Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Rahasia Kecil yang Terungkap


__ADS_3

Jasper meraba noda merah di seprai kasurnya. Sementara istrinya sedang mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah percintaan panas mereka.


"Aku memang belum pernah melakukannya dengan wanita mana pun sebelum denganmu, tapi aku tidak sebodoh itu. Jelas aku tahu kau masih suci," Jasper menatap nanar noda merah itu yang menandakan Rachel baru saja melepaskan kesuciannya itu padanya.


"Selama ini dia membohongiku?" Bibir Jasper bergetar. Ia menutupi noda merah itu dengan tisu, kemudian ia berjalan menuju balkon untuk mencari oksigen guna meredakan gemuruh yang ada di dadanya.


"Kau ingin mandi?" Tanya Rachel yang baru saja keluar dari kamar mandi. Akan tetapi, ia tidak menemukan suaminya di sana.


Rachel mengambil pakaian dan memakainya. Ia sudah hafal betul Jasper ada di mana.


"Kau tidak kedinginan?" Rachel mendekat ke arah suaminya yang tengah berdiri di atas balkon.


Jasper tak menjawab. Perasaan Rachel semakin tidak enak. Saat bercinta tadi, Rachel memang ketakutan rahasianya akan terbongkar.


"Apa Jasper sudah tahu?" Tanya Rachel dalam hatinya.


Hening. Tak ada satu pun di antara mereka yang berbicara. Hanya hembusan angin di musim semi yang terdengar lembut, menyapu kedua insan yang tengah di rundung perasaan yang berkecamuk tak karuan di hatinya.


"Mengapa kau membohongiku?" Jasper memberanikan diri bertanya. Ia harus secepatnya mendapatkan penjelasan dari Rachel. Pria itu tidak ingin masalahnya berlarut lebih lama. Ia berjalan mendekati Rachel dan berdiri tepat di hadapannya.


"Maksudmu?" Rachel tak berani menatap mata Jasper.


"Tatap aku!" Suara Jasper terdengar tegas. Rachel mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah itu. Wajah yang terlihat menandakan kekecewaan yang teramat dalam.


"Mengapa kau membohongiku?" Jasper mengulang pertanyaannya.


"Aku tidak mengerti maksudmu. Ayo masuk, ini dingin!" Rachel hendak berjalan meninggalkan Jasper, tapi lengan pria itu dengan cepat menghentikan langkahnya.


"Aku tahu tadi kau baru saja menyerahkan kesucianmu untukku. Jadi, selama ini kau membohongiku? Saat di hotel itu, jadi kita tidak melakukannya? Untuk apa kau berbohong?" Jasper memberondong Rachel dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Rachel seakan di timpa sesuatu yang amat berat. Kini, rahasia kecilnya itu sudah diketahui oleh suaminya. Tapi, Rachel sampai saat ini masih cukup tenang. Ia berpikir Jasper akan menerima segala penjelasan darinya.


"Maafkan aku! Aku terpaksa melakukannya karena kakak memaksaku," Rachel meluncurkan kalimat kebenaran yang selama ini ia simpan rapat.

__ADS_1


"Mengapa kakakmu memaksamu?" Jasper seolah takut Rachel akan menjawab itu semua karena uang.


"Kumohon jangan katakan mengenai uang atau kau dan kakakmu ingin hidup enak!" Harap Jasper. Ia sangat takut Rachel selama ini memandangnya hanya karena materi. Karena jika itu terjadi, tentu dirinya akan membenci wanita yang ada di hadapannya.


"Karena kakakku ingin kita hidup lebih baik dan aku pun ingin berhenti bekerja sebagai pelayan klub malam!" Rachel lagi-lagi bicara kebenaran.


Deg!!


Hati Jasper seakan tersentak. Akhirnya, kalimat itu keluar dari bibir istrinya.


"Jadi semuanya karena uang? Aku benci wanita matrealistis!" Jasper tersenyum sinis. Ia menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya.


"Maafkan aku! Kakakku mengancam akan mengirimku kembali ke Bulgaria jika aku tidak mau bekerja sama dengannya," wajah Rachel memerah. Ia begitu takut kehilangan Jasper. Tadinya Rachel berpikir jika ini adalah masalah kecil saja dan Jasper akan memahaminya.


"Mengapa? Mengapa jadi aku yang kalian korbankan? Kau tahu, aku rela membuang masa mudaku untuk menikahimu. Aku rela berpisah dengan kedua orang tuaku," mata Jasper memerah. Ia benar-benar seperti kehilangan kepercayaan kepada wanita yang kini ada di hadapannya.


"Aku tidak bermaksud membohongimu. Maafkan aku!" Rachel pun menangis di hadapan Jasper.


"Tidak bermaksud membohongiku? Kau sudah membohongiku habis-habisan!!" Jasper menaikan suaranya.


"Apa lagi yang ingin kau katakan? Apa kau ingin mengatakan jika kau bekerja sama dengan Alan Addison untuk menjebakku?" Teriak Jasper yang memekik di telinga Rachel.


"Aku memang sudah membohongimu. Akan tetapi, aku tidak seburuk itu bekerja sama dengan Alan," Rachel menjawab dengan tidak suka saat Jasper menuduhnya.


"Kau tahu? Aku sudah berusaha dan sudah menerima pernikahan kita. Aku sudah belajar mencintaimu dan akan selalu menerima keberadaanmu di sisiku. Tapi yang kau lakukan padaku ini teramat jahat!" Air mata menitik dari mata pria itu. Rachel tersentak ketika melihat suaminya menangis.


"Aku membuang masa mudaku dengan menikahimu. Aku berpisah dengan kedua orang tuaku agar bisa membangun rumah tangga yang mandiri denganmu. Aku merelakan Aurora dan melepasnya lalu berusaha mencintaimu. Itu semua karena aku menghargai pernikahan kita, walau di awal aku berpikir akan menceraikanmu. Tapi mengapa kau membalasnya dengan kebohongan seperti ini?" Jasper memegang pundak Rachel dan mengguncangnya pelan.


"Jadi, kau menyesal menikahiku?" Rachel melepaskan tangan Jasper dari pundaknya.


"Rachel, jika tidak ada kejadian di malam itu, aku tidak akan menikahimu. Kau pun tahu itu," timpal Jasper dengan aura yang menyeramkan.


"Kau mau ke mana?" Rachel berteriak saat Jasper melangkahkan kakinya meninggalkan dirinya di atas balkon.

__ADS_1


Jasper mengambil mantelnya. Kemudian pria itu keluar dari kamar hotel agar ia bisa berpikir dengan jernih. Jasper membutuhkan waktu sendirian untuk menenangkan diri dan juga hatinya yang saat ini tengah terluka.


"Kau akan ke mana? Jangan tinggalkan aku sendiri!" Rachel mengejar langkah suaminya.


"Aku akan kembali. Aku perlu ruang untuk berpikir," ucap Jasper tanpa melihat ke arah istrinya.


"Jasper, fatalkah kesalahanku?" Rachel menatap punggung Jasper yang semakin menjauh.


"Papa, Mama, Switzerland bukanlah tempat keberuntunganku. Aku malah terluka di negara ini," gumam Jasper saat ia meninggalkan hotel.


***


Semalaman Rachel menangis, matanya tampak begitu sembab. Berbagai perasaannya begitu campur aduk. Ia begitu khawatir akan keberadaan suaminya yang entah ada di mana. Rachel sudah menelfon suaminya. Akan tetapi, nomor ponsel pria itu tidak bisa dihubungi. Rachel juga takut Jasper pulang dan meninggalkan dirinya di negara asing ini.


"Jasper, pulanglah!" Rachel menghapus air mata yang seolah tidak bisa berhenti keluar.


Malam hari, seseorang tampak membuka pintu. Itu adalah Jasper yang baru saja pulang setelah menghilang semalaman.


"Kau dari mana saja? Aku mengkhawatirkanmu. Kau tidur di mana?" Rachel berhambur memeluk Jasper. Namun, pria itu tidak membalas pelukan mau pun pertanyaannya. Jasper berjalan ke arah lemari dan membuka lemari kecil itu.


"Mengapa kau mengeluarkan pakaianmu?" Rachel menatap Jasper yang memasukan semua pakaiannya ke dalam koper.


"Aku ingin pulang!" Ucap Jasper.


Rachel pun tak bertanya lagi. Ia sangat tahu kondisi hati suaminya benar-benar sedang buruk. Rachel dengan cepat mengambil koper miliknya dan memasukan pakaian dan barang-barang miliknya.


Jasper diam tak bersuara. Ia seolah tidak menganggap Rachel ada di dekatnya.


"Tolong jangan diamkan aku seperti ini!" Gumam Rachel yang terdengar oleh Jasper.


"Ada hal yang kau tidak tahu mengenai aku. Dari dulu sampai sekarang, aku begitu membenci kebohongan. Kebohongan sekecil apapun, aku sangat membencinya. Sekali orang itu berbohong, aku tidak akan percaya lagi padanya," kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Jasper.


Rachel membeku di tempatnya berdiri. Apakah kini ia sudah kehilangan semuanya? Wanita itu pun menangis tanpa bersuara. Ia mengikuti langkah suaminya keluar dari kamar hotel dengan koper yang ia tenteng. Kali ini berbeda, Rachel menarik kopernya sendiri, biasanya Jasper yang akan membawa koper miliknya dan milik Rachel sekaligus.

__ADS_1


"Apa perbuatanku tidak bisa di maafkan?" Rachel menatap lampu-lampu di St. Moritz yang begitu menyilaukan mata.


__ADS_2