Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Mencoba Berdamai


__ADS_3

Rachel membuka matanya. Ia melihat dirinya tengah berbaring di atas kasur dengan berselimutkan selimut yang tebal dan hangat. Matanya terhenti pada sesosok pria yang sering kali membuat hatinya sakit dan hancur.


"Kau sudah sadar?" Tanya Jasper pada istrinya. Jasper tengah terduduk di kursi yang ada di sebelah ranjang. Rachel melihat kekhawatiran yang besar di wajah Jasper.


"Apakah masih pusing?" Tanya Jasper lagi.


Rachel tidak menjawab pertanyaan suaminya. Ia membuang wajahnya dan menatap ke sembarang arah. Gadis itu bersusah payah mendudukan dirinya.


"Panasmu sudah turun!" Jasper menyentuh kening istrinya.


"Jangan berlaga baik padaku!" Rachel menghempaskan tangan Jasper dengan kasar.


"Aku tidak berlaga baik padamu. Aku benar-benar mencemaskanmu," Jasper meninggikan suaranya.


"Mencemaskan? Bahkan kau tahu perutku belum terisi makanan maupun minuman. Kau mengharapkanku hilang dan tak kembali. Lalu, sekarang kau bersikap seolah kau mencemaskanku," Rachel tersenyum sinis.


"Maafkan aku!" Hanya itu kata yang mampu Jasper ucapkan.


"Sudahlah. Aku tidak membutuhkan permintaan maaf darimu!" Rachel hendak beranjak dari tidurnya, tapi tubuhnya kembali terhuyung dan terhempas ke atas kasur.


"Jangan memaksakan diri!" Jasper meraih tangan Rachel untuk membantu gadis itu duduk.


"Jangan seperti ini!" Rachel berteriak. Ia kemudian menangis tersedu-sedu. Tangisannya sungguh membuat hati siapapun terkoyak.


Jasper pun hanya diam terpaku di tempatnya. Dadanya seolah sesak melihat Rachel menangis seperti itu.


"Mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang mengalami ini semua?" Rachel menutup kedua matanya.


"Maafkan aku! Aku bahkan lupa kau belum makan dan minum apapun," Jasper mengambil tangan Rachel. Gadis itu mati-matian untuk melepaskan diri dari cengkraman Jasper.


"Mengapa hidupku harus serumit ini? Aku dijual oleh kedua orang tuaku, hidup susah sampai harus bekerja di klub, dan sekarang mendapatkan suami yang sama sekali tidak mengharapkan kehadiranku!" Tangis Rachel semakin memuncak. Ia memukuli dada Jasper dengan tangannya.


Jasper diam tak bergeming. Ia membiarkan gadis itu memukulinya sampai dengan puas. Lagi pula Jasper memang merasa sikapnya sangat keterlaluan hari ini. Ia embiarkan Rachel kelaparan, sementara gadis itu yang memasak semua makanan yang tersaji di meja makan.


"Aku ingin kita berpisah saja," Rachel menangis sesegukan.


"Maafkan aku! Untuk saat ini kita tidak bisa berpisah. Ada perasaan kedua orang tuaku yang harus kita jaga," Jasper memberanikan diri menjawab.


"Lalu, bagaimana dengan aku? Aku tidak bisa terus hidup bersamamu seperti ini," suara Rachel terdengar serak.


"Aku memang tidak bisa menerimamu sebagai istriku!" Jasper mengambil tangan Rachel dan mencekalnya.


"Tapi aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik setelah ini. Aku janji tidak akan memperlakukanmu dengan buruk lagi. Kita bisa berteman dan hidup berdampingan dengan damai," lanjutnya.

__ADS_1


Rachel pun tak menjawab. Ia terus menangis untuk membuat hatinya lega.


"Sudah puas menangis?" Tanya Jasper saat melihat Rachel berhenti menangis dan mengeringkan air matanya.


"Aku akan membawakanmu makanan!" Jasper meninggalkan Rachel dan turun untuk mengambil makanan di dapur.


Tak lama, pemuda itu kembali dengan nampan yang berisi makanan dan minuman. Rachel melihat Salmon Fillet Pasta dan juga Meatlof dengan kentang dan brokoli. Saat Rachel pingsan, Jasper memang menyuruh asisten rumah tangga di rumah kedua orang tuanya untuk memasak dan mengirimkannya.


"Makanlah!" Jasper menyendok makanan Meatlof dan mendekatkannya ke bibir Rachel yang terlihat pias


Rachel tak bergeming. Ia masih saja bungkam.


"Makanlah! Perutmu belum makan apapun," Jasper tak menyerah.


"Aku tidak lapar!" Jawab Rachel dengan ketus.


"Cobalah! Sedikit saja!" Bujuk Jasper tak menyerah.


"Aku bisa makan sendiri," Rachel mengambil piring dan sendok di tangan suaminya.


Rachel pun mulai memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. Rasanya pahit. Apakah ia benar-benar sakit? Sementara Jasper, memastikan jika semua makanan dan minuman itu masuk ke dalam mulut Rachel sampai tandas.


"Sudah habis. Kau bisa keluar!" Usir Rachel tanpa melihat ke arah suaminya.


"Aku di sini saja. Aku khawatir terjadi hal buruk padamu jika aku meninggalkanmu."


"Mengapa tak kau biarkan saja aku mati sekalian?" Rachel menangis lagi.


"Maafkan aku!" Jasper lagi-lagi meminta maaf.


"Aku memang menginginkan kita berpisah. Tapi tidak seperti ini caranya. Aku ingin kelak perpisahan kita dilakukan dengan cara baik-baik," Jasper menundukan wajahnya. Entahlah, mengapa hati Rachel begitu tercabik mendengar perkataan Jasper. Suaminya itu benar-benar tidak memiliki perasaan apapun. Setelah mereka berpisah, apa yang akan Rachel lakukan? Apakah ia harus kembali bekerja di klub? Ataukah kembali ke negara asalnya? Pikiran-pikiran itu sungguh membuat kepala Rachel semakin pusing.


"Aku ingin tidur," Rachel berbaring dan menyelimuti tubuhnya sampai kepala.


Jasper pun berbaring di sofa. Ia memperhatikan langit-langit kamar. Lama semakin lama, akhirnya matanya pun terpejam disertai dengan suara desiran angin di musim gugur.


***


Hari senin...


Kondisi Rachel kini sudah sangat membaik. Hari ini ia memutuskan untuk berangkat ke kampus untuk mengikuti perkuliahan.


"Kau yakin akan ke kampus?" Tanya Jasper yang kini duduk bersebelahan dengan Rachel di meja makan. Untuk makanan yang mereka makan, Jasper lah yang memesan makanan karena Rachel belum memungkinkan untuk memasak.

__ADS_1


Rachel diam tak bersuara. Ia begitu menikmati sarapan paginya. Sudah dua hari ini, gadis asal Bulgaria itu mendiamkan suaminya. Hal itu membuat Jasper sedikit merasakan kesepian. Biasanya gadis itu akan mengomel jika Jasper menyimpan handuk basah di sofa. Rachel akan mengomel jika TV ruang tengah masih menyala di malam hari. Ah, mengapa hati Jasper masih saja merasa bersalah pada gadis yang ada di sampingnya?


Rachel mengambil tasnya yang di simpan di kursi. Ia berdiri dari duduknya dan meninggalkan Jasper yang masih memakan sarapannya. Rachel berjalan kaki untuk mencari taksi atau pun kendaraan umum lainnya.


"Ayo masuk!" Pinta seseorang saat Rachel masih celingukan mencari taksi atau bus.


Rachel menoleh, ia melihat Jasper menepikan mobilnya di pinggir jalan raya. Rachel pura-pura tidak mendengar suaminya dan terus berjalan kaki.


"Aku bilang masuk!" Jasper mencekal tangan Rachel yang akan berjalan menjauh darinya.


"Aku tidak mau!" Rachel mengibas-ngibaskan tangannya yang dicekal oleh Jasper.


"Aku bilang masuk!" Jasper menyeret gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Aku bilang tidak mau!" Rachel bersikukuh.


"Jangan membuatku marah!!" Jasper terus menyeret Rachel menuju mobilnya.


"Dia tidak mau masuk ke dalam mobilmu! Mengapa kau memaksanya?" Tanya seseorang yang ada di belakang mereka.


"Hans?" Seru Rachel saat melihat pemuda yang pernah menolongnya.


"Mengapa kau memaksa seorang gadis seperti ini? Ini tidaklah baik!" Hans melepaskan tangan Rachel dari cekalan tangan Jasper.


"Jangan ikut campur! Ini bukan urusanmu!" Jasper menatap Hans tidak suka.


"Jelas itu urusanku. Rachel teman sekelasku. Mengapa kau menarik-narik tangan Rachel seperti ini? Kau bisa saja menyakitinya," Hans tampak kebingungan. Pasalnya di dalam kelas, mereka berdua tidaklah akrab. Bahkan, Hans tidak pernah melihat Rachel dan Jasper mengobrol.


"Aku bilang itu bukan urusanmu!" Suara Jasper meninggi.


"Rachel, mengapa kau bersama Jasper?" Hans melembutkan suaranya saat bertanya kepada Rachel.


"Dia majikanku. Aku bekerja padanya. Aku bekerja di rumahnya," Rachel buru-buru menjawab. Hans tampak kaget dengan jawaban gadis blonde itu.


"Rachel bekerja di rumah Jasper? Pantas saja Fernando De Magelhaens berhasil mengelilingi dunia. Ternyata bumi sesempit itu, hingga tanpa siapapun duga, Rachel bekerja di rumah Jasper. Bahkan aku tidak pernah melihat mereka menyapa satu sama lain. Sulit dipercaya," batin Hans.


"Aku baru bekerja pada Jasper. Dan awalnya aku memang tidak mengetahui Jasper majikanku. Dia disuruh oleh kedua orang tuanya untuk mengantarkanku ke kampus, karena badanku sedang tidak sehat," Rachel seakan membaca raut wajah Hans yang kebingungan.


"Iya. Maka dari itu. Aku akan mengantarkannya ke kampus karena dia sedang sakit," Jasper mendukung ucapan istrinya.


"Bagaimana bisa?" Hans masih tak percaya.


"Sudahlah. Kami harus segera ke kampus!" Jasper membukakan pintu mobil untuk Rachel.

__ADS_1


"Jasper, aku ikut Hans saja. Aku tidak ingin Aurora salah paham. Aku pun tidak ingin di kampus ada gosip tentang kita," Rachel buru-buru naik ke dalam mobil Hans.


"Dia lebih memilih naik ke mobilku!" Hans berkata dengan bangga. Ia kemudian menyusul Rachel masuk ke dalam mobil, meninggalkan Jasper seorang diri di jalanan yang masih cukup sepi.


__ADS_2