
Suhu turun ke titik terendah hari ini di kota Birmingham, hingga mencapai -10 drajat celcius. Salju tampak menebal di sekitaran supermarket yang sedang Rachel datangi.
"Bagaimana ini? Bagaimana aku pulang?" Rachel melihat ke arah kaca supermarket. Tampak jalanan dilapisi salju yang sudah menebal menjadi beberapa inci.
"Aku telfon saja Jasper. Aku tidak bisa pulang seperti ini," Rachel melihat kakinya yang dibalut dengan sepatu plat.
"Harusnya aku memakai sepatu boots tadi," sesal Rachel yang selalu saja bertindak ceroboh. Apalagi kini belanjaannya sangat banyak untuk menyetok persediaan selama seminggu.
"Aku jadi ingin segera lancar mengemudi agar bisa membawa mobil," gumam Rachel sembari mencari nama Jasper di kontaknya. Rachel memencet tombol dial dan menunggu suaminya mengangkat pangilan telfon.
"Hallo, ini dengan Jasper Allen. Aku sedang tidak bisa mengangkat telfon, silahkan tinggalkan pesan!"
Rachel menghela nafasnya berat ketika mendengar suara di sebrang telfon.
"Jasper, bisakah kau jemput aku? Aku sedang berbelanja di supermarket. Aku sepertinya tidak bisa melalui salju," Rachel mengirimkan pesan whatsapp kepada suaminya.
"Ceklis satu!" Rachel lagi-lagi kecewa saat mengetahui jika ponsel suaminya sepertinya sedang tidak aktif.
"Sudahlah, lebih baik aku paksakan saja berjalan kaki. Semoga ada taksi yang lewat," putus Rachel sembari keluar dari supermarket dengan menenteng empat kantong belanjaan di tangannya.
"Aw!" Ringis Rachel ketika salju masuk ke dalam sepatunya. Rachel menyimpan belanjaannya di atas salju, lalu ia membuka sepatunya untuk mengeluarkan es es yang masuk ke dalam sepatu miliknya.
Setelah itu, Rachel memakai sepatunya lagi. Ia kembali berjalan menembus jalanan yang penuh dengan salju. Rachel sesekali menyimpan kantong belanjaannya di atas salju karena tangannya sangat pegal dan juga memerah.
"Sakit sekali!" Rachel melihat tangannya yang memerah. Kemudian ia merekatkan mantelnya karena suhu sangat dingin menyiksa kulitnya. Hembusan angin seperti menembus tulang-tulangnya.
__ADS_1
Rachel memutuskan untuk berjalan lagi sembari sesekali melihat ke belakang apakah ada taksi yang bisa ia tumpangi. Hasilnya nihil, taksi taksi yang lewat sudah terisi oleh penumpang. Taksi memang lebih lambat saat musim salju karena mereka harus memelankan laju kendaraan.
"Ya tuhan! Tanganku sakit sekali!" Rachel mengeluh.
"Aww!!" Teriaknya saat es yang lumayan besar masuk ke dalam sepatu dan melukai kakinya.
Rachel langsung berjongkok untuk membuka sepatunya.
"Ya ampun berdarah!" Mata Rachel berkaca-kaca saat melihat kakinya berdarah terkena goresan es yang masuk ke dalam sepatunya.
"Perih sekali!" Rachel memejamkan matanya.
Ia berjongkok dalam waktu yang cukup lama, kemudian dengan tertatih gadis itu berusaha untuk bangkit karena dingin menyiksa tubuhnya.
Rachel berjalan tertatih menahan perih di kakinya. Tiba-tiba barang belanjaanya berhambur ke salju karena tas belanja yang digunakan Rachel sobek.
"Jangan menangis, Nona!" Seru seseorang dari belakang yang melihat Rachel sedang berjongkok.
"Hans?" Panggil Rachel dengan nada yang pelan.
****
Kini Jasper berada di National Sea Life Centre. Ia berkunjung ke Aquarium terbesar di kota Birmingham ini bersama dengan gadis yang merupakan cinta pertamanya. Ya, siapa lagi jika bukan Aurora. Pemuda itu memang mengajak Aurora tanpa sepengetahuan dari Rachel.
"Jasper, Pinguinnya lucu sekali!" Gemas Aurora saat melihat penguin yang sangat menggugah hatinya.
__ADS_1
"Berang-berang lautnya juga sangat lucu," Jasper memperhatikan berang-berang laut yang menurut staff bernama Ozzy dan Olla.
"Hallo Ozzy, hallo Olla!" Aurora melambaikan tangan kepada berang-berang laut itu.
"Mengapa senyum Rachel terlintas di pikiranku?" Jasper menatap wajah Aurora yang tersenyum. Ia teringat istrinya yang belakangan ini selalu menghiasi hari-harinya dengan senyuman. Berbalik dengan awal-awal mereka menikah, Jasper sangat jarang melihat senyum gadis itu.
"Jasper, terima kasih sudah mengajakku berjalan-jalan ke Akuarium terbesar yang ada di kota Birmingham," ucap Aurora dengan tulus saat mereka melewati Akuarium yang menampakan penyu sedang berenang.
"Sama-sama. Aku juga senang bisa ke sini bersamamu," Jasper tersenyum simpul.
"Bagaimana jika kita berfoto?" Ajak Aurora. Tanpa menunggu jawaban dari Jasper, gadis itu memanggil staff untuk memfotokan mereka.
"Pegang tanganku seperti ini!" Aurora mengambil tangan Jasper.
Staff akuarium pun memfoto kedua pasangan yang tidak mempunyai status itu. Satu foto terdokumentasi memperlihatkan wajah Aurora dan Jasper yang sedang menatap wajah satu sama lain.
"Sudah puas?" Tanya Jasper kepada Aurora yang sedang melihat-lihat foto mereka berdua di kamera miliknya.
"Sudah," diam-diam Aurora membagikan foto dirinya dan Jasper di grup whatsapp kampusnya.
"Aurora, mari kita pulang!" Ajak Jasper setelah mereka puas berkeliling.
"Ayo!" Aurora menggandeng tangan pemuda itu, hingga Jasper tertegun.
Jasper melajukan mobilnya untuk mengantarkan Aurora pulang ke rumahnya. Saat ia melewati taman dekat supermarket, ia melihat Rachel sedang terduduk di kursi bersama dengan Hans yang sedang memakaikan sepatu di kaki istrinya.
__ADS_1
"Rachel!" Jasper menggertakan giginya menahan amarah.