Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Melepaskan Aurora


__ADS_3

Jasper mengajak Aurora makan malam bersama di sebuah restoran mewah. Gadis itu begitu senang karena selangkah lagi keinginannya untuk berada di samping Jasper akan terwujud.


"Kau sangat tampan malam ini!" Puji Aurora yang malam ini sangat cantik dengan dress berwarna pink dengan belahan dada rendah.


"Terima kasih," Jasper tersenyum kecil.


Tak lama, pelayan datang membawa pesanan mereka. Aurora mulai memakan makanannya dengan lahap. Jasper hanya menatap makanan itu tanpa menyentuhnya sama sekali.


"Kau tidak makan?" Tanya Aurora.


Jasper menggelengkan kepalanya.


"Aurora, setelah kau makan, aku ingin bicara serius denganmu," Jasper berkata dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa dibaca oleh Aurora.


"Berbicara serius? Kau ingin melamarku? Ayolah, kita masih muda! Aku ingin hubungan kita mengalir seperti air. Kita harus menyelesaikan S2 bukan?" Aurora memakan steak di hotplatenya lagi dengan lahap.


"Habiskan saja dulu!" Jasper menjawab singkat. Aurora pun merasa heran dengan sikap pria yang dicintainya.


Aurora kemudian menghabiskan makanannya dengan cepat. Makanannya terasa hambar di mulutnya. Ia ingin segera tahu apa yang akan dibicarakan oleh pria yang ada di hadapannya.


"Aurora?" Panggil Jasper ketika Aurora sudah selesai dengan makanannya.


"Hmm?" Aurora mengelap bibirnya dengan tisu.


"Tolong lupakan aku!"


"Maksudmu?" Aurora tampak terkejut mendengar ucapan dari Jasper.


"Aku bilang tolong lupakan aku!"


"Aku tidak mengerti. Coba kau jelaskan dengan baik!"


"Aurora, aku sudah memutuskan untuk memperbaiki rumah tanggaku dengan Rachel. Aku ingin menyelamatkan rumah tanggaku," Jasper berkata dengan penuh keyakinan.


"Kau mempermainkanku?" Aurora tersenyum getir.


"Maaf, Aurora! Tapi sampai saat ini hubungan kita masih sebatas sahabat saja. Jadi, aku rasa, aku tidak mempermainkanmu," Jasper memperjelas ikatan mereka.


"Sahabat? Bukankah kau mencintaiku?" Aurora masih belum terima.


"Itu dulu, sebelum Rachel datang ke hidupku. Aurora, dulu saat menatapmu, jantungku berdetak tak karuan. Akan tetapi, aku sedari tadi diam untuk memastikan perasaanku kepadamu. Dan aku yakin, jika rasa yang dulu ada di hatiku untukmu kini sudah musnah dan tidak berbekas. Getaran cinta itu sudah tidak ada. Selama ini, perasaanku kepadamu mungkin hanyalah sebuah obsesi. Obsesi untuk menyakiti istriku. Kini hanya Rachel yang ada di hatiku. Seberapa keras aku mencoba membencinya, tapi aku tidak bisa," Jasper berusaha membuat Aurora mengerti.

__ADS_1


"Lucu sekali!!" Aurora tertawa sumbang mendengar ucapan Jasper.


"Dulu kau selalu mengejarku. Mengapa kau sekarang menyia-nyiakanku?" Aurora tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Itu dulu. Kau selalu menyia-nyiakanku. Kau selalu menyuruhku untuk melupakanmu. Dan di saat itu, Rachel datang ke hidupku. Maafkan aku! Status kita selamanya hanya sebagai sahabat dan tidak akan pernah lebih," Jasper berkata dengan tegas.


"Kau memperlakukanku seperti aku ini seorang gadis murahan!" Aurora menatap tajam pria yang ada di hadapannya.


"Aku tidak pernah memperlakukanmu sebagai wanita murahan. Aku sangat menghargaimu. Kau gadis yang baik."


"Lalu, jika aku gadis yang baik, mengapa kau jatuh cinta kepada Rachel? Apa ada yang kurang dariku? Aku sudah menerima statusmu yang pernah gagal dalam pernikahan," Aurora bersikeras.


"Aurora adalah Aurora. Rachel adalah Rachel. Dan aku mencintai Rachel Olivia tanpa alasan. Apakah ini yang dinamakan cinta sejati? Dan satu lagi, aku tidak gagal dalam pernikahan. Aku akan berusaha agar pernikahan ini bisa diperbaiki kembali dan tidak gagal."


"Jadi, kau membuangku? Begitu?" Aurora memperjelas.


"Aku tidak membuangmu karena aku hanya menerimamu sebagai seorang sahabat. Tetaplah berada di kehidupanku sebagai sahabatku!" Jasper meminta.


"Sudahi kekonyolan ini! Aku ingin pulang!" Aurora bangkit dari duduknya.


Jasper hanya duduk di kursinya dan memandang Aurora yang melangkah pergi meninggalkan dirinya.


"Kau tidak menawarkanku pulang? Kau tidak mengejarku?" Aurora menoleh ke arah Jasper yang masih terduduk. Jasper tidak menjawab.


****


Alula menghormati keputusan Rachel agar tidak memberitahukan perihal kehamilannya kepada Jasper. Bagaimana pun, kesehatan Rachel dan bayinya harus di utamakan. Alula harus memastikan kondisi emosional Rachel selalu terkontrol dengan baik.


Setiap akhir pekan, Alula dan Kai pasti mengunjungi kediaman menantunya itu. Mereka akan menginap di sana dan kembali hari senin dini hari.


"Kau harus sering mengajak bayimu mengobrol!" Ucap Alula yang sedang mengupas buah untuk Rachel.


"Iya, Ma. Ma, aku bisa mengupasnya sendiri," Rachel merasa tidak enak hati ibu mertuanya itu terlalu memanjakannya.


"Tidak apa. Lagi pula ini hanya mengupas buah. Mama di sini hanya hari sabtu dan minggu," Alula memberikan apel yang sudah bersih dari kulitnya.


"Ma, Jasper bagaimana kabarnya?" Tanya Rachel dengan pelan. Alula langsung menoleh. Ia begitu terkejut mendengar Rachel menanyakan kabar putranya.


"Kau merindukannya?" Harap Alula.


"Tidak. Aku hanya ingin tahu kabarnya saja. Sudah lama sekali sepertinya tidak melihatnya. Mungkin dia sedang bersenang-senang bersama Aurora," Rachel berusaha menekan perasaan sedih yang bercokol di hatinya saat menyebut nama Aurora.

__ADS_1


"Kau tidak tahu, Nak. Saat ini setiap hari pekerjaan Jasper hanya mencarimu," batin Alula.


Jasper memang giat mencari keberadaan Rachel setiap hari. Ia sudah menyuruh beberapa orang kepercayaan ayahnya untuk mencari jejak Rachel. Akan tetapi, istrinya itu belum ditemukan. Hal itu karena Kai menyuruh agar mereka tidak memberitahukan Rachel ada di mana.


"Setiap hari kau selalu saja menanyakan Rachel di mana. Bukankah Rachel adalah istrimu? Kau harusnya lebih tahu!" Maki Nicole saat Jasper ada di depan apartemennya. Nicole menutup pintu dengan keras. Setiap hari Jasper seolah menerornya.


"Besok aku akan datang lagi ke sini!" Teriak Jasper di depan pintu apartemen Nicole.


"Kau ada di mana? Apakah kau makan dengan enak? Apakah kau tidur dengan hangat? Sebenentar lagi musim dingin tiba. Aku harap tubuh dan hatimu selalu hangat," Jasper bergumam di dalam mobilnya sembari melihat foto Rachel di layar ponselnya.


Pria itu pulang ke rumah dengan hasil nihil. Ia tidak mendapatkan informasi apapun mengenai Rachel. Jasper seolah heran mengapa orang-orang kepercayaan ayahnya belum juga menemukan keberadaan Rachel. Ia tidak menyadari jika Kai meminta semuanya untuk tutup mulut.


"Ke mana lagi aku harus mencarimu?" Gumam Jasper yang baru saja sampai di rumah kedua orang tuanya dini hari. Saat Jasper akan masuk ke dalam rumah, ia melihat mobil ayahnya memasuki pekarangan rumah.


"Kalian baru pulang?" Jasper bertanya.


"Kau sendiri baru pulang?" Kai balik bertanya.


"Aku baru mencari Rachel," jawab Jasper apa adanya.


"Mengapa kau mencarinya? Bukankah perceraianmu sedang diurus?" Kai bertanya.


"Aku tidak akan jadi bercerai dengan Rachel. Aku ingin memperbaiki rumah tangga kami," jawab Jasper.


"Memperbaiki? Apakah Rachel mau memperbaikinya? Mama rasa tidak."


"Dari mana Mama tahu?" Jasper bertanya asal.


"Ya tentu saja dari orangnya," Alula keceplosan.


"Orangnya? Mama bertemu Rachel?" Mata Japser terlihat penuh harap.


Kai menyadari istrinya keceplosan bicara. Kai menyenggol tangan Alula pelan. Jasper melihat gerakan itu dan semakin dibuat curiga.


"Tidak. Tapi sebelum Rachel menghilang, dia mengatakan tidak ingin memperbaiki rumah tangga kalian," Alula memberikan alasan yang masuk akal. Ia menjawab dengan tenang.


"Oh begitu. Kalian sangat sering pergi ke London akhir-akhir ini. Bukankah Mama tidak suka kota London?" Jasper tampak penasaran.


"Mama harus selalu mendampingi Papamu," Alula bergegas masuk ke dalam rumah.


"Biasanya Papa akan menyuruh orang untuk pergi ke luar kota. Sekarang setiap weekend kalian pergi. Oh iya, besok lusa Jasper akan pergi ke Bulgaria," beri tahu Jasper yang membuat langkah Alula langsung terhenti.

__ADS_1


"Untuk apa?" Alula menoleh.


"Untuk mencari Dory, tentu saja untuk mencari Rachel."


__ADS_2