
Kai dan Alula memanggil Jasper dan juga Rachel ke rumah. Tentunya untuk membahas bulan madu mereka.
"Papa, membelikan kalian voucher bulan madu ke Finlandia!" Kai berkata dengan berwibawa di hadapan putra dan menantunya.
"Jika boleh, aku ingin pergi ke Jepang," Jasper menimpali.
"Jepang? Asia bagian Timur?" Kai tampak menimbang-nimbang. Ia merasa khawatir putranya pergi ke benua lain hanya berdua dengan Rachel.
"Bukankah kau pernah pergi ke sana?" Alula menyahuti obrolan suami dan putranya.
"Iya, Ma. Tapi Jasper ingin mengajak Rachel pergi ke sana," Jasper berkata dengan bersemangat.
"Baiklah, terserah kalian saja," Kai akhirnya memberikan segala keputusan kepada Jasper dan juga Rachel.
"Kau ingin pergi ke mana, sayang?" Tanya Alula kepada menantunya.
"Ke mana pun aku ingin pergi asal dengan Jasper," Rachel berkata dengan canggung.
"Aku pulang!!!" Seru seorang perempuan dengan wajahnya yang terlihat kelelahan.
"Kim? Kau baru pulang?" Kai berdiri dari duduknya saat melihat putri bungsunya baru pulang malam hari.
"Papa, lihatnya bagaimana?" Kimberly berdiri di hadapan Kai dengan malas.
"Kim!! Jaga ucapanmu kepada Papa!" Alula mengingatkan putrinya.
Kimberly memang seorang gadis yang dingin dan juga angkuh. Itu karena didikan William. William adalah ayah dari Kai, atau kakek dari Jasper dan juga Kimberly. Awalnya Kimberly hidup bersama kedua orang tuanya. Tapi William dan Sofia memaksa untuk merawat Kimberly karena mereka cukup kesepian di hari tua. William mendidik Kimberly sama saat ia mendidik Kai dahulu. Menjadikan Kimberly gadis yang manja, angkuh dan juga dingin.
"Sapa dulu kakakmu!" Kai meninggikan suaranya.
"Hai, J! Hai kak Rachel!!" Kimberly menyapa Jasper dan Rachel dengan tidak bersemangat.
"Aku naik dulu ke atas! Aku lelah karena baru saja bermain ice skating bersama teman-temanku," Kimberly langsung naik ke atas tangga tanpa mendengar jawaban dari yang lainnya.
"Anak itu! Sayang, kau harus mengajarinya untuk bersikap hangat kepada orang lain!" Alula menoleh ke arah suaminya dengan wajah yang khawatir. Rachel hanya menatap adik iparnya itu dengan bingung. Ia memang belum pernah mengobrol banyak dengan Kimberly.
"Sepertinya aku harus mendekatkan diriku kepada Kim," gumam Rachel dalam hatinya.
"Kalian tenang saja! Aku yang akan mendidik anak itu!" Jasper menatap Kimberly yang sudah tak terlihat.
"Jadi, kapan kalian akan berangkat?" Kai memusatkan kembali perhatiannya kepada rencana bulan madu putranya.
"Dua hari lagi kami akan berangkat," Jasper memutuskan yang langsung disetujui oleh Kai dan juga Alula.
Karena hari sudah semakin larut, Jasper dan Rachel memutuskan untuk menginap di rumah Kai.
"Ini kamarmu?" Rachel melihat-lihat kamar Jasper yang sangat luas.
"Iya. Memangnya kamar siapa lagi? Kamar Bi Esther?" Jasper tertawa. Bi Esther adalah nama asisten rumah tangga kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kau dan Aurora sangat dekat ya?" Rachel memaksakan senyumnya saat melihat deretan foto Aurora di kamar suaminya.
"Aurora dan aku sudah saling mengenal dari kecil. Kau cemburu?" Goda Jasper kepada istrinya.
"Cemburu? Tentu saja tidak. Untuk apa aku cemburu?" Rachel menepis.
"Benarkah? Kalau begitu, aku akan turun dan pergi ke rumah Aurora. Rumahnya tepat di samping rumah ini," Jasper menggoda Rachel.
Pemuda itu berpura-pura berjalan ke luar dari kamar.
"Jasper, jangan! Ayo kita tidur! Ini sudah malam. Bukankah besok kita harus packing untuk keberangkatan ke Jepang?" Rachel mengejar langkah Jasper dan mengunci pintu.
"Kau cemburu!!" Jasper tertawa melihat raut wajah istrinya.
"Ti-tidak. Aku tidak cemburu," Rachel terus mengelak.
"Sanggahlah terus!" Jasper berjalan ke arah kasurnya dan berbaring di sana.
Sementara itu di kamar yang lain, Alula sedang memperhatikan rintikan salju yang turun di malam hari.
"Kau sedang apa, sayang?" Kai melingkarkan tangannya memeluk istri yang sudah belasan tahun menemaninya dalam keadaan suka dan duka.
"Sedang memperhatikan salju," Alula berkata sembari tersenyum.
"Kau teringat putra kita?" Kai menebak.
"Iya. Aku harap musim salju ini menjadi momen bulan madu yang indah untuk mereka."
*****
Dua hari kemudian.....
Rachel dan Jasper berangkat dari bandara international Birmingham menuju bandar udara Chitose Baru, Sapporo, Jepang. Perjalanan memakan waktu 20 jam dengan satu kali transit. Rachel dan Jasper menghabiskan waktu perjalanan dengan mengobrol satu sama lain untuk mendekatkan diri.
"Jadi, kau tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuamu lagi setelah peristiwa mereka menjualmu?" Jasper menatap iba istrinya yang memasang wajah sedih.
"Tidak. Aku belum pernah melihat mereka lagi," Rachel tersenyum manis menutupi kesedihan hatinya.
"Setelah kau membeliku, aku langsung pergi dari rumah. Aku takut mereka menjualku lagi. Mengenai uang darimu, aku benar-benar tidak menikmati uang itu," Rachel bercerita dengan sebenar-benarnya.
"Aku percaya padamu," Jasper menangkup tangan istrinya dengan hangat.
"Jasper? Bagaimana jika kita membuka bisnis sendiri. Aku merasa tidak enak, kita berdua hidup mengandalkan papa Kai dan Mama Alula," Rachel mengutarakan keluhan hatinya selama ini. Ia merasa tidak enak harus terus menerus dihidupi oleh mertuanya.
"Tenang saja. Aku juga sudah berpikir untuk hidup mandiri. Pulang dari Jepang, aku akan memberikanmu kabar baik mengenai usaha apa yang akan kita tekuni, tentunya bebas dari embel-embel kedua orang tuaku," Jasper menepis kekhawatiran istrinya.
"Syukurlah jika kau sudah mempersiapkan semuanya," Rachel tersenyum senang.
"Ternyata dia gadis yang tulus. Jika dia ingin mengincar harta, tentunya ia akan terus menikmati fasilitas yang diberikan oleh Papa," gumam Jasper sembari memperhatikan Rachel yang sedang menatapnya.
__ADS_1
"Kalau begitu tidurlah! Liburan kita akan dimulai!" Jasper mengusap pucuk kepala Rachel. Rachel pun menarik selimutnya dan mencoba untuk tertidur.
"Sebenarnya ada apa dengan diriku?" Jasper memperhatikan Rachel yang mencoba untuk tertidur.
Beberapa jam kemudian, Jasper dan Rachel sampai di Bandar Udara Chitose Baru. Setelah pengecekan passpor, Jasper langsung melakukan penukaran uang di beberapa kios penukaran uang Travelex. Jasper menukar uangnya dari Pounds menjadi Yen. Tak lupa, Jasper menerbitkan kartu ATMnya agar bisa dipergunakan di Jepang.
"Aku lapar!" Rachel mengelus perutnya yang datar.
"Aku juga lapar. Ayo kita makan ramen terlebih dahulu!" Ajak Jasper sembari menarik tangan Rachel.
"Memangnya di bandara ada Ramen?" Rachel bertanya-tanya.
"Tentu saja. Ada beberapa area makan di terminal domestik," Jasper terus menuntun tangan Rachel.
Mereka sampai di area makan yang ada di bandara. Jasper langsung memesan dua mangkuk ramen. Beberapa menit kemudian, dua mangkuk ramen tersaji di meja mereka dengan asap yang terlihat masih mengepul.
"Baunya sangat enak! Ayo kita makan!" Rachel langsung mengambil mangkuk ramen miliknya dan juga sumpit. Rachel tampak kesulitan menggunakan sumpit di tangannya. Maklumlah, diriny memang tidak pernah makan dengan memakai sumpit.
"Aww panas!!' Rachel mengibas-ngibaskan tangannya terkena cipratan kuah ramen yang masih sangat panas.
"Hati-hati! Ramen memang sangat panas! Kau tidak apa-apa?" Jasper berdiri dari duduknya.
"Tidak. Aku baik-baik saja," Rachel langsung meminum minuman yang ada di mejanya.
"Makannya bukan seperti itu," Jasper mengambil celemek dan meletakannya di dada.
"Ini bertujuan untuk menghindari noda kuah ramen di baju," ucap Jasper sembari memakai celemek itu di dadanya.
"Sepertinya kuahnya tidak akan tumpah," Rachel memperhatikan suaminya.
Jasper mengambil sumpit dan juga sendok bebek yang terhidang di meja.
"Sumpit untuk mengambil mienya dan sendok bebek untuk meminum kuah kaldu dan juga untuk memakan toppingnya," Jasper mulai mengambil mie dengan sumpitnya. Pemuda itu terlihat menyeruput mienya dengan keras.
"Enaknya!!" Seru Jasper saat ia memakan ramen itu.
"Mengapa kau menyeruput mienya?" Rachel bertanya dengan bingung. Pasalnya ia memang sangat jarang memakan makanan Asia.
"Orang Jepang memang terbiasa memakan Ramen dengan tidak memotongnya atau membiarkannya panjang. Mereka akan menyeruputnya dengan suara yang kencang. Menyeruput seperti ini untuk memberitahu bahwa ramen buatan mereka sangatlah enak," Jasper kembali memakan Ramennya hingga tandas. Rachel pun mencoba memakan ramennya seperti yang Jasper makan. Gadis itu diajari oleh Jasper bagaimana makan dengan sumpit.
"Jasper, berilah tip untuk waitressnya!!" Titah Rachel kepada suaminya setelah mereka menghabiskan ramen di mangkuk masing-masing.
"Jangan sekali-kali memberikan tip di Jepang, Gadis Bulgaria!!" Jasper berkata dengan gemas.
"Mengapa tidak boleh?" Rachel terlihat bingung.
"Bagi mereka memberi tip itu tidaklah sopan. Cukup katakan saja Arigato. Beda lagi dengan Amerika. Di sana kita wajib memberikan Tip. Bahkan rincian tip kadang sudah masuk ke dalam bill. Jika kau tidak memberi tip di Amerika, waitress terkadang akan mengejarmu!" Jelas Jasper panjang lebar.
"Dikejar?" Rachel lagi-lagi bingung.
__ADS_1
"Iya, karena biasanya mereka merasa ada yang kurang berkenan dengan pelayanan mereka jika pelanggan tidak memberikan tip," jelas Jasper lagi.
"Oh begitu. Budaya dan kebiasaan di dunia ini memang berbeda-beda ya?" Rachel lagi-lagi hanya terpukau, karena Jasper pria yang berwawasan luas juga mampu menempatkan dirinya di manapun ia berada.