Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Mencari Rachel


__ADS_3

"Rachel, di mana kamu?" Hans berteriak mencari keberadaan Rachel.


Pria itu berlari ke sana ke mari menembus salju yang berjatuhan.


"Rachel?" Hans berteriak kembali.


Pria itu masuk ke dalam air yang sangat dingin dan terus mencari keberadaan gadis yang akhir-akhir ini mengisi hati dan pikirannya.


"Hans?" Seru seorang gadis berambut pirang ketika melihat Hans berlari dengan raut wajah yang panik.


"Elle?" Gumam Hans saat melihat gadis bermata hazel yang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah mantan kekasihnya yang baru saja ia putuskan.


"Kau mencari Rachel?" Tanya Elle dengan tatapan iba. Elle yang tengah menjernihkan pikirannya setelah putus dari Hans harus menelan pil pahit karena melihat Hans bersama dengan Rachel di pantai ini.


"Iya. Aku mencari Rachel," Hans mengangguk dengan cepat.


"Dia sudah pergi di bawa oleh Jasper," beri tahu Elle. Ia memang mengenal Jasper dan Rachel karena mereka satu kampus.


"Kurang ajar!!!' Hardik Hans dengan emosi. Ia sungguh merasa sikap Jasper sangat keterlaluan sekarang.


"Kalau begitu aku harus pergi," Hans hendak pergi berlalu meninggalkan Elle.


"Sampai kapan?" Tanya Elle yang langsung menghentikan langkah Hans seketika.


"Maksudmu?" Hans tampak bingung.


"Sampai kapan kau akan mendekati Rachel dan kemudian akan membuangnya sama seperti kau membuangku?" Mata Elle tampak menganak sungai.


"Aku tertarik padanya. Sepertinya aku tidak akan melepaskannya," tegas Hans dengan wajah yang serius.


"Haha," Elle tertawa.


"Kau juga menunjukan hal itu kepadaku. Lalu setelah mendapatkanku, kau pun membuangku," Elle menghapus air matanya.


"Aku tidak akan membuang Rachel," bantah Hans.


"Ayo kita buktikan! Aku akan menjadi penonton," Elle tersenyum mengejek.


"Terserah padamu!" Hans beranjak meninggalkan Elle.


Hans langsung tancap gas pergi dari pantai indah itu. Tujuannya adalah tentu saja kediaman Jasper dan juga Rachel. Ia ingin sekali memberikan perhitungan kepada Jasper karena sudah membawa pulang Rachel tanpa izin darinya.


Setelah tiga jam perjalanan, Hans tiba di depan kediaman Rachel dan juga Jasper.


"Jasper, buka!!!" Hans menggedor pintu rumah Jasper dengan sangat keras.


"Jasper, aku bilang buka!!!" Pria itu semakin emosi karena pintu tak kunjung dibuka.

__ADS_1


"Ada apa?" Jasper keluar dengan wajah tidak ramahnya.


"Mana Rachel?" Hans langsung bertanya tanpa basa-basi.


"Rachel? Bukankah dia pergi denganmu?" Jasper balik bertanya.


"J, aku tanya sekali lagi di mana Rachel? Aku tahu kau membawanya pulang!!!" Hans berteriak.


"Wow, kau datang ke rumahku malam-malam dan langsung berteriak? Di mana sopan santunmu?" Jasper tersenyum meremehkan.


"Jangan kau tanya sopan santunku di mana! Di mana sopan santunmu saat membawa Rachel pulang? Aku mencarinya di sana!!!" Hans menggertakan giginya menahan emosi.


"And then?" Jasper tersenyum kecil.


"J, aku tanya sekali lagi di mana Rachel?" Hans mulai hilang kesabaran.


"Dia sedang tidur. Dia kelelahan karena perjalanan yang panjang. Untuk apa kau ke sini? Pulanglah!" Jasper menggerak-gerakan tangannya mengusir Hans.


"Walaupun dia asisten rumah tanggamu, tapi kau tak berhak melarangnya untuk dekat dengan siapapun."


"Aku berhak melarang dia untuk dekat dengan siapapun, termasuk itu dengan kau!!" Jasper menunjuk Hans dengan jarinya.


"J, kau memang kurang ajar!!!" Hans hendak melayangkan bogem mentah di wajah Jasper. Dengan cepat, Jasper menangkis tangan pria itu.


"Hans?" Jasper melepaskan tangan Hans dengan kasar.


"Kau ini orang berpendidikan kan? Begini sikapmu datang bertamu ke rumah orang lain?" Jasper tertawa.


"Berhenti bekerja padaku? Hans, kau bodoh! Rachel adalah istriku. Hidupnya ada di tanganku," Jasper menyeringai kemudian ia masuk kembali ke dalam rumahnya.


Jasper naik ke lantai atas dan melihat Rachel sudah tertidur di atas kasur. Dengan pelan, pria itu naik ke atas kasur. Ia merebahkan dirinya di samping istrinya yang entah mengapa begitu mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


Tangannya perlahan memeluk tubuh Rachel yang tertidur memunggunginya.


"Jasper, apa yang kau lakukan?" Tanya Rachel yang terbangun dari tidurnya.


"Aku ingin tidur di sini. Mulai malam ini, aku akan tidur di sini bersamamu. Mengerti?" Jasper tak melepaskan kaitan tangannya di pinggang Rachel.


"Benarkah?" Rachel tersenyum senang. Jantungnya seakan di pompa lebih cepat. Mata biru gadis itu terus menatap tangan yang sedang memeluknya dengan erat.


"Iya. Aku kedinginan tidur di sofa setiap malam," Jasper menjawab. Ia menenggelamkan wajahnya di rambut Rachel.


"Wangi sekali!" Batin Jasper sembari terus menenggelamkan wajahnya di rambut Rachel yang dibiarkan terurai.


"Jasper?" Panggil Rachel. Rachel membalikan tubuhnya menghadap ke arah suaminya.


"Apa? Ayo kita tidur! Ini sudah malam. Aku lelah menyetir seharian," Jasper memejamkan matanya. Tangannya masih memeluk Rachel dengan erat.

__ADS_1


"Jasper, aku akan membuatmu benar-benar jatuh cinta padaku!! Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku seperti aku jatuh cinta padamu," mata Rachel memandangi Jasper yang sudah terlelap dalam tidurnya.


"Tidurlah!" Rachel membelai wajah Jasper dengan lembut. Kemudian gadis itu balas memeluk tubuh suaminya.


****


Jasper tersenyum ketika melihat Rachel tengah berjibaku membuat sarapan di dapur.


"Pagi!!" Sapa Rachel yang melihat Jasper berjalan menghampirinya.


"Pagi. Kau memasak apa hari ini?" Tanya Jasper dengan senyumnya yang terlihat lepas.


"Aku membuat Pancake. Duduklah!" Rachel memerintah tanpa melihat ke arah Jasper.


"Masak yang enak ya?" Jasper tersenyum. Kemudian ia langsung duduk di kursi makan yang menghadap ke arah Rachel yang sedang memasak.


"Hari ini ayo kita belanja!" Ajak Jasper kepada istrinya yang masih berjibaku dengan pancake buatannya.


"Belanja? Kita?" Rachel tampak kaget. Jasper mau tidur dengannya semalam pun, Rachel masih seperti bermimpi.


"Iya. Ayo kita berbelanja! Aku ingin membelikanmu beberapa potong baju dan tas. Aku melihat baju dan tas kuliahmu hanya itu itu saja," Jasper berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari Rachel.


"Baiklah. Ayo kita pergi belanja!" Rachel dengan cepat mengiyakan ajakan suaminya. Ia tidak ingin kehilangan momen berdua dengan Jasper. Tekadnya adalah membuat Jasper benar-benar mencintainya.


Rachel menghidangkan Pancake Strawberry buatannya.


"Enak!!!" Jasper memakan Pancake buatan Rachel dengan bersemangat.


"Semoga dari makanan turun ke hati," batin Rachel sembari terus memperhatikan Jasper yang memakan pancakenya.


"Nanti ajarkan aku membuat Pancake seperti ini ya?" Pinta Jasper kepada Rachel yang langsung dibalas anggulan oleh gadis itu.


"Kalau begitu bersiaplah! Ayo kita pergi berbelanja!" Jasper berdiri dari duduknya.


Jasper dan Rachel pun bersiap-siap untuk pergi berbelanja hari ini. Jasper menggunakan mantel dam syal yang tebal. Tak lupa ia memakan earwarm untuk menghangatkan telinganya.


"Jangan sampai kau kedinginan!" Jasper membetulkan mantel istrinya.


"Mengapa dia sangat manis?" Rachel begitu terbuai akan sikap suaminya itu.


Sepasang suami istri itu naik ke mobil yang akan membawa mereka ke pusat perbelanjaan terbesar di kota Birmingham itu.


"Kau menyukai Hans?" Tanya Jasper saat mereka sedang berada di dalam mobil. Jasper tampak memelankan kendaraannya karena salju yang menebal menghiasi jalanan.


"Tidak. Kau cemburu?" Goda Rachel.


"Cemburu? Tentu saja tidak. Aku hanya takut Hans akan mempermainkanmu. Kau kan tahu dia pria seperti apa. Aku tidak ingin kau terluka," Jasper membantah.

__ADS_1


"Bantah terus saja! Aku tahu kau mulai tertarik padaku," Rachel tersenyum melihat raut wajah suaminya.


"Rachel, mari kita pergi ke Jepang!" Ajak Jasper di tengah-tengah perjalanan mereka.


__ADS_2