Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Rencana Alula


__ADS_3

Rachel berbaring di ranjang pemeriksaan. Dokter saat ini sedang memeriksa kandungannya.


"Lihatlah, Nyonya! Ini bayi anda!" Dokter itu tersenyum sembari melihat ke arah monitor yang menampilkan janin yang masih belum terbentuk sempurna.


Alula dan Kimberly tampak kaget dengan apa yang dokter katakan. Sedangkan Rachel langsung menatap Alula dan Kimberly.


"Usia kehamilan anda sudah memasuki 8 minggu," Dokter terus menjelaskan.


Pemeriksaan telah selesai, Rachel terduduk kembali di kursi yang ada di sebelah Alula. Mata Alula memancarkan kebahagiaan yang sangat besar. Sebentar lagi, ia akan mempunyai seorang cucu.


"Anda ibunya?" Dokter melihat Alula.


"Iya. Saya ibunya," Alula pun mengangguk dengan cepat.


"Tolong jaga asupan harian putri anda! Jangan biarkan dia stres dan mengerjakan pekerjaan yang berat! Kehamilan trimester pertama adalah kondisi yang masih rawan. Harus selalu dipantau kesehatan putri anda," Dokter memberi pengarahan kepada Alula.


"Iya, Dok. Saya pasti akan menjaga anak dan cucu saya," Alula bersemangat.


Setelah selesai diperiksa, mereka bertiga berjalan keluar ruangan dan menuju taman rumah sakit. Mereka terduduk di sebuah bangku di dekat pohon yang begitu rindang.


"Selamat, sayang. Kamu hamil!" Alula berhambur memeluk Rachel. Air matanya menetes karena bahagia dan terharu. Sebentar lagi, putranya akan menjadi seorang ayah. Alula berharap kehamilan ini pun menjadi alasan agar Rachel dan Jasper tidak bercerai.


"Terima kasih, Ma selalu mendukungku," Rachel tersenyum penuh haru. Merasa sangat beruntung memiliki ibu mertua yang sangat baik padanya.


Sementara Kimberly hanya diam. Ia mengalihkan perhatiannya kepada orang-orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit. Putri bungsu Alula ini memang terlihat dingin dan tak banyak bicara. Ia tidak seperti ibunya. Maklumlah, Kimberly di didik dan di besarkan oleh William, kakeknya yang dulu terkenal begitu angkuh dalam mendidik putranya.


"Kita harus beri tahu suamimu," Alula beranjak dari duduknya.


"Jangan, Ma!" Alula menggenggam tangan Rachel pelan. Alula pun terduduk kembali di kursinya.


"Kenapa? Dia harua tahu. Dia ayahnya," Alula tampak tidak mengerti.


"Mama, sudah tidak ada rasa kepercayaan dari diri Jasper untuk Rachel. Jasper menganggap Rachel hanyalah seorang pembohong yang memanfaatkan harta kalian," Rachel berkata dengan parau.


"Jika Jasper tahu Rachel hamil, dia hanya akan kembali karena di tubuh ini ada anaknya," Rachel mengelus perutnya lembut. Merasa tidak ingin hal buruk terjadi pada calon bayinya.


"Biarkan Rachel hidup berdua dengan anak Rachel, Ma. Setidaknya biarkan kami hidup terpisah untuk menjernihkan pikiran kami. Rachel tidak ingin Jasper mendiamkan Rachel lagi. Biarkan Rachel keluar dari pernikahan yang salah ini!" Lanjutnya.


Alula tampak mengerti. Ia pernah mengalami hal yang Rachel rasakan saat dulu mengandung Jasper. Bahkan kisahnya lebih parah, karena dahulu Kai menuduhnya mencelakai William, ayahnya. Pikiran Alula kembali ke masa-masa itu. Masa yang sangat berat untuknya.


"Mama paham," Alula akhirnya bersuara.


"Kalian masih muda dan ego kalian masih sangat tinggi. Tapi ketahuilah, Nak! Hamil tanpa seorang suami di sisi kita itu sangat berat dan menyedihkan. Kau butuh suamimu di sampingmu," Alula mengelus pipi Rachel lembut.


"Rachel akan terima semua resikonya, Ma. Dari pada harus hidup lagi bersama Jasper. Selama satu tahun ini dia tidak pernah menganggap Rachel ada. Aku terluka, Ma!" Rachel mengelap sudut matanya yang basah.

__ADS_1


"Ma, mengenai uang yang Rachel pinjam. Itu semua ulah kak Daniella. Maafkan Rachel, Ma! Tapi Rachel berjanji akan mengganti uang Mama begitu Rachel sudah punya uang."


"Jangan pikirkan itu! Mama sudah tahu dari Papa. Kau memang tidak ada kaitannya dengan uang itu. Jangan pikirkan apapun! Fokuslah pada kesehatanmu dan bayimu," Alula menghibur.


"Tunggu! Jika selama setahun ini, Jasper tidak menganggap kakak. Lalu, mengapa kakak bisa hamil?" Kimberly bertanya dengan polos dan ekspresi dinginnya.


Alula pun seolah meminta penjelasan dengan ekspresi wajahnya.


"Waktu itu kakak pergi dengan teman laki-laki. Dia teman sekelas kakak. Lalu, kakakmu melihat itu dan sangat marah karena kakak seperti tidak menghargainya. Lalu, kau bisa menebaknya sendiri Kim bagaimana kelanjutannya," Rachel enggan menjelaskan terlalu jauh.


"Anak itu seperti papanya," Alula mengusap kening Rachel yang sedikit basah karena keringat.


"Setidaknya suamimu harus tahu kau sedang hamil," lanjut Alula.


"Dia tidak usah tahu. Aku tidak ingin mengganggu hubungannya dengan Aurora, Ma. Biarkan Jasper bahagia dengan pilihannya. Setidaknya dengan hadirnya anak ini, Rachel tidak akan hidup sendiri lagi," hati Rachel seolah terhujam oleh anak panah yang begitu tajam saat mengatakan itu.


"Jika kau menolak Mama untuk memberi tahu Jasper. Biarkan Mama dan Papa untuk menjagamu dan cucu kami."


"Tapi Ma-"


"Jika kau tidak setuju, Mama akan memberi tahu suamimu sekarang juga," potong Alula cepat.


"Baiklah, Ma," Rachel langsung setuju.


Bagaimana pun Rachel tak ingin dirinya hidup menggelandang sekarang. Uangnya sudah cukup terkuras untuk membayar pengacara guna mengurus perceraiannya. Sebelum tahu dirinya tengah mengandung, Rachel memang berencana untuk pergi ke kota London guna merubah nasibnya.


Aurora menunduk ketika menerima amukan ayahnya.


"Jangan membelanya!" Henry menatap istrinya, Beverly dengan marah.


"Jangan memarahinya seperti itu! Wajar saja jika putri kita jatuh cinta dan berusaha menggapai cintanya," Beverly menjawab.


"Aku tidak melarang putrimu jatuh cinta. Tapi yang dia lakukan selama ini salah. Kau pun tahu, Jasper masih berstatus suami orang," mata Henry menajam.


"Aku hanya berusaha mendapatkan cintaku, Dad. Apa aku salah?" Aurora bersuara.


"Mendapatkan cinta dari pria yang sudah beristri?" Timpal Henry.


"Jasper akan bercerai. Dia pasti bercerai dengan istrinya. Jadi, aku tidak mencintai pria beristri," sanggah Aurora.


"Tunggu dia bercerai secara resmi. Kau boleh mengejarnya lagi dan Mommy akan mendukungmu," Beverly mengelus punggung Aurora.


"Ketahuilah, Nak. Jasper sudah tidak mencintaimu, yang dia cintai dan inginkan hanya istrinya," tutup Henry. Ia pun berlalu meninggalkan istri dan anaknya yang masih tidak terima dengan perkataannya.


"Jasper mencintaiku. Bukankah begitu, Mom?" Aurora meminta pembelaan.

__ADS_1


"Tentu saja. Jasper mencintaimu," Beverly menghibur.


Bayang-bayang mengenai sosok Rachel tidak bisa hilang. Sejauh apapun Jasper berusaha untuk melupakan dan membenci wanita itu, tapi hatinya tidak bisa berbohong. Jasper nyatanya sangat merindukan Rachel saat ini.


Jasper menyabet kunci mobilnya, ia pergi ke rumah Alan untuk memberikannya pelajaran. Jasper seolah mencari pelampiasan untuk memuaskan kemarahannya.


"Ada apa kau menelfonku dan datang ke sini?" Alan bertanya dengan keheranan.


Jasper tak menjawab. Ia langsung menarik kerah kemeja Alan dan berusaha untuk memberikannya bogem mentah.


"Hey, J! Kau kenapa?" Alan menangkis pukulan itu.


"Kau benar-benar menjebakku. Kau bahkan membayar Rachel untuk peristiwa di malam itu!!" Jasper berteriak.


"Membayar Rachel? Aku memang membayarnya untuk mengantarmu ke hotel, tapi dia tidak tahu rencanaku," Alan menjelaskan.


"Kau pikir aku bodoh? Kalian bekerja sama untuk menjebakku. Belum lama ini kau memberikan uang padanya bukan?" Jasper mengepalkan tangannya.


"Memberikan uang?" Alan tampak mengingat.


"Dari mana kau mengetahui aku memberikan Rachel uang?" Alan bertanya.


"Aku tahu semuanya," jawabnya


"Jika yang kau maksud aku memberikannya uang saat sidang, itu adalah uang karena aku membayar desain baju bayi yang Rachel buat. Rachel juga yang menawarkan untuk merajut baju bayi itu. Aku membutuhkannya untuk hadiah keponakanku," Alan berterus terang.


"Kau pikir aku keledai dan percaya omong kosongmu itu?" Jasper menggeram.


Alan tampak sabar menghadapi kemarahan Jasper. Waktu membuatnya berubah menjadi lebih baik. Dengan tenang, Alan mengeluarkan ponselnya.


"Bacalah percakapan aku dengannya di whatsapp!" Alan memberikan ponselnya dan memperlihatkan chatnya bersama Rachel.


"Kau percaya?" Alan menyabet ponselnya yang sedang digenggam oleh Jasper. Mereka memang bertransaksi perihal baju bayi.


"Lain kali, periksalah kebenarannya! Jangan jadi orang yang penuh amarah tanpa melihat fakta! Kau mempunyai otak yang cerdas!" Sindir Hans kemudian masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Jasper.


"Jadi, Rachel tidak bekerja sama dengan Alan," Jasper bergumam.


"Aku harus mencari tahu semua hal yang membuat hatiku tidak tenang," putus Jasper. Kemudian ia pergi dari halaman rumah Alan


Di lain tempat, Alula memberi tahu mengenai kehamilan menantunya kelada suaminya. Kai merasa de javu. Ia kemudian menunduk dengan dalam.


"Kau mengingatkanku akan kesalahanku yang telah lalu," Kai merasa bersalah. Ia langsung memeluk istrinya.


"Sayang, jangan ingat itu lagi!" Alula balas memeluk suaminya dan mencium keningnya.

__ADS_1


"Mengapa putra kita harus mengalami hal ini?" Kai merekatkan pelukannya. Bagaimana pun hatinya kadang rapuh menyikapi perceraian putranya.


"Mari kita pastikan cucu kita mendapatkan yang terbaik! Kita bawa Rachel ke London. Dia butuh suasana baru untuk kehamilannya. Dia butuh tempat untuk melupakan sejenak mengenai Jasper," ujar Alula yang langsung di iyakan oleh Kai.


__ADS_2