
Jasper dan Rachel berangkat ke kampus dengan cara mereka masing-masing. Jasper dengan mobilnya, sementara Rachel dengan menaiki bus. Suatu hari, Jasper melihat istrinya mengejar bus karena terlambat bangun di pagi hari.
"Rachel, mengapa kau tidak belajar menyetir mobil saja? Aku akan memberikanmu mobil sebagai kendaraanmu pulang pergi ke kampus," Jasper menatap Rachel yang sedang menonton acara televisi kesukaannya.
"Tidak, Jasper. Aku takut. Lagi pula, jika aku membawa mobil ke kampus, akan menjadi pertanyaan untuk teman-teman kita. Kau ingin mereka curiga?" Rachel mengambil remote dan mengalihkan siaran tv ke siaran lainnya.
"Bagaimana jika belajar menyetir mobil agar kau bisa menyetir dan berbelanja perlengkapan rumah dengan lebih mudah?" Tawar Jasper lagi. Ia memang selalu melihat Rachel kesusahan saat belanja mingguan untuk keperluan rumah.
"Nah kalau itu aku setuju," Rachel tersenyum senang karena merasa bebannya akan berkurang jika belanja dengan membawa mobil.
"Kalau begitu ayo kita belajar menyetir!" Rachel mengambil kunci mobil miliknya dan berjalan keluar.
"Tunggu!" Rachel menyabet mantel dan syal karena cuaca sudah sangat dingin. Musim gugur akan segera berakhir dan digantikan dengan musim dingin.
"Hal yang harus kau ingat ketika belajar mengemudikan mobil adalah tahu mengenai plus dan minum kendaraanmu," Jasper menjelaskan seperti seorang guru menyetir.
"Lalu, kau harus ingat mengenai rambu-rambu lalu lintas. Apakah kau sudah memgetahuinya?" Jasper menoleh ke arah gadis yang duduk dengan seksama mendengarkan penjelasannya.
"Tentu saja," Rachel mengangguk dengan mantap.
"Kenalilah 3 pedal yang ada di mobil. Itu adalah kopling, rem dan juga gas. Pedal rem berada di tengah untuk memberhentikan mobil atau mengurangi kecepatan. Pedal gas ada di sisi sebelah kanan. Kopling berfungsi untuk memisahkan mesin dan roda ketika mengoper gigi. Kalau begitu kita bisa langsung belajar ke poin pertama. Lihatlah ini!" Jasper memasukan kunci ke dalam kontak dan menghidupkan mesin.
"Injak dalam-dalam pedal kopling!" Tandas Jasper saat Rachel terduduk di kursi pengemudi. Ia seperti Nyonya Puff yang mengajarkan Spongebob mengemudi.
"Angkat kakimu dari pedal kopling dengan perlahan!" Jasper berteriak saat Rachel akan menginjak pedal kopling dengan cepat.
"Jasper, aku deg degan sekali tadi!" Rachel memegangi dadanya saat mereka beristirahat sejenak di kursi yang ada di taman.
"Nanti kita belajar mundur dan parkir," Jasper menatap langit yang sudah berwarna kemerahan.
"Iya," Rachel mengangguk dan meneguk minuman di tangannya sampai tandas.
"Ayo kita pulang!" Ajak Jasper kepada istrinya.
Mereka berjalan untuk sampai ke parkiran mobil. Jasper dan Rachel pun menunggu lampu merah agar mereka bisa menyebrang.
__ADS_1
"Ingat ya? Jika lampu merah seperti ini, kau harus menghentikan langkahmu!" Jasper menunjuk tanda berhenti itu.
"Tentu saja. Kau kira aku tidak tahu?" Rachel tertawa.
"Takutnya kau tidak tahu dan menabrak pejalan kaki," Jasper berkata dengan serius.
"Memangnya aku sebodoh itu?" Rachel mengerucutkan bibirnya.
"Aku tidak menyebutmu bodoh. Tapi kau hanya sedikit ceroboh," Jasper berterus terang.
"Memangnya aku ceroboh?"
"Iya. Kau beberapa kali lupa membawa tugasmu ke kampus. Kau selalu berhenti mendadak saat berjalan di tengah keramaian. Kau hampir memasukan ponselmu ke dalam air," Jasper mengingat-ngingat kelakukan istrinya
Rachel begitu tersentuh, Jasper memperhatikan detail kecil mengenai dirinya.
"Kau kenapa?" Jasper menoleh saat melihat Rachel menghentikan langkahnya.
"Aku kagum padamu. Kau mengingat detail kecil mengenai diriku," Rachel tersenyum.
"Teman serumah!" Rachel tersenyum kecut.
"Ayo! Udara semakin dingin!" Jasper berjalan lagi. Sesekali ia melihat Rachel menggosok-gosokan tangannya.
"Pakailah mantelku!" Jasper melemparkan mantelnya kepada Rachel.
"Tidak. Mantelku cukup untuk membuatku hangat!" Rachel buru-buru menolak.
"Pakailah!"
"Jasper, aku tidak mau!" Rachel keukeuh menolak.
"Aku tidak ingin kau sakit. Jika kau sakit, siapa yang akan memenuhi kebutuhanku?"
"Jasper!!!" Rachel mencubit suaminya. Ia mengira suaminya itu peduli.
__ADS_1
"Aw!" Jasper meringis sembari tertawa.
"Aku serius. Pakailah mantelku!" Jasper tetap pada pendiriannya.
Lalu, pria itu melihat Rachel membuka mantelnya.
"Hey, mengapa kau melepaskan mantelmu?"
"Kau melepaskan mantelmu untukku. Dan aku melepaskan mantelku untukmu. Pakailah!" Rachel tidak mau kalah.
"Jangan bercanda! Ini kekecilan!" Jasper menatap mantel Rachel yang berwarna ungu.
"Aku tidak peduli, pakailah!" Titah Rachel sembari memakai mantel Jasper yang sangat kebesaran di tubuhnya.
"Baiklah!" Jasper memakai mantel gadis itu di bahunya.
Mereka berjalan beriringan dengan tawa di bibir masing-masing menyusuri jalan untuk sampai di parkiran.
*****
Hubungan Rachel dan Jasper sudah semakin dekat. Rachel tidak akan tertidur jika Jasper belum pulang ke rumah. Jasper pun tidak akan makan kecuali makanan itu masakan istrinya. Setiap hari, Jasper selalu request makanan yang bisa Rachel masak. Akan tetapi, hari ini Jasper tidak memakan makanan gadis itu, karena ia harus berangkat pagi-pagi sekali ke kampus. Jasper terpilih untuk mewakili jurusannya dalam kompetisi Bussines Administration Contest yang dilaksanakan di universitasnya.
Tak sia-sia, sore hari Jasper dinyatakan keluar sebagai juara. Jasper pun memberi tahu Rachel melalui pesan whatsapp. Rachel sangat senang dengan pencapaian suaminya. Rachel memutuskan memasak makanan favorit Jasper untuk merayakan kemenangan pemuda itu.
Rachel memasak beberapa makanan dengan susah payah.
"Aku sudah menghabiskan 5 jam di dapur," Rachel melihat jam yang menunjukan pukul 10 malam.
Rachel mulai menata masakannya di meja makan. Tak lupa, ai mendekor meja itu dengan lilin-lilin yang indah.
"Jasper, pulang jam berapa ya?" Rachel terduduk sembari menatap ponselnya.
Tapi tak lama, senyum di wajahnya menyurut saat membaca pesan dari suaminya.
"Sepertinya aku pulang larut malam ini, aku akan menghabiskan malam dengan Aurora. Dia menyewa restoran untuk merayakan pencapaianku hari ini," bunyi pesan itu yang membuat dada Rachel sesak seketika.
__ADS_1