Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Mengikuti Hans dan Rachel


__ADS_3

Perjalanan dari kota Birmingham Ke Seaford memakan waktu tiga jam lebih 21 menit. Sepanjang perjalanan, Rachel hanya diam dan menikmati pemandangan salju yang begitu indah. Nyatanya hati dan pikiran Rachel masih tertinggal di rumahnya.


"Apa tidak apa kita pergi seperti ini?" Rachel menoleh ke arah Hans yang sedang menyetir.


"Maksudmu?" Hans tampak tidak mengerti.


"Maksudku, apa kau masih memiliki kekasih?" Tanya Rachel dengan hati-hati.


"Aku tidak ingin ada yang salah paham," lanjutnya.


"Aku sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku sedang ingin memulai sebuah hubungan denganmu," ucap Hans sembari tersenyum.


"Hubungan? Hubungan apa yang kau inginkan?" Rachel tampak tidak mengerti karena ia merasa dirinya sudah memiliki suami.


"Hubungan sebagai sepasang kekasih," Hans berterus terang.


"Aku sedang tidak ingin memulai hubungan dengan siapa pun," Rachel terang-terangan menolak.


"Jangan putuskan sekarang! Putuskan nanti jika kita sudah pulang," Hans mengedipkan matanya yang langsung disambut gelak tawa oleh Rachel.


"Berapa lamab biasanya kau menjalin hubungan?" Rachel bertanya basa-basi.


"1 minggu, 2 minggu, paling lama satu bulan," jawab Hans tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Berapa mantan kekasihmu?" Rachel berbasa basi kembali.


"43. Jika kau mau menjadi kekasihku, berarti kau yg ke 44 dan sepertinya akan menjadi yang terakhir," Hans merayu.


"Aku tidak berminat," Rachel memfokuskan kembali pandangannya ke arah kaca yang menampilkan jalanan yang memutih.


"Tidak ada gadis yang bisa menolakku. Lihatlah kau akan bertekuk lutut kepadaku!"


3 jam kemudian....


"Ayo kita makan terlebih dahulu! Aku lapar," ajak Hans. Ia memarkirkan mobilnya di Ollivers Restaurant. Restoran ini berjarak cukup dekat dengan destinasi wisata yang Hans dan Rachel tuju.


"Baiklah," Rachel langsung menyetujui karena perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Rachel memang sangat lapar karena tidak sarapan terlebih dahulu saat akan berangkat.


"Kau pesan apa?" Tanya Hans kepada Rachel yang masih melihat-lihat menu.


"Aku ingin Roasted Mediterranean Vegetable Cheesecake with a Sweet Pepper Sauce and Parsnip Crisps," pesan Rachel sembari matanya menilik buku menu.


"Aku pesan Soup atau Sorbet," Hans menyebutkan pesanan dan menyebutkan pesanan Rachel kembali kepada waitress yang bertugas.


Tak lama, pesanan mereka datang dan disajikan di meja.


"Selamat makan!" Rachel langsung memakan makanannya.

__ADS_1


"Pelan-pelan!" Hans mengusap sudut bibir Rachel yang belepotan.


Seorang pria mengepalkan tangannya dengan amarah yang menyeruak di dadanya. Ia kini sedang menutupi wajahnya dengan buku menu yang ada di tangannya.


"Kau mau mencoba supku?" Tawar Hans kepada Rachel. Ia mendekatkan sendoknya ke bibir Rachel.


"Kurang ajar!" Umpat pria itu yang tak lain adalah Jasper. Ia memang membuntuti Rachel dan juga Hans. Jasper sedang duduk tak jauh dari meja mereka.


"Aku tidak berselera memakan sup," Rachel menolak.


Mereka memakan kembali makanannya dengan diam.


"Aku ke toilet sebentar," Hans berdiri dari duduknya.


"Iya, jangan lama-lama!" Ucap Rachel sembari tidak mengalihkan pandangannya dari piring makanannya.


"Kebetulan!" Jasper menyeringai.


Ia kemudian mengendap-ngendap mengikuti Hans ke toilet.


"Rasakan ini!" Jasper menuangkan sabun cuci tangan yang banyak di depan pintu toilet yang Hans masuki.


Dengan cepat, Jasper kembali lagi ke kursinya.


"Hans ke mana ya?" Rachel bertanya-tanya saat teman sekelasnya itu tidak kunjung menampakan batang hidungnya. Padahal makanannya kini sudah habis.


"Rachel?" Panggil Hans yang berjalan dengan sedikit terseok.


"Aku terpeleset di toilet. Untungnya hanya luka kecil," Hans meringis.


"Itu akibatnya jika membawa istri orang berlibur," gumam Jasper dengan bibirnya yang menipis karena amarah.


"Benar tidak apa-apa? Bajumu sepertinya basah?" Rachel tampak khawatir.


"Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita langsung ke pantainya!" Ajak Hans.


"Kau tidak menghabiskan dulu makananmu?" Rachel menunjuk makanan Hans yang belum habis.


"Tidak perlu," Hans mengeluarkan dompetnya untuk membayar makanan mereka. Setelah itu, mereka langsung pergi untuk melanjutkan perjalanan ke Seven Sisters Country Park.


Jasper pun membetulkan kaca mata hitamnya. Tak lupa ia memaki masker agar Hans dan Rachel tidak menyadari kehadirannya. Jasper pun buru-buru membayar makanannya untuk mengikuti kembali Hans dan Rachel.


"Sepertinya aku kenal mobil ini. Tapi mobil siapa ya?" Hans melihat ke arah mobil Jasper yang terparkir di samping mobilnya.


"Kenapa?" Rachel melihat wajah Hans yang seolah sedang mengumpulkan ingatan dengan keras.


"Sepertinya aku pernah melihat mobil ini. Tapi mobil siapa ya?"

__ADS_1


"Yang memiliki mobil seperti ini sangat banyak," ucap Rachel. Kemudian ia masuk ke dalam mobil Hans karena udara semakin dingin. Hans pun kemudian menyusul masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran restoran tersebut.


"Untung tadi aku sempat mengganti mobil," Jasper tersenyum penuh kemenangan. Saat akan berangkat, Jasper memang menukar mobilnya dengan mobil ayahnya terlebih dahulu.


"Untung Hans tidak ingat aku pernah memakai mobil ini saat ospek," gumam Jasper sembari mengikuti mobil yang membawa istrinya.


Dan di sinilah Hans dan Rachel berada. Seven sisters Country Park adalah wisata 7 tebing kapur laut yang berada di Pantai Selat Inggris. Pantai ini menjadi salah satu pemandangan yang menakjubkan di negara Inggris.


Rachel dan Hans berjalan di tengah rintikan salju yang turun.


"Dingin!" Gumam Jasper saat mengikuti langkah Rachel dan Hans.


Hans menoleh ke arah Rachel yang berjalan di sampingnya. Ia berupaya untuk memegang tangan gadis blonde itu.


"Maaf!" Seorang anak kecil bermantel putih berjalan ke tengah Hans dan juga Rachel, anak kecil itu membuat tangan Hans tidak jadi menyentuh tangan Rachel.


"Tidak apa-apa," Rachel tersenyum.


"Rachel, kau kedinginan?" Hans hendak menyentuh pinggang Rachel.


"Maaf lagi!" Ujar bocah laki-laki yang tadi. Ia kembali menjauhkan jarak antara Hans dan Rachel.


"Iya," Rachel menatap anak kecil yang langsung berlalu itu.


"Anak kecil itu sebenarnya kenapa?" Hans merasa kesal.


Mereka kembali berjalan kaki untuk sampai di pantai.


"Akhirnya kita bisa menyentuh airnya," Rachel menyentuh air laut yang sangat dingin.


"Iya," Hans menatap ke langit, memperhatikan salju yang turun dengan intensitas sedang.


"Kerja bagus!" Jasper memberikan hadiah kepada anak kecil yang tadi mengganggu Rachel dan juga Hans.


"Aku fotokan ya?" Hans merogoh saku mantelnya untuk mencari ponselnya. Kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi bingung.


"Kau kenapa?" Rachel menatap wajah Hans yang berubah menjadi panik.


"Ponselku tidak ada," ucapnya sembari terus mencari.


"Awas terjatuh saat kita berjalan!" Rachel ikut terlihat panik.


"Aku lihat dulu di mobil. Kau tunggulah di sini!" Pamit Hans yang langsung di balas anggukan oleh Rachel.


"Jangan ke mana-mana!" Pesan Hans kemudian ia berlari mencari ponselnya.


Rachel yang melihat air laut berwarna jernih pun memasukan kakinya ke air. Ia berjalan di atas air itu hingga tidak menyadari jika dirinya sudah berjalan terlalu jauh.

__ADS_1


"Rachel, apa yang dia lakukan?" Tanya Jasper dengan panik. Ia langsung berlari mendatangi istrinya.


Maaf hanya segini updatenya ya, author sedang berhalangan untuk update di hari kemarin. Tolong tinggalkan jejak kalian berupa like dan komen. Bagi yang mau gabung grup chat silahkan klik profil author dan klik gabung. Terima kasih 🤗


__ADS_2