Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Sebuah Fakta


__ADS_3

Jasper terbangun dari tidurnya. Ia memperhatikan ruangan tempatnya terbangun saat ini.


"Ini kan kamarku," Jasper mencoba mendudukan dirinya. Kepalanya masih terasa berputar-putar akibat alk*hol yang ia tenggak semalam.


"Semalam bagaimana caranya aku pulang ya?" Jasper menggaruk-garuk kepalanya. Ia sungguh tidak ingat mengenai peristiwa penting antara dirinya dengan Rachel.


"Mungkin semalam aku memaksakan menyetir," Jasper mengambil kesimpulan setelah ia melihat kunci mobilnya ada di atas nakas. Jasper mengambil gelas berisi air mineral dan meneguknya beberapa kali.


"Hari ini aku izin saja tidak masuk kuliah. Kepalaku benar-benar pusing," Jasper memijit pelipisnya.


Pemuda itu berdiri, lalu berjalan pelan keluar dari kamarnya. Jasper menuruni tangga bermaksud untuk mengambil sarapan.


"Biasanya bibi May akan mengantarkan sarapan ke kamar jika aku telat bangun," ucap Jasper pelan sambil menuruni tangga-tangga rumahnya.


"Pagi Pa, Ma!" Sapa Jasper yang melihat Alula, Kai dan seorang gadis yang sedang terduduk di meja makan.


"Tumben sekali papa belum berangkat kerja," Jasper terduduk di sisi Kai, ayahnya.


Tidak ada sahutan dari keduanya.


"Hey, kalian kenapa?" Jasper mengambil roti yang ada di atas meja makan dan mengolesinya dengan nut*la cokelat.


"Bibi May tidak masak ya? Mengapa menu sarapan pagi ini hanya ada roti? Biasanya jika bibi May tidak masak, mama yang akan masak," Jasper melihat ke arah Alula yang sedang termenung di kursinya. Jasper melihat wajah ibunya sendu, tidak ada keceriaan sama sekali seperti yang ia tunjukan setiap harinya.


"Hey, anak kecil! Mengapa kau ada di sini?" Tanya Jasper kepada seorang gadis yang tengah terduduk. Gadis itu bernama Kimberly.


Kimberly adalah adik semata wayang Jasper. Saat ini, Kimberly duduk di kelas 3 SMA. Kimberly memang tidak serumah dengan kedua orang tua juga kakaknya, itu karena gadis berparas cantik itu selama ini tinggal bersama kakek dan neneknya.


"Ingin tahu saja," jawab Kimberly dengan sewot.


Jasper tidak menghiraukan sifat ketus dari Kimberly, ia mulai melahap roti berlapis cokelat yang ada di tangannya. Sementara itu, Kai menghela nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. Seperti ada beban yang amat besar di dadanya saat ini. Kai mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jasper?" Kai menatap tajam putra sulungnya itu.


"Iya, Pa?" Jasper balas menatap ayahnya.


"Papa sudah bilang kepadamu untuk tidak meminum minuman beralkoh*l. Kau ingat?" Kai berbicara dengan penuh wibawa.


"Uhuk," Jasper langsung terbatuk mendengar ucapan Kai.


"Papa tahu dari mana?" Tanya Jasper dengan wajah takutnya.


"Kau tidak ingat tentang peristiwa semalam?" Alula menatap kecewa putra yang begitu ia manjakan itu.


"Peristiwa apa? Aku hanya minum sedikit. Pasti Aurora yang menceritakan ini kepada Mama dan Papa. Atau si Alan yang menceritakannya?" Jengkel Jasper sembari kembali mengunyah roti miliknya.


"Baik, baik. Maafkan aku, Pa, Ma! Aku hanya ingin mendapatkan yang ingin kudapatkan. Maka dari itu, aku menerima tantangan dari Alan. Aku tidak akan meminum alkoh*l lagi. Aku berjanji," Jasper menatap wajah kedua orang tuanya yang penuh dengan kekecewaan.


"Aku masuk kamar saja," Kimberly pamit dari meja makan dan masuk ke kamar yang selalu diperuntukan untuknya jika ia kembali ke rumah.

__ADS_1


"Kau benar-benar tidak ingat apa yang kau lakulan semalam? Kau baru saja berusia 18 tahun!!!" Kai menggeprak meja dengan kedua tangannya. Alula dan Jasper pun langsung terlonjak kaget.


"Ingat? Ingat apa? Aku kan sudah mengakui aku memang minum dan aku tidak akan mengulanginya lagi," Jasper mengiba.


"Bagaimana bisa kau melupakan fakta bahwa kau meniduri seorang gadis?" Kai berteriak. Sungguh, Jasper baru pertama kali mendengar Kai berteriak marah kepadanya.


"Ma-maksud Papa?" Jasper terbata.


"Kau benar-benar tidak ingat?" Air mata Alula menitik.


Jasper pun hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan bingung.


"Biar mama jelaskan. Semalam kau mabuk dan kau tidur dengan seorang gadis di sebuah hotel yang ada di dekat klub malam," Alula menyeka air matanya.


"Tidur? Maksud Mama?" Jasper membulatkan matanya.


"Iya. Kau meniduri seorang gadis. Bagaimana bisa kau lupa??" Kai berteriak. Suaranya memenuhi langit-langit rumah. Alula hanya mengigigit bibirnya. Ia baru melihat lagi kemarahan dari suaminya setelah berbelas-belas tahun lamanya.


"Meniduri seorang gadis? Siapa? Aurora?" Jasper menebak. Samar-samar ia teringat ketika membuka pakaian seorang gadis yang ia yakini adalah Aurora.


"Bukan, tapi gadis yang bekerja di sebuah klub malam," Alula berbicara pelan.


"Tidak. Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa-" Jasper tidak meneruskan kata-katanya. Ia mencoba mengingat setiap detail kejadian semalam.


"Siapa gadis itu, Ma, Pa?" Jasper bertanya dengan gusar.


"Dia bernama Rachel Olivia. Seorang warga Bulgaria," Kai mendikte.


"Sayang, tenanglah!" Alula tersedu. Ia berdiri dan menggenggam tangan suaminya agar lebih tenang.


Jasper tersentak. Lagi-lagi ia harus berurusan dengan Rachel. Dan lagi, Kai dengan mudahnya mengetahui semua info mengenai gadis itu.


"Itu tidak mungkin," bibir Jasper bergetar.


"Tidak mungkin bagaimana? Kami melihat kalian tidur bersama tanpa sehelai benang pun di tubuh kalian?" Ucap Alula dengan tangisnya.


"Tidak. Ini tidak mungkin. Ini gila," Jasper berdiri dari duduknya dan menjambak rambutnya. Ia mencoba mengingat lagi, apa yang benar-benar terjadi semalam.


Benarkah ia dan Rachel melakukan hal seperti itu? Bagaimana bisa gadis itu ada bersamanya di hotel semalam? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepala Jasper.


"Ini pasti salah. Aku yakin salah!" Jasper berlari menaiki tangga. Ia mengambil kunci mobilnya di atas nakas. Kemudian, Jasper turun kembali ke bawah dan pergi untuk menemui Rachel. Ia ingin meminta penjelasan langsung kepada Rachel atas kejadian semalam.


"Kau mau ke mana?" Alula hendak mengejar putra sulungnya itu.


"Biarkan dia!" Kai menarik tangan istrinya.


****


Mata Rachel tampak sangat sembab dan memerah. Semalaman sudah ia menangis. Rachel mengingat betul kejadian semalam, saat Jasper mel*cehkannya.

__ADS_1


Rachel memutar kembali ingatan kejadian kelam itu di otaknya.


"Jasper, jangan!" Rachel menangis sembari meronta saat Jasper men*ndih tubuhnya. Keduanya kini tidak memakai sehelai benang pun.


"Jasper!" Rachel berteriak. Kini, tubuh Rachel sudah tidak berdaya. Tenaganya sudah ia kerahkan semaksimal mungkin untuk melawan tubuh yang lebih besar dan tinggi darinya.


Saat Jasper hendak mengger*ayangi tubuh Rachel, pintu kamar pun terbuka. Rachel melihat seorang wanita dan pria yang ia yakini itu adalah orang tua dari Jasper.


"Jasper!!!!" Teriak wanita itu yang tak lain Adalah Alula, ibu dari Jasper.


Rachel langsung mendorong tubuh Jasper hingga jatuh ke lantai. Gadis itu langsung mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.


"Kurang ajar kamu!!" Pria yang Rachel yakini ayah dari Jasper adalah Kai. Kai hendak menghadiahi bogem mentah untuk putranya, tetapi ditahan oleh istrinya.


Kai mengatur amarahnya dan melepaskan putranya. Selanjutnya Alula dan Kai memberikannya privasi agar Rachel segera memakai pakaian. Rachel memakai selimut hotel dan memakai bajunya di kamar mandi. Saat Rachel keluar, ia melihat dua orang bodyguard memapah tubuh Jasper yang sudah lengkap dengan pakaiannya keluar dari kamar hotel.


"Aku rasa tidak akan bijak jika kami berbicara denganmu sekarang. Pikiran kita semua sedang kalut. Supir kami akan mengantarkanmu pulang. Kami akan berbicara denganmu esok hari," Alula berbicara kepada Rachel yang sudah memakai bajunya dengan lengkap.


Rachel diam membisu, tidak ada kata yang keluar. Rachel hanya mengangguk, sebagai jawaban atas tawaran Alula untuk mengantarkannya pulang. Pikiran Rachel sedang kalut. Ia sungguh tidak bisa pulang sendiri dengan keadaan seperti ini.


"Mengapa aku harus berurusan lagi dengannya?" Rachel menangis sejadinya ketika ia selesai mengingat semuanya.


**Bersambung...


Selagi menunggu novel ini update, para readers bisa membaca karya author yang lain, diantaranya :




Dipaksa Menikahi Alula,




Istri Kesayangan Nino,




Pernikahan Karena Dendam,




Aku Bukan Seorang Pelakor**.

__ADS_1




__ADS_2