Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Mengunjungi Rumah Jasper


__ADS_3

Jasper tidak mengeluarkan sepatah kata pun kepada istrinya. Kini mereka tengah berada di dalam pesawat untuk pulang kembali ke negara yang mempunyai bentuk pemerintahan kerajaan di Eropa Barat. Jasper memilih untuk tidur, ia benar-benar perlu menenangkan diri agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Rachel pun tak berani mengatakan apapun lagi. Ia sangat tahu suasana hati Jasper benar-benar sedang buruk.


Setelah sampai di bandar udara International kota Birmingham, Jasper dan Rachel langsung masuk ke dalam taksi untuk pulang ke rumah. Lagi-lagi, Rachel merasa bingung bagaimana ia harus bersikap.


Jasper turun dari taksi tanpa menunggu Rachel keluar terlebih dahulu dari taksi. Jasper langsung mengambil koper di bagasi mobil, membayar supir taksi dan langsung masuk ke rumah. Rachel menghela nafasnya dengan panjang. Ia tahu semuanya akan di mulai dari awal saat ini.


"Aku yang memulai, aku juga yang harus menyelesaikan semua ini," Rachel bergumam sambil menurunkan kopernya yang di bantu oleh supir taksi.


Dengan langkah yang gontai dan berat, Rachel masuk ke dalam rumah yang akhir-akhir ini menjadi rumah yang penuh cinta dan menghangatkan hatinya. Bagi Rachel, Jasper adalah rumahnya.


"Kau mau ke mana?" Ucap Rachel saat ia melihat Jasper membawa kopernya menuju kamar tamu yang ada di lantai bawah.


"Aku akan pergi ke kamar," jawabnya dingin.


"Bukankah kamarmu ada di atas?" Rachel berjalan menghampiri Jasper. Ia memberanikan diri menatap mata itu. Sepasang bola mata yang akhir-akhir ini selalu menatapnya dengan penuh keramahan dan kasih sayang. Kini bola mata itu terlihat sendu dan tak memancarkan kehangatan seperti biasanya.


"Itu dulu. Mulai sekarang kamarku adalah itu!" Jasper menunjuk pintu kamar tamu.


"Aku takut tidur sendirian. Bisakah kita tidur bersama lagi seperti biasanya?" Rachel tak pantang arang untuk berdekatan lagi dengan suaminya.


"Kalau begitu mulai hari ini biasakanlah tidur sendiri lagi! Bukankah sebelumnya kita tidur secara terpisah?" Jasper menjawab sembari menarik kopernya dan melewati Rachel begitu saja.


"Aku mohon jangan seperti ini!" Rachel berjalan menyusul kembali suaminya. Ia menarik tangan Jasper dan terus memegangnya.


"Kau ingin aku bersikap seperti apa? Kau ingin aku menendangmu dari rumah ini dan menceraikanmu detik ini juga?" Jasper melepaskan cekalan tangan Rachel di tangannya. Rachel menelan salivanya dengan susah payah mendengar ucapan suaminya.


"Tak adakah maaf untukku?" Rachel berkata dengan air mata yang sudah siap untuk diteteskan.


"Aku butuh waktu untuk mencerna ini semua. Tolong berikan aku sedikit ruang untuk bisa berpikir secara jernih dan rasional!" Jasper kembali berjalan dan masuk ke dalam kamar barunya. Pria itu langsung menutup pintu dan menguncinya.


"Kau tidak butuh waktu. Kita hanya perlu bicara dengan baik-baik. Aku tahu aku bersalah, tapi tidak bisakah kau memberiku kesempatan?" Rachel mengetuk pintu kamar Jasper dengan berlinang air mata.


"Aku mohon beri aku kesempatan. Aku akan memperbaiki semuanya," Rachel semakin tersedu. Wanita itu kemudian ambruk di depan pintu kamar suaminya. Ia menelungkupkan wajahnya dan semakin mengencangkan tangisnya.


"Memperbaiki seperti apa yang kau maksud? Aku rasa ini semua sudah tidak bisa di perbaiki. Kita bersama karena kebohongan darimu. Selama ini aku hidup dalam kebohongan yang kau buat. Kau menipuku dan keluargaku. Hubungan yang dimulai dari sebuah kebohongan tidak akan berjalan mulus," Jasper bergumam di atas kasur miliknya.


****


Sepekan sudah mereka pulang dari Switzerland. Sepekan sudah mereka diam dan tidak saling bersinggungan satu sama lain. Rachel selalu berusaha mendekati suaminya, tapi Jasper seolah membuat jarak yang membentang yang sulit untuk Rachel tembus. Mereka seolah hidup di dunia yang berbeda dalam satu atap yang sama.


Kai dan Alula yang tahu jika anaknya sudah pulang berbulan madu pun memutuskan untuk menemui mereka, karena sudah seminggu ini Jasper dan Rachel tidak memperdulikan semua pesan dan panggilan yang mereka lakukan.


"Rachel!!" Seru Alula saat melihat Rachel membuka pintu untuknya.


"Mama, Papa?" Rachel menatap kedua mertuanya itu bergantian.


"Kenapa wajahmu lesu seperti itu? Apa putraku menyusahkanmu?" Kai memperhatikan raut wajah menantunya.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Putramu tidak pernah menyusahkanku," Rachel mencoba untuk tertawa walau tawa itu sangat terlihat dipaksakan.


"Ayo Ma, Pa, mari masuk!" Rachel membuka pintu lebar-lebar.


"Di mana suamimu?" Mata Alula menyapu ruangan mencari keberadaan putra sulungnya.


"Dia ada di kamarnya. Sebentar Rachel panggilkan," Rachel berjalan menuju kamar Jasper yang baru.


"Kalian pindah kamar?" Kai mengernyitkan dahinya saat melihat Rachel berjalan ke kamar yang pernah ia taruh CCTV di dalamnya.


"Jangan bilang kalian tidur di kamar yang berbeda!" Alula membulatkan matanya.


Rachel tak menjawab. Ia tidak ingin berbohong dengan mengatakan jika rumah tangganya sedang baik-baik saja. Ia tidak ingin menutupi kebohongan dengan kebohongan yang lainnya.


"Aku mempunyai masalah dengan Jasper," Rachel berkata dengan pelan. Ia pun tidak tahu harus bagaimana jika Kai dan Alula tahu akar permasalahannya bersama Jasper. Jasper pun keluar dari kamarnya saat ia mendengar suara kedua orang tuanya datang.


"Masalah apa? Ada apa ini, sayang?" Alula bertanya kepada putranya. Gurat wajahnya jelas memperlihatkan raut wajah yang sangat khawatir.


"Sebaiknya kau segera jelaskan, Rachel!" Kai menuntut penjelasan kepada Rachel.


"Jasper yang akan menjelaskan semuanya. Rachel pergi dulu ke dapur!" Rachel pergi meninggalkan mereka dalam keheningan. Rachel terlalu takut dan malu jika ia yang menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Rachel seolah mencederai kepercayaan yang Alula dan Kai berikan.


"Kau harus segera menjelaskannya! Mama tidak ingin masalah kalian berlarut-larut," Alula berjalan ke sofa ruang tamu. Ia duduk di sana. Jasper dan Kai pun mengikutinya.


"Jadi, ada apa?" Kai tampak tidak sabar.


"Rachel, sudah membohongi kita!" Jasper tampak mencari oksigen untuk meredakan sesak di dadanya. Terkadang ia seolah belum percaya Rachel melakukan semua itu padanya.


"Saat aku di Switzerland kami tidur bersama dan aku mengetahui hal yang pasti. Saat itu, Rachel masih dalam keadaan suci," Jasper menjelaskan. Ia memang harus menceritakan semuanya kepada Alula dan Kai untuk mencari solusi terbaik untuk pernikahan mereka.


Kai dan Alula pun saling berpandangan. Mereka tampak kaget mendengar ucapan Jasper.


"Jadi, saat di dalam hotel dulu kau tidak melakukan apapun padanya?" Kai bertanya dengan raut wajah kecewa.


Jasper tak kuasa menjawab. Ia hanya bisa menganggukan kepalanya.


"Mengapa Rachel melakukan itu?" Suara Alula terdengar melemah.


"Karena kakaknya memaksanya dan karena Rachel ingin resign bekerja di klub malam."


Alula dan Kai pun diam. Kai pun seolah kecolongan dengan siasat Daniella dan juga Rachel yang lolos dari pengawasannya.


"Jadi, selama ini Rachel membohongi kita?" Alula memperjelas. Jasper pun mengangguk.


"Lalu, apa rencanamu?" Kai menatap putranya.


"Aku tidak bisa hidup dengan seorang pembohong. Rumah tangga ini diawali dengan kebohongan yang besar. Kalian pasti mengerti apa yang aku maksud!" Jasper memberikan jawaban yang begitu jelas.

__ADS_1


"Mama tidak suka perceraian. Biarkan Mama yang bicara terlebih dahulu kepada Rachel," Alula berdiri dari duduknya.


****


Alula mengajak Rachel untuk pergi ke kamar Rachel yang ada di lantai dua. Rachel pun langsung mengikuti mertuanya. Rachel menatap punggung wanita setengah baya itu yang tengah berjalan di hadapannya, tidak ada keramahan lagi di wajah Alula saat ini.


Alula menutup pintu saat mereka sudah berada di dalam kamar. Alula menatap menantunya itu dengan tatapan yang tak dapat dibaca dan sulit untuk di tafsirkan.


"Mengapa? Mengapa kau harus membohongi kami?" Alula langsung bertanya kepada pokok permasalahan.


"Ma, maafkan aku!" Rachel mulai terisak. Ia sangat tahu bila kesalahannya benar-benar fatal. Ia tidak hanya membohongi Jasper, tapi juga membohongi keluarga besar Jasper.


"Aku bertanya padamu, Nona Rachel Olivia! Mengapa kau membohongi kami?" Alula mengulang pertanyaannya.


"Karena kakakku yang menyuruhku untuk berbohong. Kakak mengancamku akan mengembalikan aku ke Bulgaria jika aku mengatakan sesungguhnya. Aku tidak ingin kedua orang tuaku menjualku lagi di sana, Ma," Rachel menyeka air matanya yang semakin deras membasahi pipinya.


"Kau menyelamatkan dirimu tapi tidak memikirkan putraku. Mengapa kau begitu egois, Rachel? Mengapa kau tidak memikirkan juga Jasper? Kau mengorbankan putraku demi kepentinganmu," Alula menatap tajam pada menantunya.


"Saat itu aku hanya takut, Ma. Aku takut kak Daniella mengirimku pulang ke Bulgaria. Terlebih aku pun ingin memiliki hidup yang normal seperti teman-teman seusiaku. Aku tidak ingin bekerja terus menerus di klub. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padaku jika aku terus bekerja di sana. Maka dari itu, aku lebih memilih mengikuti kata-kata kakak," Rachel menjawab dengan suara yang serak.


"Jadi, kau ingin menumpang hidup kepada putraku? Kau ingin berhenti dari pekerjaanmu dengan cara menumpang hidup kepada putraku? Begitu?" Alula mempertegas.


"Jadi, semua ini ujungnya adalah karena uang?" Tanyanya lagi yang begitu mengiris hati Rachel.


"Aku hanya ingin keluar dari tempat itu, Ma."


"Tapi tidak dengan mengorbankan puteraku, Rachel!" Alula menaikan suaranya.


"Rachel? Apakah kau tahu berapa air mataku yang jatuh saat puteraku akan menikahimu? Apakah kau tahu pergolakan yang terjadi di dalam keluarga kami saat itu? Apakah kau tahu seberapa keras suamiku meyakinkan kedua orang tuanya untuk menikahkan Jasper di usianya yang sangat muda?" Alula menitikan air matanya mengenang kejadian yang telah berlalu.


"Kau tahu berapa hari aku menangis karena aku harus berpisah dengan putraku secepat itu. 18 tahun usianya, tapi dia harus menikahi wanita yang tidak dicintainya. Kau harus tahu bagaimana perasaanku saat aku harus melepas puteraku secepat itu. Aku hanya bersamanya selama 18 tahun. Aku memaksanya untuk menikahimu dan mempertanggung jawabkan hal yang tidak pernah ia lakukan," Alula menyeka air matanya.


"Saat melihat dia menikah denganmu, aku sangat bahagia. Tapi di satu sisi aku tersakiti melihat itu semua. Aku sakit karena puteraku harus meninggalkan rumah secepat itu. Aku sakit melihat puteraku mengemasi semua barangnya dan keluar dari rumah kami di usianya yang masih sangat muda," Alula menatap Rachel dengan berlinang air mata.


"Cita-cita puteraku adalah ingin melanjutkan kuliahnya di Finlandia. Lalu pergi ke Amerika dan menimba ilmu di sana dan bekerja di World Bank. Lalu, ia selalu berkata ingin mendirikan bisnis rumah iglo di Islandia. Puteraku juga ingin mendirikan rumah sakit untuk membantu orang-orang. Tapi saat dia memutuskan menikah denganmu, puteraku mengubur semua mimpinya. Bahkan untuk menafkahimu, ia membeli beberapa gedung untuk di sewakan kepada orang lain dengan uang yang ia tabung dari SD. Arah hidupnya berubah saat ia menikah denganmu. Tapi mengapa kau justru mengecewakannya? Sebelum mengenalmu, puteraku sudah mencintai seorang gadis. Demi kau, puteraku melupakan perasaannya pada gadis itu dan berusaha mencintaimu. Kau tidak tahu bagaimana tersiksanya Jasper saat aku menyuruhnya untuk melupakan Aurora," Alula menatap Rachel dengan penuh luka.


"Ma, tolong maafkan aku!" Rachel berdiri dari duduknya dan ia berlutut di kaki Alula.


"Maafkan aku! Aku tidak tahu kata apa yang harus aku ucapkan saat ini kecuali maaf! Aku menyesal sudah membohongimu, Jasper, papa dan semuanya," Rachel terisak sembari bersimpuh.


"Bangunlah! Bukan ini yang aku harapkan!" Alula membangunkan Rachel dari posisi bersimpuhnya.


"Lalu, apa yang Mama inginkan? Jika bercerai, aku tidak bisa. Aku sangat mencintai puteramu," Rachel menangis hebat.


"Aku juga tidak siap menyandang gelar janda di usiaku yang sangat muda, Ma."


"Bod*oh! Aku tidak menyuruhmu bercerai dengan puteraku. Aku sangat tidak suka dengan perpisahan," Alula berkata dengan raut wajah yang tak terbaca.

__ADS_1


Rachel pun tampak bingung dengan ucapan mertuanya.


"Puteraku sudah mengorbankan semuanya untuk menikahimu. Jangan biarkan semuanya sia-sia! Mulailah lagi dari awal dan rebut kembali hatinya! Mungkin saat ini akan lebih sulit, tapi kau harus mencobanya!" Alula berlalu meninggalkan Rachel.


__ADS_2