Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Merayakan Ulang Tahun


__ADS_3

Rachel merasa malam ini Jasper begitu berbeda. Pria itu lebih banyak diam sedari tadi.


"Apa aku membuat kesalahan padamu?" Tanya Rachel saat mereka terduduk di sofa yang ada di ruang tengah.


"Mengapa kau tanya seperti itu?" Jasper tampak kaget.


"Kau sedari tadi hanya diam. Apa kau berniat mendiamkanku lagi?" Rachel melihat gelagat yang tak biasa dari wajah suaminya.


"Tentu saja tidak. Aku," Jasper menggantung kata-katanya.


"Kau kenapa?" Rachel tak sabar.


"Ehm," Jasper berdehem berpura-pura membersihkan tenggorokannya.


"Rachel? Mari kita rayakan ulang tahunmu!" Ucap Jasper sembari menatap ke sembarang arah.


Rachel pun membulatkan matanya karena terkejut.


"Dari mana kau tahu hari ini adalah hari ulang tahunku?" Rachel merasa tersanjung.


"Mama menyuruhku untuk mengucapkan ulang tahun untukmu," Jasper berbicara terus terang.


Rachel langsung terdiam. Ia bagaikan diangkat ke langit ke tujuh dan langsung dihempaskan ke lautan terdalam.


"Oh," Rachel hanya bisa mengeluarkan kata itu. Ia pikir Jasper mencari tahu tentangnya.


"Kalau begitu selamat ulang tahun untukmu. Dan apa yang aku bisa lakukan untukmu?" Jasper menatap mata Rachel yang menyiratkan sedikit kesedihan.


"Aku akan mengabulkan keinginanmu. Apapun itu," tandas Jasper.


"Aku ingin melakukan suatu hal," Rachel tersenyum.


*****

__ADS_1


Rachel dan Jasper berada di sudut lain kota Birmingham beserta dengan banyak makanan yang mereka bawa.


"Sebanyak ini?" Rachel membulatkan matanya saat melihat mobil mereka penuh dengan makanan.


"Ayo jangan buang waktu!" Jasper membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya.


Rachel dan Jasper pun mulai membagikan makanan dan selimut kepada tunawisma yang ada di kota Birmingham. Di negara Inggris, tunawisma ini lebih dikenal dengan sebutan homeless.


"Aku tidak percaya di negara Inggris juga ada para homeless," Rachel berjalan untuk memberikan sebuah makanan kepada salah satu homeless.


"Pada dasarnya menjadi miskin di negara ini kemungkinannya sangat kecil. Hal itu karena negara Inggris mengatur gaji dan hak-hak pekerjaan dalam sebuah undang-undang," Jasper menjelaskan.


"Lalu, mengapa mereka menjadi seorang homeless?" Tanya Rachel sembari terus berjalan kaki di samping Jasper.


"Mungkin lebih besar pasak dari pada tiang atau mungkin orang itu tidak memiliki pekerjaan," Jasper kembali menjelaskan.


"Iya itu memang benar. Aku teringat pertama kali menginjakan kaki di kota ini. Aku kaget dengan sewa biaya tinggal yang sangat mahal. Untungnya kak Daniella lebih dulu memiliki pekerjaan di kota ini. Kalau tidak, mungkin aku juga menjadi seorang homeless," Rachel berbicara pelan. Ia begitu mensyukuri dirinya tidak berakhir menjadi seorang homeless di negara ini.


"Jadi, itu sebabnya kau bekerja di klub?" Jasper ingin tahu.


Jasper pun menghentikan langkahnya.


"Jasper, mengapa kau berhenti? Makanan ini masih banyak!" Rachel ikut menghentikan langkahnya sembari mengayun-ngayun makanan dan minuman yang ada di tangannya.


"Rachel?" Jasper menatap serius istrinya.


"Iya?" Rachel mendongkakan kepalanya untuk menatap Jasper yang lebih tinggi darinya.


"Dengarkan! Jika kau tidak setuju terhadap sesuatu, gelengkanlah kepala seperti ini," Jasper menyentuh kedua bahu Rachel sembari menggelengkan kepalanya.


"Dan jika kau setuju terhadap sesuatu, maka anggukan kepalamu seperti ini!" Jasper menggangukan kepalanya.


"Aku tahu. Tapi kadang kebiasaan saja," Rachel melepaskan kedua tangan Jasper dari bahunya. Entah mengapa diperlakukan seperti tadi oleh Jasper, membuat hatinya berdebar tak karuan.

__ADS_1


"Jasper, mengapa kita tidak memberikan mereka uang saja?" Rachel bertanya penasaran.


"Lebih baik kita berikan mereka makanan. Aku khawatir jika diberikan uang, uangnya mereka belikan obat terlarang atau minuman keras," jawab Jasper sembari menggandeng tangan Rachel.


"Jasper?" Rachel melihat tangannya yang digenggam oleh Jasper.


"Maaf aku menyentuh tanganmu seperti ini! Di wilayah ini rawan kejahatan, aku hanya ingin melindungimu," Jasper terus berjalan dengan menggandeng tangan Rachel.


"Mengapa rasanya seakan jantungku di tarik keluar?" Rachel tersenyum melihat tangannya yang berada di genggaman suaminya.


Setelah semua makanan habis, Rachel dan Jasper pun masuk ke dalam mobil dan bergegas untuk pulang.


"Jasper, terima kasih sudah mengabulkan keinginanku!" Rachel tersenyum senang.


"Aku sangat ingin berbagi kepada mereka, tapi baru tercapai hari ini. Dulu jangankan untuk berbagi, untuk aku dan kakakku makan saja terasa sangat sulit. Aku tahu bagaimana rasanya ketika berada dalam posisi menyedihkan seperti itu," mata Rachel jauh menerawang. Ia mengingat saat dirinya berada di keadaan tak baik. Dahulu, untuk makan pun Rachel dan Daniella harus berhemat.


"Sama-sama. Sekarang kau bisa makan yang kau mau," Jasper menjawab sekenanya. Ia belum pernah menjadi pendengar curhatan hati seorang gadis mengenai ekonomi.


satu jam mereka habiskan di dalam mobil dengan obrolan ringan, tanpa terasa mobil mereka sudah sampai di pekarangan rumah.


"Rachel?" Panggil Jasper saat Rachel melepaskan safety belt miliknya.


"Iya?"


"Ini hadiah untukmu!" Jasper mengambil sebuah kotak dan memberikannya kepada istrinya.


"Ini?" Rachel melihat dus itu dan kemudian menatap suaminya.


"Itu ponsel keluaran terbaru untukmu. Pakailah! Aku membelikanmu ponsel itu, karena jaringan internetnya sudah sangat cepat. Kau bisa membaca internet sepuasnya," jelas Jasper.


"Padahal aku masih bisa memakai ponselku yang lama."


"Jadi, kau tidak mau? Kalau tidak mau, aku ambil lagi!" Jasper berpura-pura hendak mengambil kembali ponsel itu.

__ADS_1


"Jangan!" Rachel menjauhkan ponselnya dan tertawa.


"Jasper, sekali lagi terima kasih!" Rachel mendongkakan tubuhnya dan memeluk Jasper. Jasper pun terkejut karena perilaku istrinya itu.


__ADS_2