Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Pesta Ulang Tahun Archie


__ADS_3

Rachel memakai gaun tanpa lengan berwarna Nude dengan panjang selutut. Gaun berdetail pleated dan lace itu membuat Rachel semakin cantik. Rachel memakai tas berwarna hitam dan sepatu heels hitam yang senada dengan tasnya.


Alula yang tahu anak dan menantunya akan pergi ke pesta pun memanggil seorang MUA ke rumah Rachel. Alula tak ingin menantunya itu tampil dengan riasan polos. Sementara itu, Jasper sudah berangkat sedari tadi. Sepertinya pemuda itu hendak pergi ke rumah Aurora dan memberikan gaun yang ia beli kemarin.


Rachel memandang dirinya di cermin. Ini pertama kalinya Rachel melihat dirinya begitu berbeda. Riasan make up tipis tapi membuat dirinya begitu pangling. Setelah berdandan, Rachel pun memutuskan untuk pergi naik taksi. Rachel sudah terbiasa ke mana mana naik taksi. Tidak ada yang bisa diandalkannya bahkan untuk sekedar antar jemput. Alula dan Kai sudah menawarkan asisten rumah tangga dan juga supir untuk melayani Rachel dan Jasper. Akan tetapi, keduanya sama-sama menolak.


"Di sini saja, Pak!" Ucap Rachel kepada supir taksi yang mengantarnya. Rachel memberikan beberapa lembar Pounds dan tak lupa mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari taksi.


Acara ulang tahun Archie dirayakan di ballroom sebuah hotel bintang 5. Rachel melihat gedung itu sudah sangat ramai dengan para tamu. Entah mengapa, matanya mencari sesosok pemuda yang tinggal seatap dengannya. Ya, siapa lagi jika bukan Jasper Allen, suaminya. Setelah perlakuan tak menyenangkan Jasper kepadanya, entah mengapa Rachel masih ingin melihat kehadiran pemuda itu.


"Chel?" Teriak seseorang saat Rachel sudah masuk ke dalam ballroom hotel.


Rachel menoleh dan melihat Nicole berlari mendekatinya. Rachel melihat gadis itu memakai gaun hitam dengan taburan beberapa mutiara di gaunnya.


"Nicole?" Rachel menyambut kedatangan temannya itu.


"Ya ampun! Kau sangat cantik sekali!" Nicole mencubit gemas pipi Rachel.


"Aw sakit!" Rachel mengelus pipinya.


"Kau datang dengan siapa?" Nicole celingukan mencari seseorang yang mengantarkan Rachel.


"Seperti biasa. Aku naik taksi," Rachel tertawa kecil.


"Nona Rachel Olivia, kau jangan keseringan naik taksi! Bagaimana jika jodohmu supir taksi karena kau keseringan naik taksi?" Nicole meledek.


"Sayangnya, suamiku bukan supir taksi. Suamiku adalah teman sekelas kita, Nicole," Rachel menimpali di dalam hatinya.


"Cinta lokasi maksudmu?" Lontar Rachel yang membuat mereka tertawa bersama.


Tawa itu pun menyurut saat Rachel melihat orang yang sedari tadi ia cari, kini melangkahkan kakinya ke dalam ballroom dengan seorang gadis cantik di sampingnya. Gadis itu memakai gaun yang amat Rachel kenali. Gadis itu adalah Aurora. Ia memakai gaun yang dipilih dan dibeli oleh suaminya. Sungguh sangat ironi.


"Ya tentu saja Jasper akan memberikannya. Kau berharap Jasper tidak jadi memberikan gaun itu?" Rachel menertawakan kebodohannya sendiri. Diam-diam dirinya berharap, jika Jasper tidak jadi memberikan gaun itu.


"Aurora, dia cantik sekali!" Banyak sekali orang yang memuji Aurora yang terdengar oleh Rachel.


Rachel pun menatap Jasper nanar. Sungguh sangat serasi. Jasper yang tampan, tinggi dan berkharisma bersanding dengan gadis secantik dan seanggun Aurora. Bagaikan Cinderella dengan sang pangeran.


Tak disangka, Jasper pun melihat ke arah Rachel. Pemuda itu tampak terkejut melihat istrinya yang berbeda dengan biasanya. Rachel pun balas menatap suaminya. Lama mereka saling bertatapan, sampai Jasper sendiri yang mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang ada di sampingnya.


Tak lama kemudian, acara ulang tahun Archie pun dimulai. Pesta ini digelar dengan sangat meriah. Tampak acara disusun dengan baik sebagai pertanda bahwa ulang tahun ini memang dipersiapkan dengan baik dan juga terencana. Rachel menatap Archie yang tengah di cium oleh kedua orang tuanya untuk sesi foto. Hati Rachel lagi-lagi bersedih melihatnya. Ia teringat kedua orang tuanya yang nun jauh di sana. Sejujurnya, Rachel begitu merindukan kehangatan dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sejauh apapun anak pergi, pasti orang tua selalu ada di dalam sanubarinya.

__ADS_1


"Oke, baiklah. Kali ini adalah sesi dansa," seorang MC memberitahukan acara selanjutnya.


Tanpa komando, para tamu bergandengan tangan bersama pasangannya masing-masing. Sebenarnya banyak yang datang tanpa pasangan, akan tetapi mereka berkenalan dengan orang baru dan menjadi akrab.


"Ayo kita berdansa!" Jasper menadahkan tangannya untuk menyambut tangan Aurora.


"Ayo!" Aurora menyambut tangan pemuda yang diam-diam sudah beristri itu.


Mereka berdansa dengan diiringi musik Tango. Hanya Rachel yang tidak berdansa. Ia menatap sedih Jasper yang tengah berdansa dengan Aurora. Jasper seakan mengoyak harga dirinya sebagai seorang istri. Jasper benar-benar tidak menganggap ada istrinya. Ia tengah asyik memeluk tubuh Aurora. Sementara itu, Aurora mengalungkan tangannya di leher Jasper. Mereka terlihat menatap satu sama lain dengan senyum yang merekah di bibir masing-masing.


Rachel tak kuat, ia langsung pergi meninggalkan ballroom untuk mencari udara yang dapat melegakan dadanya yang sesak.


"Bodoh! Mengapa aku harus bersedih?" Rachel tersenyum pilu meratapi kemalangannya. Kini, ia sendiri di balkon hotel.


Sejujurnya dalam hati Rachel, ada rasa suka pada suaminya. Rasa suka itu ada setelah Jasper menyelamatkannya dari pria tua yang mau membelinya.


"Chel? Mengapa kau ada di sini?" Suara lembut Nicole menyentak indra pendengaran Rachel.


"Nicole, mengapa kau ke mari? Bukannya kau sedang berdansa?" Rachel balik bertanya.


"Aku tidak bisa melanjutkan dansaku. Lihatlah! Hak heels nya patah!" Nicole menunjukan sepatunya yang sudah tak ber-hak.


"Pasti kakimu sakit, iya kan?"


"Kalau begitu patahkan lagi yang satunya! Agar kau bisa berjalan dengan seimbang!" Rachel memberikan saran.


"Idemu buruk tapi ada benarnya juga," Nicole melepaskan sepatunya dan melepas hak heels yang satunya.


"Aku tidak akan masuk lagi, Chel. Aku mau pulang," Nicole mengerucutkan bibirnya.


Rachel pun hanya tersenyum melihat raut wajah Nicole.


"Kita harus masuk. Acara belum selesai. Tidak enak kepada Archie jika kita pulang terlebih dahulu," Rachel memberikan saran.


"Tapi Chel Aku malu!"


Rachel pun membungkukan tubuhnya. Ia melepas heels menawan yang menjadi alas kakinya.


"Apa yang kau lakukan?" Nicole membulatkan matanya saat Rachel melepaskan secara paksa hak dari kedua heelsnya.


"Kau tidak akan malu sendirian di dalam. Aku menemanimu!" Rachel mengayun-ngayunkan sepatunya yang sudah tidak ber-hak.

__ADS_1


"Rachel Olivia, kau memang sahabatku!" Nicole berhambur memeluk gadia blonde itu.


"Aku tidak akan membiarkanmu malu sendirian," Rachel balas memeluk Nicole.


"Gadis yang unik dan juga setia kawan," gumam seseorang yang melihat mereka sedari tadi.


"Aku tertarik padanya. Aku ingin merasakan bagaimana mengencaninya," ucap orang itu yang tak lain adalah Hans Mitchell.


***


Susunan acara terakhir dari pesta ulang tahun Archie adalah menghancurkan kue. Sebenarnya budaya ulang tahun ini berasal dari Amerika Serikat. Akan tetapi, karena dampak dari globalisasi, budaya ini pun sudah merambah ke negara lain. Jadi, yang berulang tahun harus menghancurkan kue ulang tahunnya dan dibuat seberantakan mungkin. Maka dari itu, kue ulang tahunnya disebut dengan Smash Cake.


"Ayo Archie hancurkan!" Sorak sorai dari tamu undangan menyemangati Archie.


Archie pun menghancurkan kue ulang tahunnya dengan tongkat bisbol.


"Lagi-lagi!!" Seru para tamu undangan yang menonton keseruan itu.


Tim acara pun membawa kue lagi untuk dihancurkan oleh Archie. Akan tetapi, salah satu kaki mereka terpeleset, hingga kue itu menjatuhi seseorang.


"Gaunku!" Pekik seorang gadis yang jatuh dengan kue ulang tahun di tubuhnya.


Gadis itu tak lain adalah Rachel. Rachel memang sedang berdiri bersama Nicole menyaksikan Archie menghancurkan kue ulang tahunnya. Saat tim acara terpeleset, malangnya gadis itu tepat ada di hadapannya. Kini tubuh dan gaunnya pun berlumuran kue. Semua orang mengelilingi Rachel. Nicole pun berjongkok di samping Rachel dan membantu membersihkan tubuh gadis itu dengan tangannya.


Jasper diam tak bergeming. Ia menatap Rachel yang tubuhnya dipenuhi oleh kue. Hatinya merasa kasihan dengan gadis itu. Akan tetapi, bila ia membantu, Jasper takut orang lain curiga. Terlebih, ia tidak ingin Aurora salah paham.


Seorang pemuda berjalan ke hadapan Rachel. Ia berjongkok dengan sapu tangan di tangannya.


"Nona Bulgaria, kau baik-baik saja?" Tanyanya dengan suara yang mendayu-dayu di telinga Rachel.


"Aku tidak apa-apa, Hans!" Rachel membersihkan tangannya.


Tanpa permisi, Hans membersihkan pipi gadis blonde itu dengan sapu tangan yang ia bawa.


Rachel pun diam tersentak saat Hans membersihkan pipinya. Kemudian tangan Hans bergerak membersihkan lengan Rachel.


"Hans, dia korbanmu selanjutnya?" Tanya orang-orang yang sudah tahu jika Hans adalah seorang cassanova kampus.


"Ayo taruhan! Sebentar lagi mereka berkencan!" Seru seseorang.


"Kau akan menaklukannya berapa minggu Hans? Aku tebak, dalam satu minggu?" Goda seseorang lagi.

__ADS_1


Rachel pun menarik tangannya yang sedang dibersihkan oleh Hans. Ia tak sengaja melirik suaminya. Jasper sedang menatap tajam padanya, pemuda itu memutar bola matanya dengan kesal, kemudian ia pergi tanpa berpamitan kepada Aurora.


__ADS_2