Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Sweater Couple


__ADS_3

Hal yang pertama Rachel lihat di pagi hari adalah wajah suaminya yang masih terlelap dalam tidurnya. Rachel memegang tangan Jasper yang tengah memeluknya dengan erat. Perlahan mata suaminya itu terbuka.


"Maaf! Semalam udaranya benar-benar dingin, jadi aku memelukmu!" Jasper berkata dengan suara yang serak. Ia menjauhkan tangannya dari pinggang Rachel.


"Tidak apa-apa. Aku juga kedinginan semalam," Rachel mendudukan dirinya dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Kalau begitu ayo kita bersiap!" Jasper ikut mendudukan dirinya.


"Bersiap? Kita mau ke mana hari ini?" Rachel tampak antusias.


"Kita akan pergi ke pusat perbelanjaan kota Sapporo. Aku ingin membelikanmu baju."


"Kalau begitu, aku harus segera bersiap-siap," Rachel langsung berdiri dan mengambil handuk kimononya untuk segera mandi.


Setelah selesai mandi, Jasper dan Rachel sarapan, lalu berangkat ke pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota Sapporo.


"Perjalanannya sepertinya akan memakan waktu lama. Saljunya sangat tebal!" Keluh Jasper saat melihat jalanan yang diselimuti salju beberapa cm.


"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja menyetirnya! Yang penting kita sampai dengan selamat," Rachel memberikan nasehat.


"Baiklah," Jasper menyalakan tape mobilnya untuk mengusir sepi.


"Do you got plants tonight? I'm couple hundred miles from Japan, And I was thinking I could fly to your hotel tonight, cause I can't get you of my mind!" Rachel bersenandung mendengarkan lagu Lost In Japan milik Shawn Mendes yang berputar di tape mobil.


"Jadi, kau tak bisa mengeluarkan aku dari pikiranmu? Sudah jatuh cinta padaku atau memang dari dulu sudah jatuh cinta padaku?" Tanya Jasper dengan tingkat percaya diri maksimal.


"Kau ini percaya diri sekali. Aku hanya bernyanyi. Tidak ada hubungannya denganmu!" Rachel tertawa mendengar pertanyaan suaminya.


"Ya terus saja sangkal," Jasper terus menggoda istrinya.


"Kalau kau masih jatuh cinta dengan Aurora?" Tanya Rachel dengan hati-hati.


"Sebaiknya kita tidak membahas Aurora dulu," Jasper tampak keberatan Rachel membahas Aurora.


"Kenapa?"


"Aku hanya ingin menikmati liburan kita di sini. Jika kita membahas orang lain, tidak akan ada habisnya," Jasper berkilah.


"Berarti kau masih ada rasa padanya," Rachel menyimpulkan sendiri.


Mereka berdua larut dalam keheningan masing-masing setelah membahas nama Aurora. Tanpa terasa, pusat perbelanjaan yang mereka tuju pun sudah di depan mata.


"Cepat sekali!" Rachel bergumam ketika mobil yang mereka naiki masuk ke area parkiran mall.


"Cepat apanya? Aku mengemudi selama dua jam lebih," Jasper melepas safety belt di tubuhnya.


Pasangan suami istri itu masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang bernama Sapporo Factory. Sapporo Factory adalah pusat perbelanjaan terkenal yang berada di pusat kota Sapporo.


"Adakah barang yang kau suka?" Tanya Jasper saat mereka sudah berada di area pusat perbelanjaan.

__ADS_1


"Belum," jawab Rachel sekenanya. Ia memang masih memikirkan Aurora. Apakah suaminya itu masih ada hati dengan gadis cantik itu? Rachel harap jawabannya adalah tidak.


Jasper menghentikan langkahnya sejenak, kemudian pria itu menggenggam tangan istrinya dengan lembut.


"Aku tidak ingin kau hilang di sini," Jasper semakin erat memegang tangan Rachel.


"Biar saja. Biar seperti lagunya Shawn Mendes yang kita dengarkan tadi. Lost in Japan," Rachel berusaha melepaskan tangannya. Tapi sia-sia, tenaga Jasper jauh lebih kuat.


"Ayo kita lihat sweater itu!" Jasper menunjuk ke sebuah butik yang terlihat elegan.


Jasper mengambil dua potong sweater berwarna merah dengan tulisan yang tidak Rachel ketahui artinya.


"Apakah ini muat di tubuhmu?" Jasper tampak memperhatikan sweater yang berukuran lebih kecil dari sweater yang satunya.


"Untuk apa kita membeli ini? Seperti baju seragam," Rachel menilik tulisan yang ada di sweater itu.


"Aku tidak mengerti tulisannya apa," Rachel menggaruk rambutnya.


"Ini huruf kanji," Jasper mengambil kedua swater itu ke arah kasir.


"Hey, mengapa kita harus membelinya?" Rachel mengejar langkah suaminya yang besar-besar.


"Karena aku suka," Jasper membayar kedua buah sweater itu di kasir.


"Aku kurang suka warnanya," keluh Rachel saat mereka keluar dari dalam butik tadi.


"Warna tidak jadi masalah yang penting kegunaannya," Jasper terus menggandeng tangan Rachel.


"Ayo kita beli itu!" Jasper menunjuk dua buah case ponsel.


"Kau suka?" Tanya Jasper saat ia memegang dua buah case yang memiliki corak dan warna yang sama.


"Aku suka. Warnanya lembut," Rachel tersenyum melihat case itu.


Tanpa berbasa-basi, Jasper pun membeli dua buah case ponsel itu untuk dirinya dan satu untuk Rachel.


Mereka berdua memutari pusat perbelanjaan selama beberapa jam. Setelah puas berbelanja, Rachel dan Jasper menyempatkan diri untuk makan sore di area atrium. Mayoritas tempat makan berada di area atrium pusat perbelanjaan. Rachel dan Jasper memesan dua mangkuk ramen karena udara semakin dingin.


"Makanlah! Habiskan semuanya! Kau pasti lelah," ucap Jasper yang melihat Rachel menyeruput mie ramennya dengan cepat.


"Kau juga makan yang banyak! Setelah ini kau harus menyetir lagi," Rachel mengusap wajahnya yang terkena cipratan kuah ramen.


"Kau ini seperti anak kecil!" Jasper mengusap bibir Rachel dengan ibu jari tangannya.


Mata mereka bertemu. Mereka bersitatap dalam diam. Waktu terasa terhenti seketika. Ada desiran hangat di hati mereka yang tidak disadari oleh salah satunya. Ya, Jasper tidak menyadari apa yang kini dirasakannya. Ia menganggap hatinya masih berpihak dan hanyalah milik Aurora.


"Habiskan cepat!" Jasper lebih dulu tersadar dan menundukan wajahnya.


Rachel pun tersenyum dan memakan kembali ramennya hingga habis. Setelah selesai makan ramen, Rachel dan Jasper keluar dari gedung Sapporo Factory dan bergegas kembali ke penginapan. Perjalanan mereka dilalui dengan tawa dan juga saling berbagi cerita masing-masing, hingga tidak disadari mereka sudah sampai di halaman penginapan.

__ADS_1


Rachel langsung masuk ke penginapan dan mengganti bajunya menjadi baju tidur.


"Aku tadi beli apa saja ya?" Rachel mengacak-ngacak belanjaannya. Sementara Jasper memutuskan untuk berendam air panas sebentar untuk menghilangkan penat karena berjam-jam menyetir.


"Selamat malam, Nona!" Kaori mengetuk pintu kamar Rachel dan juga Jasper.


"Masuk, Kaori!" Rachel berkata kepada karyawan yang mengurus segala keperluan mereka di penginapan ini.


"Nona, aku mengantarkan teh panas untukmu dan suamimu," Kaori membawa dua gelas teh yang masih beruap ke dalam kamar Rachel dan Jasper.


"Taruh saja di atas meja pemanas, Kaori!" Pinta Rachel sambil memperhatikan sweater yang tadi mereka beli.


"Anda membeli sweater couple, Nona?" Kaori tersenyum melihat sweater yang ada di tangan Rachel.


"Couple?" Rachel tampak tidak mengerti.


"Iya. Itu sweater couple, Nona. Lihatlah tulisannya!" Kaori ikut terduduk di samping Rachel.


"Memangnya tulisannya apa?" Rachel tampak penasaran.


"Tulisannya adalah Aisuru Otto artinya suami tercinta," Kaori menunjuk sweater milik Jasper.


"Dan ini tulisannya itoshi tsuma. Artinya istri tercinta," Kaori menerjemahkan tulisan di sweater milik Rachel.


"Benarkah itu tulisannya?" Mata Rachel tampak berbinar.


"Iya, Nona," Kaori membenarkan.


"Jadi, dia menganggap aku istrinya? Dia membeli ini sebagai bukti bahwa kami adalah pasangan suami istri?" Rachel tampak menitikan air matanya karena terharu. Baginya ini adalah sebuah kemajuan dalam hubungan rumah tangga mereka.


"Tentu saja. Tuan menganggap anda istirnya. Maka dari itu, tuan membeli sweater couple ini," hibur Kaori.


"Kalau begitu aku pamit keluar, Nona!" Kaori berpamitan.


"Iya.Terima kasih, Kaori!" Rachel berkata dengan gembira.


Kaori pun keluar dari kamar Rachel dan Jasper. Rachel melipat sweater itu dan menyimpannya di atas nakas untuk dipakai esok hari. Tak lama, Jasper datang dengan memakai handuk. Rachel memberikan pakaian suaminya, kemudian ia menatap ke arah lain untuk memberikan privasi saat Jasper memakai pakaiannya.


"Ayo kita tidur!" Jasper membaringkan tubuhnya.


Rachel pun berbaring di sebelah suaminya.


"Jasper, bolehkah aku memelukmu?" Pinta Rachel.


"Boleh. Kemarilah!" Jasper membuka tangannya.


Rachel pun langsung menghambur dan memeluk suaminya dengan erat. Tangan Jasper dijadikan bantal oleh gadis itu.


"Tidurlah!" Jasper memiringkan tubuhnya menghadap Rachel dan memeluk gadis itu.

__ADS_1


"Ini seperti mimpi," Rachel meringkuk dengan nyaman di pelukan suaminya.


__ADS_2