
Jasper pun menjelaskan semuanya kepada Archie tanpa ada yang terlewat satu pun.
"Jadi, ini semua ulah Alan Addison?" Archie menarik kesimpulan.
"Bagaimana jika gadis itu tidak tidur denganmu, J?" Tanya Archie.
"Tidak mungkin. 100% aku yakin sudah tidur dengan Rachel."
"Bagaimana jika dia membohongimu?" Tanya Archie sekali lagi.
"Tidak mungkin. Dia bukan gadis seperti itu. Rachel bukanlah orang yang memanfaatkan kesulitan orang lain," Jasper berkata dengan berseri.
"Tetapi bagaimana jika faktanya demikian?" Ulang Archie.
"Aku bilang itu mustahil. Aku melihat bukti-buktinya," Jasper mengingat leher Rachel yang kemerahan karena ulahnya.
"Bukti seperti apa? Apa kau mengingat malam yang kau lewatkan bersamanya?"
"Aku memang tidak mengingatnya. Tapi aku yakin Rachel tidak membohongiku. Aku sangat mengenalnya," Jasper memberikan ekspresi tidak suka.
"Dan bagaimana jika Rachel benar membohongimu?"
"Aku sudah bilang itu mustahil."
"Aku hanya berkata seandainya."
"Aku akan sangat kecewa padanya," Jasper berkata dengan terus terang.
"Kalau begitu jelaskanlah kepada Aurora! Dia mencintaimu!"
"Aurora mencintaiku? Rasanya tidak mungkin," Jasper menyanggah.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, J! Bahkan Rachel Olivia bisa menjadi istrimu. Si pemakan jeroan yang kau benci!"
"Kau tidak perlu mengingatkan hal itu kepadaku!" Jasper menepuk bahu Archie.
"Kalau begitu, jelaskan mengenai status pernikahanmu kepada Aurora. Jangan membuat hidupmu semakin rumit!
"Oke oke. Aku akan memberi tahu Aurora besok," Jasper menyetujui.
Hari itu mereka habiskan dengan bermain game dan bercerita seperti biasanya. Sedangkan Rachel, ia memilih menghabiskan waktunya di kamar tamu untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
*****
"Rachel?" Panggil Jasper kepada istrinya yang sedang bersiap pergi ke kampus.
"Ada apa?" Rachel tersenyum melihat suaminya.
"Rachel, sebentar lagi perayaan pernikahan kita yang setahun. Aku ingin memberikanmu sesuatu," Jasper mengambil tangan mungil gadis itu.
"Kejutan apa?" Rachel berbunga-bunga mendengar ucapan suaminya. Ia tidak menyangka pernikahannya sebentar lagi akan memasuki usia pernikahan satu tahun.
"Aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri."
"Maksudmu?" Rachel tampak tidak mengerti.
"Aku membeli beberapa gedung yang lumayan murah tapi berpotensi dengan tabunganku," Jasper mulai bercerita.
"Gedung ini akan aku sewakan untuk acara pernikahan, ulang tahun dan acara-acara besar lainnya. Uang hasil sewa itu, akan aku gunakan untuk kehidupan kita, agar kita tidak menadah terus kepada Mama dan Papa," jelas Jasper yang membuat Rachel berbinar seketika.
"Benarkah itu?" Rachel masih tidak percaya.
"Tentu saja. Sekarang kita bisa mulai hidup mandiri."
"Akhirnya! Terima kasih, Jasper!" Rachel menarik Jasper ke dalam pelukannya.
Sekelebat wajah Archie muncul dan bertanya bagaimana jika Rachel berbohong.
__ADS_1
"Aku benci seorang pembohong. Dia tidak akan membohongiku. Aku percaya padanya," Jasper membalas pelukan istrinya.
"Ayo kita berangkat ke kampus!" Jasper menarik tangan Rachel dengan lembut.
"Aku naik taksi saja!" Rachel menolak.
"Aku tidak mengizinkanmu. Ayo!" Jasper menarik tangan Rachel dan membawanya ke mobil.
Semua orang menatap penuh keterkejutan saat Rachel turun dari mobil Jasper. Bukan itu saja, pria itu terlihat menggandeng tangan Rachel masuk ke dalam kelas.
"Rachel, Jasper, kalian berkencan?" Semua teman sekelas berebut bertanya kepada Rachel dan juga Jasper yang duduk bersebelahan.
"Jangan begini!" Rachel berusaha menjauh dari suaminya. Tapi sia-sia, pria itu terus menarik gadis yang sudah menjadi miliknya itu untuk selalu ada di dekatnya.
"Aku butuh penjelasan darimu, J!" Aurora berkata dengan raut wajah sedih dan emosi. Ia seperti seorang istri yang memergoki suaminya berselingkuh di depan matanya.
"Baiklah. Aku akan menjelaskan semuanya," Jasper menghela nafasnya. Rachel pun hanya diam seperti seorang pelakor yang tengah di hakimi oleh seorang istri sah.
Aurora dan Jasper memilih untuk berbicara di taman kampus. Terlebih tempat itu sekarang sedang dalam keadaan sepi.
Jasper pun menceritakan semua kronologi pernikahannya dengan Rachel.
"Mengapa kau tidak memberitahuku sejak dulu? Aku bisa membuat perhitungan dengan Alan," Aurora menitikan air matanya. Ia seperti tersengat aliran listrik berjuta-juta watt saat mendengar jika Jasper sudah menikah, terlebih istrinya adalah Rachel, Si gadis pendiam yang tidak menonjol di dalam kelas. Si gadis pas-pasan yang selalu berkonfrontasi dengan Jasper.
"Aku hanya tidak mau ada yang tahu mengenai pernikahanku."
"J, selama ini kau anggap aku apa?" Aurora semakin deras menitikan air matanya.
"Hey, jangan menangis!" Jasper berusaha menenangkan wanita yang pernah ia cintai itu. Atau wanita yang masih Jasper cintai? Entahlah, Jasper sendiri tidak tahu apalah dia masih mencintai Aurora atau tidak.
"Maafkan aku! Semua ini salahku. Jika saja Alan tidak menjebakmu," Aurora menatap pilu ke arah pria yang sudah ia cintai itu.
"Kau tidak salah. Memang takdirnya harus seperti ini," Jasper berusaha menenangkan Aurora yang menangis tersedu-sedu.
"Lalu, apakah kau mencintai gadis itu?" Aurora bertanya langsung kepada intinya.
"Tapi aku nyaman di dekatnya. Aku tidak sanggup dia pergi," Jasper memberikan kejujurannya.
"Itu bukan cinta. Itu hanya suka," Aurora berusaha menyangkal perasaan Jasper.
"Aku harus memastikannya sendiri."
"Lalu, bagaimana dengan aku?" Suara Aurora terdengar gemetar.
"Aku sudah beristri."
Aurora pun diam sejenak. Kemudian ia menganggukan kepalanya.
"Kau benar. Tidak seharusnya aku mengganggu seseorang yang sudah beristri. Kalau begitu, aku doakan pernikahanmu bahagia, J!" Aurora berkata dengan pilu. Bagaimana pun, ia harus menerima kenyataan pahit itu.
"Berbahagialah, Aurora! Aku yakin akan datang seorang pria yang benar-benar mencintaimu," Jasper menangkup tangan Aurora.
"Kau benar. Akan ada pria yang datang ke kehidupanku. Itu pasti," Aurora berusaha tersenyum.
"Kalau begitu aku pergi. Jaga istrimu dengan baik!" Aurora berdiri dari duduknya. Kemudian ia berjalan memunggungi Jasper. Air matanya pun kembali tumpah ruah. Jasper hanya menatap punggung Aurora.
"Aku tahu kau sedang menangis!" Jasper menatap punggung gadis itu sampai bayangannya mengecil dan tak terlihat.
****
Beberapa hari terlewati, Jasper melihat perubahan yang besar dari diri Aurora. Gadis itu 100% menghindari dirinya. Jasper pun cukup mengerti. Mungkin Aurora tidak ingin berada dalam lingkaran rumah tangga orang lain.
"J, hanya kau yang paling mengerti aku!" Batin Aurora saat mengingat semua perhatian Jasper kepadanya. Kini, perhatian itu seakan diterpa angin dan terbang entah ke mana.
Sepulang kuliah, Aurora berjalan gontai menuju kamarnya. Beverly yang sudah tahu dengan keadaan itu terus menguatkan sang putri.
"Mommy, hatiku terasa sangat sakit!!" Aurora tersedu di dekapan ibunya. Henry hanya bisa menatap istri dan anaknya itu dengan tatapan tak terbaca.
__ADS_1
"Jika saja dulu kau bisa diberi tahu untuk tidak berhubungan dengan Alan, tentu semua tidak akan begini," Henry akhirnya buka suara.
"Anak berandalan itu menjebak Jasper hingga ia harus menikahi gadis itu. Tentu saja kau terseret dalam pusaran masalah ini," tambahnya.
"Aku tidak tahu Alan melakukan hal seburuk itu," Aurora menangis sesenggukan.
"Aku pun tidak berani menemui Alula. Semua masalah ini berakar padamu. Kalau saja dulu kau memutuskan berandalan itu, tentu dia tidak akan menjebak Jasper. Dan tentu kau akan mendapatkan pria sebaik dia," Beverly memberikan tanggapan.
"Mommy, aku sedang bersedih. Mengapa kalian menyudutkanku?" Aurora terisak.
"Mommy hanya mengingatkan, bukan menyudutkanmu. Belajarlah dari setiap pengalaman yang ada. Kau tahu, saat kau lahir ke dunia ini, mommy selalu berharap agar kau kelak menikahi putra Alula. Mommy ingin berbesan dengan sahabat mommy," jelas Beverly.
"Tapi semua sudah pupus. Tidak ada harapan lagi untukmu," Beverly merekatkan pelukannya. Mencoba memberikan ketenangan kepada putri semata wayangnya.
"Apa tidak ada harapan untukku sama sekali?" Aurora masih terisak.
"Jangan pernah mengusik kebahagiaan orang lain! Jika kau melakukannya, Daddy yang akan menggagalkan segalanya!" Henry berlalu dari kamar putrinya.
****
Rachel sedang berdiri di depan jendela kamar. Ia begitu menikmati pemandangan malam ini. Tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya.
"Kau belum tidur?" Tanya Rachel kepada suaminya yang kini sedang memeluknya
"Belum. Buktinya aku sedang memelukmu," Jasper menghirup dalam-dalam aroma rambut istrinya.
"Kau ini!" Rachel terkekeh.
"Rachel? Papa dan Mama menyuruh kita berangkat ke Switzerland besok lusa. Apakah kau mau?" Tanya Jasper hati-hati.
"Switzerland?" Rachel membalikan tubuhnya dan menatap suaminya tak percaya. Switzerland adalah salah satu tempat impiannya selama ini.
"Iya. Kita akan berbulan madu di sana. Papa bilang jika tempat itu saksi cinta mereka," Jasper menyempilkan anak rambut Rachel yang tergerai ke belakang telimga.
"Aku mau ke sana. Aku mau pergi denganmu," Rachel mengangguk dengan cepat.
"Baiklah. Besok kita bersiap untuk pergi ke sana!" Jasper tersenyum.
****
Dua hari kemudian....
Jasper dan Rachel baru berangkat ke Switzerland. Aurora harus menabahkan hatinya mengetahui kenyataan itu. Rachel dan Jasper dikabarkan akan berlibur selama tiga hari di negara yang dijuluki surga dunia itu.
"Hatiku sangat sakit. Tapi aku harus mengantarkan ini," Aurora membawa dua buah paper bag yang berisi buku-buku milik Jasper. Ia harus mengantarkannya karena Aurora sudah berjanji akan mengembalikan buku itu.
Aurora datang ke rumah yang dihuni oleh Jasper dan Rachel.
"Tuan Jasper dan Nona Rachel sudah pergi satu jam yang lalu," ujar seorang wanita tua yang menjadi asisten dadakan di rumah itu. Ia memang ditugaskan untuk merawat rumah Jasper dan Rachel selama sepasang pengantin itu pergi berbulan madu.
"Aku hanya akan mengantarkan buku-buku ini. Oh iya, aku juga ingin mengambil buku-bukuku," ucap Aurora yang teringat buku catatannya masih dipinjam oleh Jasper.
"Kalau begitu, mari Nona saya antarkan anda ke kamar tuan Jasper! Saya tidak mengetahui bukunya yang mana," asisten rumah tangga itu mempersilahkan Aurora untuk mengambil bukunya sendiri. Ia memang sudah hafal betul siapa Aurora.
"Baiklah," Aurora menyetujui. Mereka pun naik ke tangga dan masuk ke dalam kamar Jasper.
"Silahkan Nona cari buku anda! Saya membersihkan jendela sebentar!" Ucap asisten rumah tangga itu sembari berjalan ke arah jendela kamar Jasper dan Rachel yang kotor.
Aurora melihat rak buku. Ia langsung mengenali bukunya. Ia mengambil buku itu dengan cepat seolah tidak nyaman berada di dalam kamar milik Jasper dan Rachel. Saat buku itu diambil, selembar kertas jatuh tepat mengenai kakinya.
Aurora menunduk dan mengambil kertas itu.
"Apa ini?" Aurora membulatkan matanya saat ia mulai membaca.
Kertas itu adalah kontrak pernikahan yang Jasper buat untuk disepakati oleh Rachel.
"Jadi, mereka menikah kontrak?" Tangan Aurora gemetar membaca kata per kata, kalimat perkalimat kontrak pernikahan itu.
__ADS_1
"Aku masih mempunyai harapan. Mari Jasper, aku akan membantumu keluar dari pernikahan sial*n ini!" Desis Aurora saat ia sudah selesai membaca kontrak pernikahan itu.