Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Menjemput Pulang


__ADS_3

"Rachel, apa yang dia lakukan?" Tanya Jasper dengan panik. Ia langsung berlari mendatangi istrinya.


"Rachel?" Teriak Jasper sembari mengejar langkah Rachel yang akan masuk lebih dalam ke air.


Rachel tidak mendengar karena suara deburan ombak begitu memekikan telinganya.


Jasper semakin cepat berlari, ia meraih pinggang istrinya dengan cepat.


"Kau mau apa?" Teriak Jasper yang langsung membuat Rachel tersentak akan keberadaan suaminya.


"Kau sedang apa di sini?" Rachel membulatkan matanya karena terkejut melihat Jasper ada di tempat yang sama dengannya saat ini.


"Aku? Aku sedang berlibur. Kebetulan kita bertemu di sini. Haha," Jasper pura-pura tertawa.


"Berlibur? Bersama siapa?" Rachel mengedarkan pandangannya. Mencari sesosok gadis yang selalu membuat dirinya begitu tidak percaya diri.


"Aku sendirian," Jasper menatap Rachel. Kini mereka masih berada di atas air dengan kedalaman selutut.


"Mengapa kebetulan sekali? Kau menyusulku ya?" Rachel tersenyum sembari menatap wajah Jasper yang terlihat sangat panik.


"Ten-tentu saja tidak. Untuk apa aku menyusulmu? Seperti tidak ada pekerjaan lain saja," Jasper melihat ke sembarang arah.


"Aku tahu kau berbohong," Rachel tersenyum senang. Ia begitu bahagia mengetahui suaminya itu menyusul dirinya.


"Sudahlah, ayo kita pulang! Aku dingin di sini," Jasper terlihat menggigil. Ia memang tidak suka dan tidak kuat dingin.


Mereka pun berjalan menepi ke pinggir pantai.


"Tapi aku datang bersama Hans. Berarti aku harus pulang juga bersama dengan Hans," Rachel menolak.


"Rachel, dengarkan aku!" Jasper memegangi bahu istrinya.


"Aku adalah suamimu dan kau adalah istriku. Kau mengerti ucapanku?" Jasper menatap mata biru istrinya dengan lembut tapi penuh dengan ketegasan.


"Tidak. Aku tidak mengerti," Rachel memasang wajah polosnya.


"Artinya adalah kau harus menuruti semua perkataanku. Jika aku berkata ayo kita pulang! Berarti kita harus pulang sekarang," Jasper melepaskan tangannya di bahu Rachel dan memegangi tangan gadis itu.


"Tapi nanti Hans mencariku," Rachel masih menolak. Ia begitu tidak enak jika harus pergi tanpa berpamitan kepada Hans.


"Aku akan menelfon Hans dulu," Rachel mengambil ponselnya.


"Tidak. Jangan sampai dia menelfon Hans!"


"Baterai ponselku low," Rachel berdecak pelan. Ia pun memasukan ponselnya kembali ke saku.


"Syukurlah."

__ADS_1


"Nanti aku hubungi Hans. Aku akan memberitahukan bahwa kau pulang bersamaku," Jasper menggaet tangan Rachel untuk berjalan meninggalkan pantai.


"Baiklah," akhirnya Rachel setuju karena sudah tidak bisa yang bisa ia lakukan. Ia pun memutuskan untuk pulang bersama suaminya.


Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Jasper tak henti melepaskan genggaman tangannya. Ia begitu takut Hans akan menemukan mereka berdua dan membawa Rachel pulang bersamanya.


"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang. Aku sangat tidak rela Rachel pergi dengan Hans. Aku tidak tahu rasa apa ini. Entahlah, aku akan mencari tahunya nanti," gumam Jasper sembari terus menggaet tangan kecil istrinya.


Rachel hanya senyum-senyum saat melihat tangannya yang di genggam oleh Jasper dengan erat.


"Oh tidak. Itu Hans!" Jasper membulatkan matanya saat melihat Hans berlari untuk menemui Rachel kembali.


"Dia tidak boleh melihatku dan Rachel," Jasper mencari alasan.


"Rachel, lihatlah ini!" Jasper menunjuk langit ke arah lain agar Hans tidak melihat mereka.


"Lihat apa?" Rachel bertanya dengan bingung.


"Saljunya menebal. Kau pasti sangat kedinginan," Jasper membuka mantelnya. Ia memakaikan mantelnya di tubuh Rachel agar Hans tidak mengenali istrinya.


"Jasper, kau tidak kuat dingin kan?" Rachel hendak menolak.


"Tidak apa," Jasper menutupi kepala Rachel dengan mantelnya.


Hans pun tidak menyadari keberadaan Rachel, begitu pun dengan gadis itu.


"Ayo kita percepat! Ini sangat dingin," Jasper menggenggam tangan Rachel kembali. Ia rela kedinginan seperti ini asalkan Hans tidak menemukan istrinya.


"Sebenarnya ada apa dengan diriku?" Jasper merutuki dirinya sendiri.


Jasper dan Rachel mempercepat langkahnya. Setelah sampai parkiran, Jasper dan Rachel segera masuk ke dalam mobil untuk pulang.


"Dingin sekali!" Jasper menggigil sembari menyetir.


"Kau tidak kenapa-kenapa kan?" Rachel berkata dengan cemas.


"Tidak. Tentu saja aku baik-baik saja," Jasper tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Terima kasih karena sudah menjemputku," Rachel berkata dengan berbinar.


"Jangan percaya diri! Aku ke sini karena Mama menyuruhku untuk menjemputmu. Kalau mama tidak menyuruh menjemputmu, aku tidak akan mau ke sini," tuturnya sembari terus melajukan mobilnya melintasi jalanan yang ditutupi salju.


"Tadi kau bilang ke sini untuk berlibur? Lalu, kau berkata jika Mama yang menyuruhmu untuk menjemputku? Jadi, sebenarnya kau memang berniat untuk menjemputku?" Rachel berkata dengan bingung.


"Emm maksudku, Mama menyuruhku untuk menjemputmu sembari aku berlibur ke sana," Jasper berkilah.


"Lalu, dari mana Mama tahu aku pergi ke Seven Sisters Country Park?" Rachel semakin bingung.

__ADS_1


"Ten-tentu saja dariku," Jasper menjawab dengan terbata.


"Jadi, kau mengadu ke Mama mengenai aku pergi dengan Hans?"


"Tidak," Jasper menggelengkan kepalanya.


"Lalu, dari mana Mama tahu aku pergi ke Seaford?" Rachel semakin pusing.


"Sudahlah. Lebih baik kau tidur saja. Kau pasti lelah kan?" Jasper mengalihkan pembicaraan.


"Tidak mau. Aku tidak mengantuk," Rachel menolak.


"Jasper?" Panggil Rachel sembari menatap ke arah suaminya yang sedang menyetir.


"Iya?"


"Apa Aurora masih di rumah kita?" Tanya Rachel dengan hati-hati.


"Tidak. Dia tidak ada di rumah kita. Dia sudah pulang," jawab Jasper. Ia memang tidak berbohong. Tadi saat Jasper di pantai, Archie mengirimkan pesan jika mereka sudah pulang.


Archie memberikan alasan kepada Aurora jika Jasper pergi ke rumah Alula. Aurora pun bergegas pulang dengan harapan bisa bertemu Jasper di rumahnya yang bersisian dengan rumah Alula. Sepertinya gadis itu sudah menaruh hati kepada Jasper yang kini sudah berstatus menjadi suami wanita lain.


"Syukurlah," Rachel bernafas lega. Ia sangat senang mengetahui Jasper tidak berduaan dengan Aurora di rumah.


"Rachel? Nanti jika kita sudah sampai, aku akan mengajarkanmu menyetir lagi."


"Mengapa kau sangat ingin aku lancar membawa mobil?" Tanya Rachel sembari melihat salju-salju yang berjatuhan di kap mobil.


"Karena aku tidak ingin melihatmu kesusahan lagi saat berbelanja."


"Bagaimana jika kau saja yang mengantarkanku belanja?" Rachel memberanikan diri menjawab. Ia ingin tahu bagaimana jawaban Jasper. 2 detik 3 detik tidak ada sahutan dari suaminya.


"Baiklah. Aku yang akan mengantarkanmu ke super market untuk berbelanja," ucap Jasper pada akhirnya yang membuat hati Rachel menghangat.


Sementara itu.....


"Tuan Jasper pergi menyusul Nona Rachel ke Seaford!" Lapor orang kepercayaan Kai yang mengikuti Jasper.


"Putra kita pergi ke mana, sayang?" Tanya Alula yang sejak tadi khawatir akan keberadaan putranya. Alula sangat tahu Jasper tidak menyukai tempat-tempat dingin.


"Putra kita menyusul istrinya," Kai menjawab dengan senyum yang merekah di bibirnya.


"Sayang? Kau tahu apa artinya?" Kai menangkup tangan Alula dengan hangat.


"Ya, aku mengerti," Alula tersenyum senang.


"Mari kita siapkan tiket pesawat untuk putra kita dan istrinya berb*lan madu!"

__ADS_1


__ADS_2