
Rachel pulang ke rumah. Ia melihat meja makannya belum tersentuh sama sekali. Itu berarti, Jasper benar-benar tidak menyentuh makanannya sama sekali. Tak lama, Jasper pun masuk ke dalam rumah. Ia baru saja sampai setelah menghabiskan waktu sebentar bersama dengan Archie di perpustakaan.
Jasper memutar bola matanya ketika melihat Rachel menatapnya.
"Jasper, tunggu!" Rachel melangkahkan kakinya mengejar langkah Jasper yang besar.
Jasper menghentikan langkahnya tanpa berbalik ke arah Rachel.
"Jasper, apa kau sudah makan?" Tanya Rachel yang tak dijawab oleh pria itu.
Hening beberapa saat..
"Jasper, bisakah kita berbicara?" Tanya Rachel lagi.
"Bicara apa? Bicarakan saja di sini!" Jawab Jasper dengan dingin dan ketus.
"Jasper, apa yang kau inginkan sekarang?" Rachel terus menatap punggung Jasper.
"Berpisah denganmu," Jasper membalikan tubuhnya menghadap Rachel.
"Apakah berpisah denganku membuatmu bahagia?" Rachel menatap Jasper dengan pilu.
"Iya. Aku ingin satu rumah lagi dengan kedua orang tuaku. Aku ingin kembali hidup bebas dan memulai hubungaku dengan Aurora dari awal," jawabnya yang membuat Rachel semakin terluka.
"Begitu rupanya," Rachel tersenyum penuh kepedihan.
"Kalau begitu jangan memperkeruh urusanku! Aku ingin berpisah darimu secepatnya," kata Jasper yang semakin dalam menorehkan luka di hati Rachel.
"Apa rumah tangga kita benar-benar tidak bisa di pertahankan?" Rachel bertanya untuk kesekian kali dan mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya yang sudah akan hancur. Ia berharap setitik harapan itu masih ada.
"Tidak. Aku tidak bisa hidup dengan seorang pembohong sepertimu," jawabnya dengan raut wajah dingin. Tidak ada lagi kehangatan di mata itu.
"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Mari kita bercerai!" Tukas Rachel menahan air matanya yang akan meleleh.
Jasper terkejut mendengar ucapan Rachel. Mengapa hatinya sakit saat Rachel setuju untuk bercerai darinya? Bukankah ini yang Jasper harapkan? Berpisah dengan wanita yang sudah membohonginya dari awal pernikahan?
"Tapi aku meminta satu syarat darimu."
"Syarat? Syarat apa?" Jasper menyipitkan matanya.
"Aku ingin kita bercerai satu tahun lagi."
"Satu tahun? Kau meminta kita bercerai satu tahun lagi agar kau bisa mengambil hatiku lagi? Agar kau mempunyai waktu untuk meyakinkanku supaya tidak bercerai darimu?" Jasper memberikan tatapan intimidasi.
__ADS_1
"Bukan. Bukan begitu. Kuliah kita akan selesai satu tahun lagi. Izinkan aku untuk melanjutkan kuliahku dulu. Kau pun tahu, semenjak aku menikah denganmu, aku sudah melepas beasiswaku dari kedutaan Bulgaria, karena aku merasa ada yang lebih berhak menerimanya setelah Mama Alula berkata akan membiayai segala keperluanku," di Inggris, S1 hanya memakan waktu tiga tahun, berbeda dengan negara lain yang menghabiskan waktu empat tahun.
"Jika kita bercerai, aku sangat yakin kuliahku tidak akan selesai. Aku hanya meminta itu saja," lanjut Rachel.
"Lagi-lagi kau hanya memanfaatkanku karena uang," Jasper tertawa, tak menyangka jawaban itu bisa meluncur dari bibir istrinya.
"Terserah kau mau berkata apa tentangku, lagi pula aku sudah buruk di depan matamu. Aku hanya realistis. Aku membutuhkan uang untuk biaya kuliahku yang tidak sedikit. Silahkan kau suka atau tidak! Kau hanya perlu membiayai kuliahku saja. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, aku akan mencari pekerjaan. Jika kau tidak mau menyetujuinya, aku akan mempersulit perceraian kita," ancam Rachel.
"Wah wah, siapa kau yang bisa mengancamku?" Jasper mengepalkan tangannya.
"Aku? Aku masih istrimu sekarang. Aku hanya ingin kita berpisah setelah selesai kuliah. Anggap saja ini permintaanku yang terakhir."
"Permintaan terkakhir?" Jasper menirukan ucapan Rachel.
"Ya, aku tidak meminta apapun darimu. Hanya ini saja. Aku hanya ingin kuliahku selesai. Biarkan aku tinggal di sini selama satu tahun lagi."
"Baiklah, aku setuju. Selama satu tahun ke depan aku tidak akan menganggapmu ada di rumah ini. Jangan pernah berusaha mendekatiku dan jangan pernah untuk menyiapkan segala kebutuhanku lagi!" Kata Jasper. Ia pun berjalan ke arah kamarnya dan masuk ke sana dengan emosi yang meluap-luap.
Rachel menahan air matanya yang akan jatuh. Ia harus tegar untuk menjalani hari-harinya ke depan.
"Semua sudah selesai di sini!" Rachel menarik nafasnya dalam. Mencoba menghirup oksigen untuk memenuhi paru-parunya yang seakan sulit untuk bernafas.
***
Hari-hari baru Rachel di mulai. Ia mulai mencari info lowongan pekerjaan untuk membiayai keperluan sehari-harinya. Rachel sudah memutuskan tidak akan meminta uang untuk keperluan sehari-harinya. Rachel hanya akan menerima uang jika itu berhubungan dengan biaya semester dan biaya pendidikannya yang lain.
"Aku selalu senang melihat baju bayi. Baju itu begitu kecil dan mungil," Rachel tertawa melihat bayi yang begitu lucu dan lincah di dalam film.
Wanita itu berdiri dan mengambil alat-alat rajut yang ada di dekat televisi.
"Untung aku pernah belajar merajut," Rachel berniat untuk merajut sebuah baju bayi. Ia memang pernah mengikuti kursus menjahit dan merajut saat di Bulgaria dulu untuk meningkatkan peluang kerjanya di libur musim panas.
Jasper keluar dari dalam kamarnya. Ia melihat Rachel tengah tersenyum sembari merajut. Jasper kemudian masuk lagi ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu.
"Cobalah itu!" Jasper melemparkan alat pengetes kehamilan ke pangkuan Rachel.
"Tespack? Untuk apa aku memakainya?" Rachel bertanya dengan kebingungan.
"Aku hanya tidak ingin ada anakku di dalam tubuhmu, terlebih kita akan bercerai."
Deg...
"Sebenci itukah kau kepadaku, Jasper?" Mata Rachel tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku tidak ingin malam di Switzerland meninggalkan sesuatu di tubuhmu itu," lanjutnya.
Rachel mencoba menahan agar air matanya tidak terjatuh. Dengan diam, wanita itu mengambil tespack pemberian dari Jasper. Rachel masuk ke dalam kamar mandi, 10 menit kemudian Rachel kembali ke ruang tengah.
"Bagaimana hasilnya?" Jasper tampak tidak sabar. Pria itu tampak deg-degan dengan hasilnya.
Rachel menyerahkan tespack itu tanpa berkata apapun.
"Negatif. Untung saja!" Jasper berpura-pura lega, tapi hatinya merasakan sesuatu yang lain.
Rachel kembali duduk dan mengambil alat rajutnya. Tanpa bersuara, wanita itu kemudian merajut lagi kain yang akan ia jjadikan baju bayi.
Satu tahun kemudian.....
Jasper dan Rachel sudah selesai mengerjakan tugas akhir mereka yaitu skripsi. Hari ini adalah hari penting bagi mereka, yaitu hari ini mereka akan disidang mengenai skripsi yang telah mereka buat.
Kehidupan mereka selama satu tahun ini tidaklah baik. Jasper berkutat dengan skripsinya. Sedangkan di samping fokus mengerjakan skripsi, Rachel bekerja part time di restoran cepat saji yang dekat dengan rumahnya. Wanita itu berangkat bekerja sepulang kuliah dan pulang jam 10 malam. Mereka nyaris tidak pernah bertegur sapa. Sesuai yang Jasper inginkan, Rachel sudah tidak pernah menyiapkan keperluan apapun untuk suaminya itu. Mereka seperti hidup di dalam dua dimensi yang berbeda. Mereka hanya akan bertegur sapa jika pembayaran kuliah telah tiba.
Rachel dan Jasper dinyatakan lulus sidang skripsi. Teman-temannya pun merayakan kelulusan mereka. Aurora membawa kue dan balon untuk perayaan kelulusan Jasper. Rachel hanya menoleh sebentar ke arah suaminya, kemudian ia berjalan meninggalkan kerumunan orang-orang yang memberikan selamat kepada suaminya.
"Hey, Nona Bulgaria!!" Hans mengejar langkah Rachel.
"Hans?" Rachel tersenyum.
"Ini untuk perayaan kelulusanmu. Selamat ya!" Hans memberikan cokelat dengan ukuran yang besar.
"Hans, kau memang tahu apa yang aku suka," Rachel tertawa senang.
"Selamat ya, Rachel! Aku harap kehidupanmu lebih baik. Aku harap kau segera bercerai dengan suamimu yang tak berguna itu," Hans mengucapkan doa tulus yang menggetarkan hati Rachel.
Setahun ini Hans memang sangat gencar mendekati Rachel. Rachel pun menceritakan semuanya kepada Hans mengenai pernikahannya dengan Jasper. Rachel tidak ingin membohongi siapa pun lagi, termasuk itu Hans. Hans sangat syok dan terkejut. Hans pun sempat menarik diri dari kehidupan Rachel. Akan tetapi, saat Hans tahu perjalanan hidup dan rumah tangga Rachel, pria itu bertekad untuk mengejar kembali cintanya. Hans tidak peduli dengan status Rachel yang pernah menjadi istri orang lain.
"Iya, Hans. Aku pun ingin segera hidup mandiri," Rachel berkata dengan jujur. Rachel sudah terlalu lelah dengan semuanya. Rachel lelah ketika harus selalu menangis saat melihat Jasper pergi bersama Aurora.
"Aku harap kebahagiaan selalu menyertaimu!" Hans mengelus rambut Rachel dengan lembut.
Jasper yang melihat itu semua mengepalkan tangannya. Ia seolah terusik melihat Rachel disentuh oleh pria lain. Selama setahun ini, Rachel memang menjaga jaraknya dari Hans, karena ia masih menjaga nama baiknya dan nama baik Jasper sebagai suaminya. Rachel masih menghormati pernikahan mereka. Tapi berbeda dengan suaminya, Jasper seolah terus menyakiti Rachel dengan kedekatannya bersama Aurora. Bahkan pria itu pernah membawa Aurora masuk ke dalam rumah mereka.
"Aku akan datang ke wisudamu," lanjut Hans.
"Hans, aku belum merasakan desiran apapun di hatiku untukmu. Jangan terlalu baik kepadaku!" Rachel berterus terang.
"Kau berkata seperti itu karena kau masih menikah dengan pria bodoh itu. Lihat saja setelah bercerai, aku akan membuatmu tergila-gila padaku! Bahkan aku akan membuatmu selalu menyebut namaku!" Hans menggoda Rachel.
__ADS_1
"Aku tunggu, Hans!" Rachel tertawa.
"Bawakan aku bunga yang besar saat hari wisudaku!" Ucapnya. Hari wisuda Rachel memang akan dilaksanakan satu bulan lagi. Setelah hari wisuda, Rachel akan bercerai dari suaminya dan memulai kehidupan yang baru.