Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Kursi Roda


__ADS_3

Jasper memangku Rachel dengan kikuk, ia membuka satu persatu pakaian yang yang melekat di tubuh istrinya setelah sampai di kamar mandi.


"Gosok gigimu terlebih dahulu," Jasper mengambil sikat gigi milik Rachel dan mengoleskan pasta gigi di atasnya.


"Buka mulutmu!" Jasper memerinrah dengan lembut.


"Aku bisa menyikatnya sendiri," Rachel merajuk.


"Tidak apa. Aku yang akan melakukannya. Buka mulutmu!" Jasper segera menyikat gigi istrinya dengan pelan.


"Mengapa semakin hari, kau semakin menarik?" Batin Rachel saat melihat wajah suaminya dalam jarak yang begitu dekat.


Setelaj menggosok gigi Rachel, Jasper menuangkan sabun ke atas lofa. Dengan telaten, ia mulai memandikan istrinya dari mulai mencuci rambut Rachel sampai seluruh badannya.


Jasper menatap tubuh istrinya yang sudah bersih dan wangi. Hasrat sebagai pria datang begitu saja namun segera Jasper tepis. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan sesuai apa yang ada di dalam pikirannya. Jasper segera memakaikan Rachel pakaian mandi dan memapahnya menuju kamar.


Setelah mandi usai, Jasper memakaikan pakaian piyama di tubuh istrinya. Jasper mengambil hair dryer dan mrngeringkan rambut Rachel. Hari sudah menjelang petang, rintik hujan pun mulai membasahi bumi.


"J, aku bosan!" Keluh Rachel sendu.


"Kau mau ke mana? Biar aku temani!" Jasper merapihkan rambut Rachel yang berantakan, ia mengambil sisir dan menyisir rambut istrinya dengan lembut.


"Aku ingin melihat hujan, J."


"Baiklah, ayo!" Sahut Jasper, pria jangkung itu menyimpan sisir yang ia pegang. Lalu tangannya beralih mengangkat istrinya yang ia rasa sudah mulai berat.


Mereka kini sudah ada di halaman belakang rumah. Halaman belakang itu berupa taman yang mempunyai atap yang terbuka. Di setiap pinggir terdapat bangku taman yang memiliki atap yang kecil.

__ADS_1


Jasper mendudukan Rachel di pangkuannya, mereka duduk di bangku taman. Jasper memeluk Rachel dari belakang hingga istrinya merasakan nafas Jasper di tengkuknya. Mereka menikmati hujan dalam diam. Satu sama lain menyadari kehadirannya masing-masing.


"J, terima kasih karena kau merawatku dengan baik," Rachel memecahkan keheningan di antara mereka.


"Aku ini suamimu. Sudah menjadi kewajibanku untuk mengurusmu," jawab Jasper santai.


"Setelah melahirkan nanti, aku akan berhenti untuk merepotkanmu. Aku janji!" Lirih Rachel, tatapannya tak lepas dari gemercik hujan.


"Setelah anak ini lahir, kita akan lebih repot. Kita akan begadang, kita akan mengganti popoknya, dan mendengar tangisannya di malam hari. Namun itu adalah hal yang membahagiakan untukku, asal kita melakukannya bersama-sama. Jangan pernah mencoba pergi kemana pun! Apalagi sampai membawa anak ini. Dia adalah buah hati kita dan kita yang akan merawatnya sampai dia besar nanti," ucapan Jasper seolah menggetarkan hati Rachel. Jasper memeluk Rachel dengan hangat ia menenggelamkan wajahnya di punggung Rachel.


Rachel menitikkan air matanya, sebenarnya ia sangat lelah dengan terus berbaring ditempat tidur. Tidak ada aktivitas yang dapat ia lakukan selain duduk dan menonton televisi. Ia sungguh sangat bosan. Namun dengan sikap hangat Jasper, Rachel merasa sangat begitu berarti, ia akan berjuang untuk selalu sehat sampai anaknya lahir ke dunia.


"Hei, jangan menangis!" Titah Jasper yang mendengar isak tangis Rachel.


"Aku malu, karena terus merepotkanmu" ucap Rachel sedih.


Rachel diam membisu. Kata-kata Jasper menggetarkan hatinya. Seberapa kuat ia menepis untuk tak terbujuk dengan semua perlakuan suaminya, namun pertahanan itu runtuh juga. Hatinya memang masih sangat mencintai Jasper, dan saat ini Rachel memutuskan akan mencoba untuk memulai lagi dari awal. Memperbaiki semua cerita yang hampir hancur, menata hati yang telah hancur berkeping dan bersama-sama menyelamatkan rumah tangganya yang hampir karam.


------


Rachel mengucek matanya, ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi. Semua tirai jendela sudah dalam keadaan terbuka, pasti Jasper yang melakukannya. Ia ingat semalaman mereka menghabiskan waktu melihat hujan hingga akhirnya mereka mengantuk dan kembali ke kamar untuk tidur. Rachel tersenyum ketika mengingat Jasper semalaman memeluknya. Rachel seolah mendapatkan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan.


"Kau sudah bangun?" Sapa Jasper yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, ia membawa air putih dan membantu Rachel untuk minum.


"Sudah," Rachel tersenyum.


"aku ingin berjemur," pinta Rachel..

__ADS_1


"Baiklah, tunggu di sini!"


Jasper meninggalkan kamarnya lagi. Beberapa detik kemudian, ia kembali dengan membawa kursi roda.


"Aku membelinya supaya kau bisa berjalan-jalan keluar," Jasper mendorong kursi roda itu ke arah Rachel.


"Terima kasih" ujar Rachel dengan mata berbinar, ia mencium pipi Jasper lembut yang langsung membuat pria itu gegalagapan. Rachel begitu menikmati aroma khas dari tubuh suaminya yang akhir-akhir ini membuat dirinya candu.


Jasper membantu Rachel untuk menaiki kursi roda itu. Dengan sigap, ia mendorong kursi roda itu ke arah halaman rumah yang sudah diterangi oleh sinar matahari.


"Lihatlah, ada sinar matahari!" Rachel berseru dengan bersemangat. Memang di Inggris sangatlah susah jika bertemu dengan sinar matahari. Sebuah keberuntungan mereka mendapatkannya pagi ini.


"Kalau begitu kita beruntung. Ayo kita berjalan-jalan ke taman!" Ajak Jasper, ia mendorong kursi roda Rachel dengan hati-hati menuju taman yang ada di perumahan itu.


"Aku belum mandi," Rachel mengingatkan.


"Tidak apa-apa. Kau masih cantik. Kau selalu terlihat cantik di mataku."


"Bukankah Aurora yang paling cantik?" Rachel menatap dengan sedih.


"Tidak ada yang lebih cantik selain ibu dari anakku," jawab Jasper tanpa ada kebohongan di matanya.


Rachel tersipu, mereka berjalan-jalan menikmati udara pagi itu dengan ceria. Rachel bersyukur mempunyai Jasper yang bisa menerima apapun keadaannya


Di lain tempat, ada seorang gadis muda yang tengah bersiap untuk pergi ke kota London di pagi hari ini.


"Aku harus bertemu denganmu hari ini juga," ucap gadis itu sembari tersenyum melihat bayangan dirinya di cermin.

__ADS_1


__ADS_2