
Jasper tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia memilih untuk pergi menghibur suasana hatinya yang memburuk. Pria itu pergi ke taman yang ada di dekat Boston Villages. Ia mendudukan dirinya di bawah pohon yang begitu rindang. Jasper memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di depan taman. Matanya menangkap sesosok gadis yang tengah membantu seorang ibu tua untuk menyebrang jalan.
"Aurora?" Gumam Jasper dalam hatinya saat melihat cinta pertamanya tersenyum sambil berbicara dengan sangat sopan kepada ibu tua itu.
Semenjak pulang dari Swiss, Aurora memang selalu berusaha mendekatinya. Akan tetapi, Jasper tahu statusnya. Ia memilih untuk menghindari Aurora.
"Kau adalah gadis yang baik. Selama ini kau tidak pernah membohongiku. Kau pun tidak pernah memanfaatkan keluargaku. Mengapa tidak kau saja yang menikah denganku?" Jasper menatap Aurora dengan sendu. Ia benar-benar kecewa setelah mengetahui fakta bahwa kedua orang tua Rachel dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku tidak mengerti. Apakah uang dariku tidak cukup hingga Rachel harus menipu mama?" Jasper masih bergumam kepada dirinya sendiri.
"J?" Panggil Aurora yang melihat Jasper tengah terduduk di taman yang ada di pinggir jalan.
Gadis itu berlari kecil dengan raut wajahnya yang sumringah.
"Sedang apa kau di sini? Sedang menyesali pernikahanmu kah?" Aurora menyindir dan tersenyum kecil.
"Kau selalu mengetahui isi hatiku," Jasper tertawa.
"Mari aku bantu untuk mencabut duri kesedihan yang menancap di hatimu!" Batin Aurora. Ia mendudukan dirinya di samping pria yang sedang dirundung kekecewaan dan amarah itu.
"Aurora, aku hanya tidak mengerti mengapa ada orang yang berbohong demi kepentingan pribadinya," Jasper memulai pembicaraan.
"Ya karena kebanyakan manusia lebih mementingkan dirinya sendiri dari pada orang lain. Bukankah itu fenomena yang biasa? Apa yang mengganjal di hatimu, J? Apakah istrimu berbohong?" Aurora bisa menebak arah pembicaraan Jasper.
Jasper tidak menjawab. Ia memilih untuk menikmati angin di musim semi yang begitu hangat.
"Yang aku tahu adalah jangan ceritakan permasalahan rumah tangga mu kepada orang lain. Tetapi, itu tidak berlaku bagi rumah tanggamu. Bukankah kalian akan bercerai setelah menikah satu tahun? Bukankah ini sudah satu tahun?" Ucap Aurora dengan enteng.
"Dari mana kau tahu?" Jasper merasa kaget karena Aurora mengetahui rahasianya.
"Aku tidak sengaja melihat kontrak pernikahanmu saat aku mengambil buku milikku. Lalu, apakah sekarang kau akan menceraikan gadis itu?" Aurora bertanya sekali lagi.
Jasper kembali bergeming. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"J, aku sudah jatuh cinta padamu. Akan tetapi, aku tidak menyukai jika harus berhubungan dengan suami orang lain. Jika kau sudah berpisah dengannya, kau tahu aku ada di mana!" Aurora berdiri dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Jasper yang sedang dilanda kebingungan.
Jasper menatap Aurora. Ia memperhatikan gadis yang sudah menjadi sahabatnya sedari kecil itu melenggang pergi meninggalkan taman.
***
Dengan tergesa, Rachel langsung mencairkan cek yang diberikan oleh ibu mertuanya. Rachel langsung mentransferkannya kepada rekening Daniella di hari itu juga.
"Kau adikku yang paling baik dan juga bodoh!" Daniella tertawa melihat nominal fantastis di layar ponselnya. Daniella baru saja mengecek M-Banking miliknya.
"Honey, ayo kita pergi mencuci mata!" Ajak Daniella kepada kekasihnya yang kini serumah dengannya.
"Mencuci mata?" Pria yang bernama Essa itu bertanya dengan bingung.
__ADS_1
"Aku baru mendapatkan jackpot. Ayo kita berbelanja!" Daniella menarik tangan kekasihnya turun dari kasur.
"Kau akan membelikanku barang lagi?" Essa tersenyum senang.
"Tentu saja. Kau boleh membeli barang yang kau mau."
"Kalau begitu, ayo, honey!" Essa melonjak dengan semangat kemudian ia mencium bibir Daniella dengan rakus.
Pasangan kekasih itu pergi ke mall terdekat. Daniella membeli tas bermerk pr*ada untuknya dan membelikan sepatu merk Di*or untuk sang kekasih yang memiliki harga fantastis.
Daniella memang berniat berubah menjadi pribadi yang lebih baik untuk Rachel. Ia sudah menjalankan hidupnya dengan cukup baik. Tapi takdir berkata lain, ia bertemu dengan pria baru yang senang sekali meminta barang dan uang kepada Daniella. Daniella begitu jatuh cinta kepada pria itu, sehingga ia rela memberikan apapun kepadanya.
Jasper yang sedang pergi ke mall untuk mengalihkan pikirannya dari Rachel bertemu dengan Daniella dan kekasihnya yang sedang berbelanja barang branded.
"Ternyata Rachel membagi dua uang ibuku dengan kakaknya. Sungguh ironi! Mereka membohongi ibuku untuk bersenang-senang," Jasper tersenyum sinis. Kemudian ia memotret Daniella dan memilih untuk berlalu dari sana untuk pulang ke rumah.
Jasper mencengkram setir hingga buku-buku kukunya memutih. Ia begitu kesal dan marah mengetahui fakta jika Rachel dan Daniella berhasil menipu ibunya.
Setelah sampai ke rumahnya, Jasper membuka pintu dan menutupnya dengan sangat keras hingga membuat Rachel yang sedang duduk terlonjak kaget.
"Kau sudah pulang? Ke mana saja?" Rachel bertanya dengan khawatir karena suaminya baru pulang malam hari.
"Apakah kau puas sudah menipu keluargaku?" Jasper langsung bertanya pertanyaan yang menohok.
"Menipu? Siapa yang menipu keluargamu?" Rachel tampak kebingungan.
Jasper berjalan ke arah dinding dan mengambil foto pernikahan yang baru ia tempel setelah mulai jatuh cinta kepada Rachel. Ia langsung membanting foto pernikahan itu hingga kacanya terpecah berserakan di lantai.
"Jasper, kau menakutiku!" Rachel menyentuh dadanya yang berdetak lebih cepat.
"Katakan! Kau membutuhkan uang berapa lagi?" Jasper berjalan ke arah Rachel dan mencengkram tangannya.
"Aku tidak mengerti maksudmu," Rachel mulai menangis. Ia begitu takut pada kemarahan suaminya.
"Perlu aku perjelas? Kau meminjam uang kepada ibuku untuk gaya hidupmu dan kakakmu?" Jasper berdesis tajam di telinga Rachel.
"Kau salah paham. Aku meminjam uang kepada Mama karena kedua orang tuaku sedang sakit keras. Bahkan mereka tidak bisa pergi bekerja. Ditambah rumah mereka di sita oleh pemberi hutang karena mereka tidak bisa melunasi hutang," wajah Rachel sudah penuh dengan air mata.
Jasper melepaskan tangan istrinya kemudian ia bertepuk tangan.
"Kau hebat sekali! Harusnya kau sudah mendapatkan piala oscar untuk aktingmu yang memukau ini!" Jasper tertawa mengerikan.
"Aku tidak berbohong. Aku berani bersumpah," Rachel tersedu.
"Bahkan kau berani bersumpah untuk menutupi kebohonganmu!" Jasper merogoh ponsel dari saku celananya.
"Ini yang kau namakan sakit keras? Lihatlah ayah dan ibumu sangat sehat di sana! Bahkan rumah mereka telah di renovasi menjadi lebih baik," Jasper memperlihatkan foto kedua orang tua Rachel kepada gadis itu.
__ADS_1
Rachel membulatkan matanya yang memerah. Ia mengambil ponsel suaminya dan memperhatikan foto kedua orang tuanya yang terlihat sangat sehat dan seperti tidak kekurangan apapun.
"Kau membagi dua uang dari mama dengan kakak binalmu itu kan? Barusan aku melihat kakakmu berbelanja barang-barang mewah dengan kekasihnya," Jasper merebut ponselnya dari tangan istrinya.
"Kakak adalah orang baik! Tidak mungkin dia sedang pergi berbelanja. Selama ini, kakak hidup seadanya dan tidak pernah membeli barang mewah," Rachel membela kakaknya di sela-sela keterkejutannya setelah melihat foto kedua orang tuanya yang nampak bugar.
"Bukankah ini kakakmu?" Jasper memperlihatkan foto Daniella bersama kekasihnya yang tengah menenteng banyak belanjaan.
Bibir Rachel bergetar. Ia berharap bahwa foto itu bukanlah kakaknya. Tapi itu adalah Daniella. Kakaknya yang sudah menipu dengan memanfaatkan sisi baiknya yang rapuh.
"Kak, mengapa kau tega?" Rachel bergumam. Air mata merembes semakin deras dari mata Rachel. Ia benar-benar telah ditipu habis-habisan oleh Daniella. Rachel merasa seperti seekor keledai.
"Jasper, aku tidak berniat menipu Mama. Kakak yang memberitahukanku jika kedua orang tua kami sakit. Aku tidak tahu jika kakak menipuku," Rachel memberikan penjelasan di tengah-tengah tangisnya.
"Setelah ketahuan, sekarang kau berniat menyelamatkan dirimu sendiri," Jasper memandang Rachel dengan nyalang.
"Aku benar-benar tidak menipu Mama. Aku-"
Prang...
Jasper membanting vas bunga di depan Rachel.
"Diam!!!" Teriaknya. Jasper langsung berjalan dan masuk ke dalam kamarnya.
Rachel menatap vas bunga dan kaca foto yang berserakan di lantai. Dengan tenang, wanita itu pergi ke dapur untuk membawa sapu dan tempat sampah kecil untuk membersihkan kekacauan itu.
Rachel berjongkok dan mulai mengambil percahan kaca yang berukuran besar.
"Kakak, mengapa kau begitu tega kepadaku? Aku menikah dengan Jasper karena perintah dan paksaan darimu, tapi kau juga yang menghancurkan pernikahanku sekarang. Aku sudah menitipkan kepercayaan yang begitu besar karena kau adalah kakak kandungku. Tetapi mengapa kau malah berbalik dan menghancurkanku?" Rachel bergumam sambil membereskan serpihan kaca-kaca itu. Serpihan yang menggores tangannya tidak terasa oleh Rachel. Rasa sakit luka itu tidak sebanding dengan luka hatinya kini.
"Aku percaya padamu karena kau adalah kakak kandungku. Bukankah darah lebih kental dari apapun?" Rachel semakin tersedu. Darah pun semakin berceceran di lantai.
Di dalam kamar, Jasper mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menyesali sudah membanting foto pernikahan dan vas bunga di hadapan Rachel. Pria itu keluar dan melihat Rachel yang tengah berjongkok memunguti serpihan kaca yang berserakan di lantai.
"Duduklah! Biar aku yang membereskan kekacauan yang aku buat," Jasper menarik tangan Rachel agar berdiri. Ia menatap tangan istrinya yang penuh luka karena serpihan kaca.
Rachel duduk di atas sofa dan melihat Jasper yang mulai membereskan serpihan kaca itu. Mereka tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Pikiran Rachel jauh memikirkan Daniella yang begitu tega kepadanya. Setelah membereskan serpihan itu, Jasper mengambil kotak obat untuk mengobati luka istrinya.
Jasper membersihkan darah di tangan Rachel dengan kapas dan meneteskan sedikit obat merah.
"Mari kita bercerai!" Ucap Jasper kepada perempuan yang sudah satu tahun ini ia nikahi.
Hati Rachel olivia teriris ketika mendengar ucapan suaminya. Bukan tanpa sebab, waktu yang mereka habiskan selama satu tahun telah membuat debaran cinta di hati Rachel.
"Bercerai?" Rachel memperjelas.
Jasper mengangguk. Keinginannya sudah bulat untuk menceraikan istrinya itu. Tekadnya saat ini adalah kembali mengejar cinta Aurora, cinta pertamanya.
__ADS_1
"Setelah pertemuanku dengan Aurora tadi, aku yakin jika Aurora yang terbaik untukku. Dia tidak pernah membohongiku. Dia tidak pernah menipu keluargaku. Aku akan kembali memperjuangkannya," ucap Jasper yang membuat luka di hati Rachel semakin menganga.