Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Sepatu Boots Cokelat


__ADS_3

"Hans?" Panggil Rachel dengan nada yang pelan.


"Oh ternyata kau Nona Bulgaria?" Hans tampak terkejut ketika melihat gadis yang sedang kesusahan itu adalah Rachel.


"Mengapa aku selalu bertemu denganmu ya?" Rachel mulai mengumpulkan barang-barangnya yang jatuh berceceran.


"Sepertinya kita berjodoh," Hans berjongkok dan membantu Rachel mengambil barang-barangnya yang berantakan.


"Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu ya?" Hans menatap bola mata Rachel yang berwarna biru.


"Sudah lama tidak bertemu? Bukankah kampus baru libur seminggu yang lalu?" Rachel berkata dengan bingung.


"Oh iya? Aku tidak sadar. Aku hanya terlalu merindukanmu, Nona Bulgaria. Jadi waktu terasa sangat lama ketika kita tidak bertemu," Hans menggombal.


"Hans, gombalanmu sangat menggelikan!" Rachel tertawa.


"Kau aneh ya?" Hans tersenyum simpul.


"Aneh?"


"Iya. Tadi kau menangis. Sekarang kau tertawa. Sepertinya kau mempunyai kepribadian ganda," Hans mengoceh.


"Kepribadian ganda seperti di film Split?" Rachel menjawab sekenanya. Ia membersihkan cemilan-cemilan yang dipenuhi salju.


"Hey, kau suka film itu?" Hans bertanya dengan senang. Merasa memiliki orang yang sefrekuensi dengan dirinya.


"Tentu saja. Aku suka film itu. Film itu membuka wawasanku mengenai kehidupan orang-orang yang memiliki kepribadian ganda."


"Eh mengapa kita jadi mengobrol tentang film?" Hans bertanya dengan bingung.


"Kau sama anehnya denganku!" Rachel tertawa.


"Kau berjalan kaki dari tadi?"


"Iya. Tidak ada taksi yang kosong. Dan lihatlah! Kantong belanjaannya robek karena beban yang terlalu berat," Rachel memperlihatkan kantong belanjanya yang sudah bolong.

__ADS_1


"Tunggu di sini," Hans berlari ke arah mobilnya yang diparkir tak jauh dari sana.


"Pakailah tas ini!" Hans memberikan tas belanja kepada Rachel.


"Mengapa ada tas belanja di mobilmu?" Rachel mulai memasukan belanjaannya ke kantong belanja ramah lingkungan milik Hans.


"Aku selalu membawa kantong belanja untuk berjaga jaga jika membawa barang atau makanan. Aku hanya ingin mengurangi sampah plastik saja," jawab Hans sekenanya.


"Baguslah jika kau sadar. Kita memang harus menjaga lingkungan. Salah satunya adalah dengan mengurangi pemakaian kantong plastik. Berapa banyak hewan laut yang menderita karena terjerat sampah plastik," Rachel mencoba berdiri.


"Aku antarkan kau pulang ya?" Hans mengambil semua bawaan Rachel dan menjingjingnya ke arah mobilnya yang berwarna merah.


"Iya," Rachel langsung setuju.


"Kau tidak berpura-pura menolak dulu?"


"Aku memang sedang membutuhkan bantuan. Jadi, untuk apa berpura-pura menolak? Kau tahu kan, waktu adalah uang?" Rachel meniru ucapan Jasper, suaminya.


"Kalau begitu ayo ku antarkan kau pulang! Ladies first!" Hans mempersilahkan Rachel berjalan terlebih dahulu


"Kakiku terluka terkena pecahan es," Rachel menatap kakinya.


"Ya ampun kenapa kau tidak bilang? Ke mana majikanmu?" Hans bertanya dengan panik.


"Jasper? Aku tak tahu dia ada di mana," Rachel menggelengkan kepalanya.


"Mengapa dia tidak membantumu? Walaupun kau seorang asisten rumah tangga, tapi tak seharusnya dia membebankan sebanyak ini belanjaan kepadamu," Hans tidak terima.


Rachel pun tersenyum saat mendengar Hans menyebutnya asisten rumah tangga Jasper.


"Ya namanya juga bekerja," Rachel berkata dengan enteng.


"Kau bisa berjalan kan? Perlu aku gendong?" Tawar Hans yang langsung ditolak oleh Rachel.


"Kalau begitu ayo! Aku kedinginan!" Ajak Rachel sembari berjalan ke arah mobil Hans dengan pelan.

__ADS_1


Hans mengemudikan mobilnya menuju toko sepatu yang tak jauh dari super market yang Rachel datangi tadi.


"Hey, mengapa kita berhenti di sini?" Tanya Rachel yang bingung mengapa Hans memarkirkan mobilnya di parkiran toko sepatu.


"Berapa ukuran sepatumu?" Hans bertanya langsung pada intinya.


"39," jawab Rachel pendek.


"Tunggulah di sini!" Hans turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam toko sepatu itu.


10 menit kemudian dia keluar dengan menenteng dus sepatu di tangannya.


"Itu sepatu?" Rachel menoleh ke arah kursi penumpang saat Hans menyimpan dus sepatu itu di belakangnya.


Hans tidak menjawab, ia mengemudikan mobilnya lagi menuju taman yang tak jauh dari sana.


"Ayo keluar!" Titah Hans kepada Rachel yang menatapnya dengan bingung.


"Untuk apa kita ke mari? Aku ingin pulang!"


"Turunlah! Aku ingin mengobati lukamu. Nanti lukamu bisa infeksi apabila tidak segera di obati," Hans keluar dari dalam mobil dan membuka bagasinya untuk mengambil kotak obat-obatan di sana.


Rachel pun ikut keluar dari mobil pemuda itu. Ia mendudukan dirinya di kursi panjang yang tertutup salju. Rachel menatap Hans yang tengah mengeluarkan kotak obat obatannya. Rachel merasa jika pemuda itu adalah pemuda yang perfeksionis.


Hans menyeka luka di kaki Rachel dengan sedikit cairan alkohol dan menutup lukanya dengan plester.


Setelah itu, Hans kembali ke dalam mobil dan membawa sepatu yang ia beli tadi.


"Untukmu," ucap Hans dengan tersenyum.


"Hans, kau terlalu baik!" Rachel menatap sepatu boots berwarna cokelat yang terlihat sangat elegan itu.


"Kita teman sekelas. Sudah seharusnya kita saling membantu," Hans berjongkok dan melepas sepatu flat milik Rachel. Kemudian Hans memakaikan sepatu boots itu dengan pelan.


"Lain kali jangan belanja sendirian! Kau bisa mengajakku jika ingin berbelanja kebutuhan. Oh iya, aku akan mengantar jemputmu jika kita bisa berkencan," Hans menadahkan kepalanya dan menatap Rachel dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"Berkencan? Tidak ada yang akan berkencan!" Ucap seseorang yang berjalan ke arah mereka.


__ADS_2