
Sepulang kuliah, Aurora dan juga Archie berkunjung ke rumah sahabat kecilnya. Saat mereka masuk ke rumah Jasper, Aurora dan Archie dikejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa.
"Bibi?" Sapa Aurora saat melihat keberadaan Alula di rumah Jasper. Ia melihat sahabat karib ibunya itu tengah menyuapi Rachel.
"Eh Aurora? Kapan kau datang?" Alula tersenyum ceria ke arah gadis cantik itu.
"Baru saja," jawab Archie. Matanya dengan penuh menyelidik ke arah Rachel dan Alula. Rachel pun melihat mereka dengan wajah gugup sekaligus tegang.
"Kau sedang menyuapi seorang asisten rumah tangga, Bibi?" Sindir Aurora yang sedikit terusik dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
"Memangnya ada yang salah?" Alula berkata dengan lembut.
"Aku sudah selesai," Rachel mengelap mulutnya.
"Aurora, kemarilah!" Alula menyimpan mangkuk puding yang ada di tangannya. Ia memang sengaja datang untuk mengantarkan puding buatannya kepada menantunya itu.
Aurora pun menyambut tangan Alula. Alula membawa Aurora duduk di sampingnya.
"Kalau begitu aku ke dapur dulu," Rachel memecahkan keheningan di antara mereka dan langsung pergi setelah Alula mengangguk.
Kemudian wanita paruh baya itu memusatkan kembali matanya kepada Aurora.
"Sayang? Bibi sangat tahu bagaimana didikan Henry dan Beverly kepadamu. Bukankah kau selalu diajarkan agar tidak merendahkan status atau pekerjaan seseorang?" Alula bertanya dengan penuh keibuan tapi tidak menghilangkan ketegasan dan wibawanya.
"Daddy dan Mommy selalu mengajarkanku agar memperlakukan semua orang dengan baik tidak peduli apa pekerjaannya," jawab Aurora dengan pelan.
"Gadis pintar! Kalau begitu, tidak seharusnya kau berkata seperti itu di hadapan Rachel!" Alula menasehati dengan penuh kasih sayang. Ia sudah menganggap Aurora putrinya sendiri, karena sejak kecil Aurora memang selalu bermain di rumahnya.
"Maafkan aku, Bibi! Aku tidak bermaksud menghina Rachel. Entah mengapa aku hanya sedikit panas saja melihat bibi menyuapi Rachel seperti tadi," Aurora berkata dengan sedih.
"Kau mencintai putraku?" Tebak Alula yang membaca ekspresi wajah Aurora.
"Sepertinya begitu. Jika bertemu dengan Jasper, dadaku berdetak tak karuan. Aku ingin dekat dengan Jasper," Aurora berbicara terus terang.
__ADS_1
"Sayang, aku rasa semuanya sudah terlambat," Alula menatap iba kepada Aurora.
"Maksud Bibi?" Aurora terhenyak mendengar ucapan Alula.
"Aku rasa Jasper sudah tidak menyukaimu. Aurora, bukankah selama ini kau yang selalu mengacuhkan putraku?" Pertanyaan Alula seakan menancapkan belati di hati Aurora.
"Dulu aku memang tidak menginginkannya. Tapi, aku baru sadar jika pria yang selalu ada di saat aku senang dan sedih hanya putramu, Bi," Aurora berkata dengan sedih. Sementara itu, Archie yang sedari tadi menyimak hanya memainkan ponselnya dengan raut wajah yang tenang.
"Mengapa tidak dari dulu kau buka hatimu untuk putraku?"
"Cinta memang baru datang sekarang, Bi. Mungkin inilah waktu yang tepat aku mencintai putramu," Aurora berkilah.
"Tapi cinta itu datang ketika semuanya sudah terlambat. Bibi melihat tidak ada lagi cinta di wajah Jasper untukmu, sayang," Alula berusaha menyadarkan Aurora.
"Benarkah, Bi? Bagaimana jika dugaanmu salah?" Tanya Aurora dengan hati-hati.
"Aku mengenal putraku," Alula menatap ke arah lain dan tersenyum.
"Putraku sudah mencintai istrinya," tambah Alula di dalam hatinya.
"Silahkan, tapi terimalah kenyataan apapun yang terjadi nanti!" Alula memperingatkan.
"Maksud, Bibi?" Aurora tampak tidak mengerti.
"Nanti kau akan tahu maksud bibi," Alula tersenyum.
"Kalau begitu, Bibi pamit pulang!" Alula beranjak dari duduknya dan ia melangkahkan kakinya ke dapur untuk berpamitan kepada Rachel.
"Archie?" Panggil Aurora kepada pria yang tengah memainkan ponselnya.
"Hmm?"
"Apakah aku masih bisa mendapatkan hati Jasper? Tentu saja bisa kan?" Aurora meminta dukungan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," Archie menggelengkan kepalanya. Ia kemudian memasukan ponselnya ke dalam tas dan pamit untuk pergi ke kamar Jasper. Aurora hanya termenung mencari cara untuk merebut hati Jasper lagi.
"Kapan kau datang?" Tanya Jasper yang melihat Archie masuk ke dalam kamarnya.
"Tadi. Kau tidak turun ke bawah. Jadi, aku menyusulmu ke mari," Archie mendudukan dirinya di samping Jasper yang sedang membaca buku.
"Aurora ikut bersamamu?" Tanya Jasper sembari menilik huruf demi huruf di buku yang sedang dibacanya.
"Iya."
"Dia tidak ikut naik?" Tanya Jasper berbasa-basi.
"Jika dia ikut naik, pasti dia sudah ada di depan matamu," Archie berkata dengan datar.
Jasper pun tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu.
"J, sepertinya berat badanmu bertambah!" Archie melihat tubuh Jasper yang lebih berisi.
"Iya, akhir-akhir ini aku selalu makan enak," Jasper tersenyum memikirkan Rachel yang selalu membuatkannya menu istimewa setiap hari.
"Oh begitu. Ku rasa istrimu mengurusmu dengan baik," timpal Archie dengan dingin. Jasper pun langsung membelalakan matanya dan menoleh ke arah Archie dengan wajah terkejut.
"Apa maksudmu?" Jasper bertanya dengan pias.
"Aku bilang pasti istrimu mengurusmu dengan baik. Pasti Rachel membuatkanmu makanan enak setiap harinya, sehingga tubuhmu jadi lebih berisi," Archie masih memperlihatkan wajahnya yang datar tanpa ekspresi.
"Kau sudah tahu?" Jasper menatap Archie dengan serius.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan pernikahanmu kepada sahabatmu ini, J? Tidak butuhkah ucapan selamat dariku?" Sindir Archie dengan telak.
"Kau tahu dari mana?" Jasper masih menatap Archie tidak percaya.
"Tahu dari mana? Jangan lupakan siapa ayahku, J!!"
__ADS_1
"Aku membutuhkan penjelasan darimu!" Archie menambahkan.