Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Rumah Baru Rachel


__ADS_3

🎵Red lights, stop signs


I still see your face


In the white cars, front yards


Can't drive past the places


We used to go to


Cause I still f*uckin love you, babe


Sidewalks we crossed


I still hear your voice


In the traffic, we're laughing


Over all the noise


God, i'm so blue


Know we're through


But I still love you, babe...🎵


🎵*Lampu merah, tanda berhent*i


Aku masih melihat wajahmu


Di mobil-mobil putih, di halaman depan


Tidak sanggup berkendara melewati


Tempat-tempat yang biasa kita kunjungi


Karena aku masih sangat mencintaimu, sayang.


Trotoar-trotoar yang kita sebrangi


Aku masih mendengar suaramu


Di jalanan, kita tertawa


Di atas semua kebisingan


Oh Tuhan, aku sangat sedih


Aku tahu kita sudah selesai, tapi


Aku masih sangat mencintaimu, sayang🎵


"Ya, bodohnya aku karena masih mencintaimu," Rachel mendengarkan lagu Driver License milik Olivia Rodrigo Ia menatap jalanan yang pernah ia kunjungi bersama suaminya dulu. Rachel mengingat ketika dirinya dan Jasper menyusuri jalan dengan berjalan kaki. Ia teringat ketika bertukar mantel dengan suaminya. Kini Rachel sedang dalam perjalanan bersama Alula dan Kai untuk pergi ke kota London. Alula dan Kai tentu saja memberikan alasan ada pekerjaan di kota London kepada putranya. Mereka harus menetapi janjinya kepada Rachel untuk tidak memberitahukan perihal kehamilan Rachel kepada Jasper.

__ADS_1


Alula dan Kai memberikan sebuah rumah minimalis di kota London untuk Rachel tempati bersama calon bayinya. Kai dan Alula pun membayar seorang asisten rumah tangga untuk menemani Rachel di kota London.


"Kami akan mengunjungimu setiap akhir pekan," Alula memeluk tubuh menantunya saat dirinya akan pulang kembali ke kota Birmingham.


"Semoga kau bisa mendinginkan pikiranmu, mendamaikan hatimu dan mengambil keputusan yang tepat akan nasib pernikahanmu," harap Kai.


Rachel mengangguk. Ia menatap kedua mertuanya dengan penuh rasa sayang dan terima kasih.


"Terima kasih sudah menyayangiku," Rachel meneteskan air matanya.


"Kau adalah putri kami. Sudah sepatutnya kami menyayangimu," Alula merengkuh tangan Rachel dengan hangat.


"Jaga cucu Mama baik-baik. Kami akan lebih sering berkunjung!" Alula berpamitan.


Rachel menutup pintu ketika mobil yang dikendarai oleh mertuanya sudah tidak terlihat.


"Nona, bibi buatkan susu hangat untuk Nona ya?" Ucap asisten rumah tangga yang bernama Bibi Ely.


"Iya, Bi. Terima kasih sebelumnya," Rachel mengangguk kemudian ia pergi menuju kamarnya.


Rachel mengamati setiap sudut ruangan. Kamar ini adalah kamar barunya.


"Aku harus produktif," Rachel mengambil alat rajut dan mulai merajut sebuah baju bayi.


"Mama membuatnya untukmu, Nak!" Rachel mengelus perutnya sesaat ia mulai merajut.


Hari-harinya di kota London akan Rachel mulai dengan penuh gembira tanpa ada lagi bayang-bayang dari suaminya.


***


"Ke mana kamu pergi, Chel?" Tanya Hans dengan frustasi.


Hans mencoba mencari keberadaan Rachel ke rumah yang dihuni Rachel bersama Jasper. Akan tetapi, hasilnya nihil. Rachel tidak ada di sana. Bahkan rumah itu sudah kosong tidak berpenghuni.


"Aku harus bertanya kepada Jasper," ucap Hans dengan yakin. Ia melajukan mobilnya menuju kediaman Jasper.


Hans menelfon Jasper. Tak lama, pria itu keluar dari dalam rumahnya.


"Beraninya kau menemuiku!" Jasper menatap wajah Hans dengan penuh amarah.


"Jelas aku berani," Hans tersenyum sinis.


"Aku ke sini untuk bertanya, di mana keberadaan Rachel," lanjutnya dengan enteng.


"Bukankah dia kekasihmu? Mengapa kau bertanya padaku?" Jasper merasa sangat tidak suka ketika Hans bertanya mengenai wanita yang masih berstatus menjadi istrinya.


"Dia tidak mengangkat telfonku. Oh ya satu lagi, Rachel belum menjadi kekasihku. Setelah perceraiannya denganmu disahkan oleh negara, aku akan menikahinya," ujar Hans.


Jasper mengepalkan tangannya. Dadanya kembang kempis menahan amarah. Menahan rasa cemburu yang terselubung di dalam hatinya.


"Belum menjadi kekasih? Bukankah kalian selalu pergi bersama?" Jasper menatap Hans dengan geram.


"Kau salah. Rachel selalu menolak pernyataan cintaku. Dia adalah gadis yang baik karena dia begitu menghargai pernikahan kalian," timpal Hans.

__ADS_1


Jasper terkesiap. Ternyata selama ini, Rachel belum resmi menjadi kekasih Hans. Selama ini ia selalu mengira mereka tengah berkencan.


"Gadis?" Jasper tersenyum sinis.


"Hans, dia bukan gadis lagi. Aku yang mengambil kegadisannya!" Jasper nyaris berbisik kepada Hans.


"Bahkan saat kalian pergi bersama ke Time Zone, setelah itu kami tidur bersama," ucap Jasper lagi. Ia seolah mempermainkan Hans dengan kata-katanya.


"Kurang ajar!" Hans menarik kerah piyama Jasper. Ia hendak memukul wajah pria itu.


"Hans, mengapa kau emosi? Kami suami istri. Sudah tentu kami akan melakukannya. Bahkan mungkin, kini dia tengah mengandung anakku," Jasper menyeringai. Ia begitu tidak terima ada pria lain yang mencari Rachel.


"Akan aku pastikan itu semua tidak benar. Jika aku bertemu Rachel, aku akan langsung melamarnya. Aku akan menyuruh pengacara untuk menampilkan bukti perselingkuhanmu dengan Aurora. Dengan begitu, gugatan cerai Rachel akan langsung dikabulkan oleh pengadilan. Ingat, Jasper! Aku tidak akan diam! Aku harus mendapat apa yang aku mau. Dan yang aku mau kini adalah istrimu!" Jelas Hans dengan sorot mata yang serius.


"Jangan ikut campur mengenai pernikahanku!" Jasper mendorong tubuh Hans hingga pria itu jatuh tersungkur ke tanah.


"Pernikahan? Apa kau tidak memiliki urat malu? Selama ini kau yang menyia-nyiakan Rachel. Aku tidak mengganggu pernikahanmu. Aku hanya akan merebut seseorang yang sudah kau sia-siakan. Aku akan membahagiakannya dan memperlakukannya dengan baik. Tidak seperti kau!" Hans membangunkan tubuhnya.


"Aku akan mengambil Rachel dari sisimu selamanya! Setelah menemukannya, aku akan mengurus perceraian kalian dan aku akan membawanya ke Bulgaria!" Lanjut Hans lagi.


"Kau tidak akan bisa mengambil apa yang telah jadi milikku!" Desis Jasper kemudian ia meninggalkan Hans.


Jasper masuk ke dalam kamarnya. Ia tampak merenungkan sesuatu.


"Bagaimana jika Rachel hamil?" Tanya Jasper kepada dirinya sendiri.


"Aku rasa tidak mungkin," Jasper menepis pemikiran itu.


"Rachel, kau sekarang ada di mana?" Jasper membuka tirai jendela dan melihat pemandangan di luar sana.


"Besok aku harus pergi ke rumah kak Daniella dan meminta semua penjelasan darinya," gumamnya.


Pagi harinya ..


Jasper melajukan mobilnya menuju rumah Daniella, dengan tergesa ia memarkirkan mobilnya dengan asal.


"Rachel, keluarlah!" Teriak Jasper seraya menggedor pintu.


"Rachel, aku ingin berbicara denganmu!" Teriak Jasper lagi.


Daniella yang sedang meringkuk dibawah selimut hangatnya, mengerjapkan matanya. Ia sangat terganggu dengan suara gedoran pintu yang sangat keras. Dengan malas, Daniella turun dari ranjangnya, dan membuka pintu.


"Jasper?" Gumam Daniella kaget karena melihat adik iparnya secara tiba-tiba.


"Kak, di mana Rachel?" Jasper bertanya langsung pada intinya.


"Rachel? Dia istrimu mengapa bertanya padaku? Dia tidak ada di sini," Daniella merasa bingung dengan pertanyaan Jasper.


"Kau pasti berbohong kan? Kau pasti menyembunyikan istriku!" Bentak Jasper mulai emosi, ia melewati Daniella begitu saja dan mencari ke setiap sudut rumah.


"Rachel, keluarlah! Ayo kita bicarakan Masalah kita! Jangan jadi pecundang!" Teriak Jasper seraya membuka pintu kamar Daniella.


"Jasper, stop! Ada apa denganmu? Apa kau bermasalah dengan adikku? Tenanglah!" Daniella memegang bahu Jasper yang akan membuka lemari pakaiannya.

__ADS_1


"Ya adikmu kabur dariku!" Ucap Jasper dengan mata memerah. Entah mengapa ia tidak mengerti akhir-akhir ini perasaannya sangat sensitif jika menyangkut tentang istrinya.


Jasper mengubrak ngabrik lemari Daniella, seperti seorang majikan yang mencari kucing kesayangannya.


__ADS_2