Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Meminta Izin Ke Sungai Tyne


__ADS_3

"Jasper?" Gumam Rachel saat melihat kedatangan Jasper yang tiba-tiba. Rachel semakin tersentak ketika melihat Aurora ikut berjalan di samping suami sahnya itu.


"Kalian ada di sini?" Aurora melihat Rachel dan Hans bergantian. Sejurus kemudian sebuah senyuman terukir di wajah gadis cantik itu.


"Kalian berkencan?" Goda Aurora kepada Rachel dan Hans.


"Tidak, iya," Rachel dan Hans menjawab bergantian.


"Kita memang berkencan," Hans berdiri dari posisi bersimpuhnya.


"Aku tidak mengizinkan kalian berkencan," Jasper menajamkan matanya. Terlihat kilatan kemarahan pada mata pemuda itu.


"Jasper, kau ini kenapa?" Aurora tidak mengerti.


"Kau hanya majikannya. Kau tidak berhak untuk mengatur kehidupan pribadi Rachel," Hans berjalan maju mendekati Jasper. Sementara Rachel masih terduduk di kursinya.


"Aku tidak mengerti. Majikan apa?" Aurora semakin bingung dengan peristiwa yang ada di depan matanya.


"Aku-" Rachel akan menjawab.


"Dia pelayan di rumahku," Jasper menjawab dengan tatapan yang dingin.


"Pelayan? Di mana?" Aurora semakin memperlihatkan raut wajahnya yang kebingungan.


"Di rumah baruku. Papa mempekerjakan seseorang untuk membantu keperluan sehari-hariku," Jasper tak melepaskan tatapannya dari Rachel.


Rachel pun hanya tersenyum pilu mendengar ucapan suaminya.


"Mengapa kau tidak bercerita padaku?" Aurora tampak kecewa.


"Mungkin Jasper tidak ingin ada kesalah pahaman," Rachel menjawab. Ia berdiri dari duduknya.


"Ayo pulang bersamaku!" Jasper mendekati Rachel dan menarik tangan kanannya.


"Dia akan pulang bersamaku," Hans menarik tangan kiri gadis itu.


"Jasper, kau ini kenapa?" Aurora melepaskan cekalan tangan sahabat masa kecilnya itu dari tangan Rachel.


"Biarkan Rachel pulang bersama Hans!" Titah Aurora. Aurora menyangka jika Rachel dan Hans tengah berkencan dan mereka harus mempunyai privasinya sendiri.


"Tapi aku tidak ingin pelayanku berkencan dengan pria macam dia!" Jasper menunjuk Hans dengan tangannya.


"Dia itu pemain wanita," sengit Jasper dengan tatapannya yang nyalang.


"Pemain wanita?" Hans tersenyum sinis.


"Pemain wanita atau bukan, apa urusannya denganmu?" Hans menatap wajah Jasper yang kian memerah.

__ADS_1


"Kau!!!" Jasper berteriak.


"Ayo, Hans sebaiknya kita pulang!" Rachel menarik lengan Hans. Ia tidak ingin suasana semakin panas dan terjadi perkelahian di antara mereka.


Hans dan Rachel pun masuk ke dalam mobil milik Hans.


"Berani-beraninya kau!" Jasper mengepalkan tangannya geram melihat tangan Rachel yang menarik tangan Hans.


****


"J, mengapa kau tidak bercerita padaku mengenai Rachel yang bekerja padamu?" Tanya Aurora saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Merasa pertanyaannya tak kunjung mendapatkan jawaban dari pemuda yang ada di sampingnya. Aurora menoleh dan mendapati Jasper tengah mencengkram setir dengan wajah yang diliputi kemarahan.


"J, kau kenapa?" Aurora bertanya sekali lagi.


Jasper tak menggubris pertanyaan gadis yang selama ini menari-nari di hati dan pikirannya. Tujuannya hanya satu, ia harus segera sampai ke rumah untuk memastikan Rachel tak berduaan dengan Hans di dalam rumah.


"J, jangan mengebut! Jalanan sedang ditutupi salju," Aurora menaikan nada bicaranya saat Jasper menaikan laju kendaraannya.


"J!!!" Teriak Aurora. Jasper pun langsung menyetop mobilnya di jalanan yang sepi.


"Kau ini kenapa?" Tanya Aurora dengan kesal.


"Aku hanya kesal pada gadis Bulgaria itu. Dia harusnya bekerja di rumah bukannya asik berduaan dengan pria lain," jawab Jasper tanpa melihat ke arah Aurora.


"Cemburu? Haha. Kau gila?" Jasper berpura-pura tertawa.


"Lalu, mengapa kau sangat marah?"


"Aku hanya tidak suka ketika seseorang menyia-nyiakan pekerjaannya. Apalagi dia dibayar oleh Papa dan Mama," Jasper berkilah.


"J, sebenarnya aku khawatir kalian hanya tinggal berdua di sana. Apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?" Aurora berusaha untuk menggali informasi. Entah mengapa, perasaannya menjadi tidak karuan mendapati fakta jika Jasper dan Rachel hidup berdua di atap yang sama.


"Sesuatu? Tidak ada."


"Lalu, mengapa kau menyembunyikan sebuah fakta jika Rachel bekerja di rumahmu?"


"Aku hanya tidak ingin dia malu di kampus," Jasper memberikan jawaban yang masuk akal.


Aurora tampak berpikir, sesaat kemudian gadis itu menjawab "kau benar. Mungkin Rachel akan malu jika ada teman kampus yang tahu jika ia bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga."


Jasper tak menimpali, ia fokus melajukan kendaraannya di tengah hamparan salju yang menutupi ruas jalan. Mereka saling diam dengan lamunannya masing-masing.


Sementara itu di dalam mobil Hans...


Hati Rachel semakin perih kala melihat foto kencan Jasper dan Aurora di National Sea Life Centre Kota Birmingham. Foto itu Rachel lihat di grup kelas kampusnya. Teman-temannya pun mengucapkan selamat kepada mereka, karena mereka mengira Jasper dan Aurora sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Hati Rachel seolah hancur berkeping-keping melihat senyuman lembut Jasper yang tak pernah pemuda itu berikan untuknya. Harapan seolah pupus untuk mendapatkan Jasper seutuhnya.

__ADS_1


"Kakak, apa aku harus terus berjuang?" Lirih Rachel dalam hatinya sembari melihat foto Jasper dan Aurora yang tengah tersenyum satu sama lain.


"Kau sedang melihat apa?" Hans menoleh ke arah Rachel yang sedari tadi melihat ke arah ponselnya.


"Aku sedang melihat pesan di whatsapp," Rachel buru-buru menutup aplikasi chatingnya itu dan menyimpan ponselnya di tas.


"Aku tidak menyangka Jasper sangat protektif terhadapmu," Hans memulai obrolan.


"Bukan protektif. Hanya saja mungkin dia marah karena seharusnya aku sedang bekerja di rumah," Rachel tersenyum menutupi kegundahan gulana hatinya.


"Mungkin seperti itu. Nona Bulgaria?" Panggil Hans dengan suara indahnya.


"Iya?"


"Bagaimana jika besok kita pergi ke Sungai Tyne di Hexam?" Ajak Hans.


"Sungai Tyne?"


"Iya. Ayo kita pergi ke sana dan mendayung Kano!" Ajak Hans sekali lagi.


"Aku tidak tahu, Hans. Aku harus meminta ijin terlebih dahulu kepada Jasper.


"Aku yang akan meminta izin padanya," Hans tersenyum.


20 menit kemudian mereka sampai di rumah milik Jasper dan juga Rachel. Rachel melihat suaminya ada di sana sedang berdiri bersama dengan Aurora. Ekspresi wajah Jasper tampak tak terbaca.


"Masuk!!" Perintah Jasper dengan dingin.


"J, kau tidak boleh memperlakukan Rachel seperti itu. Walau dia adalah pelayan di rumahmu, tetapi dia adalah teman kita di kampus," Aurora menoleh ke arah Jasper yang sedang menghardik Rachel dengan tatapan membunuhnya.


Rachel tak bergeming. Ia masih berdiri di tempatnya berpijak. Rachel ingin tahu bagaimana ekspresi suaminya saat Hans meminta izin untuk membawanya ke sungai Tyne.


"J, aku ingin berbicara padamu!" Hans maju selangkah.


"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu," ketus Jasper.


"J, aku ingin meminta izin padamu. Besok aku akan mengajak Rachel ke Sungai Tyne," Hans melanjutkan niatnya untuk meminta izin.


Tatapan Jasper yang sedang menatap Rachel dengan nyalang beralih ke arah Hans.


"Beraninya kau mengajaknya setelah kejadian hari ini?" Amarahnya semakin memuncak. Entah mengapa ia menjadi sangat emosi.


"Jasper, besok kan akhir pekan. Aku ingin berjalan-jalan dengan Hans," Rachel mengeluarkan suaranya. Ia ingin tahu apakah Jasper mengizinkannya atau tidak.


"Izinkan saja, J! Rachel perlu liburan. Besok biar aku yang menemanimu di rumah. Aku akan mengajak Archie juga," Aurora memberikan usul.


"Pergilah! Pergilah ke mana kau mau dengan pria itu! Aku tidak peduli kau pergi ke ujung dunia sekali pun," Jasper berbalik dan masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Rachel, Aurora dan Hans yang masih berdiri di halaman rumah.

__ADS_1


"Kau pikir bisa pergi mudah dengan pria itu? Lihat apa yang akan aku lakukan!" Batin Jasper sembari menutup pintu dengan sangat keras.


__ADS_2