
Jasper langsung keluar dari dalam mobilnya. Ia berjalan cepat menuju istri dan kedua orang tuanya.
"Rachel?" Panggil Jasper.
Rachel, Kai dan Alula terkejut menyadari keberadaan Jasper yang datang secara tiba-tiba. Mereka diam seolah mengunci bibirnya masing-masing. Rachel membeku di tempatnya berpijak.
"Selama ini Papa dan Mama tahu keberadaan istriku? Tapi mengapa kalian diam saja?" Jasper meminta penjelasan.
"Maafkan kami-
"Tidak usah meminta maaf padanya," Kai memotong perkataan Alula.
"Bukankah kau yang selalu memperlakukan istrimu dengan buruk? Bukankah kau yang menginginkan perceraian dengan Rachel? Lantas mengapa kau mencarinya?" Lanjut Kai pedas.
"Aku menyesali semua yang telah berlalu," Jasper mengalihkan tatapannya kepada Rachel.
"Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak menyadari bagaimana perasaanku padamu selama ini. Rachel, aku-" Jasper menggantung kata-katanya.
"Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi aku sudah bulat untuk berpisah denganmu. Silahkan kau pergi dari sini!" Rachel membalikan tubuhnya dan masuk ke dalam rumahnya.
"Aku mencintaimu," ungkap Jasper dengan lantang yang membuat langkah Rachel terhenti.
"Mencintai? Omong kosong!" Rachel tersenyum sinis.
"Pulanglah, Nak! Istrimu tidak menginginkan keberadaanmu," Alula mengusir putranya.
"Mama harusnya mendukungku, bukan malah mendukung perceraianku," Jasper tampak kesal.
"Kau memang masih seperti anak kecil. Mama mendukung Rachel karena kau tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Kau selalu menyia-nyiakannya."
"Aku sudah menyadari sekarang. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Mama, aku sampai mencarinya ke Bulgaria untuk memperbaiki hubungan kami," terang Jasper yang membuat Rachel terkesiap.
"Ke Bulgaria?" Gumam Rachel.
"Iya. Aku datang ke pasar pengantin lagi. Berharap kau dijual di sana."
Kai pun menahan tawanya. Putranya benar-benar sangat buruk dalam mencari seseorang.
"Kau membeli gadis di sana?" Tanya Rachel. Dadanya seakan terbakar saat tahu Jasper pergi ke pasar pengantin itu.
"Iya. Tapi aku meninggalkannya di sana. Aku hanya kasihan pada gadis itu," Jasper berterus terang.
"Lalu, mengapa tidak kau nikahi saja gadis itu? Kau kan sudah membelinya," Rachel tampak sangat kesal.
"Mengapa kau sangat marah? Kau cemburu?" Jasper tersenyum.
__ADS_1
"Cemburu? Tentu saja tidak. Untuk apa aku cemburu?" Rachel tampak gelagapan.
"Sudahlah. Jangan ganggu istrimu! Dia tidak boleh stress," Alula menengahi.
"Memangnya kenapa?" Jasper menoleh ke arah ibunya.
"Karena Rachel sedang mengandung anakmu!" Jawab Kai yang membuat Jasper langsung membulatkan matanya.
"Rachel hamil?" Jasper memastikan.
"Tidak. Papa salah bicara," Alula tampak ingin menutupi.
"Tidak apa, Ma. Jasper adalah ayahnya. Cepat atau lambat dia akan tahu. Aku memang sedang mengandung anakmu. Maka dari itu, pergilah dari sini! Aku tidak ingin keberadaanmu mengganggu kesehatanku dan bayiku," usir Rachel dengan sangat pedas.
Jasper melangkahkan kakinya mendekati Rachel. Ia menatap pada perut yang belum terlalu buncit itu. Jasper berlutut di depan Rachel, gerakan itu membuat Rachel tersentak.
"Ada anakku di sini?" Jasper menyentuh perut Rachel dengan lembut.
"Sudahlah, jangan membuat drama! Aku ingin istirahat. Segeralah pergi dari sini!" Rachel mengusir lagi pria yang masih berstatus suaminya.
Jasper pun berdiri dari bersimpuhnya.
"Baiklah jika itu maumu. Aku pergi," Jasper berbalik dan pergi meninggalkan Rachel, Alula dan juga Kai. Pria itu masuk ke dalam mobilnya tanpa berpamitan kepada siapa pun.
"Kau tidak tahu sikap putramu?" Kai menggelengkan kepalanya. Ia merasa heran karena Alula tidak mengenal sifat putra sulungnya.
"Hanya itu saja?" Air mata menitik membasahi pipi Rachel. Baru saja Jasper mengatakan jika ia mencintainya. Lalu, apakah hanya itu pengorbanan yang bisa ia lakukan?
"Aku kira dia akan memohon untuk membawaku pulang. Lucu sekali!" Rachel tertawa di isak tangisnya.
Rachel langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Ia duduk di atas ranjang dengan tangisnya yang semakin keras.
"Seharusnya aku tidak mengatakan ini anaknya. Mungkin Jasper tak sudi aku mengandung anaknya!" Ucap Rachel dengan tangisannya.
"Sayang, jangan menangis! Kasihan bayimu!" Alula menenangkan. Ia mengelus rambut Rachel untuk menguatkan. Tapi tangisan Rachel malah semakin menjadi.
"Dia memang tidak berubah. Dia tidak pernah menganggapku, Ma," Rachel menangis sesenggukan.
"Maafkan putra, Mama!" Alula semakin merasa bersedih dan bersalah.
Hampir satu jam Alula berusaha menenangkan menantunya. Setelah Rachel tenang, Alula keluar dari kamar itu dan menemui suaminya yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Kau hanya diam saja dengan kelakuan putramu?" Alula berdiri di depan televisi.
"Sayang, kau menghalangi televisi!" Kai merasa terganggu.
__ADS_1
"Aku kira sikap putramu akan sepertimu yang menangisi aku dan memaksaku pulang," Alula berkacak pinggang.
"Kau tidak bisa menyamakan kami. Kami dua orang yang berbeda," Kai mengambil koran yang tergeletak di bawah meja.
"Darahmu ada padanya. Lalu, mengapa hanya itu saja usahanya?" Alula tampak geram.
"Mengapa kau tidak tanyakan saja pada putramu?" Kai mulai membuka koran itu dan membacanya.
Alula memijat keningnya yang terasa berputar. Alula pun mendudukan dirinya di samping Kai.
"Aku tidak ingin mereka bercerai," Alula memejamkan matanya.
"Jangan khawatir! Jasper tahu apa yang harus dia lakukan," Kai menoleh dan mencium pipi istrinya lembut.
Sejak kepergian Jasper, Rachel tidak kunjung keluar dari kamarnya. Ia menolak untuk makan dan minum. Mengapa kesedihan harus selalu terjadi padanya?
"Mengapa aku harus bersedih? Aku terbiasa diperlakukan seperti ini olehnya," Gumam Rachel dengan mata yang sudah bengkak.
"Bahkan dia hanya bereaksi seperti itu saat dia tahu aku mengandung anaknya," Rachel menyeka air matanya.
Malam hari
Terdengar dua mobil memasuki pekarangan rumah Rachel yang luas. Alula dan Kai yang hendak tertidur langsung keluar dari dalam kamar. Rachel pun berdiri dan membuka sedikit gorden jendela untuk melihat siapa yang datang. Rachel begitu terkejut ketika melihat Jasper keluar dari dalam mobil. Rachel langsung keluar dari kamarnya dan bergabung dengan Alula dan Kai yang berdiri di depan pintu utama.
"Masukan semua barangku!" Pinta Jasper kepada orang-orang yang tengah menurunkan barang-barang.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Rachel dengan mata yang sembab.
"Jasper, apa maksudnya ini?" Alula meminta penjelasan.
"Aku pindah ke rumah ini," jawab Jasper dengan entengnya.
Kai hanya tersenyum. Ia sudah bisa memprediksi apa yang akan dilakukan putranya.
"Pindah ke sini?" Alula langsung menatap Rachel.
"Pindah?" Rachel terkejut.
"Taruh di mana barang-barang ini, Tuan?" Ucap orang-orang yang membawa koper dan barang Jasper yang lain.
"Taruh koper ini di kamar itu!" Jasper menunjuk kamar di sebelah kamar Rachel. Ia sebenarnya ingin menunjuk kamar istrinya. Tapi Jasper cukup tahu diri, ia tidak ingin terburu-buru.
"Untuk apa kau pindah ke sini? Aku tidak menginginkanmu di sini," Rachel menolak kedatangan suaminya.
"Kau tidak bisa menolak. Kau masih istriku dan ada anakku di dalam perutmu. Jangan kau anggap aku akan diam saja! Kau menginginkan aku bertemu anakku bertahun-tahun kemudian seperti di novel-novel? Itu tidak akan terjadi. Aku yang akan merawat, membesarkan anakku dari dia di dalam perut sampai nanti," Jasper menatap Rachel yang melongo karena jawabannya.
__ADS_1