
The Glacier Express pun berhenti di tujuannya setelah delapan jam melewati keindahan-keindahan yang disuguhkan oleh kota Zermat. St Moritz adalah pemberhentian The Glacier Express. Wilayah ini adalah percampuran budaya Italia, Jerman, Romansch, Inggris, Perancis dan juga Inggris. St Moritz merupakan salah satu tujuan wisata ski terkenal di dunia. Saat musim salju, St. Moritz akan dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
"Saat musim dingin St. Moritz akan berubah bak negeri dongeng di malam hari," ucap Jasper saat mereka tengah berada di dalam perjalanan menuju hotel tempat menginap.
"Ku rasa ini masih suasana musim dingin. Salju baru saja mencair," Rachel menatap ke kaca taksi yang menampilkan pemandangan salju.
"Iya. Salju masih ada di mana-mana," Jasper menoleh ke arah istrinya.
Jasper dan Rachel menginap di Grand Hotel Des Bains Kempinski. Hotel ini sangat strategis dan dekat dengan danau St. Moritz. Alula dan Kai memesan kamar Deluxe Suite yaitu kelas yang sangat nyaman di hotel ini untuk acara bulan madu putranya.
Jasper dan Rachel masuk ke dalam kamar. Kamar itu sudah dekor dengan nuansa honeymoon. Di atas kasur terdapat serpihan bunga mawar merah yang membentuk lambang hati. Di lantai pun dihias dengan serpihan bunga mawar yang sangat estetik. Terdapat pula lilin aroma terapi di atas lantai. Dan jangan lupakan angsa yang dibuat dari handuk dan disimpan di atas kasur.
Rachel dan Jasper pun saling berpandangan satu sama lain.
"Ini pasti pekerjaan Mama dan Papa," Jasper berkata dengan gugup. Pipi Rachel pun tampak merona.
"Ayo masuk!" Jasper membawa koper istrinya dan menyimpannya di dekat lemari.
Rachel berjalan ke arah balkon kamar. Ia memperhatikan suasana kota yang begitu eksotis dan berkelas itu.
"Ini seperti mimpi," Rachel menitikan air matanya. Ia tak pernah menyangka kehidupannya yang menyedihkan di Bulgaria bisa berakhir dengan bahagia.
"Kau senang?" Tanya Jasper yang memeluknya dari belakang.
"Iya. Aku sangat senang," Rachel pun tidak mampu membendung perasaannya lagi. Ia menangis tersedu.
"Hey, jangan menangis!" Jasper menghadapkan tubuh Rachel ke arahnya.
"Aku hanya tidak menyangka bisa pergi ke negara ini. Aku tidak pernah menyangka bisa hidup dengan nyaman. Kau tahu? Dulu aku harus berjuang untuk membiayai segala keperluan hidupku sendiri. Bahkan saat di Bulgaria, aku harus menjadi pengasuh bayi untuk mendapatkan biaya sekolahku," Rachel berkata dengan derai air mata.
"Ini semua berhak kau dapatkan. Kau adalah gadis yang baik," Jasper merapikan rambut Rachel yang tersibak tersapu angin malam.
"Kau bahagia?" Tanya Jasper lagi.
"Aku bahagia. Aku sangat bahagia," Rachel memeluk Jasper erat.
"Aku akan selalu memastikan kau hidup dengan baik dan layak. Aku akan berusaha untuk memberikan apa yang kau inginkan," bisik Jasper yang membuat hati Rachel semakin berdesir.
"Mari kita tidur! Besok kita akan berjalan-jalan!" Jasper menggandeng tangan Rachel.
Dengan gugup, Jasper membaringkan tubuhnya. Rachel pun ikut terbaring di sisi suaminya. Jasper memeluknya dari belakang, itu membuat perasaan Rachel semakin tak karuan.
"Tidurlah! Kita sudah melewati perjalanan yang panjang!" Jasper mengusap lembut rambut Rachel. Rachel pun bisa bernafas lega. Pria itu tidak menuntut apa yang sudah seharusnya ia berikan.
__ADS_1
****
Tujuan wisata Rachel dan Jasper hari ini adalah Danau St Moritz. Sebelum berangkat ke danau itu, mereka sarapan terlebih dahulu di restoran hotel.
"Makanan Italia memang sangat enak!" Rachel terkesima ketika ia mencoba beberapa menu makanan khas Italia.
"Tambah lagi! Kau harus banyak makan!" Jasper menyimpan Ossobuco di piring Rachel.
"Baiklah, aku akan menghabiskan semuanya!" Rachel memakan makanan di piringnya dengan lahap.
Setelah selesai sarapan, Rachel dan Jasper berjalan kaki menuju danau St Moritz yang bisa ditempuh 10 menit dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan mereka bergandengan tangan satu sama lain. Mereka seakan enggan untuk berjauhan satu sama lain.
"Untung saja Glaciernya belum mencair sempurna," ujar Jasper saat ia masih bisa melihat Glacier di danau St. Moritz.
"Danaunya sudah lumayan mencair. Kau ingin berolahraga dayung?" Tawar Jasper yang langsung di iyakan oleh Rachel.
Jasper dan Rachel naik ke atas kano. Mereka bersiap untuk melakukan olahraga dayung.
"Saat musim dingin kau bisa berjalan di atas danau ini. Sayangnya, danau ini sudah mencair. Oh iya, Kayuhlah dengan dayung maju dan juga dayung mundur!" Jasper memberikan aba-aba.
Rachel dengan terseok mencoba mendayung. Ini adalah olahraga dayung pertama baginya.
"Jasper, aku takut tenggelam!" Rachel merasa gelisah.
Ketakutan Rachel pun berkurang. Ia mencoba untuk bersikap rileks.
"Aku mendayungnya ke depan, mengapa kau mendayungnya ke belakang?" Jasper tertawa dan menciprati wajah Rachel dengan air danau yang dingin.
"Jasper, dingin!!" Rachel tertawa. Kemudian ia ikut menciprati wajah Jasper dengan air danau.
"Dingin, gadis Bulgaria!!" Pekik Jasper.
"Kau kedinginan? Kemari peluk aku!" Rachel merentangkan kedua tangannya.
Jasper pun langsung masuk ke dalam dekapan gadis yang berasal dari Bulgaria itu. Mereka berpelukan seakan memberikan kehangatan satu sama lain.
Setelah selesai mendayung, Jasper dan Rachel melanjutkan berjalan-jalan di sekitar danau. Dilanjutkan dengan mereka mempelajari alam dan juga budaya setempat.
Sore menjelang malam, Jasper dan Rachel sampai ke hotel. Jasper memilih untuk berendam di sauna yang ada di hotel, sedangkan Rachel memilih untuk berendam di bathub kamarnya.
Setelah berendam, Jasper meminta untuk makan malam di balkon kamarnya. Petugas hotel pun menata meja makan romantis di balkon kamar sepasang pengantin itu.
"Kau ini orang Inggris yang romantis seperti pria Italia!" Rachel tersenyum merona saat Jasper memberikannya sebuket bunga mawar.
__ADS_1
"Aku hanya bersikap seperti suami kebanyakan. Kalau begitu ayo kita makan!" Ucapnya.
Di meja terhidang beberapa menu makanan khas dari negara Switzerland. Jasper memakan Polenta, makanan khas Switzerland yang terbuat dari jagung. Sedangkan Rachel lebih memilih untuk mencicipi Safron Rissotto terlebih dahulu.
"Cobalah ini enak!" Jasper menyuapi Rachel dengan Polenta miliknya.
"Kau juga harus mencoba ini!" Rachel menyendok Safron Rissottonya dan menyuapi suaminya.
"Nanti setelah kita tiba di Inggris, aku ingin kau memasak Polenta dan Safron Rissotto seperti ini. Aku suka," pinta Jasper dengam wajah yang berseri.
"Aku akan memasak apa yang kau mau," Rachel langsung menyetujui.
Rachel kemudian memakan Fondue. Makanan yang melegenda yang berasal dari Switzerland. Ia memakan keju leleh itu dengan bersemangat, tetapi sesaat tatapannya berubah menjadi sendu.
"Ayah, ibu? Apa kalian baik-baik saja? Apa kalian mempunyai uang untuk membeli makanan? Semoga saja iya!" Bayangan wajah orang tuanya terlintas di benak Rachel.
"Orang tuamu pasti bisa membeli makanan. Kau jangan mengkhawatirkannya!" Jasper menangkup tangan Rachel. Ia seakan bisa membaca apa yang gadis itu pikirkan.
"Mengapa kau tahu apa yang aku pikirkan?" Rachel menarik tangannya. Ia memilih untuk menyudahi makan malamnya. Rachel mengelap bibirnya dengan tisu dan bergegas untuk pergi dari balkon. Ia beranjak meninggalkan Jasper yang masih terduduk. Rachel tidak ingin menangis lagi di hadapan suaminya.
"Karena kita adalah satu!" Ucap Jasper yang membuat langkah Rachel terhenti. Pria itu lalu berdiri dari duduknya.
"Ayah dan ibumu akan baik-baik saja di sana. Suatu hari, aku akan pergi membawamu menemui mereka!" Ucap Jasper lagi.
"Kau bersungguh-sungguh? Kau tidak membenci mereka?" Rachel membalikan tubuhnya.
"Membenci? Mengapa aku harus membenci mereka?" Jasper bertanya dengan bingung.
"Karena dulu mereka sudah mengambil uangmu," Rachel menundukan kepalanya. Jasper pun mendekat ke arah istrinya.
"Aku sama sekali tidak pernah membenci mereka. Terlebih sekarang mereka adalah kedua orang tuaku juga. Aku akan berusaha menyayangi mereka karena mereka adalah kedua orang tuamu," Jasper berkata dengan penuh kelembutan.
"Aku berjanji suatu hari nanti akan membawamu pulang!" Lanjutnya.
"Jasper, terima kasih karena tidak membenci mereka!" Rachel menangis lagi. Ia sangat rapuh bila mengingat kedua orang tuanya.
"Aku tidak pernah membenci mereka. Percayalah!"
"Terima kasih," Rachel berjinjit dan mencium bibir Jasper dengan lembut.
Jasper seolah terpancing dengan apa yang dilakukan oleh Rachel. Ia kemudian membalas ci*uman itu. Walaupun kaku, Jasper berusaha mengubah ci*uman itu menjadi ci*uman yang sebenarnya. Rachel pun membalas ci*uman dari suaminya.
"Bolehkah?" Jasper meminta izin.
__ADS_1
Rachel mengangguk, ia tahu betul ke arah mana maksud perkataan suaminya. Rachel seolah tidak peduli bila nanti Jasper mengetahui sebuah rahasia kecil yang selama ini ia simpan. Dengan lembut, Jasper menggendong tubuh kecil Rachel menuju ranjang yang sudah siap memanaskan kisah cinta mereka di St. Moritz.