Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Membuatkan Kue Muffin


__ADS_3

"Mengapa kau datang ke rumah kak Daniella dan tidak meminta izin padaku?" Jasper bertanya saat Rachel akan masuk ke dalam rumah. Ia sudah menunggu istrinya di depan pintu.


"Maaf!" Hanya itu yang bisa dikatakan Rachel. Ia memang bersalah tidak pamit terlebih dahulu kepada Jasper.


"Tidak. Kau tidak bersalah. Harusnya aku yang meminta maaf padamu. Maafkan aku! Maafkan aku karena sudah membuatmu menunggu di rumah dan memasak makanan sebanyak itu!" Jasper benar-benar merasa bersalah kepada istrinya.


"Tidak apa-apa. Itu hakmu jika ingin merayakan dengan Aurora," Rachel tersenyum simpul.


"Sebagai permohonan maafku, aku akan memasak malam ini untukmu!"


"Memang kau bisa memasak?" Rachel tertawa.


"Tentu saja. Ayo jangan membuang waktu! Kata Papa, waktu adalah uang," Jasper menarik tangan Rachel masuk ke dalam rumah.


"Duduklah di sini!" Jasper mendudukan Rachel di kursi makan.


Rachel memperhatikan Jasper yang memakai celemek dan mulai melihat-lihat buku resep yang tersedia.


"Aku masak apa ya?" Jasper bergumam tetapi terdengar oleh Rachel.


"Ini saja," Jasper tampak sudah menemukan menu yang akan ia buat.


"Butuh bantuan?" Teriak Rachel saat mendengar Jasper terbatuk-batuk.


"Tidak. Kau duduklah!"


Rachel pun memutuskan untuk melihat ponselnya. Ia membuka fitur instagram dan melihat akun Hans mengikutinya. Rachel membuka profil pemuda itu dan melihat feed instagramnya yang banyak berpose dengan gadis-gadis cantik.


"Dia seorang playboy rupanya," Rachel bergumam pelan. Ia memang tidak mengikuti kehidupan teman-teman sekelasnya. Sangat disayangkan Rachel bukanlah gadis yang ingin tahu mengenai urusan orang lain. Hanya pribadi Jasper yang benar-benar Rachel tahu.


"Sudah jadi!!!" Seru Jasper dengan girang. Ia membawa 2 piring masakan buatannya ke meja makan.


"Kau memasak apa?"

__ADS_1


"Aku memasak kue Muffin cokelat. Kata Papa ini makanan bersejarah untuk Mama dan Papa," jelas Jasper dengan semangat.


"Bersejarah?" Rachel tertawa.


"Iya. Kata Papa, Papa pertama kali mentraktir Mama makan kue Muffin. Dan sejak saat itu mereka seperti memiliki keterikatan satu sama lain," jelas Jasper lagi.


"Aku harap kita pun memiliki keterikatan satu sama lain," batin Rachel sembari menatap kue Muffin buatan suaminya.


"Jasper?" Panggil Rachel dengan suara lembutnya.


"Iya?" Jasper melepas celemek dari tubuhnya. Ia pun terduduk di depan Rachel.


"Terima kasih sudah membuatkanku kue Muffin," Rachel berkata dengan tulus.


"Sama-sama," Jasper tampak salah tingkah.


Jasper mengambil kue yang ada di piringnya. Ia memakannya dengan hati-hati.


"Benarkah?" Rachel mencoba kue itu.


"Rasanya unik," lanjutnya.


"Kau pasti berbohong," Jasper menyipitkan matanya.


"Kue buatanmu memang tidak enak. Ini gosong. Tapi karena kau sudah membuatkannya untukku, maka aku harus memakannya," Rachel memakan kembali kue Muffin itu.


"Jangan di makan jika tidak enak!" Jasper hendak mengambil kue yang ada di tangan Rachel.


"Jasper, kita harus menghargai pemberian dari orang lain. Apalagi kau sengaja membuatkannya untukku. Jadi, aku akan menghabiskannya," Rachel melahap kue khas negara Inggris itu sampai habis.


Tanpa sadar, Jasper tersenyum menatap istrinya yang tengah lahap memakan kue buatannya.


***

__ADS_1


Jasper terbangun di malam hari. Ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air mineral.


"Tubuhku benar-benar dingin!" Jasper meneguk air hangat dan melihat ke arah jendela yang tirainya terbuka.


"Salju sudah turun," gumam Jasper saat melihat sekitar rumahnya sudah memutih tertutup salju.


Ia memutuskan untuk kembali ke sofa dan mencoba tertidur kembali.


"Aku tidak kuat. Ini dingin sekali!" Tubuh Jasper sedikit menggigil karena di ruang tengah suhu benar-benar sangat dingin.


"Di kamar ada penghangat ruangan. Tapi tidak mungkin aku masuk ke dalam kamar tamu atau kamar yang lain. Papa sudah memasang CCTV di sana," decak Jasper dengan frustasi.


Jasper mencoba bertahan di sofa ruang tengah. 10 menit, 20 menit, hinggal 30 menit berlalu.


"Aku benar-benar tidak kuat. Aku bisa terkena hipotermia," Jasper meninggalkan sofa dan bergegas masuk ke dalam kamar dirinya dan Rachel.


Jasper dengan pelan membuka pintu. Ia tidak ingin membangunkan istrinya yang tengah tertidur dengan nyenyak.


"Sepertinya sangat hangat," Jasper melihat Rachel yang sedang tidur meringkuk dengan selimut tebal di atas tubuhnya.


Dengan pelan tapi pasti, Jasper merebahkan dirinya di samping gadis blonde itu. Jasper membelakangi istrinya. Jasper mulai mencoba untuk tertidur. Ia berusaha memejamkan matanya. Kantuk mulai menyerangnya, hingga Jasper pun ikut tertidur nyenyak di samping Rachel.


Pukul empat pagi Jasper membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah teduh Rachel yang masih terlelap. Kini tubuh mereka saling berhadapan satu sama lain.


"Gadis ini cantik juga. Wajahnya sangat tenang," Jasper tersenyum menatap istrinya itu.


Perlahan jari Jasper bergerak membelai pipi Rachel.


"Wajahnya hangat. Apakah benar aku sudah menidurinya dulu? Mengapa aku tidak mengingat apapun? Padahal itu pertama kali aku melakukannya. Tapi mengapa dia bisa bersikap biasa saja dengan semua yang sudah terjadi di antara kami? Benarkah bibir ini pernah aku cium?" Batin jasper saat jarinya menyentuh bibir Rachel.


"Ah, apakah aku sudah gila?" Racau jasper ,ia segera bangkit dari tidurannya.


"Pasti ada yang salah dengan otak ku," Jasper menyalakan kran dan mencuci wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2