Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Berkunjung


__ADS_3

Mata Jasper menatap seorang gadis yang tengah menelungkupkan wajahnya di atas meja makan. Jasper memperhatikan meja makan yang sudah di dekor walaupun lilin-lilinnya sudah habis meleleh. Terlihat makanan dan minuman yang menggugah selera tertata dengan rapi di meja makan. Terlihat makanan dan minuman itu belum tersentuh sama sekali.


"Rachel, maafkan aku!" Jasper memejamkan matanya. Ia merasa bersalah kepada istrinya karena sudah menunggu semalaman. Dari sore hari Jasper memang merayakan kemenangannya bersama Aurora. Tak lupa, Jasper pun mengajak Archie untuk merayakan kemenangannya itu.


"Rachel, bangunlah!" Jasper menepuk pipi Rachel dengan pelan.


"Sepertinya dia kelelahan," Jasper menyimpan tasnya di kursi dan menghampiri istrinya semakin dekat.


Pemuda itu menggendong Rachel dengan hati-hati. Dengan lembut, Jasper membaringkan tubuh Rachel di atas kasur. Ia menatap wajah istrinya dengan tatapan bersalah. Kemudian, Jasper terduduk di sisi Rachel yang tengah terbaring.


"Aku tidak menyangka kau memasak sebanyak itu untukku. Aku ucapkan terima kasih. Setelah ini, aku akan memakannya. Rachel Olivia, ku harap kau tidak menyalah artikan kebaikanku kepadamu. Di hatiku hanya ada Aurora. Ku harap kau tidak jatuh hati padaku, karena," Jasper menggantung kata-katanya dan menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding.


"Karena pernikahan ini hanyalah sementara, yang aku inginkan hanya Aurora," Jasper bangkit dari duduknya. Ia menyelimuti Rachel kemudian berlalu dari kamar itu.


"Ya, harusnya aku sadar diri," Rachel membuka matanya. Tak lama, air mata merembes dari mata birunya.


****


Saat Jasper terbangun, Rachel sedang memasak di dapur. Jasper pun naik ke lantai atas untuk bersiap-siap pergi ke kampus. Libur musim dingin sudah di depan mata. Tinggal menghitung hari perkuliahan semester 3 akan berakhir.


"Rachel?" Mata Jasper menyapu ruang makan. Ia tidak menemukan istrinya di sana. Hanya ada makanan di meja makan yang sudah tersaji dengan baik.


Jasper berlari dan memeriksa dapur. Tak ada tanda-tanda Rachel di sana.


"Rachel kau ke mana?" Gumamnya.


Jasper mengambil ponselnya. Ia mencoba menelfon istrinya.


"Kau di mana?" Tanya Jasper saat Rachel mengangkat telfonnya.


"Aku ke rumah kak Daniella sebentar," jawab Rachel dengan dingin. Kemudian gadis itu menutup panggilannya terlebih dahulu.


Rachel menghembuskan nafasnya pelan. Gadis itu menyenderkan kepalanya di kursi. Matanya menjelajah, menikmati musim gugur yang akan segera berakhir dan digantikan dengan musim dingin.

__ADS_1


"Di sini saja, Pak!" Ucap Rachel kepada supir taksi saat rumah Daniella sudah terlihat.


Setelah membayar, Rachel dengan tergesa turun dari taksi. Ia langsung berlari dan memencet bel rumah Daniella.


"Sebentar!" Teriak Daniella.


"Kakak!!" Seru Rachel saat kakaknya membuka pintu. Ia memeluk kakaknya dengan begitu erat.


"Rachel, kau ke sini?" Daniella tampak terkejut melihat kehadiran adiknya yang tiba-tiba.


"Aku merindukanmu," Rachel semakin mengeratkan pelukannya.


"Masuklah, sayang! Di sini dingin," Daniella melepaskan pelukannya. Mereka pun masuk ke dalam rumah pemberian Alula dan Kai itu.


"Kakak, betah sendirian di sini?" Tanya Rachel saat mereka sudah duduk di sofa.


"Tentu saja. Kakak sangat betah di sini. Rumah ini sangat nyaman," Daniella menyalakan perapian untuk menghangatkan tubuh mereka. Tak lupa, Daniella memberikan secangkir cokelat panas untuk adiknya.


"Kakak hanya malu menemuimu. Rachel?" Gumam Daniella yang masih terdengar oleh Rachel.


"Ya, kak?"


"Maafkan kakak yang sudah memaksamu untuk menikahi Jasper," Daniella mendekat dan memegang jemari adiknya.


"Kakak tidak perlu meminta maaf. Memang jalan hidupku harus seperti ini. Sekeras apapun kita menolak, takdir akan tetap menghampiri kita," hibur Rachel yang melihat raut wajah bersalah dari kakaknya.


"Lalu, mengapa kau tidak mengunjungi kakakmu ini?" Daniella mengerucutkan bibirnya.


"Kemarin-kemarin aku sibuk dengan kuliah dan juga sibuk pekerjaan rumah. Maafkan aku, kak! Kakak masih bekerja di klub? Apakah Mama Alula menepati janjinya?"


"Kakak sudah tidak bekerja di klub. Kakak direkomendasikan oleh tuan Kai dan Nyonya Alula di perusahaan fashion milik kedua orang tuanya," Daniella tersenyum simpul.


"Maksud kakak di perusahaan kakek dan nenek Jasper?" Rachel memperjelas.

__ADS_1


"Iya. Kakak bekerja di perusahaan fashion milik orang tua tuan Kai. Di sana, kakak bekerja sebagai costumer service," Daniella bercerita dengan gembira. Ia begitu menikmati pekerjaan barunya.


"Syukurlah. Aku sangat senang. Aku senang kita keluar dari dunia malam itu," Rachel meneteskan air matanya karena terharu nasib baik memihak keluarganya.


"Hey, jangan menangis!" Daniella menyeka air mata yang berlompatan di pipi Rachel dengan jarinya.


"Apa Jasper memperlakukanmu dengan baik?" Daniella mencari tahu.


"Dia sangat memperlakukanku dengan baik. Tapi tetap saja aku terluka kak," Rachel menjawab dengan tersedu.


"Terluka? Terluka kenapa?" Daniella bingung dan wajahnya terlihat panik.


"Jasper mencintai gadis lain," Rachel menjawab dengan bibir yang bergetar.


"Kau cemburu? Sudah memiliki perasaan padanya?" Daniella tersenyum simpul.


"Aku tidak tahu," Rachel mengeringkan air matanya.


"Aku merasa tenang saat di dekatnya. Aku senang saat dia memakan semua masakanmu. Aku bahagia saat dia memanggil namaku. Dan aku merasakan sesuatu yang berdetak dengan kencang di sini saat dekat dengannya!" Rachel menunjuk dadanya yang membuat Daniella tertawa.


"Mengapa kakak tertawa?"


"Kau sudah jatuh cinta, bodoh!" Daniella masih mentertawakan adiknya.


"Tapi dia mencintai gadis lain. Seorang gadis yang sempurna. Gadis itu cantik, baik dan juga berasal dari keluarga yang sempurna," Rachel memandang sendu kakaknya.


"Kalau begitu bertindaklah! Dia suamimu. Dia pendampingmu. Dia adalah sebagian dirimu yang lain. Jangan biarkan wanita lain mengambilnya dari sisimu!" Daniella berbicara dengan tegas.


"Bagaimana mungkin dia bisa mencintaiku? Jasper menikahiku karena terdesak."


"Sayang, kau jangan lemah! Jangan mau kalah dengan gadis lain! Kau sudah satu langkah menang dari gadis mana pun. Kau istrinya sekarang. Rebutlah hatinya dan buat dia menjadi milikmu selamanya!" Daniella memberikan perintah.


"Jangan pernah biarkan orang lain mengambil apa yang sudah kau miliki Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu! Jangan menyerah dan rebut hatinya! Buat dia jatuh cinta padamu!" Lanjut Daniella yang dibalas anggukan oleh Rachel.

__ADS_1


__ADS_2