Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Hans


__ADS_3

Rachel berjalan setapak demi setapak. Entah mengapa, penolakan Jasper terhadap masakannya membuat gadis itu sedikit sedih.


"Aku tahu dia tidak menyukaiku. Tapi apakah harus dengan membuang makanan? Dia tidak tahu, di luar sana banyak orang yang harus bekerja keras untuk mendapatkan makanan," Rachel tersenyum getir seraya menatap sepatu kets nya yang berwarna putih.


"Tunggu! Mengapa aku harus bersedih?" Rachel mencoba mengontrol emosinya.


Rachel mempercepat langkah kakinya. Kelas akan dimulai 15 menit lagi. Setelah kejadian Jasper yang membuang masakannya, Rachel termenung cukup lama di dapur. Sehingga ia tidak menyadari jika waktu kuliah sebentar lagi akan dimulai.


"Hey, Nona Bulgaria? Kau berjalan kaki lagi ke kampus?" Sapa seorang pemuda yang menaiki mobil mini Convert*ible berwarna biru.


"Hey, Hans!" Balas Rachel kepada Hans, teman sekelasnya yang tempo hari pernah memberikan tebengan.


"Kau berjalan kaki lagi?" Hans bertanya sekali lagi.


"Iya. Tidak ada bus atau taksi yang lewat," Rachel melirik ke arah belakang.


"Kalau begitu naiklah, Nona Bulgaria!" Suruh Hans kepada Rachel dengan senyum yang begitu menawan.


"Baiklah," tanpa berbasa-basi, Rachel langsung naik ke mobil Hans yang memiliki atap terbuka. Terlalu munafik untuk Rachel jika menolak, karena ia memang harus cepat datang ke kampus, untuk mengikuti perkuliahan tepat pada waktunya.


Hans adalah teman sekelas Rachel dan juga Jasper. Ia cukup terkenal di kampus karena ketampanannya. Dan yang membuatnya semakin populer adalah karena Hans adalah seorang mahasiswa yang sering bergonta ganti kekasih. Sudah banyak mahasiswi yang pernah dikencani olehnya, lalu dicampakannya begitu saja. Hans hanya ingin bersenang-senang saja menghabiskan masa muda, begitu pikirnya.


Tak ada obrolan saat Rachel dan Hans bersama di dalam mobil yang sama. Pikiran Rachel masih mengingat bagaimana Jasper dengan begitu tega membuang waffle yang ia buat dengan susah payah. Sementara Hans, sesekali melirik gadis yang ada di sebelahnya.


"Mengapa kau tidak berangkat lebih awal? Kau pasti tidak akan berjalan kaki seperti tadi," Hans memecahkan keheningan yang cukup lama di antara mereka.


"Aku ada urusan terlebih dahulu," Rachel menjawab sekenanya. Rachel menatap daun-daun mapple yang berwarna merah kecoklatan. Hal ini menandakan akan datangnya musim gugur.


"Mengapa cuacanya gelap sekali?" Rachel menatap langit yang mendung.


"Ya, karena sudah waktunya peralihan musim. Dari musim panas ke masuk ke musim gugur," Hans menjawab rasional.


"Aku tidak suka musim gugur," gumam Rachel yang terdengar oleh telinga Hans.


"Mengapa?"


"Karena aku harus melihat pohon-pohon meranggaskan daunnya. Jika di Bulgaria saat akan masuk musim gugur, aku sering melihat hewan-hewan bersiap kembali ke sarangnya. Lalu, setelahnya hewan-hewan itu bermigrasi ke tempat yang lain."


Rachel pun terdiam, hewan-hewan yang bermigrasi menggambarkan dirinya yang kini juga bermigrasi ke negara lain untuk kehidupan yang lebih baik. Binatang-binatang yang bermigrasi akan kembali ke sarang yang lama setelah musim dingin selesai. Lalu, apakah Rachel suatu saat akan kembali ke Bulgaria saat pernikahannya dengan Jasper telah usai? Rachel anggap saja jawabannya adalah ya.


"Lalu, kau suka musim apa?" Tanya Hans seraya fokus mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"Aku menyukai musim semi. Aku menyukai bunga-bunga yang bermekaran. Aku suka bunga mawar, maka dari itu ibu menambahkan Ruzha di belakang namaku."


"Rachel Olivia Ruzha, nama yang cantik," Hans tersenyum.


Di lain sisi, Hans yang sedang menyetir, cukup terkejut mendengar Rachel bisa berbicara banyak. Karena saat di dalam kelas, gadis itu tidak banyak bicara. Ia hanya akan menyimak penjelasan dosen, lalu bertanya seperlunya.


"Sudah sampai," beri tahu Hans saat mereka sudah sampai parkiran.


"Terima kasih, Hans. Aku sudah dua kali merepotkanmu," Rachel berbasa-basi.


"Sama-sama. Kau tidak merepotkanku."


"Aku duluan," Rachel keluar dari mobil Hans dan berjalan ke arah fakultas ekonomi.


"Dia tidak menungguku keluar?" Hans menatap punggung Rachel yang semakin menjauh.


"Sayang, kau berangkat dengan siapa?" Tanya seorang gadis berambut hitam kemerahan yang tak lain adalah kekasih baru Hans.


"Dia temanku," Hans masih menatap punggung Rachel yang semakin mengecil.


***


"Aku mencarimu dari kemarin. Kata mamamu kau sudah pindah? Aku begitu terkejut ketika mamamu berkata kau ingin hidup mandiri," Aurora menatap Jasper yang sedang duduk di sampingnya.


"Iya. Aku ingin fokus belajar. Kau tahu kan? Kimberly sudah pindah lagi ke rumah," Jasper memakai alasan adiknya untuk berkilah.


Semenjak Jasper menikah, Kimberly memang tinggal bersama lagi dengan Kai dan Alula. Sedari kecil, Kimberly memang tinggal bersama kakek dan neneknya.


"Di mana rumah barumu? Bolehkah aku bermain ke rumahmu?" Pinta Aurora secara terang-terangan.


Refleks Rachel langsung menoleh ke arah belakang. Ia melihat Jasper kini tengah menatapnya.


"Bolehkan? Aku tidak sendiri. Aku bisa undang teman-teman yang lain. Tentu kau akan menunjukan rumah barumu kepada sahabat kecilmu ini kan?"


Jasper diam tak bergeming di kursinya. Sementara Rachel, ia kini sudah mengalihkan pandangannya ke arah depan.


"Boleh," jawab Jasper pada akhirnya.


Mata kuliah terakhir telah usai, Rachel melihat Jasper dan Archie keluar bersama dari kelas dengan diiringi tawa kecil. Rachel merasa Jasper benar-benar tidak menganggap dirinya ada.


Rachel hanya menghela nafasnya pelan. Dalam lubuk hati yang terdalam, sesungguhnya Rachel ingin berteman dan mempunyai hubungan yang baik dengan suaminya. Tapi entah mengapa, ia seolah dipermainkan oleh waktu dan suasana yang salah.

__ADS_1


Rachel berjalan keluar dari gerbang kampus. Tak lama, mobil suaminya lewat dan melewati dirinya begitu saja. Seolah-olah pemuda itu benar-benar tidak melihat kehadirannya.


"Gadis Bulgaria? Kau lagi?" Lagi-lagi Hans yang memberhentikan mobilnya di samping Rachel.


"Hay!" Sapa Rachel dengan kikuk. Pasalnya saat di dalam kelas mereka bukanlah teman akrab yang sering mengobrol.


"Kau mau naik mobilku lagi atau tidak?" Tawar Hans dengan senyumnya yang merekah.


"Tidak, Hans. Terima kasih. Aku sedang tidak terburu-buru," Rachel menolak. Bagaimana pun, ia adalah seorang perempuan yang sudah bersuami. Tak elok rasanya, bila dirinya pergi bersama laki-laki lain.


Rachel memutuskan untuk naik bus agar lebih ekonomis. Sesaat kemudian, Rachel sampai di rumah barunya, tempat ia menjalankan pernikahan palsu ini. Rachel masuk ke dalam kamar, Ia melihat Jasper tengah duduk di atas kasur sambil memainkan ponselnya.


"Archie mengundang kita ke pesta ulang tahunnya hari sabtu ini," kata Jasper kepada istrinya yang tengah menaruh tas.


"Aku tidak akan datang," Rachel hendak masuk ke dalam kamar mandi.


"Datanglah! Tidak enak jika kau tidak datang," ucapnya dingin.


Rachel tidak menjawab.


"Gadis Bulgaria?" Panggil Jasper dengan nada sedikit meninggi.


"Apa?"


Jasper membangunkan tubuhnya, ia terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Cobalah ini!" Jasper memberikan sebuah tespack untuk istrinya.


"Tespack?" Rachel bertanya dengan bingung.


"Pakailah itu agar kita tahu dirimu hamil atau tidak setelah peristiwa malam itu."


"Jika aku hamil?" Rachel memelankan suaranya.


"Aku akan berusaha untuk menerima kehadiranmu," Jasper memandang ke arah lain.


"Dan jika tidak?" Rachel menatap alat pengetes kehamilan di tangannya.


"Aku akan memperjuangkan Aurora lagi sampai titik darah penghabisan."


Hey, hey, novel author yang satu lagi sudah update ya. Judulnya Aku Bukan Seorang Pelakor 🤗

__ADS_1


__ADS_2