Mantu Kiyai

Mantu Kiyai
Cita-cita


__ADS_3

Setelah memberitahukan kepada seluruh keluarganya, sekarang Zahfa di sibukkan dengan persiapan ujian sekolahnya,yang akan di selenggarakan satu bulan lagi, ia harus benar-benar belajar, karena ia tak mau sampai nilainya menurun. Akan tetapi ia juga harus memperhatikan kesehatannya apalagi di dalam tubuhnya ada janinnya.


Pagi itu, Zahfa sudah bersiap-siap akan pergi ke sekolah. semenjak hamil, porsi makanannya selalu bertambah, apalagi jika si sekolah, untuk itu ia lebih memilih membawa bekalnya ke sekolah. Begitupun dengan Al, ia juga mengikuti kebiasaan Zahfa, iapun selalu membawa bekal ke kantornya.


" Eh neng, biar bibi aja" ucap Bi Wati ketika menghampiri Zahfa ke dapur.


" Udah bibi, duduk aja lagian ini gampang ko bi" Ucapnya.


" Lah, ko tumben bawa bekalnya dua, kan kemaren cuman satu?" tanya Bi Wati.


" Buat Abang Al Bi" ucap Zahfa.


Bi Wati hanya ber"O" saja, mendengarkan perkataan Zahfa. Tak lama datang Al yang sudah memakai setelan jasnya.


"Selamat pagi, bibi Ama belum bangun?" tanya Al ketika duduk, Semenjak ada Bi Wati Salmapun sering tidur dengan Bi Wati dalam satu kamar.


" Pagi, belom pak" ucap Bi Wati.


" Yaudah, kalo dia udah bangun jangan lupa Bi kasih susunya" ucap Zahfa.


Semenjak Salma tinggal dengan mereka, Salma setiap hari di beri asupan gizi, termasuk harus meminum susu setiap hari. Sehingga, Salma memiliki pipi yang lebih chubby, dan tubuhnya menjadi sedikit berisi.


" Bibi, kita berangkat dulu ya" ucap Al.


" Yaudah, hati-hati neng, pak" ucap Bi Wati.


 


Di dalam mobil tak berhenti-hentinya Zahfa terus mengoceh, entah apa yang di bicarakan nya, Al hanya bisa menjawab Iya atau menggelengkan kepalanya. Karena ia takut jika menjawab yang tidak-tidak akan berakibat tidak enak, apalagi ibu hamil lebih sensitif.

__ADS_1


" Abang ini bekalnya, jangan lupa di makan dan jangan telat makan, aku berangkat dulu ya" ucap Zahfa ketika sudah berada di gerbang sekolahnya, iapun tak lupa untuk mencium tangan suaminya.


" Iya sayang dah, Dede jangan lupa jagain mamah ya, " ucap Al, mengelus perut Zahfa yang masih rata.


" ciap papah" ucap Zahfa menurikan gaya anak kecil.


Zahfa keluar dari dalam mobilnya, ia berjalan masuk kedalam pintu gerbang sekolahnya, suasananya sangat sepi. Iapun masuk ke dalam kelasnya. Beberapa orang sudah ada yang berada di kelas, telah mengobrol kan sesuatu.


" Hay, Za hari ini akan ada persiapan ujian sekolah dan rencana loh kuliah mau di teruskan dimana" ucap Mirna salah satu teman kelasnya.


" Oiya, kamu mau kemana Mirna?" tanya Zahfa yang sudah duduk.


" Aku sih pengen kaya kamu, kamu ingin jadi dokter kan?" tanya Mirna.


" Lah, ko tau ?" tanya Zahfa.


" Orang loh pernah cerita ke kita-kita ya gak?" ucap Mirna kepada teman-teman lainnya, dan mendapat anggukan oleh mereka.


" Jadi, loh bakal tetep jadi dokter?" tanya Mirna penasaran.


" Emang kenapa?" tanya Zahfa, iapun tidak tahu cita-citanya sebagai dokter akan terwujud apa tidaknya.


" Kalo lu mau bareng sama gua aja, kalo hasilnya nilai ujian kita memuaskan, kita bisa masuk lewat beasiswa" ucap Mirna.


" Oke, thanks ya infonya" ucap Zahfa.


Setelah perbincangan dengan Mirna, Zahfa memikirkan kan apa yang di katakan Mirna, ia sangat ingin sekali menjadi dokter, tetapi di satu sisi ia sudah menjadi mempunyai suami.


Tak lama Cica dan Deapun masuk kedalam ruangan kelas, ia melihat Mahmud yang sedang melamun.

__ADS_1


" Kenapa melamun Hem?" tanya Dea ketika sudah duduk di dekat Zahfa.


" Eh, kalian kapan datang?" tanya Zahfa heran.


" Lo yang ngelamun dari tadi, sampe Lo enggak tau kita ada disini" ucap Cica.


" Gue bingung" lirihnya.


" Cita-cita kalian ingin jadi apa?" tanya Zahfa lagi.


" Tumben Lo nanya kaya gitu?" tanya Dea.


" Gua nanya aja" ucap Zahfa.


" Gua ingin jadi desainer" ucap Cica.


" Gue jadi ingin pramugari" ucap Dea.


" Dan Lo?" tanya mereka berdua.


Zahfa menggelengkan kepalanya, membuat ia meneteskan air matanya.


" Lo kenapa nangis?" tanya Dea panik.


" Gue gapapa, gue gak tau cita-cita gue akan tercapai apa enggaknya, kalian tau kan gue ingin jadi apa?, dan sekarang gue sudah menjadi apa?, jangan sia-sia in kesempatan loh pada, gue bangga kalo cita-cita kalian berdua tercapai" Ucapnya.


" Za, Lo jangan putus asa, di Indonesia juga masih banyak universitas yang ada dokternya, lu mau jadi dokter kan? pokonya apapun hasilnya kita di akhir, kita tetep harus saling menguatkan, satu sama lain" ucap Dea.


" Gue bangga punya kalian, satu bulan terakhir ini akan menjadi kenangan terindah, buat gue" ucap Cica terharu.

__ADS_1


" Best Friends chek" tawa Zahfa tertawa, dan merekapun ikut tertawa bersama-sama.


__ADS_2