Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
The Glacier Express


__ADS_3

Kota Zermatt adalah sebuah kota di Switzerland yang berbatasan langsung dengan negara Italia. Kota Zermatt terkenal sebagai kota kecil yang bebas dari polusi dan juga dikelilingi oleh pegunungan yang eksotik. Penduduk di kota ini sangat gemar berjalan kaki atau menggunakan kendaraan listrik agar terhindar dari polusi udara.


Dan di kota yang indah ini lah Jasper dan Rachel berada. Kini mereka tengah menaiki sebuah kereta yang bernama kereta The Glacier Express. Sebuah kereta cepat mewah yang akan membawa pasangan suami istri itu dari kota Zermatt menuju ke St. Moritz di bagian timur. Perjalanan kereta api ini memakan perjalanan selama delapan jam. Kereta ini beroperasi setiap hari. The Glacier Express akan melewati 91 terowongan dan lebih 291 jembatan dengan pemandangan yang begitu memukau dan memanjakan mata. The Glacier Express pun akan melewati jalur celah gunung dan melewati jalur yang menjadi warisan dunia UNESCO.


"Cuacanya masih cukup dingin!" Jasper merekatkan mantelnya di dalam kereta. Untuk menaiki The Glacier Express para penumpang wajib melakukan reservasi sebelumnya. Beruntung, Kai dan Alula sudah mengurus segala keperluan mereka untuk berbulan madu.


"Hey, ini sudah masuk musim semi. Mengapa kau masih saja kedinginan?" Rachel tertawa melihat tingkah suaminya.


Kini mereka tengah duduk berhadapan di dalam kereta sambil menikmati pemandangan yang menakjubkan dari kaca kereta. Jasper dan Rachel duduk di Excellence Class atau kelas mewah di The Glacier Express. Kelas ini menyediakan tempat duduk, yang lebih nyaman dan juga terdapat mini bar yang kekinian. Tak lupa, orang-orang yang duduk di Excellence Class akan dilayani oleh petugas. Petugas pun akan memberikan informasi mengenai alam, budaya dan orang-orang yang terlihat di sepanjang perjalanan.


"Kau lihat sendiri, saljunya baru saja sedikit mencair," Jasper mengerucutkan bibirnya.


Rachel pun berdiri dari duduknya, kemudian ia terduduk di samping Jasper.


"Kau selalu saja kedinginan!" Rachel menyandarkan kepalanya di bahu kekar pemuda itu. Jasper mengulas senyum. Hatinya terasa menghangat.


Salju-salju terlihat mencair. Suhu pun akan perlahan menghangat setelah musim dingin berakhir.


"Ini akan menjadi musim semi terbaik dalam hidupku," gumam Rachel sambil terus menyandarkan kepalanya.

__ADS_1


Seorang petugas datang dan menyajikan sampanye di gelas Jasper dan Rachel. Sampanye adalah minuman beralkohol yang terbuat dari anggur.


"Mengapa kau tidak meminum minuman beralkohol?" Tanya Rachel saat Jasper tak menyentuh gelas yang berisi sampanye miliknya.


"Papa dan Mama selalu memberi tahu bagaimana dampak meminum minuman yang mengandung alkohol. Aku hanya takut mabuk saja. Papa pernah bercerita, dia selalu lepas kendali bila minum minuman beralkohol. Dan kau ingat bukan, apa yang terjadi jika aku mabuk," Jasper mengingat kejadian di mana ia di jebak oleh Alan Addison.


"Iya, aku ingat," Rachel berkata dengan pelan. Ia mengangkat kepalanya dan memandang dengan kosong ke hamparan salju yang meleleh.


"Malam itu tidak terjadi apapun, J! Ingin rasanya aku jujur kepadamu, tapi aku masih takut untuk mengungkapkannya," batin Rachel menerawang jauh.


"Kau juga tidak meminum sampanyemu. Kau pasti trauma dengan apa yang aku lakukan dulu?" Jasper tampak merasa bersalah.


"Kau benar. Kalau begitu mari ku pesankan minuman yang lain untukmu!" Jasper memanggil petugas dan meminta kopi cokelat juga minuman ringan lain seperti jus buah.


Rachel dan Jasper kembali menikmati pemandangan indah di luar sana. The Glacier Express pun melewati sebuah terowongan.


"Ini adalah terowongan Furka," jelas Jasper. Ia memang menolak layanan petugas yang berniat untuk menjelaskan mengenai alam dan budaya. Jasper tak ingin ada yang mengganggu waktu berduanya bersama Rachel.


"Terowongan ini sangat panjang!" Seru Rachel saat kereta melintas di dalam terowongan sepanjang 15.4 km itu.

__ADS_1


Lalu, The Glacier Express melewati Ngarai Rhine.


"Ngarai Rhine biasa disebut sebagai Grand Canyonnya Switzerland," jelas Jasper lagi. Rachel pun dibuat takjub mengenai pengetahuan suaminya.


"Setiap musim dingin, Papa dan Mama selalu membawaku ke Switzerland. Mereka seperti mengenang masa-masa muda mereka," Jasper tertawa. Ia seakan menebak pertanyaan di benak istrinya.


"Pantas saja kau hatam jika setiap musim dingin pergi ke Switzerland," Rachel ikut tertawa.


"Rachel?" Jasper mengalihkan pandangannya ke arah wajah cantik istrinya.


"Iya?"


"Mari kita buat kenangan indah di negara ini!" Jasper memajukan wajahnya dan menutup matanya.


"Oh tidak, ini ci*uman pertamaku!!" Jantung Rachel seakan berhenti berdetak saat Jasper semakin dekat. Mereka memang pernah berci*uman saat di dalam hotel, tapi itu dilakukan saat Jasper tidak sadar, dan Rachel sedang dalam situasi ketakutan.


Rachel pun memilih mengikuti kata hatinya, perlahan gadis itu menutup matanya. Ia merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya.


"Kau penc*ium yang buruk!" Rachel tertawa dalam hatinya karena Jasper hanya menempelkan bibirnya saja.

__ADS_1


__ADS_2