Mantu Kiyai

Mantu Kiyai
syukuran


__ADS_3

setelah acara kelulusan Zahfa, semua keluarga zahfa dan Al berkumpul, kedua keluarga itu nampak sangat akrab sekali. Papah dan mamah Zahra mereka tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas keberhasilan yang di raih anaknya itu. Dan disinilah mereka berada di ruang keluarga, kediaman orang tua Zahfa. mereka menyediakan berbagai macam makanan untuk syukuran kelulusan dan kehamilan anaknya. mereka sengaja mengundang beberapa tetangganya untuk melakukan syukuran pengajian kelulusan dan kehamilan Zahfa.


Zahfa dari tadi mampu hanya tersenyum dan memegang tangan suaminya tanpa berkata-kata apa, ia sangat senang ternyata banyak sekali yang peduli terhadapnya, hingga membuat acara syukuran ini.


" Kenapa hm?" tanya Al mengelus pucuk kepala Zahfa


" Terima kasih untuk semuanya, terima kasih telah peduli dan sayang terhadapku, mungkin hanya sekedar ucapan tak akan mampu membalas semua ini, aku sayang mas Al " ucap zahfaa terharu dengan menitikkan air mata nya.


" Apapun yang membuat istriku bahagia insya Allah saya akan lakukan, meski taruhan nyawanya. tak perlu membalas Seperti itu, cukup menjadi istri yang berbakti dan Solehah mampu menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kelak nanti, udah jangan sedih lagi nanti debay ikutan sedih lagi, gara-gara mamahnya sedih" jelas Al tersenyum.


" Eh beda ya sedih sama terharu itu" elak Zahfa.

__ADS_1


Tak lama berbincang-bincang kedua pasutri itu, datang lah Dinda. memang setelah acara perpisahan Zahfa Dinda pun ikut pulang ke rumah ke dua orang tuanya, ia berencana akan menginap beberapa hari kedepan.


" Selamat adik aku sayang, maaf untuk masa lalu yang menyakitimu, mungkin Kaka tak pantas menjadi Kaka yang baik buat kamu, tapi setidaknya maaf kaka Mu ini, untuk kedepannya Kaka akan memperbaiki semuanya" jelas Dinda menyesali perbuatannya itu.


Al yang melihat adik Kaka itu, langsung beranjak pergi


" Kalian berdua bisa di bicarakan dari hati ke hati, saya yakin Dinda untuk kali ini menyesali perbuatannya, jaga diri baik-baik ya, saya akan pergi ke sana dulu" ucap Al kepada Zahfa.


Zahfa hanya mengangguk tanda setuju


Dinda yang dari tadi berdiri dengan menundukkan kepalanya, lalu ia berjalan duduk di dekat Zahfa.

__ADS_1


Zahfa menghela nafasnya, jujur mengingat kebersamaan dengan kakak nya membuat ia rindu, tapi di sisi lain mengingat kejadian yang menyeret dirinya membuat ia takut kepada kakaknya.


" Za, ngomong napa?" ucap Dinda.


" aku kangen banget sama kebersamaan kita dulu ka, Kaka yang selalu ada buat aku, Kaka yang support aku waktu aku jatuh, Kaka yang selalu ngajarin aku dalam berbagai hal, tapi di sisi lain mengingat kejadian buruk itu membuat aku takut, takut untuk mengenal Kaka lagi, takut Kaka seperti itu, padahal aku tidak sama ingin merebut semuanya" jelas Zahfa.


" Za, kali ini kamu bisa pegang kata-kata Kaka, Kaka tidak mau menyakiti kamu lagi, untuk itu Kaka mau minta maaf atas semua perbuatan Kaka dulu" kata Dinda pilu.


" Kaka tau kan ibarat piring pecah, orang tidak akan mampu bisa menyatukannya kembali meskipun itu pake lem, sama seperti hati aku, aku rapuh, aku trauma, sakit hati, meski Kaka minta maaf kejadian itu tidak akan membuat trauma ku hilang" ucap Dinda.


" untuk sekarang tak perlu meminta maaf lagi kepada ku ka, aku kan berdamai dengan diri sendiri mengubur itu semua hingga nanti, Kaka perlu memperbaiki semuanya, dan pastinya menyesal dengan perbuatan itu" jelas Zahfa tersenyum.

__ADS_1


"Oiya, aku mau nyusul mas Al ya ka, Kaka hati-hati okey" jelas Zahfa lagi ia pun beranjak pergi dari tempat duduknya.


Dinda hanya mampu bisa merenungi kesalahannya.


__ADS_2