Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Emrick


__ADS_3

Ada yang berkata jika seminggu setelah melahirkan adalah hal yang cukup berat, terlebih untuk seorang ibu baru yang baru saja memiliki seorang putra.


"Kau tidak tidur?" Tanya Rachel yang sedang menyusui Emrick.


"Aku harus menemanimu," ucap Jasper sembari memperhatikan putranya.


"Kau harus istirahat. Tidurlah! Di rumah sakit kau tidak tidur sama sekali," Rachel melihat kantung mata di mata suaminya.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu begadang sendirian. Aku akan terus menemanimu!"


"Sepertinya dia pipis," Jasper mengambil diapers dari kain. Jasper menggendong Emrick dari pangkuan istrinya dan mengganti diapersnya.


Rachel memperhatikan suaminya. Ia benar-benar terharu akan sikap Jasper.


"Emrick sudah tidur. Sekarang giliranmu yang harus tidur! Kau harus beristirahat!" Jasper berkata dengan lembut. Rachel mengangguk karena ia sudah cukup lelah.


Pagi hari, Jasper sudah siap dengan semua makanan yang ia buat.


"Emrick menangis lagi?" Tanya Jasper yang melihat Emrick menangis histeris.


"Iya. Aku tidak bisa menenangkannya," raut wajah Rachel panik.


Jasper langsung memangku bayi yang masih merah itu dengan hati-hati.


"Sayang, tenanglah!" Jasper bekata kepada Emrick yang menangis kencang.


"Sebaiknya kau sarapan dulu! Aku bawa Emrick ke depan," Jasper melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar.


Rachel menatap nanar nampan yang berisi sayuran, buah-buahan, susu ibu menyusui dan makanan bergizi lainnya.


"Jadi seperti ini rasanya mempunyai anak," Rachel bergumam.


4 hari kemudian kondisi Emrick masih sering menangis, bahkan lebih parah. Setiap malam, Rachel dan Jasper tidak tidur karena Emrick semalaman menangis.


"Aku lelah!" Rachel menangis sesenggukan. Ia menyerahkan Emrick kepada suaminya.


"Lelah?" Jasper menatap Rachel tidak percaya.


"Emrick terus menangis di malam hari. Aku lelah. Aku rindu kehidupan lamaku. Aku seperti terkekang, aku rindu bisa bepergian ke mana pun," Rachel semakin tersedu.


"Aku tidak percaya kau mengatakannya. Apakah Emrick yang memilih untuk dilahirkan dari rahim mu? Dia menangis sekarang, tetapi kau malah berkata sesuatu yang menyakitkan. Dia menangis karena merasakan sesuatu. Kau tidak kasihan padanya? Bayi menangis karena itulah cara dia berkomunikasi dengan kita," Jasper terdengar kesal.

__ADS_1


"Lihatlah wajahnya! Apakah kau tidak kasihan padanya semalaman suntuk dia menangis?" Jasper memperlihatkan Emrick yang masih menangis.


Rachel menatap wajah putranya. Rachel menatap mata yang sudah terlihat membengkak itu.


"Kemarilah, Nak!" Rachel menggendong Emrick.


"Maafkan Mama," Rachel menangis dan menciumi wajah putranya.


"Besok kita harus datang ke dokter spesialis anak untuk mengkonsultasilan kondisi Emrick," ajak Jasper yang langsung diiyakan oleh Rachel.


****


"Bayi anda mengalami Kolik," Dokter anak yang memeriksa Emrick langsung memberikan kesimpulan setelah memeriksa Emrick secara menyeluruh.


"Kolik?" Jasper tampak tidak mengerti.


"Kolik adalah situasi di mana bayi terus menerus menangis walaupun bayi dalam keadaan sehat."


"Apakah itu berbahaya, Dok? Apa penyebabnya?" Rachel tampak panik.


"Sejauh ini kolik pada bayi masih terus diteliti. Akan tetapi, ada beberapa hal yang dapat memicu kolik ini terjadi. Diantaranya adalah intoleransi lactosa, alergi susu sapi, sistem pencernaan bayi yang belum sempurna, dan alasan lainnya. Kolik tidak berbahaya dan bukanlah jenis penyakit. Kolik akan membaik seiring bertambahnya usia bayi. Saya sarankan ada yang membantu Nyonya Rachel mengurus bayinya. Ini agar Nyonya Rachel terhindar dari Baby Blues. Tangisan bayinya mungkin akan membuatnya lelah. Tak jarang, itu menyebabkan depresi pada ibu yang baru saja melahirkan," jelas Dokter Anak itu secara gamblang.


"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" Jasper menatap putranya dengan khawatir.


"Baik, Dok. Saya akan menjauhi semua produk susu sapi," Rachel berkata dengan cepat.


Setelah dari Rumah Sakit, Jasper dan Rachel langsung pulang ke rumah. Saat ia sampai di pekarangan rumah, Jasper melihat mobil kedua orang tuanya sudah terparkir di halaman.


"Mama? Papa?" Jasper melihat kedua orang tuanya. Ia juga melihat adiknya ikut serta.


"Tumben kau ikut?" Jasper menatap Kimberly.


"Kau tidak senang melihatku?" Kimberly melipat kedua tangannya di dada.


"Bukan begitu. Hanya saja mungkin sebentar lagi akan ada hujan ikan karena kau mengunjungi kakakmu," Jasper berkelakar.


"Tidak lucu," Kimberly memutar bola matanya dan masuk ke dalam rumah.


"Anak itu!" Jasper menggeram kesal.


"Sudahlah! Kalian selalu saja bertengkar," Kai menengahi.

__ADS_1


"Cucuku," Alula berjalan cepat ke arah Rachel dan memangku cucunya.


"Ada apa?" Alula tampak khawatir.


"Sebaiknya kita bicarakan di dalam," ucap Jasper. Mereka pun masuk serempak ke dalam rumah.


"Kasihan sekali!" Alula melihat Emrick dengan penuh kasih sayang. Jasper sudah menceritakan kondisi Emrick kepada kedua orang tuanya. Kini mereka tengah duduk di sofa yang ada di ruang tengah.


"Mama yang akan membantumu mengurus Emrick," Alula memutuskan, karena setelah Emrick lahir, sore harinya Anelia langsung pulang kembali ke Bulgaria.


"Mama, Rachel takut merepotkan Mama," Rachel tampak tak enak hati.


"Sayang, tidak ada yang direpotkan. Mama hanya ingin mengurus cucu Mama. Ini pasti berat untukmu," Alula menatap Rachel dengan iba.


"Makanya jangan mau menikah muda!" Kimberly berkata dengan datar sambil menyeruput cokelat panas yang ada di cangkir.


"Anak ini!" Jasper tampak kesal.


"Nikahkan saja dia, Pa! Agar dia tahu bagaimana rasanya," lanjut Jasper kepada Kai.


"Menikah? Itu tidak ada di dalam kamusku," Kimberly tersenyum sinis.


"Jangan bicara sembarangan! Semua orang akan memiliki kehidupannya masing-masing, termasuk kau, Kim!" Kai menatap putri bungsunya.


"Bukan seperti itu yang Grandfa ajarkan," Kimberly menyenderkan tubuhnya di sofa.


"Daddy mendidik putri kita seperti dia mendidikmu, sayang!" Alula berbisik kepada suaminya.


"Sudahlah, mengapa kita harus membahas bocah ini?" Jasper tampak kesal.


"Lihatlah, J! Hidupmu terkungkung. Kau tidak bisa melanjutkan mimpimu. Kau menghancurkan masa depanmu. Menikah? Bahkan filosof Immanuel Kant tidak menikah karena menikah hanya akan membuatnya tidak bisa hidup dengan maksim-maksim yang dipilih sendiri. Newton? Dia bilang menikah hanya akan menurunkan produktivitas pola pikir," Kimberly berkata dengan sorot mata tanpa ekspresi. Wajahnya hampir selalu terlihat dingin.


"Kim, hidup para filosof itu berbeda dengan kita, sayang, " Alula merasa jengah mendengar ucapan putrinya.


"Kim?" Rachel memanggil adik iparnya dengan lembut.


"Ada banyak yang bisa didapatkan dari pernikahan. Manusia memiliki fitrah untuk mencintai. Akan ada ketenangan yang didapat ketika kita bersatu dengan seseorang yang kita cintai. Ketenangan itu tidak bisa didapat dari siapa pun. Kita akan butuh seseorang untuk berbagi cerita. Menikahlah suatu hari nanti dan kau akan tahu!" Rachel berkata dengan lembut.


"Kim? Aku tidak meninggalkan mimpi-mimpiku. Jangan kau anggap karena pernikahan mimpi kita tidak bisa terwujud! Malah aku semakin terpacu, karena ada orang-orang yang aku cintai yang harus aku bahagiakan. Saat Emrick berumur tiga bulan nanti, aku dan Rachel akan pergi ke New York. Aku akan melanjutkan S2 ku di sana," Jasper memberitahukan rencananya. semua orang tampak terkejut, kecuali Kim yang terlihat tidak ada perubahan pada raut wajahnya.


"Papa sangat setuju," Kai langsung mendukung penuh rencana putranya.

__ADS_1


"Pergilah dan buktikan pernikahan tidak akan menjegal mimpimu!" Kim menatap kakaknya itu.


__ADS_2