Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Cemburu?


__ADS_3

Setelah selesai sidang skripsi, aktivitas Rachel sudah berkurang dan bisa sedikit bersantai. Rachel menyibukan diri dengan menjahit dan merajut baju bayi. Seperti sore ini, ia mulai belajar mendesain baju-baju bayi. Ide-idenya ia tuangkan dengan menggambar desain baju bayi yang lucu, terutama desain baju bayi perempuan, Rachel sangat pintar mendesain gaun.


Di samping memasak, dari dulu Rachel memang suka menggambar. Maka dari itu, tidak sulit saat ia mendesain sebuah gaun yang manis untuk anak perempuan.


"Ah lucunya!!" Seru Rachel senang saat desain itu telah selesai ia gambar.


Rachel membolak-balikan desain itu. Merasa tak percaya ia sudah menggambarnya begitu detail. Terlebih Rachel sangat suka melihat gaun-gaun Putri Charlotte. Itu membuat idenya meningkat.


Sementara Jasper yang baru pulang dari rumah Archie memperhatikan Rachel yang sedang tersenyum seraya memegang sebuah kertas.


Rachel hanya menatap sekilas pria jangkung itu. Ia kembali fokus kepada gambar di sebuah kertas yang ia pegang. Rachel sudah terbiasa untuk tidak bertegur sapa dengan suaminya. Mereka seperti hidup di dua dunia yang berbeda. Tidak ada obrolan maupun sapaan, Rachel pun sudah malas untuk memulai pembicaraan dengan Jasper.


"Aurora, masuklah!" Perintah Jasper yang sukses mengalihkan perhatian Rachel.


"Terima kasih, J!" Jawab Aurora dengan hangat.


Tidak ada perasaan canggung di hati gadis cantik itu. Hal itu karena Aurora sudah tahu apabila Jasper dan Rachel belum bercerai karena permintaan Rachel soal biaya kuliahnya. Tentu saja Aurora mengetahui itu semua dari Jasper. Pria itu sudah tak segan untuk berbagi cerita tentang rumah tangganya yang begitu rumit.


Mereka duduk di sofa ruang tamu yang berhadapan dengan meja kerja Rachel yang hanya diberi pembatas kaca yang sangat besar.


Tatapan Aurora dan Rachel bertemu. Rachel hanya tersenyum sinis. Senyumannya itu begitu merendahkan Aurora yang tidak tahu malu masuk ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya masih ada seorang istri sah. Rachel kemudian membuka ponselnya dan membuka fitur kamera. Diam-diam wanita berambut blonde itu memfoto Jasper dan Aurora yang sedang asyik berbincang. Hal ini ia lakukan agar perceraian nya nanti tidak dipersulit. Karena di Inggris, proses perceraian diperbolehkan dengan alasan yaitu yang salah satunya adalah berzina atau perselingkuhan, tingkah laku yang tidak masuk akal dan juga desersi.


Hati Rachel kini seakan sudah membeku. Tak ada lagi air mata saat Rachel melihat suaminya tersenyum hangat pada wanita lain. Sudah lelah baginya untuk menangis. Rachel teringat saat masa-masa berat setahun belakangan ini. Ia begitu keras berusaha melupakan Jasper. Setiap hari ia memulai pembicaraan dan menangis saat Jasper mengacuhkannya. Kini Rachel sudah merasa jauh lebih baik, ia sudah merelakan jika pernikahannya harus berakhir.

__ADS_1


Dering ponsel membuyarkan Rachel dari lamunannya. Rachel tersenyum saat nama Hans menghiasi ponselnya.


"Hans?" Sapa Rachel dengan suara cempreng yang membuat Jasper langsung beralih menatapnya.


"Kau di luar? Baiklah aku ke sana. Tunggu!!" Rachel mengakhiri panggilannya. Dengan tergesa, ia menyambar mantel hangat dan memakaikannya dengan cepat seolah tidak sabar untuk menemui pria yang selalu ada dan menghiburnya di kala duka. Rachel melewati Jasper dan Aurora begitu saja seakan tidak melihat keberadaan mereka berdua.


"Tidak punya sopan santun!!" Gerutu Jasper.


"Biarkan saja dia, J!" Timpal Aurora tak suka.


Rachel menghampiri Hans yang sedang duduk di depan mobil mewahnya. Setelah sidang skripsi usai, Rachel tak lagi menjaga jarak dengan Hans. Ia berusaha untuk tidak terlalu kaku. Jika saja Jasper bisa bebas berhubungan dengan Aurora, mengapa Rachel tak bisa? Ia harus menyembuhkan luka hatinya, salah satunya adalah dengan menerima kehadiran seseorang yang mampu menyembuhkan lukanya sampai tak berbekas sama sekali.


"Kita mau ke mana, Hans?" Tanya Rachel.


"Ayo kita nonton bioskop!" Ajak Hans antusias.


Sementara di dalam rumah, perasaan Jasper tak menentu. Ia sangat penasaran ke manakah istrinya akan pergi? Dan apa yang akan mereka lakukan? Jasper semakin gusar. Ia sudah tak bisa membendung perasaannya lagi.


"Ayo kita susul mereka!!" ajak Jasper pada akhirnya.


" untuk apa, J? Kau cemburu?" Aurora mengerutkan keningnya dengan heran.


"Tidak. Aku ingin memfotonya bersama pria lain, supaya perceraian kami dipermudah," sangkal Jasper, padahal hatinya merasakan yang lain. Perasaan yang tidak rela saat Rachel pergi berdua bersama pria lain, terlebih itu adalah Hans.

__ADS_1


"Jika begitu, ayo kita susul mereka!" Aurora menarik tangan Jasper dan segera menaiki mobilnya membelah jalanan kota Birmingham yang ramai.


 


***


Setelah membuntuti Rachel, Jasper memutuskan pulang ke rumahnya. Tentu saja Jasper mengantarkan Aurora terlebih dahulu ke rumahnya. Hati Jasper merasa kesal dan marah melihat Rachel tertawa lepas di Timezone. Mengapa bisa istrinya seceria itu?


Jasper merasa sekujur tubuhnya panas, ia segera membuka kulkas dan meminum air dingin untuk meredakan amarah yang bergemuruh di dadanya. Bagaikan api yang di siram bensin, bukannya mereda dadanya malah kian terbakar. Dinginnya air tak juga mendinginkan hatinya yang saat ini seperti dihancurkan berkeping-keping oleh Rachel.


Jasper menatap jam yang sudah menunjukan pukul 9 malam. Namun seseorang yang ditunggunya tak juga menunjukan batang hidungnya, Rachel tak kunjung pulang. Hingga 20 menit kemudian, Rachel baru datang dan membuka pintu dengan pelan seolah tak mau membangunkan penghuni lain yang dikiranya sudah terlelap ke alam mimpi. Rachel sedikit kaget melihat Jasper ada di depan matanya. Ia menatap Jasper sebentar dan melewatinya begitu saja.


"Dari mana kau?" Bentak Jasper dengan tatapan nyalang.


"Dari mana aku? Memang apa urusannya denganmu?" Rachel balas berteriak.


"Aku ini masih suamimu, hargai aku! Kau masih menumpang di rumah ini! Jangan seenaknya pergi tanpa seizin ku!" Jasper mencengkram tangan Rachel, hingga tangan gadis itu memerah.


"Sejak kapan kau mengakui dirimu menjadi suamiku? Bahkan sudah setahun ini kita seperti orang yang tidak saling mengenal. Lalu, sekarang kau mengaku sebagai suamiku? Tak malukah kau, Tuan Jasper?" Rachel berusaha melepaskan cengkraman tangan Jasper, namun sia-sia. Tenaga pria itu bukan tandingannya.


"Kau kuliah memakai uangku. Kau pun tinggal di rumah ini dengan gratis. Tidak ada rasa terima kasih kah sedikit untukku? Hargai aku sebagai pemilik rumah ini!" Maki Jasper dengan wajah yang memerah


"Mengapa kau mempermasalahkan biaya yang kau keluarkan untukku? Aku berhak untuk itu. Aku berhak tinggal di rumah ini karena kau harus menjalankan hak, kewajiban dan tanggung jawabmu sebagai suamiku. Mengapa kau sangat marah? Aku hanya pergi dengan Hans. Mengapa kau mempermasalahkan? Kau pergi dengan Aurora, dan aku tak peduli. Lalu, mengapa ketika aku pergi dengan pria lain kau emosi seperti ini. Apa kau cemburu?"

__ADS_1


Jasper tertawa terbahak-bahak. Ia lalu mendekat ke arah Rachel dan berdiri tepat di depan istrinya. Jasper mengangkat dagu Rachel sedikit kasar. "Cemburu? Bahkan sedetik pun aku tak pernah memikirkanmu."


"Hak, kewajiban, tanggung jawab? Aku sudah menunaikan kewajibanku. Baiklah, aku akan meminta hakku kepadamu!!" Jasper menarik tangan Rachel menuju kamarnya.


__ADS_2