
Jasper kini sudah berada di bandar internasional Sofia, Bulgaria. Ia telah menempuh perjalanan selama 3 jam 38 menit dari kota Birmingham. Jasper menginjakan di kota Sofia pagi hari dengan berbekal harapan akan menemukan istrinya.
Sesampainya di kota Sofia, ia segera check in di hotel terdekat dengan bandara. Jasper tidak merasakan lelah sama sekali. Semangatnya lah yang lebih besar dari rasa lelahnya kini.
Jasper menyimpan semua barang bawaannya di kamar hotelnya. Dari dalam tasnya, foto pernikahan Rachel dan Jasper terjatuh. Ia mengusap foto itu lembut, teringat kembali keangkuhannya yang menghancurkan foto pernikahan di hadapan Rachel dengan brutal.
Jasper mengusap wajahnya kasar, mengapa ia sangat bodoh sehingga ia tidak menyadari akan perasaannya yang mencintai Rachel? Pria jangkung itu menyesal mengapa ia mengutamakan gengsi dan egonya. Namun sesal tidak akan mengubah keadaan. Jasper kini akan berjuang untuk menyelamatkan bahtera rumah tangganya yang terancam karam.
Ia segera bersiap-siap untuk mendatangi pasar pengantin lagi. Jasper sangat berharap bahwa di sana ada orang tua Rachel dan siapa tahu orang tuanya akan menjual Rachel kembali.
Sebenarnya harapannya sangat jahat, ia berharap istrinya dijual di sana dan ia akan membelinya kembali seperti pertemuan pertama mereka dahulu. Ah mengapa Jasper sangat merindukan wanita itu? Mengapa Tuhan menghukumnya dengan cara seperti ini? Jasper sangat tersiksa dengan rindu yang menderanya. Di hati kecilnya, Jasper berjanji jika bertemu Rachel kembali, ia akan memperlakukan Rachel dengan sebaik-baiknya.
Jasper segera menuju basement hotel, ia segera mengemudikan mobil yang sudah sewa di tempat rental terdekat. Jasper melajukan mobilnya menembus jalanan kota Sofia menuju Stara Zagora, tempat di mana pasar pengantin itu diadakan. Setelah menyetir selama dua jam, Jasper akhirnya sampai di pasar pengantin tersebut.
Jasper melihat ke kanan dan kiri, banyak wanita cantik yang dijajakan oleh orang tua nya. Namun Jasper tidak terpana, ia hanya fokus mencari keberadaan istrinya.
"Silahkan ke sini, Tuan!" Ucap salah seorang wanita, dan masih banyak suara-suara tawaran kepada Jasper agar membeli anaknya.
Hampir satu jam jasper mengitari pasar pengantin. Namun hasilnya nihil. Ia tidak melihat istrinya ada di sana.
"Rachel, kau ada di mana?" Gumam Jasper dengan mata memerah. Ia sangat bingung setelah ini dia akan mencari Rachel ke mana.
"Dad, aku tidak mau dijual. Aku mohon!" Teriak salah seorang gadis yang mengalihkan perhatian Jasper.
Gadis itu sangat cantik. Berambut panjang sepinggang dan berwarna pirang. Gadis itu memiliki mata yang indah.
"Aku akan membelinya!" Tegas seorang pria gemuk paruh baya, dengan perut yang besar.
"Baik, tuan. Kami akan memulai dengan harga 10 ribu lev," jawab ayah dari gadis itu dengan ramah.
"Tidak, Dad. Aku tidak mau dengan pria tua seperti dia," gadis cantik itu meronta.
"Aku beli 20 ribu lev!" Jasper segera mendekati kerumunan itu, dan langsung menawar gadis itu dengan cepat.
"Aku yang pertama memilihnya!!" Tegur pria gendut tadi dengan berang.
"Baiklah, kita adu harga," Jasper menyahut dengan arogan.
"25 ribu lev?" Tawar pria gemuk tadi.
"30 ribu lev," Jasper menaikan penawarannya.
"Kurang ajar!" Pria gemuk tadi berlalu begitu saja, ia tidak bisa untuk menambahkannya lagi. Lebih baik ia mundur dan mencari gadis muda untuk simpanannya.
__ADS_1
"Waw ini benar uang?" Orang tua gadis tadi memperhatikan uang yang diberikan Jasper.
"Tolong jangan jual lagi anakmu! Jika kalian menjualnya lagi, aku akan mengambil uangku kembali," tukas Jasper dingin. Ia segera melangkahkan kakinya meninggalkan pasar pengantin.
"Tuan, tunggu!!" Gadis muda tadi mengejar Jasper.
"Bolehkah aku ikut bersamamu? Aku akan menuruti perintahmu apapun itu, sebagai rasa terima kasih ku," gadis muda itu mengikuti langkah Jasper yang lebar-lebar.
Jasper menghentikan langkahnya, ia merasa de Javu. Namun dengan orang yang berbeda. Hatinya merasa sakit saat mengingat Rachel. Perlahan Jasper duduk bersimpuh, ia menutup matanya. Jasper menangis, ia merasa tersiksa dengan apa yang dirasakannya sekarang.
"Rachel kau di mana? Aku begitu merindukanmu."
***
Rachel terbangun dari tidur nya, ia bermimpi tentang Jasper. Ia mengelus perutnya yang mulai membesar. Matanya berkaca-kaca, jika boleh jujur ia merasa sangat kesepian. Rachel butuh seseorang untuk berbagi cerita dan bersandar. Namun Rachel harus membuang harapan itu, mengingat Jasper hanya mencintai Aurora bukan dirinya.
Rachel menyalakan lampu kamarnya, ia mulai merajut lagi baju bayi. Akhir-akhir ini Rachel sangat suka merajut baju bayi. Bahkan Rachel akan berencana untuk membuka toko baju bayi. Ia tak ingin terus bergantung pada mertuanya. Setelah bayi ini lahir, Rachel harus menjadi ibu yang mandiri.
Namun baru saja mulai merajut, mata Rachel berkurang-kunang, ia merasa sangat pusing. Kehamilan trimester pertama Rachel memang cukup berat. Semua makanan yang Rachel makan tak lama langsung dimuntahkan lagi.
"Aku harus kuat," Rachel menahan rasa pusingnya.
Wanita itu bangkit dan berjalan dengan hati-hati menuju wastafel yang ada di kamar mandi. Rachel memuntahkan kembali makan malam yang sebelum tidur ia makan.
"Perutku sangat tidak nyaman, Bi!' Rachel berkata dengan lemah.
"Mari Bibi antar ke kamar!" Bi Ely memapah Rachel dengan lembut.
Sesampainya di kamar, Rachel membaringkan tubuhnya lagi. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya melihat langit-langit kamar. Air mata pun merembes dari kedua sudut matanya.
"Mengapa Nona menangis?" Bi Ely mengambil tisu dan mengeringkan air mata Rachel.
"Aku tidak tahu. Tapi mengapa malam ini aku begitu mengingat Jasper?" Rachel mendudukan dirinya. Ia menutup matanya dan menangis tersedu.
"Mungkin karena Nona sedang mengandung anaknya. Bukankah wanita hamil biasanya menjadi lebih peka dan ingin berdeketan dengan suaminya?" Bi Ely menghibur. Tapi jawabannya membuat Rachel semakin bersedih.
"Bi, bisa tinggalkan Rachel sendirian?" Rachel meminta dengan lembut.
"Tentu saja, Nona. Jika ada apa-apa panggil bibi," Bi Ely melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rachel.
"Aku harus kuat. Aku sudah menderita sejak dulu," gumam Rachel kemudian ia memejamkan matanya lagi.
Sementara Jasper sudah kembali lagi ke Inggris. Ia sudah mendatangi kediaman kedua orang tua Rachel yang ada dj Bulgaria. Akan tetapi, kedua orang tua Rachel sudah pindah entah ke mana. Menurut tetangga Rachel di sana, kedua orang tua Rachel pindah ke rumah yang lebih layak setelah mendapatkan hadiah undian. Jasper semakin bersedih. Ia begitu bingung harus mencari Rachel ke mana lagi. Dan untuk gadis yang Jasper beli, Jasper tidak bisa menyelamatkannya. Ia tidak bisa membawa gadis itu ke negaranya, karena Jasper sadar kehadiran orang baru itu akan membuat hidupnya lebih runyam. Pertemuan mereka hanya cukup sampai di sana.
__ADS_1
Jasper terus mengurung diri di kamarnya. Sudah dua hari semenjak kepulangannya dari negara Bulgaria, Jasper menjadi pemurung dan pendiam.
"Kita harus bagaimana?" Alula merasa khawatir.
"Biarkan saja!" jawab suaminya dengan enteng.
Alula pun mengangguk. Alula masuk ke dalam kamar putranya. Ia bermaksud untuk berpamitan pergi ke kota London di akhir pekan ini dengan tujuan bertemu dengan Rachel dan calon cucunya.
"London lagi!!" Jasper menjawab dengan ketus.
"Kami harus pergi. Ada urusan yang sangat penting di sana," Alula mencoba memberikan pengertian kepada Jasper.
"Urusan yang sangat penting apa? Apa lebih penting dariku? Padahal aku sangat ingin mengajak kalian bicara untuk mencari Rachel," Jasper tampak sedikit emosi.
"Sepulang dari London, kami akan berbicara denganmu," Alula mencium pipi putranya kemudian berlalu dari sana.
"Bolehkah aku ikut?" Tanya Jasper yang langsung membuat Alula menghentikan langkahnya.
"Tidak," tolak Alula dengan cepat.
"Mengapa?" jasper tiba-tiba merasakan ada yang aneh.
"Kau akan bosan di sana," Alula memberikan alasan yang masuk akal.
"Tidak akan. Lagi pula, aku membutuhkan angin segar."
"Tidak ada angin segar di London," tolak Alula lagi dengan raut wajah gelisah.
"Aku suka kota London. Aku ingin melihat London Eyes," Jasper menyipitkan matanya.
"Tidak bisa. Papa sudah menunggu. Mama pergi ya?" Alula dengan cepat meinggalkan kamar putranya.
"Setiap weekend mereka selalu saja pergi ke kota London. Sebenarnya ada apa di sana?" Jasper tampak ingin tahu.
Jasper mengambil kunci mobilnya kemudian menyusul mobil kedua orang tuanya yang sudah tancap gas meninggalkan garasi rumah.
Jasper mengikuti mobil kedua orang tuanya hingga ke kota London. Ia mengambil sedikit jarak, agar Kai tidak mengetahui perbuatannya.
"Rumah siapa ini?" Jasper menyipitkan matanya saat mobil Kai berhenti di pekarangan rumah yang minimalis.
Tak lama seorang wanita keluar dari dalam pintu. Jasper melihatnya, melihat wajah wanita yang selama ini ia cari dan ia rindukan. Wajah wanita itu tampak sedikit berisi.
"Rachel?" Panggil Jasper dengan bibir yang bergetar.
__ADS_1