Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Sebuah Kehidupan Baru


__ADS_3

Jasper maupun Rachel tidak datang ke pengadilan untuk menghadiri sidang perceraian mereka. Suami istri itu menunjuk seorang pengacara untuk mengakhiri mahligai rumah tangga mereka.


Baik Jasper maupun Rachel tidak menunjukan bukti perselingkuhan di pengadilan. Padahal mereka sama sama memiliki bukti video tentang kebersamaan Jasper dan Aurora, begitu pun dengan Hans dan Rachel.


Karena tidak ada bukti di persidangan, Hakim pun memutuskan agar Jasper dan Rachel hidup terpisah minimal dua tahun sebelum perceraiannya di sahkan oleh negara.


Pengacara yang ditunjuk oleh Jasper memberitahukan hal itu kepada kliennya. Entah mengapa hati Jasper sedikit lega mendengar itu. Sebenarnya apa yang Jasper inginkan saat ini? Bukankah perceraian ini yang telah lama di nanti-nantikan olehnya? Sebetulnya mudah, jika Jasper ingin perceraian itu cepat, ia hanya perlu mengeluarkan bukti mengenai perselingkuhan Rachel dan Hans untuk melawan gugatan cerai Rachel. Namun hal itu urung ia lakukan.


Jasper masuk ke dalam kamar Rachel yang kini kosong. Ia menatap setiap sudut ruangan. Ruangan itu sudah dalam keadaan kosong dan rapi. Ingatan tentang Rachel begitu menyiksanya.


"Aku rasa baju ini cocok untukmu!" Rachel memilihkan baju yang akan dikenakan oleh sang suami untuk pergi ke kampus.


Jasper tampak melihat bayangan itu. Ia mengusap wajahnya kasar. Mengapa Rachel tidak juga pergi dari pikirannya? Sebenarnya apa yang Jasper inginkan?


Jasper kemudian turun ke bawah dan masuk ke dalam dapur. Ia seolah melihat Rachel sedang memasak di sana dan menyiapkan makanan untuknya.


"Aku harus pergi dari rumah terkutuk ini!" Jasper seolah sudah tidak tahan dengan ingatan-ingatan mengenai istrinya.


Jasper mengemasi semua barangnya, lalu ia pulang ke rumah orang tuanya. Alula menyambut kedatangan putranya dengan sedih.


"Sayang?" Alula memeluk Jasper kemudian menangis. Ia seolah tidak berharap Jasper pulang dengan cara seperti ini.


Jasper terus memeluk ibunya, mencoba mencari ketenangan hati yang beberapa hari ini tidak ia dapatkan.


"Jangan jadi pria yang cengeng! Bertanggung jawablah dengan semua pilihanmu!" Ucap Kai kepada putranya.


Jasper hanya mengangguk, kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang ia tempati sebelum menikah dengan Rachel.


"Aku tidak pernah merasa sekosong ini!" Jasper bergumam sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size.


****


Entah mengapa Jasper begitu menantikan hari wisudanya. Wajahnya begitu berseri-seri di pagi hari ini. Alula, Kai dan Kimberly adiknya bersiap untuk mengantarkan Jasper ke acara wisuda yang akan diselenggarakan hari ini. Jasper menyetir sembari tersenyum. Hal itu membuat hati Alula semakin sakit.


"Mama tahu kau ingin melihat istrimu di sana, tapi ketahuilah sayang, Rachel tidak akan datang," batin Alula melihat putranya yang terus tersenyum.


Mereka sampai di aula kampus, tempat dilaksanakannya wisuda hari ini. Jasper menoleh ke sana ke mari mencari sesosok wanita yang begitu mengganggu pikirannya.


"Ke mana dia? Mengapa dia tidak ada?" Jasper terus mencari Rachel.


"Mencari siapa?" Kimberly bertanya.


"Aku mencari Aurora," Jasper berkilah.


"Aurora? Bukankah tadi dia memberikanmu bunga? Mengapa sekarang mencarinya? Dia ada di sana!" Kimberly menunjuk Aurora yang tengah berselfie dengan topi toganya.


"Aku tidak melihat," Jasper berpura-pura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Jasper kemudian melihat Nicole yang sedang membawa bunga untuk teman-temannya yang lain. Nicole memang tidak wisuda hari ini, karena ia belum menjalani sidang skripsi.


"Ke mana temanmu?" Jasper bertanya kepada Nicole.

__ADS_1


"Siapa?" Nicole berpura-pura tidak tahu.


"Temanmu itu. Siapa namanya? Aku lupa. Gadis dari Bulgaria itu. Chelsea atau siapa namanya," Jasper berpura-pura lupa.


Nicole menarik ujung bibirnya sedikit. Ia begitu terhibur melihat tingkah Jasper yang masih saja mempertahankan egonya yang tinggi itu.


"Rachel?" Nicole balik bertanya.


"Iya. Aku tak melihatnya. Ke mana dia? Bukankah dia sudah sidang?" Jasper terus menggali info dari Nicole.


"Mengapa kau ingin tahu tentangnya?" Nicole menjawab dengan lantang.


"Aku hanya ingin menghitung berapa orang di kelas kita yang wisuda hari ini," Jasper memberikan alasan.


"Rachel tidak datang wisuda. Dia tidak ikut ceremony. Rachel akan pindah ke luar kota, atau bisa jadi dia akan pulang ke Bulgaria. Entahlah. Yang aku tahu, Rachel akan membuat sebuah bisnis pakaian bayi," Nicole tampak memancing.


"Pindah?" Jasper bergumam. Ia seperti tersambar petir di siang hari. Jasper merasa hatinya sangat sakit mendengar apa yang Nicole sampaikan.


Jasper berjalan lunglai menuju kedua orang tua dan adiknya. Senyum yang ia tebar sedari tadi pagi hilang tak tersisa. Di tengah kegalauannya. Aurora berlari ke arahnya.


"J, tunggu!" Aurora mengejar langkah Jasper yang besar-besar.


"Dari mana saja? Aku menunggu," Jasper berpura-pura tersenyum.


"Kau harus lihat ini, J!" Aurora tidak menjawab. Dia mengambil ponsel dari tasnya dan memperlihatkan sebuah video.


"Ini video apa?" Jasper tampak bingung. Aurora pun memutar video itu.


"Sama-sama, Alan. Aku senang bisa bekerja sama denganmu," Rachel balas tersenyum.


Itulah sepenggal percakapan Rachel dan juga Alan di dalam video.


"Ternyata Rachel bekerja sama dengan Alan untuk menjebakmu kala di hotel itu," Aurora memanas-manasi.


"Dari mana kau mendapat video ini?" Jasper bertanya dengan nada marah.


"Saat sidang. Aku melihat mereka mengobrol. Jadi, aku rekam saja," Aurora tersenyum.


Jasper mengepalkan tangannya. Ia merasa telah dibohongi untuk yang kedua kalinya.


"Berhentilah sekarang! Berhentilah untuk mencari wanita itu!" Batin Jasper kepada dirinya sendiri.


Padahal video itu adalah kerja sama Alan dan Rachel mengenai baju bayi. Alan tak sengaja melihat desain baju bayi yang Rachel gambar saat di dalam kelas. Alan begitu tertarik karena ia ingin memberikan sesuatu untuk keponakannya yang baru lahir. Alan berniat membeli desain Rachel dan akan meminta rumah mode untuk menjahitnya. Akan tetapi, Rachel menawarkan rajutan miliknya. Alan tentu saja setuju. Bukankah akan lebih baik jika dikerjakan oleh orang yang mendesainnya? Alan lalu membayar Rachel untuk desain dan hasil rajutannya.


****


4 minggu kemudian....


Rachel melihat hasil tespacknya yang positif. Ia sudah terlambat haid selama 3 minggu, maka dari itu dirinya berinisiatif untuk melakukan uji kehamilan dengan tespack.


"Bagaimana hasilnya?" Nicole memburu Rachel yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rachel memang masih tinggal di apartemen Nicole. Ia memang berencana pindah seminggu lagi ke luar kota.

__ADS_1


Rachel tak menjawab. Tubuhnya seolah limbung. Rachel terhuyung dan terduduk di lantai. Tangannya gemetar memegang tespack itu. Nicole langsung menyambar tespack dari tangan Rachel.


"Kau hamil!" Nicole menatap tespack itu dengan tak percaya.


Rachel langsung menutup wajahnya dengan tangan. Ia menangis tersedu.


"Mengapa nasibku selalu begini?" Rachel bertanya dengan suara yang parau.


"Di saat Jasper sudah tidak menginginkanku, mengapa harus ada kehidupan lain di tubuhku?" Rachel terus menangis.


Nicole yang melihat tangisan menyayat hati itu pun ikut terduduk di depan Rachel. Nicole ikut menangis. Ikut bersedih mengenai nasib sahabatnya itu.


"Mungkin ini cara tuhan untuk menyatukan kau kembali dengan Jasper," Nicole memeluk tubuh Rachel yang tengah rapuh itu.


"Pernikahan kami sudah rusak dan tidak bisa diselamatkan. Jasper sudah tidak menginginkanku lagi," Rachel terus menangis.


"Lalu, apa rencanamu?"


"Kumohon, jangan katakan siapapun mengenaik kehamilanku!" Pinta Rachel. Nicole langsung mengangguk tanda setuju. Ia seolah tidak ingin terlalu dalam mencampuri kehidupan pribadi Rachel. Ditambah kedekatan Jasper dan Aurora saat acara wisuda begitu memuakan untuk Nicole.


Keesokan harinya, Rachel pergi ke salah satu rumah sakit terbesar di kota Birmingham. Ia berniat untuk memeriksakan kehamilannya. Walau kehamilan ini tidak di inginkannya, akan tetapi Rachel wajib memastikan anaknya dalam keadaan sehat. Rachel pergi ke rumah sakit terbaik di kota Birmingham ini bermodalkan uang yang Jasper berikan selama satu tahun ini. Rachel memang bekerja untuk keperluan sehari-harinya, sehingga ia tidak perlu memakai uang dari Jasper. Akan tetapi, Jasper tetap mentransferkan uang kepada rekening Rachel, walaupun ia tahu Rachel tidak akan memakainya.


"Akhirnya uang darimu aku pakai," gumam Rachel.


"Mungkin kau pengganti ayahmu untuk menemani Mama agar tidak hidup sebatang kara," Rachel mengelus perutnya yang masih datar sembari menunggu antrian di poli obygyn. Tanpa ia sadari, dua orang berjalan menghampirinya.


"Rachel?" Sapa seorang wanita yang begitu Rachel kenali.


"Mama?" Rachel berdiri dari duduknya. Terkejut dengan kedatangan Alula dan Kimberly, adik iparnya.


"Mengapa kau tidak pernah menemui Mama? Sedang apa kau di sini, Nak?" Alula tampak bertanya-tanya.


"Aku-" lidah Rachel terasa kelu. Alula dan Kimberly menangkapnya basah.


"Apa kakak hamil?" Kimberly menyipitkan matanya.


Alula langsung membulatkan matanya.


"Ti-tidak. Rachel hanya ingin memeriksakan siklus bulanan Rachel," Rachel berbohong.


"Mama sedang apa di sini?" Rachel mengalihkan.


"Mama terkena insomnia karena perceraianmu. Maka dari itu, Mama datang ke rumah sakit ini. Kalau begitu, biarkan Mama ikut mengantarmu ke dalam!" Alula tampak semakin curiga.


"Mama, Rachel bisa sendiri. Mama dan Kim pulang saja. Mama perlu istirahat," Rachel tampak panik.


"Kau tahu Mama kan? Mama tidak bisa dibantah," Alula bersikeras.


"Nyonya Rachel! Silahkan masuk!" Panggil perawat.


"Ayo Mama akan mengantarmu masuk!" Alula menggandeng tangan Rachel masuk ke dalam ruang pemeriksaan.

__ADS_1


__ADS_2