
Tak terasa, dua bulan sudah berlalu sejak peristiwa Rachel naik ke dalam mobil Hans. Sejak saat itu pula, hubungan Rachel dan Jasper semakin merenggang. Tak ada tegur sapa selama dua bulan itu. Kedua jiwa itu seperti hidup di dunia masing-masing dan tidak berusaha saling membuka komunikasi. Hanya dalam keadaan darutat saja mereka akan saling berbicara. Rachel seolah hidup sendiri di rumah bak istana itu. Begitu pun dengan Jasper, yang merasa frustasi karena tidak ada yang bisa di ajak bicara. Mereka menutup komunikasi satu sama lain. Sehingga di suatu malam, Jasper sudah benar-benar lelah dengam kondisi senyap tersebut.
"Gadis Bulgaria?" Sapa Jasper. Ia mendekat ke arah istrinya yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Hmmm?" Rachel memencet-mencet tombol remote. Entah channel apa yang dicari oleh gadis itu.
"Bisa kita berbicara sebentar?" Jasper mendudukan dirinya di sisi Rachel.
Rachel tak menjawab. Jasper pun mengambil remote tv di tangan gadis itu dan mematikannya.
"Tolong lihat aku!" Jasper menatap wajah Rachel dengan mimik dan getsur tubuh yang serius.
"Ada apa?" Rachel pun menatap wajah Jasper.
"Jujur saja, selama dua bulan ini aku seperti bukanlah seorang manusia. Aku hanya berbicara jika berada di kampus. Saat di rumah, kita saling mendiamkan satu sama lain, seolah kita hanya hidup sendiri di rumah ini. Apa kau tidak lelah?" Jasper berusaha membangun komunikasi dengan istrinya.
Rachel mengambil nafasnya dalam sebelum berucap, "aku juga lelah."
"Ayo kita perbaiki hubungan ini! Walau kita tidak saling mencintai seperti suami istri kebanyakan. Tapi aku ingin kita mempunyai hubungan yang baik. Kita bisa menjadi teman baik dan bertukar segala cerita," Jasper tersenyum.
"Maafkan segala ucapan burukku kepadamu!" Tambahnya.
Rachel pun tampak menimbang-nimbang. Jauh dari lubuk hatinya, Rachel pun ingin memiliki hubungan yang baik dan bisa mengenal lebih dekat pribadi Jasper. Akan tetapi, selama dua bulan ini Rachel berusaha melindungi hatinya agar tidak kembali terluka. Maka dari itu, Rachel lebih memilih untuk mendiamkan suaminya. Rachel merasa tersakiti saat Jasper menolak keberadaanya. Dan inilah saatnya, saat Rachel menata hatinya lagi menjadi lebih baik. Menghapus segala rasa sakit hati, dendam dan juga kemarahan. Lagi pula, Rachel sudah lelah dengan semua ini. Ia ingin hidup dengan penuh kedamaian dengan siapa pun, apalagi dengan suaminya sendiri. Walau Jasper hanyalah suaminya sementara.
"Maafkan aku juga!" Rachel berkata dengan tenang. Entah mengapa, ia merasa beban berat yang selama ini ia pikul lenyap seketika. Dengan kata lain, gadis itu benar-benar merasa lega.
"Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf. Sedari awal, aku yang memperlakukanmu dengan buruk. Tolong maafkan aku! Dan mari kita berteman! Kelak, aku ingin kita berpisah dengan baik-baik dan penuh sukacita!" Jasper menyodorkan lengannya untuk berjabat tangan dengan Rachel.
Rachel pun menyambut tangan Jasper. Mereka bersalaman dengan senyum manis yang diukir di bibir masing-masing. Jasper dan Rachel merasa hidup ini akan lebih baik, jika mereka berdamai dan saling menerima keberadaan satu sama lain.
****
Pagi yang berbeda di mulai. Pagi ini Rachel sedang asik memasak di dapur. Ia tersenyum ceria saat memasak, sesekali Rachel melirik Jasper yang tengah membantunya untuk mencuci piring-piring kotor di wastafel.
"Kau memasak apa hari ini?" Jasper melirik Rachel yang sedang berjibaku membuat adonan untuk membuat dessert.
"Aku ingin membuat makanan manis dari Bulgaria," jawab Rachel yang sedang membuat cream.
"Wah aku belum pernah mencoba makanan dari Bulgaria. Buat yang enak ya!" Seru Jasper sembari mencuci tangannya setelah mencuci piring.
__ADS_1
"Tunggulah di meja makan!" Titah Rachel dengan tersenyum. Sungguh, memilih berdamai dan berteman dengan Jasper jauh lebih baik.
Rachel kali ini membuat Biskvitena Torta. Dessert ini dibuat dari susu, krim custard klasik dan diberi tambahan rasa seperti cokelat atau vanilla.
"Sepertinya enak!" Ucap Jasper saat ia melihat dessert itu di hidangkan di piring miliknya.
"Cobalah! Aku menambahkan rasa cokelat karena kau suka cokelat," Rachel duduk di kursinya.
Jasper langsung menoleh padanya. Gadis asal Bulgaria itu benar-benar tahu kesukaannya. Rachel memang meminta info mengenai diri Jasper kepada Alula, agar ia bisa melayani Jasper dengan baik.
"Enak!" Puji Jasper saat ia memasukan dessert itu ke dalam mulutnya.
"Nanti aku masakan makanan Bulgaria lain!" Rachel memakan makanannya yang ada di piring.
"Gadis ini sangat pintar sekali memasak!" Jasper melirik ke arah Rachel yang sedang makan sembari membuka ponselnya untuk membaca berita.
"Ponselmu sepertinya sudah cukup jadul. Kau tahu kan, sekarang ini Ap*le sudah mengeluarkan produk terbarunya? Itu produk 8 tahun yang lalu," Jasper memperhatikan ponsel Rachel yang tertutupi dengan cover yang cukup usang.
"Iya. Aku tidak punya uang untuk membelinya," Rachel tidak mengalihkan matanya dari ponsel miliknya. Ia sedang membaca mengenai berita kota Birmingham hari ini.
"Apa uang sehari-hari yang kuberikan padamu tidak cukup?"
"Uang itu kau amanahkan untuk membeli perlengkapan kita seperti makanan, kebutuhan kuliah dan kebutuhan primer lainnya. Aku tidak akan berani memakainya untuk membeli barang yang kurang dibutuhkan," jelas Rachel. Jasper pun tersenyum mendengar alasan istrinya.
"Tapi kau membutuhkan ponsel baru. Mungkin beberapa fitur di ponsel itu sudah tidak relevan dengan tahun ini?" Tawar Jasper.
"Jasper, jika kita mengikuti perkembangan zaman tidak akan ada habisnya. Selama masih bisa dipakai, ya pakai saja!" Rachel tersenyum dan melanjutkan memakan dessert yang ada di piringnya.
"Rachel?"
"Eh iya? Kau memanggilku?" Rachel cukup terkejut karena Jasper untuk pertama kali memanggil namanya.
"Bukankah namamu Rachel? Mengapa kau begitu terkejut?" Jasper mengelap bibirnya dengan tisu.
"Ya, kau kan tidak pernah memanggil namaku selama 1,5 tahun kita sekelas," Rachel meminum air yang ada di dalam gelas sampai tandas.
"Hari ini kau akan ke kampus dengan naik taksi lagi?" Tanya Jasper.
"Iya. Memangnya kau kira naik apa? Naik pesawat terbang?" Rachel tertawa. Jasper pun tertegun. Ia baru tahu jika gadis yang ada di depannya adalah gadis yang cukup periang.
__ADS_1
"Kau bisa ikut ke kampus bersamaku!"
Rachel pun tampak kaget mendengar ucapan Jasper. Tapi dengan cepat ia menguasai keterkejutannya.
"Tidak. Nanti Aurora atau teman yang lain melihat kita. Aku juga tidak ingin ada yang tahu mengenai pernikahan kita Berangkatlah ke kampus seperti biasa!" Tolak Rachel. Ia tidak ingin mendapatkan masalah jika Aurora atau yang lainnya tahu mereka tinggal bersama.
"Baiklah kalau begitu. Aku berangkat!" Jasper menggendong tasnya yang sedari tadi ia simpan di kursi.
"Jasper?" Rachel memanggil. Jasper pun menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Sebentar!" Rachel berlari dan naik ke atas tangga. Lalu, ia turun kembali dengan membawa syal dan sebuah mantel.
"Pakailah mantel dan syal ini! Di luar sangat dingin!" Rachel memberikan mantel berwarna cokelat dan syal yang berwarna senada.
"Terima kasih," ucap Jasper dengan senyum yang tipis.
****
Perkuliahan mengenai Statistika terasa sangat membosankan untuk Rachel. Ia beberapa kali menguap di dalam kelas. Rachel benar-benar mengantuk karena penjelasan dari dosen membuatnya tidak kunjung mengerti dengan mata kuliah yang satu ini.
"Chel! Jangan tertidur!" Nicole menepuk pundak Rachel yang akan membaringkan kepalanya di atas meja.
"Aku bosan!" Rachel mencoba membuka matanya yang sudah 5 watt.
"Rachel Olivia bersemangatlah! Bukannya hari ini adalah hari ulang tahunmu?" Seru Nicole dengan suara yang terdengar ke belakang.
"Oh ya hari ini hari ulang tahunku?" Rachel bertanya dengan malas.
"Iya. Ini tanggal 20," Nicole menjawab dengan antusias.
"Oh ini ulang tahunku ya?" Rachel seakan tidak peduli.
"What? Bagaimana bisa kau sedingin ini?" Nicole tampak gemas dengan teman dekatnya tersebut.
"Ya memangnya aku harus apa? Berkata Wow?Menyewa gedung? Mengadakan pesta? Aku tidak punya uang untuk itu," Rachel berbicara blak blakan. Nicole pun hanya menepuk keningnya sendiri mendengar pertanyaan dari Rachel.
Sementara itu, Jasper yang ada di belakang mendengar itu semua.
"Ini hari ulang tahunnya? Bahkan aku tidak mengetahuinya. Aku memang tidak tahu sedikitpun tentangnya. Kami memang benar-benar suami istri yang tidak saling mencintai," Jasper menatap punggung Rachel.
__ADS_1
"Belikan hadiah untuk istrimu dan ucapkan selamat kepadanya!" Satu pesan masuk dari Alula sedang Jasper baca.