
Jasper tampak bingung dengan sikap Rachel yang berkata tidak, akan tetapi getsur tubuhnya mengiyakan tuduhannya.
"Jadi, benar kau wanita seperti itu?" Jasper memperjelas pertanyaannya.
"Terserah padamu. Aku tidak peduli bagaimana penilaianku di matamu," Rachel hendak melenggang pergi meninggalkan Jasper dan Archie, akan tetapi cekalan tangan menghentikan langkahnya.
"Bagaimana jika orang-orang dikampus tahu apa pekerjaanmu," Jasper menyeringai yang membuat wajah Rachel pias seketika.
"Sudahlah, jangan mengganggunya!" Archie melepaskan cekalan tangan Jasper dari Rachel.
Rachel pun dengan cepat meninggalkan kedua sahabat itu.
"Bagaimana jika dia memberitahu teman-teman yang lain aku bekerja di klub?" Batin Rachel sembari berjalan mendatangi tamu-tamu yang lain.
***
Hari kedua ospek dihabiskan dengan memupuk pengetahuan dengan memberikan diskusi berupa isu-isu terkini yang tengah dihadapi oleh negara-negara di berbagai belahan dunia.
Jasper hari ini tampak sangat santai dan tenang. Berbeda dengan Rachel yang terus menerus menghindari pemuda itu. Rachel takut jika Jasper membuka rahasia mengenai pekerjaan Rachel kepada teman-temannya.
"Hai, Chel!" Sapa seorang mahasiswi yang bernama Nicole. Nicole merupakan teman baru Rachel di universitas.
"Emm ya?" Rachel tidak memalingkan tatapannya dari Jasper.
"Katanya kita akan dibagi kelompok untuk berdiskusi," Nicole mengikat rambut blondenya.
"Oh begitu," Rachel tampak tidak antusias. Ia masih saja menatap Jasper yang tengah mengeluarkan alat-alat tulis dari tasnya.
"Kau lihat apa, Chel?" Nicole menatap wajah Rachel kemudian tatapannya beralih kepada objek yang tengah di lihat oleh Rachel.
__ADS_1
"Kau tertarik dengan Jasper Allen?" Nicole tersenyum kepada Rachel.
"Tertarik? Maksudmu?" Rachel menoleh ke arah temannya yang memakai jas almamater itu.
"Kau jatuh cinta dengan Jasper Allen?" Nicole memperjelas pertanyaannya.
"Tentu saja tidak. Mengapa aku harus menyukainya?" Rachel menyangkal.
"Baguslah, lebih baik seperti itu. Yang Jasper suka hanya Aurora," Nicole menyipitkan matanya.
"Aurora? Maksudmu? Aurora teman sekelas kita?" Rachel menoleh ke arah gadis cantik bermata biru yang tengah mendengarkan penjelasan senior dengan seksama.
Nicole mengangguk memberi jawaban.
"Jadi, gadis itu yang disukai oleh Jasper? Ya gadis itu memang cantik juga dia sepertinya berasal dari keluarga kaya raya," Rachel menatap gadis cantik itu. Rachel memang melihat Aurora selalu membawa mobil mewah ke kampusnya.
"Aurora gadis cantik dan terpandang. Ayahnya adalah seorang Konsulat di kedutaan Kanada. Jasper juga anak dari seorang pengusaha negeri ini. Ku dengar orang tua mereka sangat bersahabat. Aku rasa mereka akan di jodohkan," Nicole mengira-ngira.
"Bukankah Jasper menyukainya? Jadi ku rasa itu bukanlah perjodohan," Rachel mengira-ngira.
"Ku rasa Aurora tidak memliliki perasaan apapun. Apalagi gadis itu sudah memiliki kekasih," Nicole membantah.
"Kau sepertinya tahu banyak. Jangan-jangan kau yang menyukai pemuda itu?" Rachel menggoda.
"Ah, tidak. Aku hanya mendengar dari orang lain," Nicole tampak kikuk.
"Jangan mudah mempercayai omongan orang lain. Siapa tahu itu hanya sebuah gosip," Rachel mengingatkan.
"Hay, kalian berdua! Kalian sedang diskusi apa?" Tegur seorang senior wanita.
__ADS_1
Semua mahasiswa pun melihat ke arah Nicole dan Rachel yang tertangkap basah mengobrol.
"Kami sedang berdiskusi apa yang pantas untuk dibahas," Rachel memberikan jawaban sekenanya.
"Kalau begitu bersiaplah. Aku akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok," seru seorang senior pria dengan aksen Amerika.
Tibalah saatnya senior membagi mereka menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok berisi 6 orang mahasiswa. Mata Rachel pun membulat saat dia dikelompokan bersama Jasper.
"Jangan berkonfrontasi dengannya Rachel!!" Batin Rachel agar tidak terlibat terlalu jauh dengan Jasper. Ia sangat tidak ingin bila Jasper membuka jati dirinya. Rachel tidak ingin orang-orang tahu jika ia bekerja di sebuah klub malam.
"Aku berharap sekelompok dengan Aurora, tetapi mengapa aku malah sekelompok dengan wanita malam ini?" Racau Jasper dalam hatinya.
"Mengapa kau terus menerus menunduk?" Tegur Jasper kepada Rachel yang terus menundukan wajahnya.
"Tidak apa-apa," jawabnya singkat.
"Ini tema diskusi kalian. Silahkan kalian berdiskusi lalu nanti kemukakan pendapat kalian mengenai isu yang kalian bahas," seorang senior wanita memberikan kertas kecil kepada kelompok Jasper dan Rachel.
"Tema kelompok kita adalah mengenai kasus p*lecehan s*ksual," Archie membuka kertas kecil itu dan memberitahukannya kepada yang lain.
"Wah kebetulan. Ku pikir ada yang sangat lihai dalam menjelaskan isu ini," Jasper tersenyum kecut.
"Maksudnya?" Teman-teman kelompoknya tampak tidak mengerti.
"Rachel, kau sangat mengerti kan mengenai isu p*lecehan s*ksu*l?" Jasper tersenyum mengejek.
"Maksudmu?" Rachel kebingungan.
"Ya, kau pasti sudah sangat hapal mengenai isu ini, karena dirimu begitu lekat dengan isu ini," ucap Jasper dengan senyuman mengejek yang tak hilang dari wajah tampannya.
__ADS_1
Semuanya seketika hening dan menatap Rachel dengan penuh keingin tahuan.