
Festival salju Sapporo adalah festival yang diadakan setiap tahun di musim dingin yang diadakan di kota Sapporo, Jepang. Festival ini adalah festival musim dingin terbesar di negara matahari terbit itu. Festival salju Sapporo selalu menarik perhatian jutaan orang setiap tahunnya.
"Indahnya!" Puji Rachel ketika ia dan suaminya sampai di Taman Odori. Taman Odori adalah taman yang terletak di pusat kota Sapporo. Taman ini juga merupakan tempat festival salju Sapporo diadakan.
"Lihatlah itu Big ben!" Jasper menunjuk landmark kebanggaan negaranya yang dibuat dari salju.
"Mirip seperti aslinya hanya saja warnanya putih. Itu gunung apa?" Rachel menunjuk sebuah gunung es yang dipamerkan di taman Odori.
"Itu pahatan gunung Fuji. Gunung itu adalah gunung yang sangat penting di negara ini," Jasper memberi tahu.
"Aku jadi ingin melihat gunung Fuji secara langsung," ucap Rachel sambil menyeruput cokelat panas yang baru saja ia beli dalam wadah cup.
"Nanti aku akan membawamu melihat gunung Fuji. Tapi tidak sekarang," Jasper membetulkan topi Rachel yang sedikit miring.
"Kapan?" Rachel menerima perlakuan hangat suaminya dengan penuh sukacita.
"Saat bunga Sakura tumbuh di Tokyo," Jasper memberikan kepastian.
"Baiklah. Aku akan menagih janjimu nanti," Rachel mengalihkan matanya dari Jasper yang selalu membuatnya salah tingkah.
"Ayo kita mencoba makanan yang dijual di sebelah sana!" Jasper menunjuk penjual makanan tradisional yang ada di festival salju ini.
Rachel pun mengekor mengikuti langkah Jasper.
"Cobalah ini!" Seorang penjual menawarkan dua gelas minuman kepada Rachel dan juga Jasper.
"Ini apa?" Jasper mencium aroma minuman itu.
"Ini adalah Amazake yaitu sake manis khas negara Jepang," ucap penjual ramah dengan menggunakan bahasa Inggris. Sepertinya penjual itu cukup mahir berbahasa Inggris.
"Apakah ini mengandung alkohol?" Jasper memastikan.
"Tidak, Tuan. Amazake ini tidak mengandung alkohol, walaupun ada amazake yang dibuat dengan kadar alkohol rendah," jelas penjual itu. Jasper pun tampak puas dengan jawabannya.
"Kau orang Inggris yang sangat aneh! Kau tidak suka minuman beralkohol!" Rachel tertawa.
"Ingat terakhir aku meminum alkohol? Akhirnya seperti apa?"
Rachel pun mengingat tragedi dirinya dan Jasper di kamar hotel efek pemuda itu minum terlalu banyak.
"Rasanya manis," ucap Rachel mengalihkan. Ia tidak ingin mengingat malam itu. Bagaimana Jasper tahu di malam itu tidak terjadi apapun antara mereka?
"Jangan sampai Jasper tahu! Aku akan terus merahasiakan rahasia kecil itu."
"Nona, anda akan lebih cantik dengan meminum minuman itu!" Jawab penjual sembari tersenyum ke arah Rachel yang tengah meneguk amazakenya.
"Lebih cantik? Maksudmu?" Jasper tampak tak terima istrinya dipuji oleh pria lain.
"Wanita di Jepang meminum amazake salah satunya adalah untuk tujuan kecantikan. Selain untuk menghangatkan tubuh di musim dingin, amazake membuat kulit menjadi halus dan tampak awet muda," penjual menjawab dengan ramah.
"Oh begitu. Kalau begitu aku akan menghabiskannya," Rachel meneguk amazake di gelasnya hingga tandas. Jasper pun ikut meminum amazake digelasnya hingga habis.
__ADS_1
Mereka pun meninggalkan kedai minuman setelah membayar. Tujuan selanjutnya adalah Tsudome. Tsudome menjadi tempat kedua diadakannya festival salju Sapporo.
"Ayo kita ikut pertarungan bola salju!" Ajak Rachel ketika ia dan Jasper sampai di Tsudome. Ia melihat orang-orang tengah mengantri untuk mengikuti pertarungan bola salju.
"Antriannya panjang sekali! Ini sangat dingin!!" Jasper tampak kedinginan.
"Kau kedinginan?" Rachel menyentuh wajah suaminya yang dibalas anggukan oleh Jasper.
"Kalau begitu ayo kita duduk di sana!" Rachel dengan cepat menarik tangan suaminya ke arah tenda yang tersedia di dekat stand makanan untuk menghangatkan diri.
Mereka pun masuk ke dalam tenda itu. Rachel melepaskan sarung tangan yang menghangatkan jemari-jemari lentiknya. Gadis itu juga melepaskan sarung tangan berwarna abu dari suaminya.
Rachel menangkup tangan Jasper dan meniup-niupnya, berharap pria itu keluar dari rasa dingin yang menyergap tubuhnya.
"Jika tau kau akan kedinginan, lebih baik kita diam di penginapan," Rachel menatap iba Jasper yang sedang kedinginan.
"Aku kasihan padamu jika kita menghabiskan waktu di penginapan. Aku tidak ingin menyia-nyiakan liburan kita," jawab Jasper masih dengan uap yang keluar dari bibirnya.
"Kau hidup di negara yang memiliki empat musim. Mengapa kau tidak kuat dingin?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu," Jasper mengangkat bahunya.
"Tapi memang mamaku tidak kuat dingin," lanjutnya.
"Semacam keturunan ya?" Rachel menyimpulkan.
"Memangnya hal seperti itu dapat diturunkan?" Jasper mengernyitkan dahinya.
Rachel memesan Kare Udon dan Kare Pan untuk mereka berdua. Pasangan suami istri itu melahap makananya di dalam tenda.
"Aku suka saus kari nya. Tidak terlalu menyengat hidung," Rachel mencicipi ramen udon untuknya. Ia kemudian melahap chicken katsu yang ada di atas kari.
Sementara Jasper hanya tersenyum melihat Rachel yang makan dengan lahap.
"Kenapa kau tidak makan?" Rachel menghentikan kunyahannya.
"Aku ingin disuapi olehmu. Suapi aku!" Jasper menaruh mangkuk karinya.
"Dasar tuan manja!" Rachel tertawa. Kemudian ia menyimpan mangkoknya yang sudah hampir habis. Rachel menyuapi Jasper dengan telaten. Sementara Jasper hanya menatap Rachel dengan diam, berbagai macam pertanyaan muncul dibenaknya.
"Aku sudah memutuskan akan mencoba mencintai Rachel," batinnya.
*****
Jasper dan Rachel pulang ke penginapan lebih awal. Mereka tidak melanjutkan menikmati festival salju karena Jasper yang kedinginan.
Rachel pergi ke dapur. Perutnya terasa masih sangat keroncongan karena tadi hanya memakan kare. Sementara Jasper memilih untuk berendam di onsen sebelum tidur.
"Aku ingin memasak ikan ini," Rachel menatap ikan yang ada di dalam kulkas. Ikan itu adalah ikan fugu atau lebih dikenal dengan ikan buntal.
"Setahuku ikan ini beracun, tapi aku tahu bagaimana memasaknya agar tidak beracun," Rachel mulai mengolah ikan itu untuk dimasak. Gadis itu menyingkarkan sel telur, usus dan hati yang sangat beracun dari ikan fugu.
__ADS_1
"Enaknya dimasak seperti apa ya?" Rachel tampak berpikir. Gadis itu tampak ceroboh, karena di Jepang yang boleh memasak ikan fugu hanya chef yang sudah tersertifikasi dan memiliki lisensi dengan pengalaman 3 tahun untuk memasak ikan berbahaya itu. Racunnya lebih beracun dari pada sianida.
"Aku akan memasaknya menjadi Sashimi," Rachel memutuskan.
Dengan kepandaiannya memasak, Rachel mencoba mengolah ikan fugu menjadi sashimi. Tidak sulit baginya, karena Rachel pernah melihat pembuatan sashimi yang menurutnya cukup simple di youtube.
Rachel mengiris daging ikan fugu dengan irisan tipis. Kemudian ia menyusun irisan ikan fugu itu membentuk seperti kelopak bunga di atas piring. Rachel tak lupa menyimpan garnish yang meliputi taoge, lobak di atas piring dan yang terakhir adalah menyiapkan ponzu atau kecap berbahan dasar jeruk.
Rachel membawa piring berisi hidangan ikan fugu itu. Ia membawanya ke tengah rumah. Rachel menyimpan piring itu di atas meja penghangat. Gadis itu memasukan setengah badannya ke penghangat untuk menghangatkan dirinya.
"Enak!" Ucapnya saat memakan sashimi yang telah di cocolkan ke atas ponzu.
Baru dua suap ia makan, kepalanya terasa berputar-putar.
"Kepalaku pusing," Rachel memijat kepalanya.
"Nona, anda kenapa?" Kaori bertanya ketika Rachel memegang kepalanya.
"Kepalaku pusing, Kaori!" Ucap Rachel dengan lemah.
"Ya ampun, Nona! Kau memakan ikan fugu?" Kaori melihat sashimi yang begitu ia kenali. Kaori membulatkan matanya melihat daging ikan berbahaya itu di atas meja penghangat.
Kaori langsung berlari ke arah Jasper yang diketahui sedang berendam di onsen. Beruntung, pemuda itu baru saja keluar dari onsen dan sudah memakai piyamanya.
"Tu-tuan!!!" Kaori berteriak dengan nafas tersegal.
"Ada apa?" Jasper tampak panik melihat Kaori yang panik.
"Sepertinya Nona Rachel keracunan ikan fugu," beri tahu Kaori dengan mencoba mengatur nafasnya.
Jasper pun langsung membulatkan matanya. Ia langsung berlari ke arah ruang tengah penginapan.
"Rachel!!!!" Teriak Jasper ketika ia melihat istrinya sudah tergeletak di atas lantai tatami.
"Bangun, Rachel!!!!" Teriaknya dengan memeluk tubuh Rachel.
"Kaori, aku harus membawa istriku ke rumah sakit!" Jasper berkata dengan limbung. Ia langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya keluar.
Kaori pun ikut keluar dari penginapan untuk mengantar mereka ke rumah sakit.
"Tuan, biar aku saja yang menyetir!" Kaori meminta. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk jika Jasper menyetir dalam keadaan panik.
"Baiklah. Ayo cepat!" Teriak Jasper dengan suara yang bergetar. Ia mempercayai Kaori untuk menyetir karena Jasper rasa Kaori tahu medan yang dihadapinya untuk sampai ke rumah sakit. Kaori duduk di depan, sementara Jasper duduk di kursi penumpang dengan tubuh Rachel yang berada dalam dekapannya.
Kaori melajukan mobil dengan kecepatan tinggi di atas salju.
"Kaori, cepat!!" Jasper berteriak lagi.
"Rachel, bangunlah!!" Tak terasa air mata Japser mengalir dari sudut matanya.
"Jangan tinggalkan aku di sini!" Jasper menepuk-nepuk pipi Rachel yang terasa dingin.
__ADS_1
"Aku mohon bangunlah! Aku akan mencoba menerima kehadiranmu dan pernikahan kita," Jasper terus berusaha membangunkan istrinya.