orang tuanya, akan rajin sekolahnya padahal terbilang ia masih cukup balita.
Zahfa yang sedang fokus terhadap hpnya, merasa lapar padahal ia tadi pagi sudah sarapan bersama keluarga kecilnya. Mungkin efek karena kehamilannya, nafsu makannya juga bertambah, bahkan ia tak segan-segan memakan nasi dua kali lipat dari biasanya.
Iapun melirik ke arah jam pukul 10.20 Wib.
sebentar lagi suaminya akan pulang, ia hari ini akan mengecek kandungannya di dampingi suaminya. Ia melangkah kan kaki menuju meja makan, ia membuka tutup saji yang berwarna merah maroon itu, ia pun membawa satu mangkuk daging, berniat untuk di panaskan kembali. Setelah memanaskan dagingnya, ia memakan daging beserta nasinya, ia tak lupa membaca doa ia sudah kenyang.
tok
tok
tok
Lamunan Zahfa ketika sudah makan, buru-buru ia mencuci tangannya ke westafel, ia yakin yang mengetuk pintunya adalah suaminya.
" Assalamualaikum" ucap Al berada di luar apartemen
" Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebentar" ucap Zahfa terburu-buru. Iapun membuka pintunya, dan memperlihatkan seorang yang menentang tas kerjanya.
" Salim dulu dong" terkekeh Zahfa, iapun mengambil alih tas yang di bawa Al.
" abang istirahat dulu ya, lagian chek up nya abis Dzuhur kan Za?" tanya Al, iapun merebahkan badannya di sofa ruang tv.
Zahfa hanya mengangguk, ia menyimpan tas milik Al di meja ruang tamu.
" Kamu sudah makan?" tanya Al.
" Udah, baru aja" ucap Zahfa ikut duduk di sebelah Al.
" Kamu tambah gemuk Za, tapi saya suka" Bisiknya tepat di telinganya.
Blush
Pipi Zahfa merona merah, seperti kepiting rebus walaupun ia geli dengan godaan suaminya tapi ia sangat suka ketika suaminya berbicara seperti itu.
"Masing siang ga boleh mesem-mesem gitu" ucap Al yang melihat Pipi Zahfa merona.
" Nanti malem aja ya, sekalian tengokin Dede bayinya" ucap Al tertawa.
"Ih apaan sih Abang ini, suka ngegodain aku Mulu" ucap Zahfa sebal.
" tidak apa-apa, dari pada Abang ngedoain perempuan di luar sana mending Abang ngedoain istri sendiri, halal ini kan?" Goda nya lagi.
" Diem ah Abang suka gitu" cemberut Istrinya.
Tak kerasa waktu adzan pun berkumandang, untuk mengingatkan kewajiban umatnya, Al dan Zahfa saling menunggu untuk solat berjamaah Dzuhur, untung saja tadi Zahfa sudah mandi jadi ia tidak akan lama berdiam diri di kamar mandinya.
__ADS_1
Rakaat demi rakaat mereka lakukan dengan khusuk, tidak lupa setelah salam mereka berdoa kepada yang maha kuasa, ingin segala urusannya di mudahkan dan di lancarkan, tak lupa Zahfa menyalim tangan suaminya, ia mencium tangan suaminya penuh hormat. Al langsung mengusap kepala Zahfa dan ia pun meraba perut istrinya yang sudah membuncit itu.
"Halo nak, Assalamualaikum ini papa, sehat-sehat ya di dalem perut mama, papa sama Kaka Salma ga sabar nunggu kehadiran kamu" ucap panjang lebar Al.
"Wa'alaikumussalam siap papa, aku sayang papa" ucap Zahfa menirukan suara anak kecil.
Mereka berdua pun terkekeh, mendengar suara Zahfa menirukan suara anak kecil.
tok
tok
suara dari luar kamar, firasat mereka pasti benar bahwa yang mengetuk pintunya adalah anak pertama mereka, siapa lagi kalo Salma.
" Mamah papah, Ama udah pulang" ucap Ama dari luar kamar.
" Buka aja nak, tidak di kunci" ucap Zahfa.
Salma langsung membuka pintunya, dan menghambur ke pelukan Al. Ia merindukan kedua orang tuanya, Ama memeluk leher Al menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Al.
" Kenapa sayang?" tanya Zahfa mengelus kepala anak pertamanya.
" Ama kangen mamah papah" ucap nya.
" Kangen gimana? setiap hari kan ketemu" ucap Al.
" Malem ini Ama pengen tidur sama mamah papah" ucapnya lagi.
" siap tuan putri, nanti malem kita bobo sama-sama ya" jelas Zahfa.
" Kemana pah? mamah papah mau pergi?" tanya Ama balik.
" Mau, mau lihat Dede bayi, adiknya Ama mau?" tanya Zahfa.
" Mau, Ama ikut" ucap Salma antusias.
" Ya udah sana rapih-rapih ya" ucap Zahfa.
Salma pun meninggalkan mereka berdua.
" Ayok kita juga harus siap-siap bang" ucap Zahfa iapun berdiri melipat mukena nya.
Setelah perjalanan menempuh setengah jam, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit untuk memeriksa kondisi kandungan Zahfa. Ia pun mengambil no untuk bisa periksa kandungan itu. Untung saja, hari ini orang-orang di sana tidak padat hanya beberapa ibu hamil yang akan periksa kandungan nya.
" Papah mana Dede bayinya?" tanya Ama polos.
" Nanti ya sayang, kalo mamah masuk ke dalam ruangan itu, Ama bisa lihat Dede bayinya" ucap Al menunjukkan ruang yang akan periksa Zahfa.
Tak lama suara suster memanggil namanya.
" ibu Zahfa, silahkan masuk" ucap suster tersebut tersenyum.
Merekapun semuanya masuk ke dalam ruangan yang serba putih itu, dan berbau obat pastinya, Salma ia sangat takut, ia sangat menggenggam tangan besar milik Al.
__ADS_1
Dokter yang berada di ruang tersebut pun tersenyum, kepada mereka.
" Ayo Bu, baringkan tubuh ibu di bankar itu" jelas ibu itu, yang bernama tag Dr. Rainie itu.
Zahfa membaringkan tubuhnya, rasa degdegan cemas menjadi satu
" Rileks saja Bu, tidak akan saya apa-apa" jelas dokter itu sedikit tertawa.
ia mengoleskan gel Kepada perut Zahfa, ada rasa dingin yang di rasakan Zahfa.
" Dokter mamah Ama jangan di suntik ya" ucap Ama polos memecahkan keheningan di dalam ruangan itu.
Dokter Rainie pun tertawa mendengar penuturan Salma.
" Anak cantik siapa yang bilang mamah kamu bakal di suntik sayang" ucap dokter itu lembut.
Al hanya tersenyum melihat apa yang di lakukan dokter itu, padahal dalam hati ia sangat takut bercampur rasa degdegan.
" ibu bapak apakah kalian sudah melihatnya?" tanya dokter itu.
kedua kepala mereka, mencari apa yang dokter itu katakan, ia melihat di layar seperti komputer di sana ada ada gumpalan semacam daging dan keduanya menggeleng tidak mengerti.
" Apakah saya ingin menyebutkan jenis kelaminnya?" tanya nya kembali.
" Jangan dok, biar jadi suprise untuk saya dan kedua istri saya nantinya" ucap Al.
Karena mereka sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelaminnya, biar kan Allah yang mengatur segala rezekinya.
" Baik lah, tapi disini saya melihat ada dua yang tumbuh?" jelas dokter itu
" Maksudnya?" tanya Zahfa.
" Kemungkinan besar anak kalian kembar, tetapi saya belum yakin, mungkin nanti pas kehamilan ibu 7 bulan bisa di check up lagi ya, untuk melihat perkembangan janin nya" jelas Dokter itu, Zahfa pun merapihkan bajunya yang sempat terangkat tadi.
" Maksud dokter saya akan memiliki anak kembar?" tanya Al tidak percaya.
" iya seperti itu bapak, tapi saya tidak menjamin sebelum kandungan nya umur 7 bulan, untuk itu ini resep obat untuk di tebus ke apotek dan vitamin nya ,jaga kesehatan bayinya semoga sehat dan lancar sampai 9 bulan Bu pak" jelas dokter itu.
" terimakasih Bu" ucap mereka bersama, lalu mereka keluar dari ruangan itu.
" Papah kita akan mempunyai anak kembar?" tanya Zahfa tidak percaya.
" Iya insyaallah, semoga apa yang di katakan dokter itu benar, saya akan sangat bersyukur sekali" jelas Al.
" Jangan bilang dulu ke dua orang tua kita, biar ini menjadi suprise buat mereka" jelasnya lagi.
" baik pah, pantesan aku sering makan melebihi Porsi dari biasanya" monolog Zahfa
" Tidak apa-apa sayang, selagi itu sehat untuk kedua anak kita" jelas Al.
" Terimakasih mamah, papah sayang papah" Bisiknya.
" inget, rezeki sudah ada yang ngatur" ucapnya lagi.
__ADS_1
Mereka berdua gak henti-hentinya mengucap syukur, hal ini menjadi kebahagiaan bagi keduanya, mereka berdua berharap calon anak kembarnya sehat, sampai Dimana ia akan di lahir kan ke dunia.