Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Kepergian Rachel


__ADS_3

Jasper menghempaskan tubuh Rachel ke atas kasur.


"Jasper, lepaskan!" Rachel meronta.


"Aku hanya ingin meminta hak ku. Apakah aku salah?" Jasper menyeringai.


"Mengapa kau ingin menyentuhku? Bukankah kau membenciku?" Rachel berteriak sembari berlinang air mata.


"Benci atau tidak, kau tetaplah istriku. Kau harus memenuhi kewajibanmu seperti perkataanmu tadi. Kau membicarakan hak dan kewajiban bukan?" Jasper melepaskan bajunya.


Rachel semakin ketakutan. Wanita itu bangkit dari kasur dan hendak berlari ke luar kamar.


"Mau ke mana?" Jasper menangkap tubuh istrinya. Bayangan Rachel dan Hans tertawa bersama di time zone seakan membuatnya hilang kendali.


Jasper menghempaskan tubuh Rachel lagi ke atas kasur. Ia langsung menindih tubuh istri kecilnya itu tanpa ampun.


"Diamlah aku hanya ingin membuatmu bahagia! Aku hanya sedang melaksanakan salah satu kewajibanku kepadamu," Jasper berbisik di telinga Rachel hingga membuat gadis itu meremang.


Jasper menci*um Rachel dengan paksa. Perlahan tapi pasti, Jasper membuat mereka tidak memakai sehelai benang pun. Rachel seolah tidak menemukan kelembutan dalam cumb*uan suaminya. Rachel terus menangis dan memberontak. Tapi apa daya, tenaganya tidak bisa mengimbangi suaminya. Pada akhirnya, dirinya hanya bisa diam dan menangis menerima semua perlakuan dari Jasper.


Jasper mulai menyatukan tubuhnya dengan Rachel. Bayang-bayang kenangan mereka saat menghabiskan waktu di Switzerland menghiasi pikiran Rachel dan itu membuat hatinya semakin sakit.


"Kau benar-benar menyakitiku !" Rachel terus menangis saat Jasper menj*mah setiap inci tubuhnya.


****


Rachel langsung mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang polos saat ia terbangun di pagi hari. Sedangkan suaminya masih tertidur lelap. Rachel mengambil handuk dan dengan cepat meninggalkan kamar Jasper lalu naik ke kamarnya yang berada di lantai atas. Rachel masuk ke dalam kamar mandi. Ia terduduk di bawah kucuran air shower dan menangis sejadi-jadinya.


"Mengapa kau lakukan ini padaku? Kau membenciku tapi menyentuhku?" Isak tangis Rachel begitu memilukan.


"Kau tahu betapa beratnya hidupku selama satu tahun belakangan ini. Mengapa kau menyakitiku lagi?" Air mata terus merembes seiring dengan kucuran air dari shower yang terus membasahi tubuhnya.


Rachel bangkit dengan pelan. Ia mulai membersihkan diri dengan isak tangis. Kemudian Rachel segera berganti pakaian dan membereskan semua barang-barangnya.


Rachel menarik koper miliknya dengan cepat, ia takut Jasper bangun dan melihatnya kabur dari rumah. Rachel membuka pintu yang terkuci, lalu keluar dari rumah dengan tergesa dan kemudian mencegat taksi.


"Aku harus ke mana?" Rachel tampak kebingungan.


"Aku harus pergi ke apartemen milik Nicole," Rachel langsung terpikirkan temannya yang selalu baik padanya.


"Sebentar!" Ucap Nicole kemudian ia membuka pintu.


"Nicole!" Rachel langsung memeluk tubuh Nicole sembari menangis.

__ADS_1


"Rachel, ada apa denganmu?" Nicole tampak kaget.


Rachel tidak menjawab. Ia masih menangis di pelukan teman yang selalu memperlakukannya dengan baik itu.


"Masuklah!" Nicole melepaskan pelukan itu dan membantu membawa koper milik Rachel.


"Tenanglah!" Nicole membawa air dan memberikannya kepada Rachel.


Rachel meneguk air yang diberikan oleh Nicole dan terdiam dalam waktu yang lumayan lama.


"Ceritakan padaku semuanya!" Pinta Nicole saat melihat Rachel sudah lebih tenang.


"Terutama mengenai hubunganmu dengan J!" Tambahnya.


Pasalnya Nicole sudah sangat curiga mengenai hubungan Rachel dan Jasper. Ia juga semakin curiga saat mengetahui jika Rachel dan Jasper tinggal bersama. Rachel memang mengatakan jika mereka hanya majikan dan asisten rumah tangga. Akan tetapi, Nicole pernah mendapati bila uang semester kuliah Rachel dibayarkan oleh Jasper. Tentu tak akan ada majikan yang mau membayar uang ratusan juta untuk asisten rumah tangganya bukan? Yang tahu mengenai status pernikahan mereka hanya Aurora, Archie dan juga Hans.


"Dia suamiku," beri tahu Rachel dengan pelan.


Nicole menutup mulutnya seakan tidak percaya.


"Kalian suami istri?" Nicole merasa tidak percaya mengenai apa yang di dengarnya.


Rachel mengangguk pelan. Kemudian, ia menceritakan semuanya kepada Nicole tanpa terkecuali kejadian semalam.


"Terlepas mengenai tingkah lakunya yang memperlakukanmu dengan buruk, tapi bukankah tidak akan ada asap apabila tidak ada api? Kau yang mematik api terlebih dahulu," Nicole merapikan rambut Rachel yang sedikit berantakan.


"Maksudnya adalah kau yang membohonginya, Chel. Jika bukan karena kebohonganmu, mungkin Jasper tidak akan pernah menikahimu. Kita semua tahu dari ospek yang Jasper kejar hanya Aurora. Lalu, saat Jasper sudah menerimamu, dia harus mengetahui kebohongan itu. Ditambah dengan kelakuan kakakmu yang memperkeruh suasana. Kemarahannya padamu ku kira cukup berdasar. Ia pikir kamu dan keluargamu memanfaatkan uang miliknya dan keluarganya. Bukan aku membela Jasper, tapi kau yang menabuh genderang perang terlebih dahulu, Chel!" Jelas Nicole.


"Walau pun aku bersalah, pantaskah dia membawa Aurora masuk ke dalam rumah kita? Selama setahun ini dia tidak pernah menganggapku ada. Aku tersiksa, begitu tersiksa," Rachel menelungkupkan wajahnya dan menangis.


"Aku tahu kau juga sama menderitanya. Tapi mengapa kau harus membalas dengan pergi bersama Hans? Aku rasa sebelum kalian resmi bercerai, kau harus menjaga jarak dengan Hans. Apa bedanya kau dengan Jasper, Chel? Apa bedanya kau dengan Jasper yang sering pergi bersama Aurora? Jangan pernah mempermainkan pernikahan! Pernikahan tidak sebercanda itu!" Nicole memberikan petuah.


Rachel meresapi semua perkataan Nicole.


"Jasper, baiklah aku akan membuatmu bebas! Aku ingin kita sama sama tidak saling menyakiti lagi," gumam Rachel.


****


Sudah tiga hari Jasper mencari keberadaan istrinya. Ia terus merasa bersalah karena memaksa Rachel untuk tidur dengannya. Bahkan di malam itu, Jasper melakukannya berkali-kali. Jasper sudah menghubungi semua teman-teman Rachel tapi tidak ada yang melihat keberadaan wanita itu. Rumah Daniella pun ia kunjungi untuk mencari keberadaan istrinya. Hasilnya nihil, bahkan selama satu tahun ini Rachel tidak pernah bertemu dengan Daniella lagi. Rachel selalu menghindari kakaknya itu. Jasper bertanya kepada Nicole, akan tetapi Nicole hanya menjawab tidak tahu. Jasper sedikit curiga kepadanya.


"Mengapa kau resah, J?" Aurora menatap Jasper penuh selidik.


"Aku tidak bisa membiarkannya pergi. Bagaimana dengan perceraian kami?" Jasper berkilah.

__ADS_1


"Tunjuk saja seorang pengacara untuk membereskan semuanya," Aurora berkata dengan enteng.


"Mana mungkin bisa," Jasper berkata dengan tidak terima.


Ponsel Jasper berbunyi. Ia langsung mengangkat telfon yang diketahui berasal dari ibunya.


"Jasper, pulanglah, Nak!" Pinta Alula dengan suara yang seperti sedang menangis.


"Ada apa, Ma?" Tanya Jasper dengan panik.


"Pulanglah sekarang ke rumah Mama!" Alula kemudian menutup telfonnya.


"Ada apa?" Aurora terlihat panik.


"Aku tidak tahu tapi mama memintaku untuk pulang," Jasper langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah ibunya.


Di kediaman keluarga Allen...


Jasper membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat di beberapa lembar kertas yang ada di tangannya. Kertas itu adalah gugatan cerai yang dilayangkan oleh Rachel untuknya. Pengadilan baru saja mengirim dokumen permohonan perceraian dengan penggungat bernama Rachel Olivia Ruzha.


"Mama kira kalian tidak akan bercerai," Alula menangis. Ia selalu membayangkan waktu setahun bisa membuat putranya itu berubah pikiran. Akan tetapi, kini berbalik malah Rachel yang menggugat cerai terlebih dahulu.


"Pada akhirnya memang aku dan dia harus berpisah, Ma!" Jasper mengepalkan tangannya.


Hatinya seakan remuk redam melihat surat itu. Bukankah yang selama satu tahun ditunggu oleh dirinya kini telah datang? Tapi mengapa hatinya begitu terluka seakan tidak bisa dijelaskan dan dilukiskan dengan kata-kata?


Di lain tempat, Rachel yang baru memikirkan peristiwa malam itu sedikit khawatir. Kala Jasper meniduri dirinya, ia sedang berada di dalam masa subur. Rachel pergi ke apotek untuk membeli pil pencegah kehamilan.


"Kau meminum apa?" Nicole bertanya saat melihat Rachel menelan obat.


"Pil kontrasepsi," jawabnya singkat. Rachel kemudian mengambil air dan meminumnya.


"Bagaimana jika dirimu hamil? Perceraian kalian sudah di depan mata," Nicole merasa khawatir.


"Kau jangan khawatir! Aku rasa, aku tidak akan hamil!" Ucap Rachel dengan tenang.


"Pil kehamilan itu tidak akan mencegah apapun jika sel sp*rma sudah bertemu dengan sel telur dan kejadian itu sudah 3 hari yang lalu. Mungkin sekarang sedang terjadi pembuahan jika kau memang benar-benar sedang ovulasi pada malam itu," jelas Nicole yang membuat Rachel kembali cemas.


"Hans terus mencarimu," Nicole mengalihkan topik setelah melihat raut wajah Rachel yang khawatir.


"Aku sudah mengirim pesan untuknya agar tidak khawatir," Rachel memaksakan senyumnya.


"Dan suamimu juga terus mencarimu," lanjut Nicole yang langsung membuat senyum di bibir Rachel menghilang.

__ADS_1


__ADS_2