
3 bulan kemudian...
Kandungan Rachel kini sudah menginjak usia enam bulan. Setiap hari Jasper selalu melayani segala kebutuhan dan memanjakannya. Akan tetapi, hati wanita itu tetap belum mencair. Ia masih saja terus mendiamkan suaminya. Rachel takut terluka untuk kesekian kalinya.
"Aku harus bagaimana lagi?" Jasper menatap langit-langit kamarnya. Ia sedikit frustasi dengan sikap dingin Rachel selama tiga bulan ini.
Saat Jasper berusaha menutup kedua matanya, terdengar suara Rachel memanggil-manggil namanya.
"Itu suara Rachel," Jasper langsung membuka matanya.
"Jasper!!" Teriak Rachel lebih keras.
"Ada apa?" Jasper berlari keluar dengan panik.
"Aku rasa aku mengalami pendarahan," Rachel berkata dengan bibir yang bergetar. Ia begitu takut terjadi hal buruk pada janin yang dikandungnya.
"Pendarahan apa?" Jasper membulatkan matanya karena panik mendengar kata-kata Rachel.
"Ini!" Rachel memperlihatkan darah segar yang ada pada c*lana dal*mnya.
"Kita harus segera ke rumah sakit!" Jasper dengan sigap menggendong istrinya dan memasukannya ke dalam mobil.
"Jangan mengebut!" Rachel berkata sembari menangis. Ia sangat takut terjadi hal buruk pada janinnya.
Jasper menurunkan kecepatan mobilnya. Ia tidak ingin Rachel, calon anak dan dirinya celaka. Ia masih ingin memperbaiki kesalahannya dan membangun keluarga yang bahagia bersama Rachel.
Setelah sampai di depan instalasi gawat darurat, Jasper segera membawa istrinya turun dari mobil. Beberapa petugas medis turut membantu Jasper dalam membawa Rachel. Tak berselang lama, Rachel masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Jasper diperkenankan untuk menunggu di luar.
"Biarkan aku masuk!" Jasper berkata kepada perawat yang akan menutup pintu ruang pemeriksaan.
"Silahkan tunggu di luar!" Titah perawat itu dengan sopan.
Jasper pun mengalah. Ia tidak ingin tindakannya membuat Rachel lambat ditangani. Jasper menunggu istrinya dalam keadaan cemas, sedih dan tak karuan. Jasper terus berjalan ke sana dan ke sini, berharap ada kepastian mengenai keadaan istri dan calon buah hatinya. Tak butuh lama, Jasper pun di panggil untuk mendengar penjelasan dari dokter.
"Jadi, bagaimana kondisi istri saya dan bayi yang ada di kandungannya?' Jasper tampak tidak sabar mendengar penjelasan dari dokter spesialis Obygyn.
"Secara umum kondisi istri dan bayi yang ada di dalam kandungannya dalam keadaan sehat. Akan tetapi, ada satu masalah yang menyebabkan istri anda mengalami pendarahan," jelas Dokter itu dengan bijaksana.
"Apa itu, Dok?" Jasper tak sabar mendengar penjelasan dari dokter.
"Dari hasil pemeriksaan USG yang telah kami lakukan, istri anda mengalami Plasenta Previa."
"Apa itu, Dok?" Jasper tampak tidak mengerti.
__ADS_1
"Plasenta Previa adalah kondisi di mana plasenta (ari-ari) berada di bawah atau dekat dengan leher rahim/serviks. Seharusnya letak plasenta itu di atas, akan tetapi plasenta yang ada di rahim istri anda berada di bawah. Dari hasil pemeriksaan, istri anda mengalami Plasenta Previa jenis Plasenta Previa Totalis, yang artinya plasenta menutupi seluruh leher rahim atau lebih jelasnya Plasenta menutup total jalan lahir bayi," jelas Dokter itu menggunakan kata-kata yang mudah di mengerti.
"Lalu, apakah pendarahannya ini berbahaya?" Jasper tampak sangat tertekan.
"Pendarahan yang di alami istri anda masih tahap ringan dan bukan pendarahan hebat. Saya sarankan untuk tidak melakukan hubungan suami istri, mengurangi aktivitas. Atau lebih bagus saya sarankan istri anda bed rest untuk memulihkan kondisinya. Karena jika istri anda melakukan aktifitas, khawatir darah akan keluar kembali."
"Saya mengerti. Istri dan bayi saya akan sehat-sehat saja kan, Dok?" Jasper memastikan.
"Tentu saja. Jangan buat istri anda stress!" Perintah Dokter itu lagi.
"Lalu, bagaimana dengan cara persalinannya nanti?"
"Untuk cara persalinan apa yang akan dilakukan, kita akan menentukan jika sudah memasuki usia kandungan 37 Minggu. Kandungan istri anda harus benar-benar di pantau untuk melihat kondisinya."
Jasper tampak mengerti dengan penjelasan dokter spesialis obygyn. Jasper pun diperkenankan untuk melihat kondisi istrinya.
"Hey, gadis kuat! Bagaimana keadaanmu?" Kata Jasper dengan lembut.
"Hey, kau lupa! Aku bukan gadis lagi," Rachel tertawa dengan lemah.
"Aku benar-benar mencemaskanmu," Jasper menciumi kening Rachel dengan posesif.
"Bagaimana dengan bayiku?" Rachel meneteskan air matanya.
"Bayi kita dalam keadaan sehat. Tapi, kata dokter kau harus berdiam diri di kasur dan tidak melakukan aktivitas apapun. Kau sanggup?" Jasper berkata dengan pelan.
"Iya. Bahkan untuk ke toilet kau harus ku gendong."
"Separah itu kah?" Rachel menangis tersedu.
"Jangan menangis!" Jasper mengusap air mata yang tumpah di pipi istrinya.
"Tidak ada yang parah. Semua baik-baik saja. Ini dilakukan agar tidak ada darah lagi yang keluar. Kau ingin bayi kita sehat dan selamat sampai tiba persalinan kan?"
Rachel mengangguk pelan.
"Maka dari itu, turuti semua perkataanku! Aku akan melakukan apapun asal kau dan bayi kita sehat."
Rachel pun mengangguk. Ia rasa tidak ada orang lain yang bisa ia andalkan selain Jasper seorang.
"Aku mau pulang," Rachel merengek.
"Kau harus menjalani rawat inap malam ini. Besok kita pulang," Jasper mengusap rambut Rachel lembut.
__ADS_1
"Kau berjanji besok kita bisa pulang?"
"Iya. Aku berjanji," Jasper memaksakan senyumnya. Walaupun ia sangat khawatir akan kondisi istri dan calon bayinya, akan tetapi Jasper harus kuat dan tegar di mata Rachel. Jika ia terlihat lemah, harus kepada siapa Rachel bersandar? Tentu yang Rachel miliki kini hanya suaminya, karena Rachel sudah mentup rapat-rapat komunikasinya dengan Daniella.
***
Keesokan harinya, Jasper membawa pulang Rachel yang sudah diizinkan pulang oleh Dokter. Jasper memangku Rachel dengan ekstra hati-hati. Jasper merebahkan Rachel di tempat tidur. Kemudian ia keluar dari kamar Rachel tanpa berpamitan.
"Jasper, kau mau ke mana?" Tanya Rachel yang tak dijawab oleh Jasper.
Beberapa menit kemudian, Jasper masuk kembali ke dalam kamar Rachel dengan membawa koper miliknya.
"Mengapa kau membawa kopermu?" Rachel keheranan.
"Aku harus sekamar bersamamu agar bisa memantau kondisimu," jawab Jasper dengan serius.
Rachel tak menjawab. Jasper memang harus selalu ada di sisinya, karena sebelum dirinya pulang, dokter sudah mewanti-wanti agar Rachel bed rest total.
"Kau lapar?" Tanya Jasper yang langsung dibalas anggukan oleh Rachel.
Jasper pergi ke dapur, kemudian ia kembali dengan membawa nampan berisi makanan, air putih, susu dan suplemen kehamilan.
"Aku suapi!" Jasper dengan telaten menyuapi istrinya.
"Sampai kapan aku seperti ini?" Tanya Rachel setelah ia selesai dengan makan siangnya.
"Sampai saatnya kau melahirkan."
Rachel memelototkan matanya karena terkejut.
"Kau serius? Aku harus seperti ini sampai 3 bulan ke depan?"
"Iya. Jika kau bergerak, dikhawatirkan darahnya akan keluar lagi. Aku mohon kali ini kau menurut kepadaku. Kau menyayangi bayi kita yang sedang kau kandung kan?" Jasper memberikan pengertian.
"Tentu saja. Aku menyayanginya. Aku akan melakukan apapun asalkan dia selalu sehat dan selamat," bulir air mata lolos begitu saja di mata Rachel.
"Terima kasih karena telah menyayanginya. Terima kasih karena sudah mau mengandung anakku," Jasper memeluk Rachel dengan lembut. Air matanya menetes mengingat semua luka yang pernah ia torehkan di hati istrinya.
Rachel diam tak menjawab. Ia memang begitu mencintai anak yang belum ia lihat rupa dan raganya. Hanya dengan menyentuh perutnya sendiri, Rachel begitu bahagia. Ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan ketika calon bayinya itu mulai bergerak.
"Jasper, aku ingin mandi. Tolong mandikan aku!" Pinta Rachel yang membuat Jasper menjadi salah tingkah.
"Mandikan?" Jasper memperjelas.
__ADS_1
"Iya. Bukankah kau bilang aku tidak boleh bergerak. Aku tidak boleh berjalan walau sekedar ke kamar mandi?"
"Iya. Kalau begitu aku yang akan memandikanmu," jawab Jasper dengan jantungnya yang mulai berdisko ria.